Saturday, October 5, 2013

Backpacker Gunung Argopuro

Matahari nyaris tenggelam ketika saya dan dua orang teman saya menjejakkan kaki di base camp Gunung Argopuro di Desa Baderan, Situbondo, Jawa Timur. Perjalanan 17 jam Jakarta-Malang via kereta Matarmaja plus tambahan nyambung angkot ini itu dengan total perjalanan nyaris 28 jam membuat saya berada pada titik terdekil saya.

poto ini diambil keesokan paginya..
 pas udah cakepan dikit *uhuk*























Kok turun di Malang? kayak mau ke Semeru aja. And yes.. memang tujuan awal kami adalah Gunung Semeru, tapiiii demi melihat buanyaknya pendaki yang mau kesana juga maka rencana berubah ke Gunung Argopuro. 

Gunung kalo rame itu menurut saya udah gak seru lagi. Pertama, susah nyari lapak untuk buka tenda. Kedua, ada manusia, ada sampah maka banyak manusia akan ada banyak sampah dan itu bukan pemandangan yang bagus untuk liburan. Ketiga, i just dont like the crowded noisy situation

Walau namanya gak sepopuler Gunung Semeru, Gunung Argopuro gak kalah menarik kok,, selain karena statusnya sebagai gunung dengan track terpanjang di pulau jawa, gunung ini juga menawarkan banyak poin menarik misalnya saja deretan savana ala Afrika, Danau Taman Hidup yang berada di tengah hutan lindung serta berbagai bukti sejarah seperti adanya reruntuhan puing istana Dewi Rengganis di Puncaknya dan sisa bangunan landasan terbang Belanda di tengah pegunungan ini.

Balik ke cerita, pendakian baru dimulai keesokan sorenya, menuju pos pertama, mata air Jati Banteng. Perjalanan didominasi oleh jalanan setapak di pinggir ladang penduduk. Dari sini aja udah berasa bedanya. Kalo gunung yang biasa, batas antara ladang penduduk sama vegetasi hutan itu gak terlalu jauh, kalo ini mah minta ampun deh. Kemaleman dan ngantuk, akhirnya kami buka tenda sebelum sampai ke Jati Banteng. Malam itu, bulan sudah tiga perempat dan sinarnya menembus pepohonan dan jatuh ke tenda. Agak mirip scenes film horor. (-__-"). Anyway suhu belum terlalu dingin makanya tidur paling nyenyak menurut saya adalah disini.

...rise and shine... 
Hari kedua
Berbeda dengan hari pertama dimana matahari bersinar sangat cerah, hari kedua langit agak berawan. Alhamdulillah.. setidaknya bisa mengurangi tingkat kehitaman kulit ketika sampai di Jakarta nanti hohoho. Anyway mata air Jati Banteng adalah mata air pertama dan bisa dijadikan patokan dalam pendakian. Kalau mau ke mata airnya, harus menuruni jalan setapak yang sedikit curam di sebelah kiri  jalur.


Setelah istirahat sebentar, kami dan tiga orang teman baru dari Bekasi yang kebetulan bertemu di Jati Banteng, melanjutkan perjalanan ke Mata Air II. Jarak tempuh dari Jati Banteng ke mata air kedua tidak terlalu jauh, kurang lebih 3 jam, dengan kontur jalur yang naik turun. Sama dengan mata air di Jati Banteng, mata air ini terletak di bawah jalur pendakian, yang artinya kamu harus menuruni jalan kecil di sebelah kanan jalur untuk menuju kesana dan sekedar info, kali ini lebih curam dari jalur menuju mata air Jati Banteng. Cuaca siang itu cerah walaupun angin yang bertiup  cukup dingin.

begini ini jalur menuju Mata Air kedua
Teman ajaib dari Bekasi haha
Tujuan selanjutnya tentu saja the magnificient of Cikasur. Yap.. Cikasur adalah savana terluas  dan tercantik di Gunung Argopuro lengkap dengan komunitas burung meraknya. Untuk menuju kesana, kita harus melewati  tiga savana dengan jarak yang lumayan antar satu savana ke savana lainnya.

Kami meninggalkan mata air dua tepat pukul 4 sore, dengan estimasi jarak tempuh menuju Cikasur, sudah pasti kami akan melakukan track malam. Track malam memang menawarkan sensasi tersendiri terutama di Gunung Argopuro ini dimana kalau kalian cukup beruntung maka bisa meet and greet sama yang namanya babi hutan. Babi hutan memang banyak ditemukan di pegunungan ini ditandai dengan banyaknya jejak yang ia tinggalkan di samping kanan kiri jalur pendakian. Jejak yang ditinggalkan berupa tanah bekas galian karena begitulah cara babi hutan mencari makan, menghancurkan tanah dengan taringnya. FYI.. Babi hutan ini bisa sangat agresif apabila dia merasa terpojok. Oke. Jangan dibayangkan.

Cuaca malam itu sangat dingin dan angin bertiup cukup kencang sampai beberapa diantara kami harus mengenakan jaket windbreaker, sementara bulan hampir penuh diatas sana dengan ratusan bintang yang bersinar. Such a beautiful sky i have ever seen. Namun pada akhirnya, kantuk mengalahkan semuanya, dengan pertimbangan ini itu, maka setelah melewati satu savana, maka kami buka tenda, istirahat dan melanjutkan perjalanan ke Cikasur keesokan paginya.


