Sunday, March 22, 2015

Backpackeran ke Baluran Part 2 : Balada Pintu Masuk Taman Nasional Baluran

Bis Mila Jaya yang kita tumpangi dari Terminal Bayuangga, Probolinggo menuju Banyuwangi masih melaju ugal-ugalan. Udah gak keitung berapa kali, saya dan Acil yang sama-sama duduk di kursi barisan paling belakang, ajrut-ajrutan ke kanan dan kiri. Perjalanan dari Probolinggo ke Banyuwangi memang tergolong cukup lama, memakan waktu kurang lebih 4-5 jam dari Kota Malang, which is baru kita tempuh setengahnya :  dua jam

Acil garuk-garuk kepala, mati gaya. Sementara saya nyaris mati keselek ketombe Acil yang bertebaran di udara. Kita memang berada di level mati gaya akut dimana kita gak bisa melakukan apapun kecuali duduk dan bengong. Gak banyak memang yang bisa kita lakukan di dalam bis, terutama bis yang jalannya ngepot-sradak-sruduk kayak gini.

Menjelang magrib, bis sampai di Terminal Situbondo. Disini bis berhenti agak lama. Acil tiba-tiba berdiri kemudian celingak celinguk. Pandangan matanya tertuju liar menatap sudut-sudut terminal Situbondo. Saya yang sedari tadi duduk disebelahnya, jelas heran bercampur kaget.

"Put, di Baluran ada ATM gak ya?". Saya ketawa, "ya gak lah dodol, emang siapa yang mau tarik tunai disana? Rusa??". Saya gak nyangka, ternyata efek tidak-mandi-dua-hari terhadap sistem saraf pusat bisa sedemikian merusaknya.

"yah terus gimana dong?" tanya Acil, lemes.
"apanya yang gimana?"
"duit gue tinggal 25ribu"

Gantian saya yang lemes dengernya.

Tapi ada hal lain yang lebih bikin lemes selain fakta bahwa kita berdua kekurangan duit: Hutan Baluran. Iya. Hutan Baluran. Saya pernah baca di blog orang kalau mendekati pintu masuk Taman Nasional Baluran, kita akan melewati deretan hutan Baluran yang masih termasuk area Taman Nasional Baluran. Waktu itu, jam nyaris menunjukkan pukul 07 malam. Bis Mila Jaya yang kita tumpangi mulai melintas di jalanan dimana kanan kirinya adalah hutan. Gak ada lampu penerang jalan, gak ada tanda-tanda kehidupan. Semua gelap gulita. Saya gak banyak bicara, begitu juga Acil. Saya yakin di dalam kepalanya pasti ada banyak pertanyaan. Bener aja. Gak berapa lama kemudian Acil mulai melontarkan pertanyaan.

"put kalo pintu masuknya di tengah-tengah hutan kaya gini, gimana?". Saya mencium aroma kepanikan dari nada bicara Acil. Saya menaikkan kedua pundak saya sebagai tanda kalau saya juga gak ngerti harus berbuat apa. Wajar sih panik karena  memang menurut info yang kita dapetin dari hasil surfing, dari pintu gapura selamat datang, jalanan yang harus ditempuh menuju pos penginapan sejauh 15km. Gak kebayang aja kalo mesti jalan kaki di tengah-tengah hutan kayak gitu. 

Tiba-tiba si ibu kondektur berteriak, "yak yang mau turun di Batangan, siap-siap!". Demi mendengar aba-aba si ibu kondektur, mata saya langsung tertuju ke luar jendela, mencoba mencari tanda-tanda kehidupan di luar sana. Gak keliatan apa-apa. Jangan-jangan bener dugaan Acil kalo pintu gapura selamat datang di Taman Nasional Baluran berada di tengah-tengah hutan.

"put, serius? SERIUS ni?!" Acil menanyakan pertanyaan yang sama, kali ini dengan penekanan yang agak berbeda : lebih panik. "udah tenang aja", saya sok cool padahal mah mau mencret saking parnonya. Terdengar teriakan si ibu kondektur lagi, "yoooo batangan, kirii!". Dengan mantap saya dan Acil melangkah turun.

Begitu menjejakkan kaki, hal pertama yang kita lihat adalah gapura besar dengan tulisan di atasnya : Taman Nasional Baluran. Suasana sekeliling gelap gulita. Tiba-tiba muncul seorang perempuan yang minta diantar pulang. Saya dan Acil pandang-pandangan. Karena merasa kasihan, kita berdua memutuskan untuk mengantar perempuan ini pulang dulu ke rumahnya. Di rumahnya, kita disambut sama ibu si perempuan dan dua orang saudaranya. Baru aja kita mau pamit untuk melanjutkan perjalanan, ibunya si perempuan menawarkan kami untuk makan malam dengan menu steak daging, yang tanpa kita tau, sudah diberi obat tidur. Begitu terbangun, tangan dan kaki kita berdua dalam keadaan terikat!

