Showing posts with label Snorkeling. Show all posts
Showing posts with label Snorkeling. Show all posts

Saturday, May 14, 2016

Bikepacker ke Banyuwangi Part3: Dunia Bawah Laut di Pulau Menjangan!

Saya duduk diam tersenyum-senyum simpul sambil menikmati angin laut yang perlahan berhembus . Dagu saya menempel pada sisi kapal yang tingginya sesiku orang dewasa, Sesekali saya berusaha meraih air laut dari atas kapal kayu yang membawa kami dari Pantai Watu Dodol menuju Pulau Menjangan yang merupakan kawasan Taman Nasional Bali Barat. Iya. Setelah perjalanan Jakarta-Banyuwangi berdurasi nyaris 40 jam dengan menggunakan motor, yang capeknya setara dengan diklat para pendekar, kombinasi antara air laut, langit biru dan semilir angin adalah obat yang paling mujarab. 

40 Jam di atas motor dibayar LUNAS dengan pemandangan kayak gini!

Saya memperhatikan  seisi kapal. Selain rombongan kami, karena ini adalah kelas sharing boat, ada satu rombongan lain yang sama-sama menaiki kapal kami. Mereka sibuk bercanda satu sama lain. Sementara di sebelah saya Aisyah tertidur dengan pulas, Ugi dan mas Udjo yang aslinya memang pendiem, memandang laut tanpa banyak bicara. Gazza dan Ijul? dua manusia ajaib ini lagi ribet dengan kamera action. 

"Di, poto gue dong" Ijul udah pasang gaya dengan safety jacketnya yang berwarna pink. Saya juga gak ngerti kenapa dia milih warna pink. Mungkin biar keliatan lebih feminim hahaha. "Ntar dulu, ini lagi di charge". Gazza yang lagi sibuk ngebongkar casing underwater camera actionnya menjawab tanpa menoleh ke arah Ijul. "bentar doang Di, satu poto.. satu poto". kata Ijul lagi. Saya yang awalnya cuma ngeliatin kelakuan mereka, jadi ikut-ikutan, "Ge, gue juga dong, satu poto"  tukas saya sambil nyengir kuda.

Gazza nyerah dengan kenarsisan sepupunya yang satu ini
Fotonya rame-rame, biar adil katanya
Setelah menyebrang selama kurang lebih satu jam dari Pantai Watu Dodol, sekitar pukul 10 pagi, kapal yang kami naiki merapat di dermaga Pulau Menjangan. Dibilang dermaga juga sebenernya lebih mirip seperti jembatan kayu yang tidak seberapa panjang. Di ujung jembatan ini, ada gapura dengan gaya khas Bali yang bertuliskan "selamat datang di Pulau Menjangan, Taman Nasional Bali Barat"


Gazza dan kamera actionnya yang kekinian
"Mbaknya boleh jalan-jalan dulu di pulau nanti abis itu baru kita snorkeling" kata guidenya sambil menambatkan tambang kapal di salah satu tiang  jembatan kayu. Tadinya saya berharap bisa eksplor sampai ke bagian dalam pulau yang menjadi Taman Nasional ini, tapi berhubung guidenya belum pernah trekking jauh kedalam PLUS kemampuan saya membaca arah cuma sekelas anak TK,  jadilah saya cuma berjalan-jalan kecil di sekitar pantai. Agak kecewa sebenernya, secara saya udah ngebayangin bakal ketemu kumpulan Menjangan (kijang) atau paling gak hewan apalah gitu yang dikonservasi disini.

Tepat setelah gapura selamat datang tadi, ada beberapa bangunan milik polisi hutan yang berbentuk seperti rumah panggung. Analisa yang paling masuk akal mengapa desainnya berbentuk rumah panggung adalah menghindari gangguan hewan, khususnya di malam hari. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah kalau hewannya bisa naik tangga gimana? :D


Menyusuri jalan dari gapura ke arah kiri, kita bisa melihat dataran pasir putih yang menjorok ke luar pantai, persis seperti daerah gosong yang pernah saya lihat di Kepulauan Seribu. Di bibir pantainya ada sisa-sisa api unggun, mungkin bekas tamu yang camping disini. Beberapa sisa-sisa bakaran sampah seperti potongan plastik atau botol air mineral berserakan di pasir yang warnanya putih kecokelatan. Sekali lagi, masih banyak yang gak mengerti tentang ungkapan leave nothing but footprints, take nothing but pictures.