Hari ketiga
Setelah segelas cokelat hangat dan beberapa potong roti, kami melanjutkan perjalanan ke sabana dua. Jalur menuju kesana didominasi oleh perdu berbunga putih di kanan kiri jalur yang membuat perjalan siang ini lebih mirip syuting film india ketimbang sebuah pendakian haha


Hanya satu setengah jam - kurang lebih - waktu tempuh dari tempat kami buka tenda semalam ke sabana dua. Kami sempat bertemu beberapa penduduk lokal yang hendak pulang selepas memanen selada air di Cikasur. Hey..! saya pasti lupa cerita kalau di Cikasur ada mata air yang bening sebening-beningnya. Di mata air itu banyak tumbuh selada air yang menjadi salah satu incaran penduduk lokal untuk dijual

Pak sisain saya sedikit pak.. buat masak mie (T_T)
Dari sabana dua ini menuju sabana tiga tidak terlalu jauh, kurang lebih satu jam saja kata mbak Audy item hihi.. Langit berawan dan agak mendung, kami sempat berfikir akan turun hujan namun langit kembali cerah setibanya kami di Cikasur pada pukul 3 sore. Hal pertama yang menarik perhatian saya -yang secara teknis belum mandi dari kemarin- adalah mata air yang airnya sebening kaca ini.

Selain keindahannya, padang rumput Cikasur ini memiliki sejarah hitam di masa penjajahan Belanda. Konon, dahulu pemerintah Belanda membangun landasan terbang di sini dengan mempekerja-rodikan rakyat jelata. Setelah pembangunan selesai, maka para pekerja rodi tersebut diperintahkan untuk menggali lubang yang cukup luas. Ketika lubang tersebut sudah jadi, seluruh pekerja rodi diperintahkan untuk masuk kesana kemudian mereka diberondong tembakan oleh tentara Belanda dan dikubur disana. Tidak ada bukti tertulis mengenai cerita tersebut kecuali memang benar tedapat sisa-sisa landasan terbang di Cikasur ini.

Trus.. angker dong tempat ini?
nah banyak pendaki terutama beberapa teman saya di Artcalogy yang pernah berkunjung kesini yang pernah mengalami hal aneh, yang paling sering adalah terdengarnya derap langkah sepatu prajurit di tengah malam. Tapi sekali lagi.. apapun itu makhluknya, *minumnya teh botol sosro eh..* sudah seharusnya kita, para endaki, yang statusnya adalah tamu, wajib untuk tidak berbuat keributan apalagi merusak apa yang sudah pada disini.

Hari Keempat
Waktunya eksplorasi Cikasur... Yeayyyyy \(^^)/. Sinar matahari pagi mengalahkan hawa dingin yang semalam suntuk mengganggu tidur saya. Rumput yang tertutup oleh embun es tampak berkilauan di bawah sinar matahari. Pukul 6  pagi, segera saya melepaskan kaus kaki, menenteng kamera saku, memakai sendal dan menyeret dua orang teman saya yang masih kemulan untuk keluar dari tenda dan menemani saya mengelilingi Cikasur

Selamat Pagiiii dri Cikasur!
Lihat pohon itu?? yap yang besar dan berada di tengah Cikasur itu... itu adalah Pohon yang unik. Kenapa saya bilang unik. berdasarkan Pak Ap - ranger gunung Argopuro - pohon ini tidak terdapat di seantero Pegunungan Iyang, kecuali di Cikasur ini. Konon ceritanya, ada noni belanda yang membawanya dari negeri asal dia kemudian di tanam disini.
Sisa landasan terbang Belanda
Those shadows are us :)
Tenda-tenda pendaki direruntuhan kantor landasan terbang
Tepat tengah hari, diiringi sinar matahari yang panas terik, kami beringsut meninggalkan Cikasur. Panas terik matahari adalah faktor utama yang membuat perjalanan melintasi sabana untuk seterusnya ke pemberhentian berikutnya yaitu Cisentor, menjadi sangat berat dan melelahkan. Kurang lebih 3 jam perjalanan antara Cikasur dan Cisentor, dengan kontur yang cukup curam. Berjalan menuju Cisentor harus berhati-hati, selain jurang di sebelah kirinya, banyak juga terdapat tanaman yang apabila durinya tersentuh akan timbul rasa panas dan kesemutan. Cisentor sendiri adalah titik temu antara jalur Baderan dengan jalur Bremi. Disini juga terdapat sungai kecil dan lapak yang cukup luas untuk membuka tenda. 

Sempat terjadi perdebatan kecil dimana harus membuka tenda selanjutnya. Dedi- leader di artcalogy- sepertinya lebih suka untuk buka tenda di Cisentor dan melanjutkan perjalanan ke Puncak Rengganis keseokan paginya dengan meninggalkan semua keril di dalam tenda. Sementara, menurut saya, Cisentor ke Puncak Rengganis masih cukup jauh dan rasanya lebih baik apabila melanjutkan perjalanan ke Rawa Embik dan buka tenda disana. Akhirnya dengan sedikit manyun sana - sini, perjalanan berlanjut ke Rawa Embik haha..