Oh tunggu dulu. Itu kan cerita Rumah Dara.

Cerita kita gak semenakutkan itu kok :D
Karena ternyata pintu masuk Taman nasional Baluran gak berada di tengah hutan Baluran yang gelap gulita. Faktanya malah, pintu masuk Taman Nasional Baluran dekat dengan kantor polisi dan pintu masuk Desa Wisata Kebangsaan which is artinya Terang Benderang! Legaaaaaaaa!

Kita berdua langsung menghampiri loket masuk yang berada persis di sebelah gerbang. Hal pertama yang saya tanyakan adalah : boleh atau gak nya kita diriin tenda di dalam taman nasional. Ini penting banget karena berhubungan langsung dengan kondisi keuangan kita berdua yang cekak parah. Dan jawabannya adalah GAK BOLEH.

Wadezig. 

Petugas posko kemudian menyarankan kami untuk mencari homestay di dalam desa wisata kebangsaan, yang letaknya bersebelahan dengan pintu masuk Taman Nasional Baluran. 
"murah kok, paling 75ribu" sambung si petugas loket, seolah bisa menerawang isi dompet kita berdua. Iya, uang kita berdua kalau ditotalin gak lebih dari 140ribu. Gak bakalan cukup, belum untuk tiket masuk dan sewa motor untuk eksplor Baluran besok pagi, sementara itu gak ada tanda-tanda ATM di sekitar sini.

Saya dan Acil cuma bisa liat-liatan.


Gimana nasib kita berdua selanjutnya? Masih adakah kedodolan berikutnya??
tunggu cerita selanjutnya di part3 yha ^^



Saturday, March 14, 2015

Backpacker ke Baluran Part 1 : Calo nya yang kepinteran ataaaau kita nya yang...

Masih tentang Malang, masih bareng sama manusia setengah dodol, Acil, perjalanan berlanjut ke destinasi yang sebenarnya gak ada di dalam itinerary kita berdua : Taman Nasional Baluran. Iya, Taman Nasional Baluran memang gak ada di iten saya dan Acil ketika memutuskan untuk nge-trip ke Malang. Taman Nasional Baluran 'kan adanya di Banyuwangi, sekian ratus kilometer dari Malang. Tapi gak ngerti kenapa, ketika lagi sarapan di sebuah warung nasi di Malang, tiba-tiba saya dan Acil udah ber-high five sambil teriak "OKE DEAL! BALURAN!" . Iya. I know. Gak jelas banget tripnya ya? :D

Pulang dari Bromo, seturunnya dari elf yang membawa saya dan Acil dari Cemoro Lawang ke Probolinggo, kita berdua langsung bergegas masuk ke dalam Terminal Bayu Angga. Kita sama-sama belum pernah menginjakkan kaki di Banyuwangi. Dan dengan menenteng carier segede gaban, kita berdua sama-sama keliatan sebagai umpan empuk untuk para calo-calo bis disana.

Setengah grasa-grusu, saya dan Acil menghampiri satu bis jurusan Banyuwangi yang udah ngetem manis di pojokan terminal, Bis Mila Jaya.
"Banyuwangi ya pak?" Tanya saya sambil mengatur nafas yang udah senen kamis.
"Lewat Baluran?" tanya saya lagi.
"iya neng lewat"
Mendengar deru mesin bis yang sudah menyala-nyala, saya bertanya lagi dengan nada panik,
"udah mau jalan ya pak?"
Si Supir menjawab dengan mantap, "iya neng, 10 menit lagi!"

Sambil tergopoh-gopoh dengan carier di pundak, Saya dan Acil bagi tugas. Saya beli nasi bungkus dan Acil ke toilet. Bukan. Acil bukan mau ngebersihin toilet. Dia emang udah kebelet pipis dari tadi. Setelah saya berhasil dapet dua nasi bungkus dan Acil berhasil pipis di tempat yang semestinya, kita berdua buru-buru naik ke bis Mila Jaya tadi. Kita sengaja memilih duduk di kursi paling belakang karena ada space yang cukup lega untuk naro tas dan segala barang bawaan kita. 

Belum juga ini pantat mendarat manis di kursi bis, seorang laki-laki berusia kira-kira empat puluhan dan memakai setelan berwarna abu-abu menghampiri kami, "langsung bayar ya mbak, 75rb satu orang" katanya tegas. Saya yang nyawanya masih berceceran di dalam mobil elf, tanpa pikir panjang langsung menyerahkan satu lembar uang seratus ribuan dan lima puluh ribuan untuk ongkos kita berdua.