Setelah keliling-keliling sebentar, si abang guide memberi kode untuk kembali menaiki kapal karena sesi snorkeling segera dimulai. Saya yang dari kemarin belum mandi *nyengir* jelas semangat luar biasa begitu ngedenger aba-aba dari abang guide untuk nyemplung ke laut.

Ikannya belum pada pulang sekolah
kalau yang ini ikan pemakan segalanya (saya)
Kamu lagi ngapain hayooo?
Lagi reunian
Meskipun karang dan ikannya kurang berwarna-warni, tapi di spot terakhir, ada beberapa nemo yang tertangkap kamera. Cuteness overload! Saya gak bisa membayangkan, snorkeling aja udah sekece ini, gimana diving? Kabarnya di kedalaman 20 meter ke bawah sana, Wall Diving di Pulau Menjangan termasuk kedalam salah satu wall terbaik di dunia dengan biota laut yang lengkap mulai dari terumbu karang aneka rupa, jackfish, penyu laut bahkan ikan hiu. *Eng.. hiu ya.. hmm*


Setelah berjam-jam main snorkeling, keselek air laut, tangan keriput saking kelamaan berendem di air tapi seneng luar biasa, akhirnya selepas ashar, kapal berlayar pulang ke Banyuwangi. Saya tertidur pulas dengan safety jacket sebagai bantal sampai kapal hampir merapat di Pantai Watu Dodol. Waktu menunjukkan pukul lima sore itu. Setelah bersih-bersih dan re-packing keril, kami tidak bisa berlama-lama disini karena perjalanan masih akan berlanjut ke kaki gunung Ijen untuk seterusnya berburu blue fire di Kawah Ijen dini hari nanti.


Gimana suka dukanya kita ketika berburu bluefire?
tunggu part4 nya ya ^^





FYI
*cost menyebrang di Pulau Menjangan 200rb/orang (sharing boat) including penyebrangan dari Pantai Watu Dodol, Banyuwangi ke Pulau Menjangan PP, tiket masuk pulau, safety jacket, seperangkat alat snorkeling, snack dan makan siang, air mineral dan tiga spot snorkeling. Penyebrangan dikelola oleh Bangsring Boat ( Cp :082312990888). Pastikan booking terlebih dahulu yaa jika datang di wiken/libur panjang.

Bikepacker ke Banyuwangi Part3: Dunia Bawah Laut di Pulau Menjangan!

Saya duduk diam tersenyum-senyum simpul sambil menikmati angin laut yang perlahan berhembus . Dagu saya menempel pada sisi kapal yang tingginya sesiku orang dewasa, Sesekali saya berusaha meraih air laut dari atas kapal kayu yang membawa kami dari Pantai Watu Dodol menuju Pulau Menjangan yang merupakan kawasan Taman Nasional Bali Barat. Iya. Setelah perjalanan Jakarta-Banyuwangi berdurasi nyaris 40 jam dengan menggunakan motor, yang capeknya setara dengan diklat para pendekar, kombinasi antara air laut, langit biru dan semilir angin adalah obat yang paling mujarab. 

40 Jam di atas motor dibayar LUNAS dengan pemandangan kayak gini!

Saya memperhatikan  seisi kapal. Selain rombongan kami, karena ini adalah kelas sharing boat, ada satu rombongan lain yang sama-sama menaiki kapal kami. Mereka sibuk bercanda satu sama lain. Sementara di sebelah saya Aisyah tertidur dengan pulas, Ugi dan mas Udjo yang aslinya memang pendiem, memandang laut tanpa banyak bicara. Gazza dan Ijul? dua manusia ajaib ini lagi ribet dengan kamera action. 