Rawa Embik merupakan pos terakhir sebelum Puncak Rengganis, dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam dari Cisentor. Rawa Embik merupakan sebuah lembah yang dialiri sungai kecil dengan suhu yang sangat dingin. Kami tiba disana pukul 5 sore lebih sedikit. Suhu luar biasa dingin sampai saya tidak tahan untuk memasak diluar tenda. Malam itu, bulan mencapai bentuknya yang sempurna. Sinarnya yang terang menembus sela-sela pohon dan jatuh diantara rerumputan yang berembun namun tidak ada seorang pun yang sudi keluar tenda dan lebih memilih meringkuk di dalam sleeping bag.

Hari Kelima
Kami baru keluar tenda setelah sinar matahari mulai menyinari tenda kami yang covernya basah kuyup tertimpa embun semalam. Rawa Embik konon merupakan ladang penggembalaan hewan ternak yang dipelihara untuk memenuhi kebutuhan istana Dewi Rengganis yang terdapat di puncak rengganis gunung Argopuro.

Sekelompok pendaki dari Mojokerto sudah mulai packing sementara rombongan diklat dari Mapala sebuah universitas di Jawa Timur sudah beranjak pergi






Kalau kami lebih memilih untuk foto-foto narsis sebelum melanjutkan perjalanan ke Puncak Rengganis hohoho..
















And finally.. setelah berjalan kurang lebih 2 jam setengah dari Rawa Embik, kami sampai di Puncak Rengganis. Alhamdulillah... sesuatu!. Di puncak Rengganis ini banyak ditemukan susunan batu-batu, sisa-sisa dari istana Dewi Rengganis.




Lensa kamera mulai bermain dan menangkap berbagai pemandangan yang terdapat di Puncak Rengganis, mulai dari tumpukan batu sisa-sisa istana Dewi Rengganis sampai bunga Edeilweiss yang mulai bermekaran di sana sini.



Biasanya, setelah mencapai puncak, euforia akan hilang tergantikan oleh beratnya perjalanan menuruni gunung, tapi tidak dengan gunung ini. Setelah dimanjakan oleh pemandangan di Puncak Rengganis, masih ada lagi hal menarik yang bisa dikunjungi saat perjalanan pulang nanti, yaitu Danau Taman Hidup yang dipercaya sebagai tempat mandi Dewi Rengganis, .

Jadi begini gambarannya, Gunung Argopuro memiliki dua jalur pendakian, dan biasanya pendaki jarang yang naik dan turun pada jalur yang sama agar dapat menikmati paket pemandangan lengkap di Argopuro. Untuk dapat melihat Danau Taman Hidup apabila berangkat dari jalur Baderan maka harus turun melewati jalur Bremi. Begitu pula sebaliknya, untuk dapat melihat keindahan Cikasur, maka pendaki yang naik dari jalur Bremi harus turun melewati jalur Baderan.

Idealnya, jalur turun dari Puncak Rengganis menuju Danau Taman Hidup adalah melewati kembali Cisentor. Dari Cisentor akan ada pertigaan yang menuju Bremi dengan jarak tempuh kurang lebih 12 jam, itu pun belum termasuk buka tenda apabila kemalaman sebelum sampai Danau Taman Hidup. Namun, ada jalan potong yang lebih singkat di dekat puncak. Melalui jalur ini, waktu tempuh ke Danau Taman Hidup hanya 5 jam saja dengan catatan jalur yang dilewati sangat curam.

Hiruk pikuk suara pendaki yang telah tiba lebih dahulu disana menjadi petunjuk tambahan dikala kami berada di Hutan Lindung yang mengelilingi Danau Taman Hidup. Kami sampai di Danau Taman Hidup tepat pukul 7 malam. Angin malam itu bertiup sangat kencang. Tenda sudah berdiri dan saya pun memutuskan untuk tidur sementara teman yang lain asik mengobrol dengan rombongan pendaki dari Mojokerto.

Hari keenam
Angin kencang yang semalam hilang tergantikan dengan mentari yang bersinar hangat. Pagi itu, Danau Taman Hidup ramai oleh pengunjung, baik pendaki maupun penduduk lokal yang sengaja light hiking kesini. Kami juga bertemu banyak teman baru disini. Menyenangkan!

dari danau ini puncak rengganis terlihat!


teman baru dari Jogja dan Mojokerto :)
Awalnya saya mengira bahwa setelah perjalanan turun kemarin, Danau taman Hidup sudah dekat dengan penduduk. Ternyata salah sodara-sodara... masih jauuuuuuuuuuuuuhhh.. (T_T) sementara kaki udah gak karuan pegelnya. Dengan kemampuan jalan yang secimit-secimit ini, gak heran kalau dari Danau Taman Hidup ke Desa Bremi saya membutuhkan waktu 5 jam. Hiks

Desa Bremi merupakan salah satu desa di kaki gunung Argopuro dengan mayoritas penduduknya adalah peternak sapi perah. Dari Bremi ke terminal Probolinggo hanya ada satu mini bus dengan 2 kali jam operasional, yaitu jam 6 pagi dan jam 4 sore. Kami memutuskan untuk ambil bus yang pagi agar bisa beristirahat dulu semalam di Desa Bremi. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan menuju ke Surabaya untuk seterusnya naik kereta kembali ke Jakarta. Dengan begitu, acara wikenisasi di Gunung Argopuro berakhir sudah.