Saya sempat curiga sama si bapak ini, biasanya 'kan dimintain ongkos ketika bisnya mulai berjalan ya?
"ahh.. mungkin terobosan baru" pikir saya dalam hati.
Untungnya, dengan sisa-sisa kewarasan saya, saya masih sempat meminta karcis bis sebagai bukti bahwa kami sudah membayar ongkos perjalanan.
"Bentar neng", katanya sambil berjalan ke bagian depan bis. Gak berapa lama, dia datang lagi membawa dua lembar karcis bis sambil berkata, "hati-hati sama barang bawaannya neng".
"Tumbenan amat ini kondektur perhatian", batin saya

Pukul setengah tiga sore, bis mulai melaju indah, saya pun mulai merem-merem indah. Semuanya terasa indah sampai satu ketika saya melihat ada ibu-ibu berkemeja merah dengan tulisan Mila Jaya di kantong sebelah kanannya, mendatangi penumpang satu persatu untuk meminta ongkos. Merasa ada yang gak beres, saya langsung berbisik ke Acil yang duduk persis di sebelah saya,
"Cil.. cil, kayaknya kita kena tipu deh".
"Iya ya, kata mas Slamet 'kan ongkosnya gak mungkin lebih dari 60ribu" Acil menjawab sambil sibuk garuk-garuk kepala. Jangan heran, ini anak emang belum mandi sejak awal trip dua hari yang lalu. 

Begitu si ibu kondektur sampai di barisan kursi paling belakang, saya langsung menyerahkan dua lembar karcis yang tadi saya dapat di awal. "Bu", kata saya memulai percakapan. "Mau turun di Batangan ya bu, yang pintu masuk Taman Nasional Baluran itu". Si ibu mengangguk sambil tangannya sibuk merapikan lembaran demi lembaran uang rupiah yang sedari tadi dia genggam.

Lalu tiba-tiba Acil punya ide supaya saya menanyakan langsung ke si ibu kondektur berapa tarif bis sebenernya ke Banyuwangi. Saya pun setuju, yaah meskipun jawabannya nanti bisa amat beresiko mengganggu mood liburan, tapi paling gak kita jadi tau kebenarannya.


Dengan penuh keberanian, saya bertanya kepada si ibu kondektur. 
"Bu, biasanya ongkos ke Banyuwangi berapa ya bu?"
Si ibu kondektur menoleh ke saya. Dengan muka agak heran, dia malah balik bertanya berapa nominal yang saya bayar untuk sampai ke Banyuwangi. Saya pun menjawab sejujurnya.


Si ibu kaget. Beberapa penumpang yang sedari tadi menyimak percakapan antara saya dan si ibu kondektur juga ikutan kaget.
"Seorang 75rb??" si Ibu kondektur seolah gak percaya dengan apa yang baru saya katakan. 
"IYA BU, SEORANG 75RIBU" ulang saya, mantap.
Sambil melontarkan tatapan kasihan-deh-lo-ketipu, si ibu berkata "ongkosnya cuma 32rb per orang lho neng"
Begitu mendengar ternyata ongkosnya murah meriah, jelas kita berdua kaget setengah mateng.


"Sial.. untung banyak dia, dua kali lipet!" Acil mulai ngegerutu.
"ya udah Cil, doain aja semoga tu bapak cepet insaf", kata saya mencoba menenangkan suasana. Padahal kalau nanti saya ketemu lagi sama calo yang tadi.. bakalan saya suruh Acil untuk nyedot ubun-ubun itu orang. Biar tau rasa! 

Pas emosi udah agak reda, saya jadi kepikiran satu hal, ini calonya yang kepinteran ataaaaau.. kitanya yaaaaaaaaaang.... ah sudahlah.


Lalu..
Gimana kelanjutan nasib kita berdua selepas ini?
Gimana pula dengan nasib perekonomian kami setelah ketipu?
Bisakah kita berdua sampai dengan selamat di Taman Nasional Baluran?

Stay tuned trus untuk part berikutnya ya ^^




yang pingin bikin PACABI ( Paguyuban Anti Calo Bis Indonesia ),

Backpackeran Ke Bromo : Yeay! Acil Lulus SIM B!

Malem itu, saya lagi gelosoran di lantai kamar, saat Acil, transmigran dari Planet Namec, tiba-tiba aja bbm ke saya. "Ayo puutt, kemana kita?" tanyanya di dalam bbm. Saya agak kaget. Bukan apa, biasanya kalo ini anak mau nongol, suka didahului sama wangi kembang gitu. Belum sempat saya bales bbmnya, Acil udah memberondong saya dengan pertanyaan lain, "Semeru?? budget berapa?" 

Saya yang lagi males banget hiking, langsung mengkambing-hitamkan cuaca "Cuaca lagi jelek cil", keliling kota aja dah, kota apaaaa gitu". Acil lantas menyodorkan satu nama kota : Malang. Bicara tentang Malang, maka destinasi yang paling terkenal adalah Bromo. Ngebayangin lautan pasir dan kemungkinan saya bisa nyaru-nyaru dikit kayak Dian Sastro di film Pasir Berbisik membuat saya langsung mengiyakan ajakan Acil.

Maka tiga hari kemudian berangkatlah kita ke Bromo.

