Showing posts with label caving. Show all posts
Showing posts with label caving. Show all posts

Sunday, September 28, 2014

Menemukan Potongan Surga yang Tercecer di Goa Gebyok

"On earth there is no heaven
but there are pieces of itJules Renard

Mulut Gua Gebyok di capture dari dalam

"seriuuuuuuus mau ke Gebyok???" tanya mas Agus dengan ekspresi mukanya yang membangkitkan naluri saya untuk menyambit. Ini adalah pertanyaan ke 1.349 kali-nya yang dilontarkan ke saya sejak kemarin malam. "6 jam lhooooooo nyusurin guanya" sambung Mas Agus -masih dengan ekspresi mukanya yang penuh dengan bully-an. Dipertanyakan seperti itu justru makin membuat saya penasaran dengan si Gua Gebyok, gua yang tidak sengaja saya temukan ketika berselancar di dunia maya ini memang membutuhkan waktu penelusuran yang menembus angka 6 jam karena medannya yang sulit dan ekstrim. 

Entah karena saya-nya yang keras kepala atau entah karena mereka kasian melihat muka saya yang memelas, akhirnya siang itu, teman-teman dari Katamata Adventure bersedia mengantar saya ke Gua Gebyok. Yeayy \(^-^)/. Rasanya baru saja saya duduk di atas motor yang melaju meninggalkan Pantai Siung yang menjadi basecamp kami, tiba-tiba motor berhenti di tepi jalan yang dihiasi pepohonan jati. "dari sini jalan kaki ya, agak jauh lho ke dalamnya" pungkas mas Agus seolah bisa menduga pertanyaan apa yang terlintas di kepala saya. 

Ladang penduduk dan kandang sapi menjadi hiasan langkah-langkah kaki kami berempat ketika menyusuri jalan kecil menuju mulut Gua Gebyok. Setelah kurang lebih berjalan sejauh 1 kilometer, kami tiba di depan mulut Gua Gebyok. Pintu masuknya yang tergolong semi vertikal dengan ketinggian kurang lebih 3 meter membuat kami harus rappeling dengan bantuan webbing dan figure eight  

The entrance is welcoming us ^^
Sesi Rappeling pertama
Gua Gebyok sendiri memang merupakan gua multi pitch yang memiliki beberapa vertical section mulai dari ketinggian 3 meter sampai 20 meter yang mengharuskan siapapun yang ingin menelusuri gua ini, untuk memakai dan membawa standart safety caving equipment.

Suasana dingin dan lembab menjadi pertanda bahwa kami sudah beranjak masuk lebih dalam ke perut gua. Pada pitch kedua yang tingginya kurang lebih 7 meter, entah kenapa, adrenalin mengalir tidak beraturan di dalam darah. Ritme jantung yang naik membuat saya kikuk ketika rappeling. Hasilnya adalah webbing yang seharusnya menjadi alat bantu turun menjadi tersimpul dan macet. Eng ing eng.. untungnya selain jago nge-bully saya, ketiga pria ajaib ini ternyata juga jago mengatasi permasalahan teknis semacam ini *nyengir*

Semakin turun ke bawah, pemandangan yang terlihat semakin lucuuu. Serius. Sumpah demi apapun juga.. Gua Gebyok ini 1.450 kali lebih cantik dari mall manapun di dunia ini! Paduan antara sinar headlamp yang merupakan sumber cahaya satu-satunya, suara gemericik aliran air dan ornamen gua menjadi pemandangan yang tidak pernah membosankan.


Gua Gebyok juga merupakan salah satu gua yang sistem sungai bawah tanahnya masih aktif. Makanya ornamen yang terbentuk lumayan komplit, sebut saja flowstone, dripstone, sodastraw, gourdam, batuan mutiara ( pearl ) dan batuan lainnya.

ini dia rimstone.. batuan yang terbentuk karena genangan air
batuannya berkilauan gituuuu
Selain itu, uniknya, di Gua Gebyok ini kita bisa melihat sisa-sisa aktivitas gunung api purba yang terlihat dari banyaknya batuan andesit yang terdapat didalam gua. Batuan andesit adalah sejenis batuan beku vulkanik yang terbentuk akibat pembekuan lava yang keluar dari perut bumi. Secara otomatis saya langsung membayangkan bahwa ribuan tahun lalu, di tempat dimana kaki saya berpijak saat ini, pernah mengalir lava panas. Wow.. just wow!