After all, menurut saya, Gunung Argopuro punya LIMA daya tarik luar biasa.

Pertama, tracknya panjang kali lama, gunung ini memang gunung dengan track pendakian paling panjang di Pulau Jawa.

Kedua, gunung ini mungkin satu-satunya gunung di Pulau Jawa yang menawarkan jejeran savana komplit dengan binatang liar yang berkeliaran. Walau gak seekstrim di Afrika, tapi di padang rumput ini kamu bisa ketemu sama yang namanya Burung Merak dan Rusa

Ketiga, gunung ini punya Cikasur, savana terluas dengan sejarah yang lumayan ngeri tentang kekejaman kerja rodi jaman penjajahan dulu.

Keempat, gunung ini punya dua puncak, dan istimewanya di salah satu Puncaknya, yakni Puncak Rengganis, kamu bisa melihat puing2 istana tertinggi yang pernah di bangun di Pulau Jawa, Istana Dewi Rengganis.

Daya tarik terakhir adalah Danau Taman Hidup yang berada di tengah hutan lindung. 

Its worth to try lah pokoknya :)

Regards,





Ps.
Jangan lupa untuk menyiapkan persediaan makanan dan jaket tebal
ingat bahwa kematian digunung sering disebabkan oleh udara dingin dan perut yang kosong.. apalagi perjalanan ke Argopuro tidak secepat gunung yang lain.
Happy camping everyone..!

Backpacker Gunung Argopuro

Matahari nyaris tenggelam ketika saya dan dua orang teman saya menjejakkan kaki di base camp Gunung Argopuro di Desa Baderan, Situbondo, Jawa Timur. Perjalanan 17 jam Jakarta-Malang via kereta Matarmaja plus tambahan nyambung angkot ini itu dengan total perjalanan nyaris 28 jam membuat saya berada pada titik terdekil saya.

poto ini diambil keesokan paginya..
 pas udah cakepan dikit *uhuk*























Kok turun di Malang? kayak mau ke Semeru aja. And yes.. memang tujuan awal kami adalah Gunung Semeru, tapiiii demi melihat buanyaknya pendaki yang mau kesana juga maka rencana berubah ke Gunung Argopuro. 

Gunung kalo rame itu menurut saya udah gak seru lagi. Pertama, susah nyari lapak untuk buka tenda. Kedua, ada manusia, ada sampah maka banyak manusia akan ada banyak sampah dan itu bukan pemandangan yang bagus untuk liburan. Ketiga, i just dont like the crowded noisy situation

Walau namanya gak sepopuler Gunung Semeru, Gunung Argopuro gak kalah menarik kok,, selain karena statusnya sebagai gunung dengan track terpanjang di pulau jawa, gunung ini juga menawarkan banyak poin menarik misalnya saja deretan savana ala Afrika, Danau Taman Hidup yang berada di tengah hutan lindung serta berbagai bukti sejarah seperti adanya reruntuhan puing istana Dewi Rengganis di Puncaknya dan sisa bangunan landasan terbang Belanda di tengah pegunungan ini.

Balik ke cerita, pendakian baru dimulai keesokan sorenya, menuju pos pertama, mata air Jati Banteng. Perjalanan didominasi oleh jalanan setapak di pinggir ladang penduduk. Dari sini aja udah berasa bedanya. Kalo gunung yang biasa, batas antara ladang penduduk sama vegetasi hutan itu gak terlalu jauh, kalo ini mah minta ampun deh. Kemaleman dan ngantuk, akhirnya kami buka tenda sebelum sampai ke Jati Banteng. Malam itu, bulan sudah tiga perempat dan sinarnya menembus pepohonan dan jatuh ke tenda. Agak mirip scenes film horor. (-__-"). Anyway suhu belum terlalu dingin makanya tidur paling nyenyak menurut saya adalah disini.

...rise and shine... 
Hari kedua
Berbeda dengan hari pertama dimana matahari bersinar sangat cerah, hari kedua langit agak berawan. Alhamdulillah.. setidaknya bisa mengurangi tingkat kehitaman kulit ketika sampai di Jakarta nanti hohoho. Anyway mata air Jati Banteng adalah mata air pertama dan bisa dijadikan patokan dalam pendakian. Kalau mau ke mata airnya, harus menuruni jalan setapak yang sedikit curam di sebelah kiri  jalur.