Ada satu rumus yang terkenal di dunia travelling. Rumusnya adalah.. semakin banyak orang yang ikut maka semakin murah biaya ngetripnya. Ini karena peserta patungannya menjadi lebih banyak untuk hal-hal yang bisa di share-cost, contohnya adalah sewa homestay atau mobil. Dan ketika memutuskan untuk ngetrip bareng Acil ke Bromo, kekhawatiran yang paling mendasar adalah masalah sewa jeep. Berdasarkan informasi yang saya dapet dari blog-blog orang, untuk bisa meng-eksplor Bromo, maka kita harus sewa jeep dengan tarif yang cukup bikin dompet mules apabila cuma dibagi berdua.

Benar saja, begitu sampai di loket masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, banyak mamang-mamang bertopi kupluk dan keredongan sarung menawarkan jasa penyewaan jeep.
"murah neng.. 450ribu buat liat sunrise sama ke kawah Bromo, kalo nambah ke Pasir Berbisik cuma 550 ribu, sekalian ke bukit teletubbies jadi 650 ribu" tawarnya panjang lebar. Harga ini jauh lebih mahal dibandingkan harga yang saya tau dari mbah gugel. 

Saya ngelirik Acil. 650ribu?? dibagi dua?? satu orang 325 ribu untuk eksplor Bromo? ya ampun.. ini mah seharga 4 hari eksplor Jogjakarta! Saya dan Acil yang sama-sama menganut prinsip ekonomi dengan modal sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, jelas merasa perlu berfikir ribuan kali sebelum memutuskan untuk menyewa jeep. "Gini aja deh mas, nanti kalo kita tertarik, kita balik lagi ke posko ini ya" tolak saya, halus. Setelah berhasil lari dari kejaran mamang-mamang bersarung, saya dan Acil terdampar di warung gorengan yang berada gak jauh di belakang loket masuk. Disitulah kami ketemu sama Mas Slamet. 

Setelah beberapa lama ngobrol bareng mas Slamet, tiba-tiba dia menawarkan sesuatu, "ataaaau.. mbak sama masnya mau naik motor?". Saya berusaha meyakinkan apa yang baru aja saya dengar, "Naik motor?? semacam ojeg gitu?". "Iya mbak, ojeg" jawab mas Slamet. "150rb, dianter ke 4 tempat : liat sunrise di Pananjakan, Kawah Bromo, Pasir Berbisik dan Bukit Teletubbies.. Sepuasnya!" jelas Mas Slamet mantap. Saya ngelirik Acil "Gimana cil?"

Belum sempat Acil menjawab, mas Slamet menawarkan opsi lain. "atau mau bawa motor sendiri??"
"NAKH ITHUU.." Acil menjawab penuh semangat sambil mulutnya monyong-monyong ngunyah gorengan tempe menjes. "gimana kalo KITA boncengan aja?!" tanya Acil sambil ngelirik saya. Merasa kalo nyawa saya sedang dipertaruhkan disini, saya bertanya cemas ke Acil, "Lo.. yakin bisa?".
Acil malah nanya balik ke Mas Slamet. "Jalanannya BIASA aja kan mas?"
"biasa aja kok mas, sampeyan udah biasa bawa motor kan?". Acil menggangguk jumawa.

Besoknya, pagi-pagi buta, Mas Slamet udah nganterin motor. Motornya baru pula. Sungguh malang nasib motor ini. Dia gak tau kalo bakal dikendarain sama Acil, remaja tanggung yang puber atau gaknya aja belum jelas. Acil mulai menstarter motor. "ayok put" katanya memberi aba-aba. Saya nelen ludah. Acil pasang muka serius, "Lo harus yakin put" katanya. "Lo. Harus. Yakin. Kalo. GUE. BISA". Setelah berdoa macem-macem, saya naik dan motor pun beranjak turun ke lautan pasir

10 menit kemudian,

Tiba-tiba ban motor slip di atas pasir. Stang motor bergerak brutal ke arah kanan kemudian ke kiri. Begitu seterusnya.  "PUT, PUT, SERIUS PUT.. LICIN INI" Acil jejeritan horor. Saya nahan napas di jok belakang

20 menit kemudian,

"PUT, PUT, INI KENAPA STANGNYA KE KANAN?? GUE KAN MAU BELOK KE KIRI!"
Saya stress berat, "MANA GUE TAU, CUMI!" 

Setelah melewati beberapa kali adegan hampir-jatuh-gabruk, toh akhirnya saya dan Acil berhasil eksplor Bromo di empat titik mulai dari Pananjakan, Kawah Bromo, Pasir Berbisik sampai Bukit Teletubbies, dari jam 4 pagi sampai jam 12 siang. Puaaaaasss!

Sesampainya di homestay dengan selamat, setengah tertawa, saya berkata ke Acil,
"Selamet cil, Lo lulus sim C!"
"ENAK AJA!" Acil sewot, "Gue lulus Sim B : Sim BROMO!"