Batuan Andesit
Setelah beberapa saat berjalan menyusuri gua, kami bertemu lagi dengan pitch selanjutnya. Pitch kali ini kelihatan lebih vertikal dibanding pitch-pitch sebelumnya dengan ketinggian kurang lebih 8 meter. Lubangnya yang gelap gulita seolah tak memiliki ujung. Sinar headlamp mas Dedy yang lebih dulu turun sedikit banyak membuat saya lega karena lubang kecil ini ternyata memiliki dasar *pfuhh.

membuat lintasan di depan mulut pitch yang saking gelapnya seolah tidak memiliki dasar -_-
lubangnya ternyata memiliki dasar haha
Hiburan lain dari sesi penelusuran ini adalah kesempatan menjumpai beberapa spesies gua. Sebut saja udang gua, kepiting gua, milipede ( sejenis kaki seribu yang ukurannya super mini ), amblyfigi ( ordo dari jenis laba-laba gua), kelelawar dan ikan yang nampak seperti belut.

amblyphigi.. ordo dari laba-laba. lucu yaa?
Biota gua memang unik, terlebih yang masuk ke dalam golongan troglobite atau spesies yang memang murni hidup didalam gua dan tidak akan ditemukan di luar gua. Mereka hampir seluruhnya buta -hey,, penglihatan tidak diperlukan di kondisi zona gelap abadi bukan?- dan untuk itu mereka dianugerahi sense of smell and touch yang ruaar biasa. Contohnya udang gua ini, sungutnya yang jauh lebih panjang dari udang biasa berfungsi sebagai sensor yang menggantikan penglihatannya.


Berjalan lebih jauh kedalam, akhirnya kami tiba di pitch kelima yang sekaligus menjadi pitch tertinggi dengan perkiraan ketinggian mencapai 20 meter. Sebelum turun, kami memutuskan untuk beristirahat, sekedar mengganjal perut dengan beberapa cemilan yang kami bawa sekaligus mencoba mematikan headlamp kami hanya untuk sekedar mencicipi berada di dalam zona gelap abadi -dan ternyata beneran gelap gulita sodara-sodara!

muka tenang.. padahaaaaaaaaaaaaaaaaaal  jantung..
Cleaning Lintasan
ketiga pria ajaib ini sibuk packing sementara saya sibuk dokumentasi hihi
Setelah pitch terakhir ini, track mulai amburadul. Mulut gua yang kadang tinggi kadang menyempit membuat kami harus mempraktekkan segala metode berjalan: berjalan merunduk, berjalan jongkok, berjalan merayap sampai berenang-renang ria. 

Semua metode dipraktekin.. wes yang penting bisa maju :D
Pepatah lama yang mengatakan bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian ternyata memang terbukti karena apa yang saya lihat setelah "latihan kopasus" barusan adalah pemandangan luar biasa dimana sungai bawah tanah yang airnya jernih luar biasa mengalir dan berkumpul di bawah sebuah jeram yang menyerupai miniatur air terjun. 

Seketika merinding mengingat sebuah ayat suci Al-Quran :

"Allah telah menyediakan bagi mereka
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar" (QS. 9:89)


Inikah surga dunia? masya alloh seindah ini.. 
bagaimana indahnya surga akhirat nanti ya Rabb? :')
cuma bisa bengong. takjub!
senyum pertama setelah speechles beberapa saat
Selepas pemandangan spektakuler barusan, jalur didominasi oleh aliran sungai bawah tanah dan harus diakui bahwa bagian yang paling mendebarkan adalah melewati tumpukan sodastraw yang berjarak hanya sekian sentimeter dari helm. Takut gak sengaja merusak mereka!


Setelah hampir 5 jam kami menelusuri gua Gebyok ini, tibalah kami di depan lorong berdiameter kira-kira 60cm. Iya. Benar. Lorong ini adalah satu-satunya jalan yang nantinya akan menuju mulut Gua Cekelan sebagai pintu keluar. Oleh karena itu, salah satu syarat menelusuri Gua Gebyok ini adalah tidak berbadan gemuk. Berhubung saya mewarisi "gen kurus selalu" maka diameter segitu masih bisa saya lewati.