Setelah istirahat sebentar, kami dan tiga orang teman baru dari Bekasi yang kebetulan bertemu di Jati Banteng, melanjutkan perjalanan ke Mata Air II. Jarak tempuh dari Jati Banteng ke mata air kedua tidak terlalu jauh, kurang lebih 3 jam, dengan kontur jalur yang naik turun. Sama dengan mata air di Jati Banteng, mata air ini terletak di bawah jalur pendakian, yang artinya kamu harus menuruni jalan kecil di sebelah kanan jalur untuk menuju kesana dan sekedar info, kali ini lebih curam dari jalur menuju mata air Jati Banteng. Cuaca siang itu cerah walaupun angin yang bertiup  cukup dingin.

begini ini jalur menuju Mata Air kedua
Teman ajaib dari Bekasi haha
Tujuan selanjutnya tentu saja the magnificient of Cikasur. Yap.. Cikasur adalah savana terluas  dan tercantik di Gunung Argopuro lengkap dengan komunitas burung meraknya. Untuk menuju kesana, kita harus melewati  tiga savana dengan jarak yang lumayan antar satu savana ke savana lainnya.

Kami meninggalkan mata air dua tepat pukul 4 sore, dengan estimasi jarak tempuh menuju Cikasur, sudah pasti kami akan melakukan track malam. Track malam memang menawarkan sensasi tersendiri terutama di Gunung Argopuro ini dimana kalau kalian cukup beruntung maka bisa meet and greet sama yang namanya babi hutan. Babi hutan memang banyak ditemukan di pegunungan ini ditandai dengan banyaknya jejak yang ia tinggalkan di samping kanan kiri jalur pendakian. Jejak yang ditinggalkan berupa tanah bekas galian karena begitulah cara babi hutan mencari makan, menghancurkan tanah dengan taringnya. FYI.. Babi hutan ini bisa sangat agresif apabila dia merasa terpojok. Oke. Jangan dibayangkan.

Cuaca malam itu sangat dingin dan angin bertiup cukup kencang sampai beberapa diantara kami harus mengenakan jaket windbreaker, sementara bulan hampir penuh diatas sana dengan ratusan bintang yang bersinar. Such a beautiful sky i have ever seen. Namun pada akhirnya, kantuk mengalahkan semuanya, dengan pertimbangan ini itu, maka setelah melewati satu savana, maka kami buka tenda, istirahat dan melanjutkan perjalanan ke Cikasur keesokan paginya.


Hari ketiga
Setelah segelas cokelat hangat dan beberapa potong roti, kami melanjutkan perjalanan ke sabana dua. Jalur menuju kesana didominasi oleh perdu berbunga putih di kanan kiri jalur yang membuat perjalan siang ini lebih mirip syuting film india ketimbang sebuah pendakian haha


Hanya satu setengah jam - kurang lebih - waktu tempuh dari tempat kami buka tenda semalam ke sabana dua. Kami sempat bertemu beberapa penduduk lokal yang hendak pulang selepas memanen selada air di Cikasur. Hey..! saya pasti lupa cerita kalau di Cikasur ada mata air yang bening sebening-beningnya. Di mata air itu banyak tumbuh selada air yang menjadi salah satu incaran penduduk lokal untuk dijual

Pak sisain saya sedikit pak.. buat masak mie (T_T)
Dari sabana dua ini menuju sabana tiga tidak terlalu jauh, kurang lebih satu jam saja kata mbak Audy item hihi.. Langit berawan dan agak mendung, kami sempat berfikir akan turun hujan namun langit kembali cerah setibanya kami di Cikasur pada pukul 3 sore. Hal pertama yang menarik perhatian saya -yang secara teknis belum mandi dari kemarin- adalah mata air yang airnya sebening kaca ini.

Selain keindahannya, padang rumput Cikasur ini memiliki sejarah hitam di masa penjajahan Belanda. Konon, dahulu pemerintah Belanda membangun landasan terbang di sini dengan mempekerja-rodikan rakyat jelata. Setelah pembangunan selesai, maka para pekerja rodi tersebut diperintahkan untuk menggali lubang yang cukup luas. Ketika lubang tersebut sudah jadi, seluruh pekerja rodi diperintahkan untuk masuk kesana kemudian mereka diberondong tembakan oleh tentara Belanda dan dikubur disana. Tidak ada bukti tertulis mengenai cerita tersebut kecuali memang benar tedapat sisa-sisa landasan terbang di Cikasur ini.

Trus.. angker dong tempat ini?
nah banyak pendaki terutama beberapa teman saya di Artcalogy yang pernah berkunjung kesini yang pernah mengalami hal aneh, yang paling sering adalah terdengarnya derap langkah sepatu prajurit di tengah malam. Tapi sekali lagi.. apapun itu makhluknya, *minumnya teh botol sosro eh..* sudah seharusnya kita, para endaki, yang statusnya adalah tamu, wajib untuk tidak berbuat keributan apalagi merusak apa yang sudah pada disini.