Saya ketawa ngakak.

dan ini pelengkap cerita diatas :)

Arah pulang dari Pananjakan
Kelebihan naik motor ketimbang jeep adalaaaah..
bisa berhenti seenak udelnya untuk foto-foto  :D
pertanyaannya : siapa yang lupa matiin kompor?
Mamang Acil :D
Iya. Kita mau nyaingin Teletubbies dengan membuat grup baru : Teletubless
Keliatan cool ( Padahal aslinya kaki pada gemeteran )
Hampir-jatuh-gabruk ternyata memiliki dampak buruk bagi kesehatan jiwa 

Eniwei, trip ini belum selesai. Kita masih harus menempuh ratusan kilometer menuju destinasi selanjutnya yang pastinya gak kalah heboh dan gak kalah bodoh dari yang ini. Haha.

Stay tuned terus yha :)



yang bahagia selalu,

Tuesday, February 10, 2015

Jangan Takut Berubah, Asalkan..

Bagi sebagian orang, perubahan itu menakutkan. Entah karena takut tidak bisa menyesuaikan diri atau sudah terlalu nyaman dengan kondisi sebelumnya. Membuat sebuah perubahan besar apalagi yang big life changing, memang tidak mudah. Berbagai ketidakpastian di luar sana membuat kita menjadi takut untuk meninggalkan kepastian yang biasa kita jalani sehari-hari, atau bahasa simpelnya adalah.. zona nyaman. Iya, keluar dari zona nyaman ibarat memaksa kita bangun dari tempat tidur di hari minggu pagi yang udaranya dingin akibat hujan sepanjang hari. Super berat dan tentu saja, super malas.

Zona nyaman memang mematikan, self destructive. Insting dan panca indra menjadi tumpul. kemudian kita tidak lagi percaya dengan kemampuan survival kita. Ini yang membuat kita takut untuk berubah. Padahal kita tau bahwa manusia dilahirkan dengan naluri bertahan hidup yang luar biasa. 

Teori ini terbukti, misalnya saja ketika bertahan hidup di dalam bis. Bagi orang yang memutuskan untuk berubah ( misalnya saja yang tadinya naik motor kemudian mencoba naik bis umum ), proses awal selalu tidak mudah. Ilustrasinya gini : bagi yang baru pertama kali naik bis umum, apalagi di jam pulang kerja, pasti akan mencium bau-bauan yang gak ngenakin, mulai dari bau ketek sampe bau ketek yang coba disamarkan secara brutal oleh minyak wangi. Kali pertama nyium aroma kayak gitu, kita pasti keki, dunia terasa sempit, ujung-ujungnya kita jadi putus asa dan bingung antara mau mengambil nafas lewat hidung atau lewat mulut. Ini adalah reaksi yang normal. 

Sekali lagi. Perubahan memang selalu mengerikan di awal.

Besokannya, naluri bertahan hidup kita pun tumbuh, kita mulai pake masker Masih gak mempan juga, besokannya masker yang kita bawa, bagian dalemnya kita tetesin minyak telon atau minyak wangi favorit kita. Tanpa sadar setiap hari kita terus berinovasi agar jangan sampe pingsan ke-ketek-an di dalam bis. Iya, kemampuan bertahan hidup kita pun meningkat. 

Pengalaman berharga seperti ini gak akan dimiliki oleh orang yang takut untuk melakukan perubahan.

Dan.. ternyata, perubahan juga bisa menimbulkan kebahagian. Proses ini terjadi secara simultan. Persis seperti apa yang coba diungkapkan oleh satu bagan di bawah ini yang gak sengaja saya temukan via mbah google.


Ketika melihat bagan diatas, saya yang kebetulan memang sedang ingin memutuskan untuk melakukan perubahan yang besar, secara otomatis mulai bertanya kepada diri saya sendiri. Am i happy?? Jawabannya tidak. Mungkin ada yang pernah denger kutipan lama yang berbunyi : do what you love, love what you do. Dua frasa ini jelas tidak dimiliki oleh saya. I dont do what i love.. so i dont love what i do. 

Kemudian saya terus bertanya, Do am i want to be happy? Of course lah.. siapa pula di semesta ini yang gak mau bahagia.  Dan semuanya berujung pada satu kalimat yang terdiri dari dua kata : change something. Buat perubahan. Awalnya saya takut, serius. Kebayang di kepala gimana reaksi orang-orang di sekitar ketika saya mengutarakan hal ini. Tapi kemudian saya berfikir, bukankah melelahkan terus menerus memikirkan perasaan dan pikiran orang lain? Bukankah kita yang bertanggung jawab terhadap kebahagiaan kita sendiri?

Jangan takut berubah, asalkan.. perubahan yang kamu lakukan tidak melanggar agama, tidak melanggar hukum dan tidak melanggar hak asasi orang lain. Saya mencoba membangun sugesti positif dengan terus menerus mengatakan hal ini kepada diri saya sendiri. So here i am. dengan keputusan yang bulat untuk berubah dan keluar dari zona nyaman yang telah mengikat saya selama 6 tahun.