"Di, poto gue dong" Ijul udah pasang gaya dengan safety jacketnya yang berwarna pink. Saya juga gak ngerti kenapa dia milih warna pink. Mungkin biar keliatan lebih feminim hahaha. "Ntar dulu, ini lagi di charge". Gazza yang lagi sibuk ngebongkar casing underwater camera actionnya menjawab tanpa menoleh ke arah Ijul. "bentar doang Di, satu poto.. satu poto". kata Ijul lagi. Saya yang awalnya cuma ngeliatin kelakuan mereka, jadi ikut-ikutan, "Ge, gue juga dong, satu poto"  tukas saya sambil nyengir kuda.

Gazza nyerah dengan kenarsisan sepupunya yang satu ini
Fotonya rame-rame, biar adil katanya
Setelah menyebrang selama kurang lebih satu jam dari Pantai Watu Dodol, sekitar pukul 10 pagi, kapal yang kami naiki merapat di dermaga Pulau Menjangan. Dibilang dermaga juga sebenernya lebih mirip seperti jembatan kayu yang tidak seberapa panjang. Di ujung jembatan ini, ada gapura dengan gaya khas Bali yang bertuliskan "selamat datang di Pulau Menjangan, Taman Nasional Bali Barat"


Gazza dan kamera actionnya yang kekinian
"Mbaknya boleh jalan-jalan dulu di pulau nanti abis itu baru kita snorkeling" kata guidenya sambil menambatkan tambang kapal di salah satu tiang  jembatan kayu. Tadinya saya berharap bisa eksplor sampai ke bagian dalam pulau yang menjadi Taman Nasional ini, tapi berhubung guidenya belum pernah trekking jauh kedalam PLUS kemampuan saya membaca arah cuma sekelas anak TK,  jadilah saya cuma berjalan-jalan kecil di sekitar pantai. Agak kecewa sebenernya, secara saya udah ngebayangin bakal ketemu kumpulan Menjangan (kijang) atau paling gak hewan apalah gitu yang dikonservasi disini.

Tepat setelah gapura selamat datang tadi, ada beberapa bangunan milik polisi hutan yang berbentuk seperti rumah panggung. Analisa yang paling masuk akal mengapa desainnya berbentuk rumah panggung adalah menghindari gangguan hewan, khususnya di malam hari. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah kalau hewannya bisa naik tangga gimana? :D


Menyusuri jalan dari gapura ke arah kiri, kita bisa melihat dataran pasir putih yang menjorok ke luar pantai, persis seperti daerah gosong yang pernah saya lihat di Kepulauan Seribu. Di bibir pantainya ada sisa-sisa api unggun, mungkin bekas tamu yang camping disini. Beberapa sisa-sisa bakaran sampah seperti potongan plastik atau botol air mineral berserakan di pasir yang warnanya putih kecokelatan. Sekali lagi, masih banyak yang gak mengerti tentang ungkapan leave nothing but footprints, take nothing but pictures.



Setelah keliling-keliling sebentar, si abang guide memberi kode untuk kembali menaiki kapal karena sesi snorkeling segera dimulai. Saya yang dari kemarin belum mandi *nyengir* jelas semangat luar biasa begitu ngedenger aba-aba dari abang guide untuk nyemplung ke laut.

Ikannya belum pada pulang sekolah
kalau yang ini ikan pemakan segalanya (saya)
Kamu lagi ngapain hayooo?
Lagi reunian
Meskipun karang dan ikannya kurang berwarna-warni, tapi di spot terakhir, ada beberapa nemo yang tertangkap kamera. Cuteness overload! Saya gak bisa membayangkan, snorkeling aja udah sekece ini, gimana diving? Kabarnya di kedalaman 20 meter ke bawah sana, Wall Diving di Pulau Menjangan termasuk kedalam salah satu wall terbaik di dunia dengan biota laut yang lengkap mulai dari terumbu karang aneka rupa, jackfish, penyu laut bahkan ikan hiu. *Eng.. hiu ya.. hmm*


Setelah berjam-jam main snorkeling, keselek air laut, tangan keriput saking kelamaan berendem di air tapi seneng luar biasa, akhirnya selepas ashar, kapal berlayar pulang ke Banyuwangi. Saya tertidur pulas dengan safety jacket sebagai bantal sampai kapal hampir merapat di Pantai Watu Dodol. Waktu menunjukkan pukul lima sore itu. Setelah bersih-bersih dan re-packing keril, kami tidak bisa berlama-lama disini karena perjalanan masih akan berlanjut ke kaki gunung Ijen untuk seterusnya berburu blue fire di Kawah Ijen dini hari nanti.