Hari Keempat
Waktunya eksplorasi Cikasur... Yeayyyyy \(^^)/. Sinar matahari pagi mengalahkan hawa dingin yang semalam suntuk mengganggu tidur saya. Rumput yang tertutup oleh embun es tampak berkilauan di bawah sinar matahari. Pukul 6  pagi, segera saya melepaskan kaus kaki, menenteng kamera saku, memakai sendal dan menyeret dua orang teman saya yang masih kemulan untuk keluar dari tenda dan menemani saya mengelilingi Cikasur

Selamat Pagiiii dri Cikasur!
Lihat pohon itu?? yap yang besar dan berada di tengah Cikasur itu... itu adalah Pohon yang unik. Kenapa saya bilang unik. berdasarkan Pak Ap - ranger gunung Argopuro - pohon ini tidak terdapat di seantero Pegunungan Iyang, kecuali di Cikasur ini. Konon ceritanya, ada noni belanda yang membawanya dari negeri asal dia kemudian di tanam disini.
Sisa landasan terbang Belanda
Those shadows are us :)
Tenda-tenda pendaki direruntuhan kantor landasan terbang
Tepat tengah hari, diiringi sinar matahari yang panas terik, kami beringsut meninggalkan Cikasur. Panas terik matahari adalah faktor utama yang membuat perjalanan melintasi sabana untuk seterusnya ke pemberhentian berikutnya yaitu Cisentor, menjadi sangat berat dan melelahkan. Kurang lebih 3 jam perjalanan antara Cikasur dan Cisentor, dengan kontur yang cukup curam. Berjalan menuju Cisentor harus berhati-hati, selain jurang di sebelah kirinya, banyak juga terdapat tanaman yang apabila durinya tersentuh akan timbul rasa panas dan kesemutan. Cisentor sendiri adalah titik temu antara jalur Baderan dengan jalur Bremi. Disini juga terdapat sungai kecil dan lapak yang cukup luas untuk membuka tenda. 

Sempat terjadi perdebatan kecil dimana harus membuka tenda selanjutnya. Dedi- leader di artcalogy- sepertinya lebih suka untuk buka tenda di Cisentor dan melanjutkan perjalanan ke Puncak Rengganis keseokan paginya dengan meninggalkan semua keril di dalam tenda. Sementara, menurut saya, Cisentor ke Puncak Rengganis masih cukup jauh dan rasanya lebih baik apabila melanjutkan perjalanan ke Rawa Embik dan buka tenda disana. Akhirnya dengan sedikit manyun sana - sini, perjalanan berlanjut ke Rawa Embik haha..

Rawa Embik merupakan pos terakhir sebelum Puncak Rengganis, dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam dari Cisentor. Rawa Embik merupakan sebuah lembah yang dialiri sungai kecil dengan suhu yang sangat dingin. Kami tiba disana pukul 5 sore lebih sedikit. Suhu luar biasa dingin sampai saya tidak tahan untuk memasak diluar tenda. Malam itu, bulan mencapai bentuknya yang sempurna. Sinarnya yang terang menembus sela-sela pohon dan jatuh diantara rerumputan yang berembun namun tidak ada seorang pun yang sudi keluar tenda dan lebih memilih meringkuk di dalam sleeping bag.

Hari Kelima
Kami baru keluar tenda setelah sinar matahari mulai menyinari tenda kami yang covernya basah kuyup tertimpa embun semalam. Rawa Embik konon merupakan ladang penggembalaan hewan ternak yang dipelihara untuk memenuhi kebutuhan istana Dewi Rengganis yang terdapat di puncak rengganis gunung Argopuro.

Sekelompok pendaki dari Mojokerto sudah mulai packing sementara rombongan diklat dari Mapala sebuah universitas di Jawa Timur sudah beranjak pergi






Kalau kami lebih memilih untuk foto-foto narsis sebelum melanjutkan perjalanan ke Puncak Rengganis hohoho..
















And finally.. setelah berjalan kurang lebih 2 jam setengah dari Rawa Embik, kami sampai di Puncak Rengganis. Alhamdulillah... sesuatu!. Di puncak Rengganis ini banyak ditemukan susunan batu-batu, sisa-sisa dari istana Dewi Rengganis.




Lensa kamera mulai bermain dan menangkap berbagai pemandangan yang terdapat di Puncak Rengganis, mulai dari tumpukan batu sisa-sisa istana Dewi Rengganis sampai bunga Edeilweiss yang mulai bermekaran di sana sini.



Biasanya, setelah mencapai puncak, euforia akan hilang tergantikan oleh beratnya perjalanan menuruni gunung, tapi tidak dengan gunung ini. Setelah dimanjakan oleh pemandangan di Puncak Rengganis, masih ada lagi hal menarik yang bisa dikunjungi saat perjalanan pulang nanti, yaitu Danau Taman Hidup yang dipercaya sebagai tempat mandi Dewi Rengganis, .

Jadi begini gambarannya, Gunung Argopuro memiliki dua jalur pendakian, dan biasanya pendaki jarang yang naik dan turun pada jalur yang sama agar dapat menikmati paket pemandangan lengkap di Argopuro. Untuk dapat melihat Danau Taman Hidup apabila berangkat dari jalur Baderan maka harus turun melewati jalur Bremi. Begitu pula sebaliknya, untuk dapat melihat keindahan Cikasur, maka pendaki yang naik dari jalur Bremi harus turun melewati jalur Baderan.

Idealnya, jalur turun dari Puncak Rengganis menuju Danau Taman Hidup adalah melewati kembali Cisentor. Dari Cisentor akan ada pertigaan yang menuju Bremi dengan jarak tempuh kurang lebih 12 jam, itu pun belum termasuk buka tenda apabila kemalaman sebelum sampai Danau Taman Hidup. Namun, ada jalan potong yang lebih singkat di dekat puncak. Melalui jalur ini, waktu tempuh ke Danau Taman Hidup hanya 5 jam saja dengan catatan jalur yang dilewati sangat curam.