Orang mulai berkomentar jangan, kemudian mempertanyakan ini dan itu. Tapi tidak ada satu orang pun yang kemudian bertanya, apakah saya bahagia dengan keputusan ini. Ternyata memang benar.. ketika kita sebegitu hati-hatinya memikirkan perasaan orang lain, terkadang, perasaan kita belum tentu diperhitungkan.

Well.. rasanya saya harus menambahkan satu lagi.. 
Jangan takut berubah, asalkan.. itu membuat kamu bahagia ^^



Berubah dan berbahagialah,

Sunday, February 1, 2015

Tahun Baru dan Oh ada gempa ya??

Hari ini setelah hujan deras selama dua hari berturut-turut akhirnya saya menyadari kalo saya udah dua bulan lebih gak nge-blog!  YA AMPUN.. APA KABAR DENGAN BLOG SAYA?? tadinya pas log-in sempet was-was takut ada gembel yang tidur didalemnya saking gak pernah ditengokin. Semua ini gara-gara perubahan struktural di kantor yang bikin beban kerja jadi menggila PLUS dibarengi sama kuliah saya yang memasuki masa-masa ujian akhir semester (ya, saya emang lagi nyari kambing hitam ). Boro-boro mau nge-blog, ngeliat laptop aja rasanya udah mual.

Anyway, berhubung ini adalah postingan pertama saya di tahun 2015, saya mau nyeritain dimana dan gimana saya ngelewatin malem tahun baru kemarin. Jadi ceritanya, saya tahun baruan di Banjarnegara, tepatnya di Karangkobar tempat yang belum lama ini terkena musibah tanah longsor yang menewaskan kurang lebih 130 jiwa ( Semoga Allaah menempatkan mereka di tempat terbaik dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran. Aamiin ). Saya diantar kesana oleh temen2 dari Katamata Adventure ( masih inget kan? penggiat wisata minat khusus yang orang-orangnya agak ajaib itu? ). Hari pertama, saya ditampung di rumah Ibu Carig ( istrinya Pak Carig, sekretaris desa ) bareng beberapa temen dari PMI, hari kedua dan seterusnya saya tinggal di posko MDMC ( Muhammadiyah Disaster Management Centre ) yang kalo kita berdiri di pelataran poskonya, lokasi longsor udah keliatan dengan jelas. Deket abis. 

deep condolence for those who buried down there and never be found :'(
Wilayah Karangkobar ini memang ada di perbukitan. Untuk menuju ke tempat ini harus melewati jalan yang berliku dan menanjak. Sisi kiri jalan adalah jurang ( iya, jurang ) dan sisi kanan adalah gundukan tanah merah yang tingginya bervariasi, yang kalau hujan deras turun, sering menyebabkan longsor kecil-kecilan, membuat jantung siapapun yang melintasi jalan ini seolah ingin loncat-loncatan dan keluar dari tempatnya. Belum lagi aspal jalanannya yang amblas sekian senti akibat pergerakan tanah.

ngeri tiba-tiba tanahnya ambrol
Tapi yang paling menarik dari sana adalah cuacanya. Serius. Tinggal disana, membuat saya jadi mengerti gimana perasaan Bella Swan ketika pindah dari California ke Forks. Ini mungkin kedengeran berlebihan, tapi Banjarnegara beneran mirip Forks yang digambarkan di film Twilight, dingin dan berkabut. Seinget saya, dari total seminggu saya tinggal disana, cuma satu hari saya melihat sinar matahari, itupun gak lebih dari dua jam, sebelum pada akhirnya tertutup awan hitam. Saya sampai berfikir jangan-jangan keluarga Edward Cullen punya resort di sekitar Banjarnegara.

Apakah ITU kendaraan keluarga Edward Cullen??
Hari itu, di penghujung tahun 2014, hujan turun sepanjang hari sejak kemarin. Cuaca jadi makin dingin gak karuan, ujung-ujungnya membuat saya jadi males mandi ( jangan menghina, saya yakin Bella Swan juga melakukan hal yang sama pas dia tinggal di Forks, bedanya dia cakep, saya agak cakep ). Malam harinya, hujan masih juga ngericik, sementara situasi di posko lumayan sepi karena beberapa relawan ada yang sudah kembali ke rumah, total hanya 4 orang, termasuk saya, yang ada di posko. Setelah menyelesaikan rekapitulasi data hasil assesment, saya memutuskan untuk tidur lebih awal. Jam 9 malam, saya sudah tertidur pulas di dalam sleeping bag. Saya bahkan tidak ingat kalau tahun akan segera berganti.