Gimana suka dukanya kita ketika berburu bluefire?
tunggu part4 nya ya ^^





FYI
*cost menyebrang di Pulau Menjangan 200rb/orang (sharing boat) including penyebrangan dari Pantai Watu Dodol, Banyuwangi ke Pulau Menjangan PP, tiket masuk pulau, safety jacket, seperangkat alat snorkeling, snack dan makan siang, air mineral dan tiga spot snorkeling. Penyebrangan dikelola oleh Bangsring Boat ( Cp :082312990888). Pastikan booking terlebih dahulu yaa jika datang di wiken/libur panjang.

Friday, December 25, 2015

Kemping di Pulau Semak Daun


Kepulauan Seribu selalu menjadi alternatif wisata bagi saya ketika tidak memiliki banyak dana maupun banyak waktu. Selain jaraknya yang dekat dan bisa dinikmati cukup dengan 2 hari 1 malam, biaya yang harus dikeluarkan untuk menikmati birunya laut dan putihnya pasir pun relatif murah. Salah satu pulau yang menarik untuk dikunjungi dengan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh adalah Pulau Semak Daun.




"Eh gapapa ini gw ngikut?" tanya saya ke Arif, laki-laki bertubuh gempal yang mengelola sebuah jasa tour and travel bernama Wiyata Island. "udah gapapa, nyantai aja, gw juga sekalian bawa tamu kok kesana" jawabnya yang membuat saya bersorak sorai bergembira. Again, nebeng is my middle name hahaha.

Lalu sabtu pagi itu, seperti biasa, perjalanan ke Kepulauan Seribu selalu dimulai dari Dermaga Muara Angke. "Put gw nungguin di deket pom bensin Angke ya". Saya yang notabene belum pernah sekalipun bertemu langsung dengan Arif, jelas panik. "lah gimana caranya gw ngenalin lo?". "gampang", katanya. "gw pake baju oranye". Yang dia gak tau, kemungkinan orang pake baju oranye itu kan banyak yaa..  apalagi di dermaga Muara Angke pada Sabtu pagi, dimana seisi jakarta seolah-olah ingin pergi semua ke Kepulauan Seribu. Maka, jadilah saya pagi itu jelalatan di pom bensin Muara Angke merhatiin satu persatu orang yang berbaju oranye. Dan ketemu!

Setelah semua tamu Arif sudah berkumpul, kami segera menerobos kerumunan dan masuk kedalam kapal jurusan Pulau Pramuka. Iya. Dari Dermaga Muara Angke tidak ada kapal yang melayani rute Angke - Semak Daun, jadi siapapun yang ingin mengunjungi pulau ini harus transit ke Pulau Pramuka kemudian menyewa perahu nelayan ke Pulau Semak Daun. Pulau Semak Daun sendiri secara praktis sebenarnya adalah pulau kosong. Namun, pulau ini kemudian menjadi salah satu primadona spot camping. Meskipun ketika weekend ada warung kecil yang buka disini, tapi akan lebih baik jika segala keperluan untuk camping seperti makanan dan stok air tawar disiapkan di Pulau Pramuka.

Gosong Pulau Air : Pulau Seribu Rasa Maldives!
Perjalanan dari Pulau Pramuka menuju ke Pulau Semak Daun ditempuh selama 30 menit. Sebelum ke Pulau Semak Daun, rombongan kami mampir di sebuah area kecil yang berpasir putih di tengah lautan, Gosong Pulau Air!


Di tempat yang serasa Maldives ini, rombongan kami mampir sebentar untuk melakukan pemanasan sebelum sesi snorkeling di sekitar Pulau Air.