Hiruk pikuk suara pendaki yang telah tiba lebih dahulu disana menjadi petunjuk tambahan dikala kami berada di Hutan Lindung yang mengelilingi Danau Taman Hidup. Kami sampai di Danau Taman Hidup tepat pukul 7 malam. Angin malam itu bertiup sangat kencang. Tenda sudah berdiri dan saya pun memutuskan untuk tidur sementara teman yang lain asik mengobrol dengan rombongan pendaki dari Mojokerto.

Hari keenam
Angin kencang yang semalam hilang tergantikan dengan mentari yang bersinar hangat. Pagi itu, Danau Taman Hidup ramai oleh pengunjung, baik pendaki maupun penduduk lokal yang sengaja light hiking kesini. Kami juga bertemu banyak teman baru disini. Menyenangkan!

dari danau ini puncak rengganis terlihat!


teman baru dari Jogja dan Mojokerto :)
Awalnya saya mengira bahwa setelah perjalanan turun kemarin, Danau taman Hidup sudah dekat dengan penduduk. Ternyata salah sodara-sodara... masih jauuuuuuuuuuuuuhhh.. (T_T) sementara kaki udah gak karuan pegelnya. Dengan kemampuan jalan yang secimit-secimit ini, gak heran kalau dari Danau Taman Hidup ke Desa Bremi saya membutuhkan waktu 5 jam. Hiks

Desa Bremi merupakan salah satu desa di kaki gunung Argopuro dengan mayoritas penduduknya adalah peternak sapi perah. Dari Bremi ke terminal Probolinggo hanya ada satu mini bus dengan 2 kali jam operasional, yaitu jam 6 pagi dan jam 4 sore. Kami memutuskan untuk ambil bus yang pagi agar bisa beristirahat dulu semalam di Desa Bremi. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan menuju ke Surabaya untuk seterusnya naik kereta kembali ke Jakarta. Dengan begitu, acara wikenisasi di Gunung Argopuro berakhir sudah.

After all, menurut saya, Gunung Argopuro punya LIMA daya tarik luar biasa.

Pertama, tracknya panjang kali lama, gunung ini memang gunung dengan track pendakian paling panjang di Pulau Jawa.

Kedua, gunung ini mungkin satu-satunya gunung di Pulau Jawa yang menawarkan jejeran savana komplit dengan binatang liar yang berkeliaran. Walau gak seekstrim di Afrika, tapi di padang rumput ini kamu bisa ketemu sama yang namanya Burung Merak dan Rusa

Ketiga, gunung ini punya Cikasur, savana terluas dengan sejarah yang lumayan ngeri tentang kekejaman kerja rodi jaman penjajahan dulu.

Keempat, gunung ini punya dua puncak, dan istimewanya di salah satu Puncaknya, yakni Puncak Rengganis, kamu bisa melihat puing2 istana tertinggi yang pernah di bangun di Pulau Jawa, Istana Dewi Rengganis.

Daya tarik terakhir adalah Danau Taman Hidup yang berada di tengah hutan lindung. 

Its worth to try lah pokoknya :)

Regards,





Ps.
Jangan lupa untuk menyiapkan persediaan makanan dan jaket tebal
ingat bahwa kematian digunung sering disebabkan oleh udara dingin dan perut yang kosong.. apalagi perjalanan ke Argopuro tidak secepat gunung yang lain.
Happy camping everyone..!

Wednesday, June 12, 2013

Seru Kuadrat di Jambore II ISMAKES Jabar

Wayooo... kalo denger kata Jambore pasti inget jaman pramuka dulu pake seragam cokelat tua-cokelat muda trus pake iket pinggang yang lebih mirip toko serba ada karena apa aja nyantel disitu.. dari tambang sampe piso kecil. Nah kemaren ini, sempet ikutan nimbrung di acaranya anak2 ISMAKES JABAR. Acara Jamborenya dari tanggal 24-26 Mei kemarin di Gunung Masigit, Kareumbi, Cicalengka, Bandung.

Acara ini diikuti oleh 150-an mahasiswa kesehatan dari berbagai daerah, mulai dari Bandung dan sekitarnya sampai dari Yogyakarta.


Jum'at, 24 Mei 2013
Berhubung acara registrasi bertempat di Bandung dan mulainya jam 09.00 pula, maka berangkatlah saya pada pagi2 buta dengan tas segede alaihim gambreng.. untungnya saya gak sendiri tapi ber-sembilan belas hahaha.. yang berpencar jadi 3 mobil ( makasih yaaa ayahnya Stephany dan ayahnya Reny.. :* ). Perjalanan ke Bandung sempet diwarnai acara nyasar karena emang kita sama sekali gak tau dimana itu Stikes Bhakti Kencana yang jadi tuan rumah registrasi. Sesampenya disana, kita disambut sama meja registrasi dan sekotak snack. (^_^"). Acara selanjutnya adalah kenalan dan bagi2 kelompok. Setelah melalui seleksi alam.. terbentuklah  anak-anak ajaib ini didalam kelompok PJ 3


Sekitar jam 14.00 siang, upacara pelepasan dilangsungkan di lapangan STIKES Bhakti Kencana oleh Bapak siapa gitu ya.. hahaha saya lupa.. secara cuaca panas abis dan saya lebih konsen untuk kipas-kipas dibanding dengerin sambutan-sambutan. 