Tuh.. muat kan? *kibas poni*
Alih-alih cemas, saya malah paling senang di bagian ini karena cuma ditempat ini saya bisa gantian mem-bully mas Agus yang postur tubuhnya paling gemuk di antara kami berempat. Saya tidak habis-habisnya tertawa melihat mas Agus merayap dengan perutnya yang hamil 6 bulan itu hahaha :D

awas masnya.. perutnya nyangkut nanti :D
Tidak berapa lama setelah melewati lorong sempit tadi, sisa-sisa sinar matahari hari itu tampak dari kejauhan menerobos ke dalam mulut Gua Cekelan. Rasa antusias mulai terkikis oleh susunan batuan yang menanjak naik ke atas. Agak sedikit takut karena saya sendiri kurang yakin dengan batuan yang saya pijak. Adakah ia batuan yang masih kokoh ataukah sebaliknya, batuan tua yang lapuk?

akhirnyaa.. sinar matahari kapten!
Rasa syukur menyelinap di hati ketika kami berempat keluar dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun setelah hampir 5 jam berada di rongga-rongga bawah tanah. Perkebunan tandus penduduk pun menyambut kami yang nampak dekil, kumel, lepek namun tetap kece. Kami pun melangkah pulang ke basecamp kami di Pantai Siung dengan pikiran masing-masing. Sempat menganalisa.. ah paling banter pikiran kami berempat sama : masakan bude Idho, mandi dan hammock haha..




Ps:
tulisan ini didedikasikan untuk kaliaaaan bertiga : my adventure bullies *eh* buddies
Mas Agus, Mas Wasesa dan Mas Dedy, sebuah kehormatan bisa caving dengan tiga pria ajaib seperti kalian *nyengir*

Saturday, September 27, 2014

Tenggelam Dalam Eksotisme Gua Senen


Siang itu, matahari sudah agak condong ke barat ketika saya dan tiga orang teman dari Katamata Adventure tiba di mulut Gua Senen. Gua Senen merupakan salah satu dari ratusan gua di Kabupaten Gunung Kidul yang dibuka sebagai objek wisata minat khusus. Gua yang termasuk kedalam jejeran gua vertikal ini berada di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus dan terletak tidak jauh dari Pantai Siung. 

Untuk menuju ke mulut gua, kami harus menyusuri jalan setapak yang berada di tengah perkebunan penduduk. Beberapa kali kami sempat menyapa penduduk yang kebetulan sedang mengurus ladang mereka yang kebanyakan ditanami kacang-kacangan dan jagung sebagai tanaman yang biasa mereka tanam ketika musim panas seperti sekarang ini.

Setelah berjalan sekitar 10 menit dari tepi jalan dimana kami memarkir motor, kami tiba juga di lereng dimana mulut gua senen menganga dengan cantiknya. Berdasarkan keterangan dari mas Agus yang kebetulan udah caving dari sejak lahir sering caving kesini, dahulu mulut gua ini tertutup oleh tanaman rambat sehingga sinar matahari tidak pernah masuk ke dalam area gua yang terletak 8 meter di bawah mulut gua ini. Saking gelapnya, masih banyak kelelawar yang tinggal di dalam gua. Namun seiring bertambahnya wisatawan yang datang ke gua ini, warga berinisiatif untuk membersihkan tanaman rambat tersebut. Baik sih niatnyaa.. tapi saya rasa pasti bakalan lebih eksotik lagi kalau begitu disibak tanaman rambatnya, kelelawar terbang keluar dari dalam gua. Kayak di film-film gitu. Haha

The Entrance 
Seperti gua vertical lainnya, untuk memasuki Gua Senen ini pun memerlukan teknik SRT ( Single Rope Technique ) dengan rigging yang dibuat di lubang batuan yang terletak hanya sekian sentimeter di bagian atas mulut gua. Kali ini yang bertugas sebagai rigging man adalah mas Wasesa dibantu oleh mas Dedy sementara mas Agus sibuk menjawab pertanyaan "kenaaaaapa" dari saya haha..


Sambil memperhatikan mas Wasesa membuat lintasan, saya berusaha mengingat cara descending terutama cara mengawinkan tali charmantel dengan descender autostop yang dulu pernah diajarkan oleh beberapa teman saya di Makupella Akademi Teknik Kulit Jogjakarta.