Yeay, Its Snorkeling Time!
Spot snorkling kami adalah di sekitar Pulau Air. Disini meskipun karangnya kurang bervariasi, namun barisan ikannya yang hilir mudik membuat saya tidak mau beranjak dari dalam air!


Eksplor Pulau Semak Daun!
Kami merapat di Pulau Semak Daun tidak berapa lama setelah waktu ashar tiba. Suasana pulau cukup ramai, tenda-tenda berdiri hampir di setiap sudut pulau, baik di tepi pantai dekat dermaga maupun agak ke arah belakang pulau. Berjalan sedikit ke tengah pulau, ada bangunan warung kecil yang menjual air mineral, mie instan dan makanan kecil seperti chiki dan gorengan. Untuk toilet umum, meskipun sudah tersedia tidak jauh dari warung tadi, namun kondisinya kurang terawat. But the good news is.. tempat ini dilewati sinyal 3G! Its quite comforting haha


Ada banyak cara menghabiskan waktu di pulau yang lebarnya gak lebih dari 4 kali lapangan tenis ini, mulai dari berkeliling pulau, berenang di pantainya yang lebih mirip kolam renang raksasa saking tenang tanpa ombak, hammocking sampai duduk-duduk di dermaga dan menikmati suasana pulau kecil. Dan pilihan saya jatuh kepada menikmati suasana pulau dari dermaga kayu bersama satu buah buku dan tiga orang teman baru saya, Marwa, Rida dan Evi.


Malam harinya, angin laut yang terasa lembab membuat saya tidak sanggup untuk tidur di dalam tenda, gerah. Berhubung saya tidak membawa hammock, akhirnya saya menggelar sleeping bag di atas pasir tepat di sebelah tenda. Malam itu, saya tidur dengan suara ombak yang terdengar begitu dekat sementara dari kejauhan terdengar suara obrolan dan nyanyian pengunjung lain yang membuka tenda tidak jauh dari tenda kami.


Ketika pagi, Pulau Semak Daun mendadak ramai. Pengunjung baru datang silih berganti mulai dari yang sekedar singgah untuk mengambil gambar, datang untuk pemanasan snorkeling sampai yang memang betul ingin kemping disini. Suasana hiruk pikuk seperti ini membuat saya memilih untuk duduk di dalam perahu yang nantinya akan membawa saya dan rombongan pulang ke Pulau Pramuka untuk seterusnya menaiki KM Raksasa, merapat di Muara Angke dan kembali ke rumah.

Pulau Semak Daun memang  pulau yang ideal untuk membuka tenda, hanya saja untuk mendapatkan ketenangan suasana pulau kosong, datanglah di waktu weekdays.


Monday, September 29, 2014

Pantai Nglambor : Sensasi Snorkeling di Sebuah Laguna

Pantai Nglambor adalah salah pantai yang berderet di Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul Jogjakarta, yang letaknya berdekatan dengan Pantai Siung, tepatnya di sebelah barat pantai Siung. Pantai yang tergolong masih sepi ini ternyata memiliki spot snorkeling dengan beragam biota laut dan coral reef nya yang lucu-lucu.

Pantai Nglambor 
Malam itu, ketika sesi hammock talk di pinggir pantai dengan teman-teman dari Katamata Adventure, saya sempat ditawari untuk mencoba snorkeling. Saya sempat heran. Snorkeling?? Di Gunung Kidul? Iyalah heran. Secara Gunung Kidul itu kan yang terkenal yaa deretan goa-goanya. Baru ini saya mendengar kalau di kabupaten Gunung Kidul ada spot snorkelingnya. Setau saya snorkeling itu yaa di kepulauan, nyebrang dengan perahu kecil terus diturunin di tengah laut untuk melihat terumbu karang yang lucu-lucu seperti yang beberapa kali saya lakukan di Kepulauan Seribu. Nah ini? Snorkeling dimananyaaaaaa? di dalem gua gituu?? 

"ada putriiiiiiii.... di Pantai Nglambor. Seriuuuuuuuuus" jawab mas Agus dengan mulutnya yang maju sekian centi pertanda bahwa apa yang dikatakannya beneran serius. Tapi saya masih ragu, makanya pagi itu, ketika kami mengunjungi Pantai Nglambor untuk melihat rangkaian dari acara rasulan ( syukuran desa ), saya tidak membawa baju ganti. 