Sedang khusyuk-khusyuknya tidur, tiba-tiba ada yang menepuk-nepuk pundak saya. "put bangun put". saya membuka mata, meskipun suasana kamar gelap, saya bisa mengenali kalau manusia yang baru saja membangunkan tidur saya adalah mas Febri, temen dari Katamata Adventure yang sama-sama jadi relawan disini. "ada apaan maspeb?" saya berusaha untuk melek sepenuhnya. Saya beringsut mengambil handphone yang saya charge di samping pintu masuk kamar. Pukul 00.20WIB.

"ada gempa put, kita harus pindah" katanya pelan. Informasi ini masuk ke telinga saya dan langsung disambungkan ke dalam otak. Oh ada gempa ya? ada gempa?? YA AMPUN ADA GEMPA! tapi berhubung nyawa saya masih berceceran di sleeping bag, reaksi yang keluar dari mulut saya cuma : "hah?? gimana gimana?". Terkadang otak suka gak sinkron dengan mulut.

Jadi, awalnya, mbak Tea ( temen di grup whatsapp Save+Rescue ) dapet info dari twitter kalau ada gempa di Karangkobar, beliau sampe ngecek ke BMKG segala. Meskipun gak ada record di BMKG, tapi beberapa keluarga di desa lain yang tergolong rawan longsor ada yang sudah mengungsi ke tempat yang lebih aman. Kemungkinan besar ini adalah gempa lokal akibat pergerakan tanah ( saya langsung inget kalo sebelum kejadian longsor, hujan deras terus mengguyur wilayah ini, sama seperti yang terjadi sejak dua hari yang lalu ).  Temen2 di grup pun mulai memberi komando untuk pindah ke tempat yang lebih aman dan jauh dari lokasi longsor ( ini bahagianya punya temen2 anggota SAR, spider sense nya itu lhooo.. amazing! )

Akhirnya, jam setengah satu pagi, dengan jas ujan warna pink ( kurang unyu apa coba ngungsinya? ), sleeping bag di dalam plastik, membonceng Maspeb menembus hujan, saya resmi pindah menuju SDN 01 Karangkobar, yang letaknya agak lebih jauh dari lokasi longsor. Disana, sudah ada beberapa teman-teman relawan dari mahasiswa pecinta alam APMD, Yogyakarta. Setelah berbasa-basi sebentar, saya pun mengambil posisi untuk melanjutkan tidur yang sempet kepotong. 

Sebelum tidur, saya jadi termenung, teringat satu ayat di dalam Surah Ar-Rahman yang diulang-ulang sebanyak 31 kali : "Fabiayyi aala'i robbikuma tukadziban ". Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu Dustakan?

Terkadang, kita melihat nikmat Tuhan hanya dalam anugerah berbentuk fisik : muka kece, harta cukup, anak banyak dan segala bentuk anugerah yang kasat mata. Kita lupa bahwa ada banyak nikmat Tuhan yang tidak kasat mata, tetapi gak kalah penting, salah satunya adalah rasa aman. ( iya saya tau, musibah bisa terjadi dimana aja, gak mesti di daerah rawan bencana, tapi you know what i mean, right? )

Kebayang aja gimana rasanya jadi mereka yang tinggal di desa rawan longsor. Setiap hujan turun, mereka selalu was-was takut terkena longsor tetapi disisi lain memiliki keterbatasan finansial untuk pindah ke tempat baru. Rasa aman menjadi barang mewah untuk mereka. Maka bersyukurlah.. ( ini lagi ngomong ke diri saya sendiri ) karena di balik pikiran cetek kita yang sering mengganggap diri kita paling menderita, ternyata ada yang jauh lebih nelangsa dari kita. 

Malam itu, tidak ada kembang api, tidak ada terompet apalagi ayam bakar, tetapi setidaknya dilahirkan sebagai kita, seperti apapun itu, tetap lebih beruntung dibanding beberapa orang. Ah.. Semoga besok pagi ketika bangun saya punya nyali untuk mandi ( gak nyambung, i know )


your lazy blogger,


Sunday, November 23, 2014

Ketika Manusia Perpustakaan Bertemu Manusia Lapangan

Menurut saya, secara radikal manusia itu dibagi menjadi dua tipe : manusia jenis perpustakaan dan manusia jenis lapangan. Dan saya menganggap diri saya masuk ke dalam golongan manusia perpustakaan, dimana hampir sebagian besar hal-hal yang saya tahu, saya dapat dari membaca dan setiap kali punya masalah, secara teknis saya akan mencari tau seperti apa penyelesaiannya menurut teori. Lurus dan idealis.

Hal ini berbanding terbalik dengan seorang teman yang belum lama ini saya kenal dimana dia selalu berfikir teori berbeda dengan praktik dan tidak selalu bisa dijadikan landasan dalam mengambil keputusan.