Setelah mencoba sendiri plus di bantu oleh mas Agus dan mas Dedy, akhirnyaaaa descending saya berjalan lancar. Alhamdulillah. Saya pun meluncur turun menyusul mas Wasesa yang sudah terlebih dahulu turun dan menunggu di bawah.

agak wak-wek tapi its oke lah haha
Begitu memasuki ruangan gua, hawa lembab mulai terasa. Beberapa kali saya harus mengelap kacamata yang mulai berembun di sela-sela decak kagum saya melihat interior di dalam Gua Senen ini. Sambil mendengarkan penjelasan mas Agus tentang berbagai macam proses terbentuknya batuan di dalam gua, saya tenggelam dalam eksotisme Gua Senen.

Dripstone..flowstone
Saya takjub dengan cara air membentuk bongkahan demi bongkahan batuan di dalam gua. Batuan tersebut terbentuk dari tiga cara -setidaknya itu yang saya tangkap dari penjelasan mas Agus- yakni melalui tetesan air (dripstone), aliran air (flowstone) dan genangan air (rimstone). Berhubung Gua Senen ini merupakan gua fosil yang tidak memiliki aliran sungai di bawahnya, maka agak sulit menemukan batuan rimstone. Meskipun begitu, saya cukup puaaaaaas dengan pemandangan dibawah sini. Lucunya maksimal ^^

Setelah hampir dua jam menelusuri Gua Senen yang panjangnya kurang lebih 250m ini, kami pun beranjak ke mulut gua untuk ascending. Bagian tersulit dari ascending menurut saya adalah bagian melepas croll. Teringat ketika saya nyaris 20 menitan menggantung di tali karena tidak bisa melepas croll sewaktu caving di Gua Jomblang beberapa bulan lalu ( cerita lengkapnya disini ). Beruntung, kali ini diatas sana mas Dedy sudah standby dan siap membantu saya melepas croll.

sesi Ascending
wak wek ngelepas croll -_-
Setelah cleaning lintasan beres, kami pun beranjak pulang ditemani matahari yang mulai kekuningan. Dari dulu, entah kenapa, saya selalu merasa kalau matahari di Jogjakarta itu terlihat lebih cantik.


Aah.. tapi selain sinar matahari yang kekuningan itu, ada begitu banyak hal yang patut disyukuri sore hari ini, lancarnya kegiatan caving dan keselamatan kami berempat menjadi beberapa hal dari sekian banyak hal yang patut disyukuri. Alhamdulillah :')


Saturday, August 9, 2014

Backpacker Jogjakarta Part 6 : Berburu "Cahaya Surga" di Goa Jomblang

Selamat dataaaang di Backpacker Yogyakarta itinerary hari keenam!

Setelah sebelumnya sukses menghitamkan kulit di garis pantai kabupaten Gunung Kidul di hari kelima kemarin ( cerita lengkapnya disini ), di hari keenam yang sekaligus menjadi hari terakhir saya menjelajah Jogjakarta dan sekitarnya, saya akan mencoba caving alias menyusuri gua vertikal untuk pertama kalinya di Goa Jomblang!

Goa Jomblang yang terletak di desa Pacarejo Kabupaten Semanu, Gunung Kidul ini merupakan gua vertikal dengan hutan purba di dasarnya. Goa ini terbentuk akibat proses geologi dimana permukaan tanah amblas kebawah beserta vegetasinya yang terjadi ribuan tahun lalu. Proses ini membentuk lubang seperti sumur yang dalam bahasa jawa terkenal dengan sebutan Luweng. 


Luweng Jomblang
Untuk bisa memasuki Luweng Jomblang ini, diperlukan teknik SRT ( Single Rope Technique ) dimana caver akan menuruni Luweng dengan menggunakan seutas tali yang dilengkapi berbagai macam carabiner. Para pengunjung umumnya menggunakan jasa yang disediakan di Jomblang Resort dengan harga berkisar antara 400-600 ribu / orang. Biaya yang cukup mahal ya?

Beruntung sekali.. tahun lalu ketika saya mendaki gunung Argopuro, saya berkenalan dengan sekelompok mahasiswa pecinta alam dari Akademi Teknik Kulit Yogyakarta ( Makupella ) yang pada kesempatan kali ini bersedia menemani saya untuk turun ke Luweng Jomblang. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri karena pihak pengelola Goa Jomblang tidak mengenakan biaya apapun pada kelompok pecinta alam yang ingin latihan caving disini. Alhamdulillah.. rejeki backpacker ^^

Sehari sebelumnya, saya dibekali dulu dengan bagaimana mempraktikkan teknik SRT. Kursus singkat ini berlangsung di kampus Akademi Teknik Kulit Yogyakarta. Kursus singkat ini berisi perkenalan alat-alat oleh Mbak Ika dan Mas Tomi sementara cara ascending dan descending dipimpin oleh Mas Arif dan mas Bahrudin. Latihan yang berlangsung selama kurang lebih 3 jam ini menggunakan tiang setinggi 3 meteran yang ada disebelah basecamp Makupella sebagai media simulasi. Rasa lelah yang tersisa dari susur pantai siang tadi menguap begitu saja digantikan rasa excited mempelajari bagaimana melepas croll dengan benar.