"beneran gak mau ikutan snorkeling?" mas Dedi memulai strategi provokasi. Saya tersenyum tabah dan menjawab "gak ah.. males pulang bawa baju basah". Iya. Hari itu adalah hari terakhir liburan saya di Desa Purwodadi. "yakiiiiinnnnnn?" tanya mas Dedi lagi. Manusia yang satu ini emang paling parah provokasinya. Dengan tekad bulat, akhirnya saya hanya membawa tas kecil berisi kamera yang nantinya akan saya pakai untuk mengabadikan acara rasulan sementara mas Agus sibuk menenteng set snorkeling dalam sebuah tas besar berwarna hitam sambil nyengir-nyengir provokatif ke arah saya.

Tidak berapa lama berselang, saya pun membonceng motor yang dikendarai oleh mas Agus sementara beberapa rekan yang juga akan meliput acara rasulan menaiki mobil merah yang nampak gagah. Hanya berselang 10 menit, kami sudah tiba di Pantai Nglambor. Begitu melihat pantai Nglambor dari kejauhan, pertanyaan pertama yang saya ajukan ke mas Agus adalah : di sebelah mana snorkelingnya? "tuh disana" jawab mas Agus sambil menunjuk area yang tidak berombak sama sekali.

Lagunanya memanggil! ( tanda panah )
Ternyata Pantai Nglambor memiliki laguna kecil dimana ombak pantai selatan yang terkenal sangar, pecah disana sehingga airnya tenaaaaaang. Dan guess what? goyahlah niat saya untuk tidak nyemplung kedalam sana. Adegan selanjutnya adalah saya merengek-rengek sambil menarik-narik sarung mas Wasesa untuk minta tolong diambilkan baju ganti agar saya bisa ikutan snorkeling disana. "nah kaaaaaan.. tadi dibilangin ndak percaya siiih" sahut mas Dedi dengan muka jahil. Sayanya cuma manyun.

Setelah memohon-mohon minta diambilin baju ganti haha
Hal pertama yang saya rasakan berbeda dengan snorkeling yang biasanya saya lakukan di Kepulauan Seribu adalah airnya yang cenderung lebih dingin. Selain itu, berhubung ini adalah tepi pantai maka kedalaman air hanya setinggi dada orang dewasa. Tidak heran karena waktu yang tepat untuk melakukan kegiatan snorkeling di pantai Nglambor ini adalah antara air pasang dan surut sehingga ketinggian air hanya berkisar antara 1-1.5 meter.


Meskipun tidak sebanyak karang di Kepulauan Seribu, tapi Pantai Nglambor ini memiliki karang yang gak kalah lucu.


Ikannya juga hilir mudik
Selain itu, Pantai Nglambor ini juga memiliki keragaman biota laut yang unik-unik. Contohnya adalah bulu babi ini. Jarang lho nemuin bulu babi selucu ini di kepulauan Seribu. Biasanya bulu babi yang sering saya temui berwarna hitam pekat, tapi kali ini warnanya seperti zebra. Lucuuuuu. *Tapi jangan dipegang yaa.. berbahaya*


Ada juga beberapa golongan Molusca disini
Dangerous Conus? No touchy!

Berhubung spot snorkeling disini menyesuaikan pasang-surut air laut, sesi snorkeling tidak bisa terlalu lama karena siang hari biasanya air telah surut sehingga menyulitkan kita ketika berenang.

Meskipun tergolong masih sepi pengunjung, namun Pantai Nglambor ini sudah memiliki fasilitas kamar bilas yang terletak agak menanjak sedikit dari bibir pantai. Secara keseluruhan, tempat ini layak dikunjungi bagi mereka yang mencari ketenangan di pinggir pantai dengan bonus spot snorkeling yang lucuuuuuu dan menarik. Trust me, ada sensasi yang berbeda ketika kita mencoba menyelam di sebuah laguna!