Di dalam teori, teori dan praktik tidak ada perbedaan. yaa idealis tadi. Semua harus berjalan sesuai panduannya. Rules takes a rule. Aturan yang ambil kendali. Sekali lagi: idealis. Faham ini yang kemudian menjadi akar utama perdebatan yang sering terjadi antara saya dan manusia ajaib yang satu itu, karena menurut dia, pada praktiknya ada perbedaan antara teori dan praktik. Ada hal-hal di luar teori yang bisa saja terjadi dan ini yang menyebabkan kenapa teori hanya sekedar susunan kata-kata bukan sebuah aksi. Sarkastik deh pokoknya (T_T)


Seumur hidup, saya tidak pernah bertemu dan berteman dengan orang yang begitu sinisnya dengan teori. Dia selalu berpendapat bahwa membaca itu memang jendela dunia, tapi hanya sekedar jendela. Its not real. "kamu cuma bisa melihat tapi kamu gak pernah berada disana", begitu justifikasinya setiap kali saya mengatakan betapa pentingnya orang harus banyak membaca.

Awalnya, agak terkejut, kok bisaaa yaaa ada manusia yang sesinis itu dengan teori, tapi kemudian saya mengobservasi dan menganalisa latar belakangnya serta menghubungkan dengan hal-hal yang biasa dia kerjakan. Well yeah.. again, environment made you. Sedikit banyak lingkungan memang mempengaruhi cara berfikir seseorang. Karena secara pekerjaan, teman saya yang satu itu memang sangat lapangan sementara pekerjaan yang saya tekuni sangat perpustakaan. It makes sense! masuk akal banget kenapa di titik itu, kita tidak pernah sepakat. Hahaha

Tapi seharusnya dia juga gak boleh sinis gitu dong sama teori *gak mau kalah ceritanya* karena pada setiap praktik, tetap harus ada landasan atau aturan yang diikuti, nah aturan itu didapat dari mana cobaaaaa kalo bukan dari teori?? memang setiap kali memperdebatkan antara teori dan praktik, saya selalu ingin menjitak kepalanya yang keras itu. Ergghh







Tapi kemudian, meskipun sering merasa terintimidasi dengan pola pikirnya yang sering menyudutkan teori, setelah berteman dengannya dan melewati beberapa diskusi kecil, ada perspektif, pelajaran dan pola pikir baru yang saya dapat. Biasanya, ketika saya menyusun rencana, saya akan mengikuti teori 5w 1h ; "apa", "siapa", "dimana", "kapan", "mengapa" dan "bagaimana". Sekarang, saya jadi terbiasa menambahkan satu aspek lagi dalam pola pikir saya yaitu "bagaimana jika" sebagai salah satu langkah mengidentifikasi kemungkinan di luar teori yang bisa saja terjadi ketika praktik lapangan.

Begitulah ketika manusia perpustakaan bertemu dengan manusia lapangan. 
Berdebat, saling mempertahankan pendapat, tapi pada akhirnya selalu ada pelajaran baru yang bisa di ambil. 

"train your mind to see the good in every situation" ~anonymous

Sunday, November 9, 2014

Diantara Hujan dan Kopi

Saya selalu suka dengan hujan. Serius. Apa yang tidak menyenangkan ketika hujan datang? suaranya menenangkan, bau tanahnya menyenangkan, tidur lebih pules, makan mie rebus lebih nikmat, minum kopi apalagi. Ah.. kopi ya?

"Bagaimana bisa aku lupa, sementara kamu dan hujan adalah dua molekul membentuk satu senyawa yang tidak akan bisa diserap sempurna oleh waktu"

Jadi inget, udah beberapa tahun belakangan ini saya gak lagi minum kopi, padahal dulu pernah berada di titik dimana saya lebih suka meminum kopi hitam dengan sedikit gula hingga bergelas-gelas. Sekarang, minum kopi sebulan sekali pun belum tentu. "maagnya sering kambuh.." begitu alibi saya setiap kali ditawari kopi oleh teman-teman saya.

Tidak sepenuhnya benar. Kopi itu memang gak sehat. Iyaa tau, karena mengandung caffein kan? nanti asam lambungnya naik, ya kan? Bukan. Efek samping kopi bagi saya lebih parah dari itu. Karena kopi-bisa-memicu-ingatan-masa-lalu. Hahaha.. Jadi ceritanya duluuuu banget saya pernah punya momen menyenangkan dimana saya menikmati secangkir kopi di teras depan rumah saya bersama satu manusia ajaib. Dan entah kenapa, setiap kali ngopi bareng ini manusia, selalunya hujan. Biasanya nanti sambil nunggu hujan reda, manusia norak itu akan pamer-pamer gimana jagonya dia main gitar. Pada akhirnya satu gelas kopi itu bisa bertahan hingga belasan topik obrolan dengan durasi nyaris mendekati tengah malam. 

Ah. Thats an old story. Belasan tahun yang lalu. Sekarang manusia norak itu raib. Gak ngerti kemana dan gimana. Tapi hal yang paling lucu adalah.. saya tetap menyimpan namanya di dalam kontak telefon meskipun saya tau dari ketiganya, tidak ada satupun yang berfungsi lagi.

haha.