Hop..hop 
Setelah sesi latihan teknik SRT berakhir maka beberapa dari kami packing dan bersiap-siap untuk berangkat. Tepat jam 11 malam, saya, mas Arif, mas Tommi, mbak Lia dan mas Beta meluncur ke arah Wonosari dengan sepeda motor untuk seterusnya menuju ke Goa Jomblang.

Jalan raya yang menanjak dan berliku ke arah Gunung Kidul ini cenderung sepi saat kami melintas., mungkin karena udah larut malam juga kali ya. Di pertengahan jalan, saya sempat terpesona dengan keindahan Bukit Bintang saat motor yang saya tumpangi melewati kawasan yang dijadikan tempat nongkrong muda-mudi Jogjakarta di penghujung minggu itu.

"ndak lama kog mbak.. paling 1 jam setengah" jelas mas Arif dengan logat jawanya yang kental ketika saya tanya berapa lama waktu tempuh dari kampus ATK Jogjakarta ke Goa Jomblang menggunakan sepeda motor.

Memasuki jalanan kecil menuju Goa Jomblang di desa Pacarejo, cahaya motor kami menjadi satu-satunya cahaya di tengah kegelapan jalanan yang diapit pepohonan jati. Kontur jalan yang rusak parah menghilangkan rasa ngantuk saya dalam sekejap, sementara udara mulai terasa dingin. Saya tidak ingat pukul berapa kami, pada akhirnya, bisa beristirahat di dalam tenda yang dibangun di area camping ground tidak jauh dari mulut Goa Jomblang.

dome sweet home ^^
Pagi harinya, setelah memasak sarapan bareng mbak Lia, saya sempat berkeliling untuk melihat mulut goanya, orientasi medan dulu ceritanya. Begitu melihat lebarnya mulut Goa Jomblang ini, segala senyawa kimia mulai dari adrenalin, endorfin, oksitosin dan serotonin mengalir dalam darah. Efeknya adalah perasaan yang campur aduk antara takut, bahagia dan excited!

Yak itu dia.. yang bikin perasaan campur aduk. (-_-')
*pic taken from kaskus.. maap yak soalnya kemaren foto saya
 gak ada yang sejelas ini mulut guanya*
Mengingat saya adalah pemula, maka jalur yang kami pakai adalah jalur VIP yang ketinggiannya berkisar antara 20-30 meteran. Berbeda dengan jalur langsung dari mulut Goa Jomblang yang berada di level 60 meteran *ngilu bayangin SRT-an setinggi itu*

Saya pikir jalur VIP itu enak-enak gimaaanaaa gitu yhaaaa.. secara namanya aja VIP. Ternyata jalur yang harus dilalui sebelum lintasan dipasang beneran curam. Sebagai gambaran, turunan terjal ini mirip Bapa Tere di jalur Linggarjati Gunung Ciremai, cuma panjangnya tiga kali lipat dari Bapa Tere. Kebayang kan yak.. secara sampe harus turun pake webbing saking curamnya. Pemanasan yang cantik (=_=)

Sebelum kami turun, mas Arif rigging ( membuat lintasan ) dengan main anchor pada batang pohon di sisi kiri jalur VIP. Saya bengong aja disitu antara takjub dan ngeri ngeliat mas arif yang rigging sambil gelantungan gitu di pohon, Eyuhh.. kecil kecil cabe rawit dah tu anak.

ngilu ngeliatnya
menunggu Mas Arif Rigging *jantung deg2 nyes*
dasar perempuan yhaa.. sempet aja minta foto sambil nunggu rigging kelar :D
Coverall udah dipake, set SRT udah dipasang, body checking juga udah, setelah mas Arif dan mbak Lia descending, berikutnya adalah giliran sayaaaaaa *nelen ludah*. Seperti biasa, disorientasi saya dalam membedakan kanan-kiri cukup membuat saya bingung mengawinkan antara descender dan charmantel dengan baik dan benar, beruntung ada mas Tommi yang mengoreksi kesalahan saya. Segera setelah descender terpasang, saya meluncur turun perlahan dari atas. 

