Monday, December 3, 2012

Backpacking Pangandaran : One Stop Destination!


Wilayah Jawa Barat memang memiliki potensi wisata yang tersebar di berbagai penjuru. Dari ujung ke ujung kamu bisa menemukan destinasi dari banyak wisata, mulai dari wisata gunung, wisata bahari sampai wisata budaya dan kuliner juga ada. Salah satu daerah yang memiliki paket komplit dalam hal spot terbaik untuk dikunjungi adalah daerah Pangandaran.



Selain tempat wisatanya yang segambreng, akses menuju kesana cukup mudah. dari Jakarta, kamu bisa naik bus Perkasa Jaya jurusan Pangandaran dari terminal Kampung Rambutan seperti pengalaman saya di Trip Pangandaran Sekuel Pertama. Bis ini terakhir jam 21.00 jadi pastikan sampai sana on time ya. Alternatif kedua adalah dari terminal Grogol naik bus Merdeka jurusan Pangandaran seperti perjalanan saya di Trip pangandaran Sekuel Kedua. Tarif kedua bus ini hampir sama yaitu 50-55ribu rupiah.

Bagi kamu yang tidak suka macet dan gerah selama perjalanan, saya sangat merekomendasikan untuk naik bis terakhir Perkasa Jaya yakni jam 21.00WIB. Selain tidak gerah, resiko macet pun bisa diminimalisir. Waktu tempuh Jakarta - Pangandaran dengan bus kurang lebih 7 jam.

Sesampainya di terminal Pangandaran, akan banyak becak yang menawarkan "paket keliling cari penginapan sampai dapat" dengan harga 20ribu rupiah. Bila kamu sudah tau penginapan mana yang mau dipilih lebih baik jalan kai saja, karena tidak terlalu jauh jaraknya. Namun apabila kamu masih bingung dan mau survey beberapa penginapan, pilihan paket keliling tadi boleh dipertimbangkan dan ditawar tentunya.

Sebaiknya tawar menawar tetap dilakukan saat mencari penginapan, karena masih banyak penginapan yang bukan fixed rate. Harga penginapan sangat bervariasi mulai dari 100ribu sampai setara dengan hotel. Oiya musim liburan juga mempengaruhi harga penginapan.

Penginapan sudah dapat, saatnya cari tau tempat apa saja yang bisa dikunjungi disini. Berikut referensi yang bisa saya sharing dari dua babak trip ke Pangandaran yang pernah saya lakoni.

Wisata Pantai

Pantai Pangandaran


Pantai Pangandaran adalah pantai yang paling terkenal. Pantai ini termasuk pantai yang landai, di sekitar pantai sudah banyak rambu tanda evakuasi kalau suatu saat terjadi tsunami. Di pinggiran pantai, banyak pedagang yang menjajakan jajanan khas pinggir pantai seperti es kelapa dan seafood. Letaknya yang dekat dengan penginapan membuat pantai ini sangat ramai terlebih di akhir weekend. 
















Pantai Batu Karas

Kalau kamu mencari pantai yang lebih tenang dan tidak terlalu ramai, mungkin Pantai Batu Karas pilihannya. Pantai yang terletak kurang lebih 34km dari Pangandaran ini masih tergolong sepi dan tenang dibandingkan Pantai Pangandaran. Pantai ini juga tergolong pantai yang landai dan ombak yang bersahabat. Di sekelilingnya banyak penginapan yang sedang dibangun, menandakan banyaknya wisatawan yang mulai melirik pantai ini sebagai pantai yang wajib dikunjugi selain Pantai Pangandaran. Di pantai ini, kamu bisa memandang lautan dari atas bukit kecil.











Pantai Batu Hiu

Pantai lain yang bagus untuk dikunjungi ketika berada di sekitar Pangandaran adalah pantai Batu Hiu. Pantai ini berjarak kurang lebih 14 km dari Pangandaran. Di pantai ini banyak terdapat batuan besar yang menambah keindahan pantainya yang landai.





Body Rafting 

Bosan cuma duduk diam di pinngir pantai? Saatnya kamu mencoba Body Rafting! Ada beberapa objek wisata yang menawarkan sensasi adrenalin yang sedikit berbeda yaitu body rafting atau menyusuri sungai tanpa perahu hanya menggunakan pelampung saja. Dimana saja? ini dia!


Green Canyon
Green canyon bisa dikatakan salah satu primadona wilayah sekitar Pangandaran. Airnya yang hijau kebiruan bisa membius mata dalam sekejap. Membawa baju ganti adalah hal yang wajib dilakukan kalau kamu berkunjung kesini karena airnya yang hijau kebiruan kadang mengubah niat kita yang tadinya tidak mau terjun menjadi asik main air.