Saturday, September 6, 2014

Backpacker Ketiga ke Pulau Harapan : dari snorkeling sampai budidaya mangrove!

satu kelompok, dua tukang pijit :D
"Seneng amat sih put bolak balik kesana?" komentar salah seorang teman saya begitu tau kalo saya check-in lagi di Pulau Harapan di salah satu social media. Saya cuma tertawa menjawab komentar tadi. Ini memang udah keempat kalinya saya backpackeran ke Pulau Harapan. Parahnya trip ini cuma berjarak tiga minggu dari trip sebelumnya *nyengir kuda*


Tempat boleh sama tapi cerita tentu saja berbeda, apalagi karena kali ini saya tidak sendirian. Ber-sepuluh! Kombinasi unik antara Tika yang pendiem -travelmate yang dulu pernah Backpackeran ke Jogjakarta bareng saya-, Sonya -temen jaman kuliahan- dan sepupunya yang selalu heboh nyari batu es selama di pulau, Topik -travelmate yang kebetulan pernah ketemu di Pulau Harapan- yang jadi guru nyelem dadakan, Dista dan Vita yang unyu, Surya yang nerima jasa mainin candycrush, plus Acil -temen satu gank-nya abang saya- yang hobinya menistakan kita semua lewat foto-foto candidnya. Bareng mereka, perjalanan kali ini menjadi trip edisi ngakak :D

Menu utama perjalanan tetap pada sesi snorkeling dan hopping island. Snorkeling berlangsung di Pulau Melintang dan Pulau Macan. Paling lucu emang pas snorkeling di Pulau Macan. Bukan terumbunya tapi lebih kepada penduduk lokal di dalam laut yang banyak dan hilir mudik kesana kemari.

penduduk lokal yang imut di spot snorkeling Pulau Macan
meskipun bukan penduduk lokal, yang ini gak kalah imut kok (^_<)
Hopping islandnya pun masih sama, kebetulan mampir lagi di Pulau Dolphin dan Pulau Bulat. Kalau trip sebelum ini, saya ke Pulau Dolphin untuk main pasirnya yang putih, kali ini saya belajar bottom up alias menyelam sama si Topik, manusia yang satu ini lumayan jago nyelem2 dengan kepala di bawah dan kaki diatas. Saya yang mupeng pingin bisa kayak gitu akhirnya diajarin gimana cara untuk tidak terapung di dalam laut. Its kinda weird and hard to do karena selama ini saya mati-matian belajar gimana caranya untuk tidak tenggelam di laut :D

saya-nya sampe dilelepin gitu (-__-')
Oiya biar lebih afdol, saya kasih gambaran gimana kerennya Pulau Dolphin yang biasa dijadiin spot camping bagi para pendaki yang bosan camping di hutan. Kombinasi airnya yang seolah tembus pandang plus pasir putihnya bakalan bikin kalian gak percaya kalo tempat ini masih bagian dari Jakarta yang terkenal semrawut itu.

jangan perdulikan saya dan guru nyelem saya -Topik
perhatikan aja airnya yang biru dan pasirnya yang putih :D
saya masih di Jakarta lho ini ^^
Lumayan lama kami menghabiskan waktu di Pulau Dolphin ini. Lucu sih tempatnya. Baru agak sore-an sedikit kami melipir ke Pulau Bulat. Intinya sih mau liat sunset, tapi saya -bareng Topik- melanjutkan sesi bottom up tadi sementara sisanya berkeliling di Pulau Bulat. Setelah hampir setengah jam, entah antara kesian ngeliat saya yang berapa kali keselek air laut atau memang karena saya ada kemajuan akhirnya guru nyelem saya yang satu itu bilang "itu lu udah hampir bisa tadi". Bahagiaaa -campur norak sedikit haha..

sunset di Pulau Bulat
Malam harinya, saya yang biasanya males kemana-mana karena badan udah encok pegel linu abis snorkelingan, tumben-tumbenan jalan-jalan ke dermaga Pulau Harapan. Penyebabnya gak lain dan gak bukan adalah karena sate cumi yang dijual gak jauh dari dermaga Pulau Harapan. Sate cumi ini dijual dengan harga 10ribu untuk 3 tusuknya. Cuminya itu disiram saus kacang gitu. Cuminya empuuuuuk banget. Strongly recommended bagi kalian yang gila sama seafood.