rasanya.. gado-gado!
Sesampainya dibawah mulut gua menganga lebar. Ada rasa takjub menyelimuti hati saya yang paling dalam, betapa di tengah alam ini, kita, manusia, yang katanya mahluk yang sempurna, ternyata kecil dan gak berarti apa-apa.
Mulut gua dicapture dari dalam ^^
Memasuki mulut goa menuju Luweng Grubug, saya baru mengerti kenapa saya harus memakai coverall -baju ala caver- yang warnanya lebih mirip baju dinas kebersihan ini, ternyata jalanan menuju Luweng Grubugnya memang berlumpur, meski sudah dibantu dengan batuan yang disusun setapak oleh pengelola, tetap harus berhati-hati karena kondisi batuan yang juga licin. 

Sinar headlamp mulai memendarkan cahaya di tengah gelapnya goa, perlahan tapi pasti, kami berempat berjalan menuju Luweng Grubug. Udara terasa sejuk dan lembab sementara sesekali saya tergelincir jatuh dari bebatuan dan masuk kedalam tanah berlumpur. Disini tagline deterjen R**nso kedengeran sangat pas : gak ada noda ya gak belajar. Haha. 

Beberapa menit kami menyusuri goa, dari kejauhan tampak "cahaya surga" yang terkenal dengan julukan Line King. Demi melihat kilauan cahaya matahari yang menyeruak masuk dari Luweng Grubug tersebut, kerongkongan saya tercekat, menahan nafas dan terpana. Saya belum pernah melihat cahaya seindah itu!. Bergegas saya percepat langkah, tidak saya perdulikan lagi lumpur yang masuk ke sela-sela kaos kaki, saya hanya ingin segera melihat sepotong keindahan yang Alloh titipkan di tempat ini.

Allohuakbar..  
Memasuki ruangan dibawah Luweng Grubug, seonggok batu besar yang terbentuk alami dari endapan calcium carbonat selama ratusan tahun itu langsung mencuri perhatian. Batu besar berwarna putih kekuningan ini seolah menjadi panggung bagi setiap pengunjung yang ingin berdiri di bawah pancaran Line King.

di panggung cahaya
Line King yang ngetop itu..
Di bawah Luweng Grubug ini terdapat aliran sungai bawah tanah yang cukup deras, Kalisuci namanya. Aliran sungai bawah tanah memang khas di daerah pegunungan Karst. Saya sempet dijelasin secara singkat mekanisme timbulnya sungai bawah tanah di area Karst ini oleh Mas Arif ini, intinya karena daerah Karst adalah daerah yang impermeable, sehingga air hujan bisa masuk kedalam batuan, membentuk rekahan yang lebar, saling menyatu kemudian jadilah aliran sungai.

kenaliiinnn... Ini dia yang namanya mas Arif.
kecil-kecil Cabe Rawit!
Waktu menunjukkan hampir jam 2 siang saat kami menyadari cahaya Line King mulai padam, itu artinya saatnya bagi kami untuk beranjak pulang. Pulang disini berarti harus ascending sekian puluh meter. Bagi saya -entah bagi caver yang sudah ahli- ascending adalah kegiatan yang menguras tenaga. Urat di kaki dan tangan keluar semua, belum lagi lecet-lecet akibat gesekan antara tangan dan carmantel. No pain no game lah intinya

Mbak Lia giliran pertama

saya berikutnya 

Setelah keempat personel naik semua, set SRT udah di cleaning dari lintasan, final checking udah dilakukan, semua barang dan tenda udah di packing, saatnya kami pulang. *gak pake mandi hihi*

dekilnya maksimal
*dalam balutan coverall
Sinar matahari senja yang kemerahan menerobos dari pepohonan jati yang tumbuh di kanan kiri jalan menemani perjalanan pulang kami. Sesaat setelah motor dinyalakan, saya menengok ke belakang untuk sekali lagi melihat mulut Goa jomblang yang menganga dengan lebarnya. Benar-benar tempat yang spektakuler. "sungguh saya semakin mencintai negara ini" bisik saya pelan di tengah deru motor yang mulai melaju membawa kami pulang ke Jogjakarta.