Pelepasan Balon
Setelah upacara pelepasan selesai.. its time to rock! Dengan naik mobil tronton ala tentara dan posisi duduk dempet-dempetan ala ikan sarden, para peserta Jambore II ISMAKES JaBar berangkat menuju Taman Buru Gunung Masigit, Kareumbi, Cicalengka, Bandung.



Perjalanan ke taman Buru Gunung Masigit Kareumbi, Cicalengka ini makan waktu 2 jam plus jalanan yang minta ampun ngebulnya. Tapi semua itu terbayar begitu sampe di TKP dan turun dari tronton. Adem.. Ijo.. dan matahari begitu kerennya.

Sesi Ikan Sarden berakhir sudah :)



Menurut bapak.. bapak siapa ya? lupa lagi hahaha.. - im not good at remembering names - pokoknya mah yang jagain Taman Buru ini lah.. ibarat gunung mah mungkin dia ini rangernya. Anyway.. menurut cerita bapak ini, taman Buru Gunung Masigit Kareumbi ini dikelola olah Wanadri ( gak asing ya dengan nama itu? ). Disini juga ada yang namanya wali pohon, cukup dengan beli bibit pohon seharga 50ribu rupiah, kamu bisa dapet satu pohon yang akan dinamain pake nama kamu, dapet sertifikat dan nomor pin yang nantinya bisa dicek di websitenya wanadri untuk tau udah segede apa pohon yang kamu punya.

Balik lagi ke acara Jambore II ISMAKES JaBar.. acara selanjutnya ( kalo gak salah inget ) adalah materi tentang motivasi diri gitu deh.. yang dibawain sama salah satu mantan anggota ISMAKES yang udah sukses, abis itu barbeque night plus jalan-jalan malem di sekitar Taman Buru ini. Sempet ujan gerimis tapi malah nambah seru perjalanan (^^). Kita baru balik ke tenda sekita jam 12 malem.

Curious where we slept that night huh?? This is it Tenda Pleton!

Sabtu, 25 Mei 2013

Rise and Shineeee...!! Acara hari kedua adalah yang udah saya tunggu - tunggu yaituuuuuuuuu.... basic survival, making trap and botanical herbal ( untuk materinya nanti saya posting terpisah yaa.. biar panjang kali lebar ^^ ) Aaaahh ini dia yang bikin saya ikut nimbrung di Jambore ini. Materi berbau alam ini dibawakan langsung oleh anggota Wanadri dan dibagi jadi beberapa pos di dalam Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi ini. Yeaaayyy... masuk hutan lagi \(^_^)/


Di Pos 1, udah ada kang Sony yang ngisi tentang cara ngebuat api dari batang pohon pinus sama cara buat bivak dari batang pohon

Gesek teruuuus sampe keluar asep!

Di Pos 2 ada kang siapa ya? ( damn.,, lupa lagi hahaha..) yang ngajarin cara bikin trap untuk binatang . Trap ini mungkin berguna buat yang hobi nyasar di gunung.


jebakan betmen cocok buat yang ulang tahun hahahaha
Materi terakhir ini saya agak kurang suka secara sampe sekarang aja suka susah bedain pohon-pohon sederhana..sekarang malah disuruh ngenalin pohon yang namanya aja baru saya denger. yap.. Botanical Herbal yakni mengenali tanaman apa aja di gunung yang bisa dibuat obat. Materi dibawakan oleh kang.. *saha eta teh namina? (*_*)


Setelah puas maen-maen di dalem Taman Buru, acara lanjut ke materi tentang First Aid Kit.. sebenernya First Aid Kit yang saya butuhkan adalah bantal.. secara ngantuk banget! Tapi sempet nyimak dikit tentang pertolongan pertama pada orang kelilipan hehe.. Dilanjut malemnya dengan materi tentang pentingnya mahasiswa berorganisasi. Hari kedua ditutup dengan api unggun dan salam perpisahan karena besok adalah hari terakhir. Hiks.

Minggu, 26 Mei 2013
Di hari terakhir ini ternyata masih ada lagi acara yang gak kalah dekilnya dari kemaren yaituuuu... outbond!

kayak di pilem rambo ya?
Nah.. setelah cemong gak keruan dan ngantri mandi yang luar biasa lamanya, akhirnya upacara penutupan dimulai juga tepat pukul 13.45WIb dan dengan begitu berakhirlah 3 hari 2 malem di JAMBORE II ISMAKES JaBar ini. Untuk PJ tigaaaa... will miss you guys alot...*hug*


*Ps
Thanks teteh dan akang panitia.. untuk kerja kerasnya..
 semoga jambore3 lebih sempurna lagi rundownnya.. satu padu..tempa diri..raih cita..sehat semua!

Regards,