sumpah demi apapun juga.. ini enak!
Lagi keliling-keliling Taman Terpadu -sejenis tempat nongkrongnya anak pulau Harapan- bareng Acil, saya ketemu sama penduduk lokal yang lagi duduk di depan laptop di sebuah warung kopi. Kemudian *tring* timbul lah ide untuk numpang nge-copy foto-foto tadi siang dari kamera saya ke kamera Acil dan sebaliknya. "udah gampang ntar kita beliin aja abangnya kopi" jawab Acil begitu ngeliat ekspresi saya yang kira-kira bermaksud gini : "bayar gak nih?". Setelah hampir 1GB data yang kami pindahkan selesai, sambil basa-basi saya bertanya ke mas-nya yang punya laptop. "jadi berapa ya mas?". Ekspektasi kita adalah "gak usah mbak.. gak usah repot-repot" tapi kenyataannya adalah : "20ribu mbak" yang diucapkan dengan tegas tanpa tedeng aling-aling. Wkwkwk.. Yah at least kalian jadi tau ada seorang mas-mas di Pulau Harapan yang membuka jasa memindahkan foto. :D

Keesokan paginya, ada hal baru dan seru yang kami lakukan : mengunjungi penangkaran penyu sisik dan menanam Mangrove di Pulau Kelapa! Udah tau kan ya kalau pulau Harapan ini jadi satu sama Pulau Kelapa? Nah tapi tempat penangkaran penyu sisik dan sesi menanam bakaunya ada di Pulau Kelapa dua yang terletak agak di sebrang dengan jarak tempuh 10 menit dari Pulau Kelapa Satu which is kita harus naik ojek perahu dengan tarif 2rb rupiah sekali naik. 

Di dalem ojek perahu ^^
Penangkaran penyu sisik ini adalah salah satu upaya untuk menjaga keseimbangan penduduk lokal di dalam laut. Jadi disini penyu balita dipelihara dan dirawat dengan baik sampai akil baligh untuk dilepas lagi di lautan. Tiket masuk penangkaran penyu ini murah meriah. 2rb rupiah saja.


kalau udah baligh jangan jadi penyu alay yaa *kecup*
Lagi seru-serunya ngeliatin penyu-penyu balita ini berenang kesana kemari, bapak penjaga konservasi ini menawarkan apakah kami mau menyumbang dengan membeli bibit Mangrove dan menanamnya di sekitar tepi Pulau Kelapa Dua. Tentu saja mau! kemudian kami pun membeli 50 bibit mangrove seharga 50rb rupiah dan menanamnya beramai-ramai. Mangrove memang memegang peranan penting di daerah kepulauan sebagai pemecah gelombang laut sekaligus tempat hidup beberapa biota laut seperti kepiting dan ikan-ikan kecil.

anak-anak kami :")
mari menanam Mangrove
Sebelum pulang, sempet juga mampir di budidaya terumbu karang yang terletak tidak jauh dari tempat penangkaran penyu sisik. Terumbu karang yang terdapat disini masih kecil dan unyu-unyu. Terumbu karang itu memang cantik tapi sangat rapuh makanya kita sebenernya gak boleh sembarangan pegang-pegang apalagi sampai menginjaknya ketika snorkeling.


Setelah itu.. trip ini pun berakhir dengan serunya. What a hilarious trip! 


Jam 11 siang, mesin kapal Raja Mas yang bersandar di dermaga Pulau Harapan sejak pagi tadi akhirnya berderu dan membawa kami pulang. Bener juga kata pepatah.. bukan pemandangannya, bukan juga suasananya. tapi siapa yang bersama kalian dalam perjalanan-lah yang membuat sebuah perjalanan sangat berharga.  I guess i am damn lucky to trip with you guys :')




*ps
postingan ini untuk kalian : Tika, Sonya, kakak Imel, kakak Ika, Topik, Dista, Vita, Surya dan Acil. Kangen lah sama kalian :-*