Dengan ini... berakhir pula 6 hari perjalanan saya di Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Menyenangkan sekaliiii.. Ada banyak pelajaran, kenangan dan sahabat baru yang akan menjadi bagian dari perjalanan hidup saya setelah ini. I owe you so much fellas ^^

*ps
tulisan ini didedikasikan untuk semuaaaaaa anggota Makupella
terutama Mas-mas yang keren2 : Mas arif, Mastom, Mas Beta dan Mas Bahrud, dan mbak-mbak yang cantik tapi luwes SRT-an : Mbak Ika dan Mbak Lia




Friday, August 8, 2014

Backpacker Jogjakarta part 4 : Wisata Adrenalin di Desa Bejiharjo!

Selamat dataaaang di Backpacker Jogjakarta itinerary hari keempat!

Setelah hari sebelumnya belajar sedikit tentang sejarah di candi-candi ( cerita lengkapnya disini ), maka hari ini adalah waktunya wisata adrenalin.. yeaaay! Tujuan hari ini adalah kawasan Desa Bejiharjo yang menawarkan beberapa spot wisata yang bisa memicu sedikit adrenalin! Exciting lah pokoknya. Di hari keempat ini juga sedikit berbeda karena Tika-travelmates yang sebelumnya nemenin di 3 hari pertama, harus bertolak pulang ke Jakarta. Ini artinya saya kembali ber-solo backpacking.

Saya meninggalkan penginapan di kawasan Sosrokusuman, Malioboro sekitar pukul 12.00 siang untuk selanjutnya ke terminal Giwangan dan menumpang bus ke arah Wonosari. Dari terminal Wonosari, saya menumpang ojeg ke desa Bejiharjo. Setibanya disana, suasana cenderung sepi padahal kalau musim liburan, ribuan orang bisa memadati desa ini! 

Eniwei kedatangan saya yang cuma seorang diri sempat membuat penjaga loket dan guide bingung. Saya sendiri juga bingung kenapa mereka bingung haha.. Setelah berganti kostum, ditemani oleh seorang pemandu - pak Kejar namanya, saya mulai petualangan yang pertama, Goa Gelatik! ( cerita lengkapnya disini ). 

Interior di dalam Gua Gelatik
Setelah menyusuri Goa Gelatik yang termasuk kedalam Goa kering, maka selanjutnya saya beranjak menyusuri sungai yang berada di dalam Gua. Cave tubbing Gua Pindul. Cave tubbing adalah kegiatan menyusuri goa dengan menggunakan ban karet untuk menopang tubuh kita diatas aliran sungainya. Cerita lengkapnya disini.


Hari keempat ini ditutup dengan River Tubbing di Sungai Oyo ( cerita lengkapnya disini ). Menyusuri sungai Oyo sepanjang 1,5 Km dengan menggunakan ban karet menjadi acara penutup di hari keempat backpacker Yogyakarta ini. 

River tubbing sungai Oyo
Selesai river tubbing, sempat terjadi kegalauan apakah saya akan pulang ke Kota Jogjakarta, mengingat waktu saat itu menunjukkan pukul setengah enam sore. Pertanyaan terbesar saat itu apakah masih ada bus yang akan membawa saya kesana

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya memutuskan untuk bermalam di Desa Bejiharjo ini. Entah memang harga sewa kamarnya murah atau entah si Ibu empunya rumah kasian ngeliat saya yang udah dekil dan lepek gak karuan, tapi harga sewa kamar dengan kasur springbed ini cuma 25ribu semalam. Yeay! Rasanya langsung pengen meluk haru si ibunya. \(^_^)/

Ini sumpah empuk kasurnya!
Jadi setelah bebersih dan ngepakin baju kotor, berikut kegiatan saya di rumah Ibu Wargono : ngobrol, makan mie rebus, nonton tivi, ngobrol lagi, (dipaksa si ibu) makan nasi, ngobrol lagi, (dipaksa) ngemil nasi anget plus parutan kelapa buatan ibu, dan duduk kekenyangan didepan tivi. Haha.. baik banget si Ibu dah. 

Daaaaan hari keempat ini berakhir dengan bahagia di atas kasur, saya pun bersyukur meskipun solo backpacking, tapi saya bertemu banyak orang baik sepanjang perjalanan. Meuni bahagia! Dan akhirnya saya pun ketiduran ditengah ketidaksabaran untuk melanjutkan perjalanan di hari kelima besok ^^


next : Backpacker Jogjakarta part 5 : Pantai Pok Tunggal - Sundak - Siung - Krakal - Kukup