Citumang

Salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi untuk body rafting adalah aliran sungai Citumang yang tidak kalah bagus dari Green Canyon. Objek wisata ini terletak di Desa Bojong, Kecamatan Parigi Ciamis atau sekitar 15Km dari Pangandaran. Dari hulu sungai, kamu bisa mencoba terjun bebas di air terjun mini sekaligus melanjutkannya dengan body rafting.















International Kite Festival

Pangandaran juga merupakan salah satu tempat yang biasa dipakai untuk Festival Layang- layang Internasional lhoo... Di festival ini kamu bisa menyaksikan layangan dari berbagai negara mulai dari Malaysia, Cina sampai Australia. Kamu bisa mencocokkan jadwal trip ke Pangandaran dengan jadwal Kite Festival agar trip kamu ke Pangandaran semakin komplit


















Bagaimana? Tertarik?
Yuuk segera susun itinerary-nya.. dan nikmati one stop destination di Pangandaran.
Seru!

Regards,





























Thursday, November 29, 2012

Antara ARTCA dan Gunung Sumbing :)

Gunung Sumbing adalah salah satu gunung di Jawa Tengah, tepatnya terletak di Desa Garung, Wonosobo. Gunung ini akhirnya jadi destinasi dadakan liburan ala ARTCA yang pasti punya cerita tersendiri yang bisa bikin senyum2 sendiri kalo diinget :).

Disini ini kenangan ajaib tercipta :)

Orait.. Sebelum beranjak ke cerita apa aja yang terjadi selama 4 hari 3 malam di Gunung Sumbing, mari kita mulai dengan siapa aja yang ikut di liburan ajaib kali ini. Berhubung yang lain pada punya kesibukan, jadi  anggota ARTCA yang bisa ikut cuma 4 orang aja.. here they are : )


Yap.. yang kumisan itu dipanggilnya Dedi ( Daddy ) yang artinya ayah. Ayah di ARTCA berarti adalah orang yang bawaannya paling berat, yang tugasnya nunjukin jalan dan ngasih makan anak-anaknya yang kebanyakan gembul seperti saya haha.. Dedi ini biar kata casingnya kumisan dan serem tetapi dalemnya alus kayak aspal jalan tol.





Yang senyumnya nakal di sebelah kiri itu adek saya, namanya Budi, biasa dipanggil Buday ( katanya biar kerenan dikit.. padahal gak ngaruh ). Di liburan kali ini, ABG yang satu ini lagi kesengsem sama ABG perempuan yang dipanggil "pesek". Buday ini dapet jatah untuk ngebawa kerilnya si dedi yang lebih mirip kulkas dua pintu saking tingginya. Semoga kamu gak turun bero ya Buday.. :)


yang ini adek saya juga, namanya Rizal, biasa dipanggil Ijal. Berbeda dengan abangnya - Buday - yang rada ngeselin, Ijal ini cenderung pendiem, cool dan unyu-unyu. Ijal ini lagi dilatih sama Dedi biar brengos ( baca : handal dan tangguh ) seperti dia.






Dan yang terakhir adalah.. *eng ing eng* saya. Berhubung pangkat saya adalah anak bungsu dari Dedi makanya barang bawaan saya yang paling ringan hahaha *senyum sinis. Tapi walaupun barang bawaan saya paling enteng, tapi yang paling sering dimarahin sama Dedi yaa saya ini (T_T) hiks.

Kenalan udah.. sekarang saatnya sharing apa aja yang terjadi selama 4 hari 3 malam di Gunung Sumbing :D



cerita pertama : Bertemu si "Pajero"

Bagi kebanyakan orang yang pernah mendengar istilah "pajero" pasti terbayang mobil sport keluaran Mitsubishi, tapi tidak kali ini sodara-sodara.. Perjumpaan kami dengan si "pajero" ini gak lama setelah kami berempat beranjak naik selepas isya. Jalur menuju puncak Gunung Sumbing diawali dengan jalan bebatuan di tepi ladang penduduk. Belum ada setengah jam kami menyusuri jalanan berbatu, dari belakang tampak cahaya senter menandakan ada orang yang mengikuti kami
"perkenalkan nama saya Uda, saya penjaga kampung sini" ucap lelaki yang kalo ditebak usianya sekitar 27 tahunan. Tanpa curiga, kami duduk beristirahat sambil mengobrol dengan laki-laki ini.

Setelah ngobrol panjang lebar, ternyata niat dari laki-laki ini adalah mengawal kami sampai ke atas. Katanya sih diatas gunung itu ada orang gila yang sering menghadang pendaki. Otomatis saya langsung menyikut Dedi dengan muka penuh tanda tanya. Penasaran dengan laki-laki asing di depan saya, saya pun memulai investigasi.
"mas memang dari organisasi apa?" tanya saya
"stickpala" jawab laki-laki ini singkat sambil matanya meneliti gerak gerik tubuh kita.

Gak puas sampai situ, saya menggali lagi "lho? stickpala itu emang kepanjangannya apa?"
si laki-laki ini menjawab dengan jawaban yang asli gak nyambung "pajero" jawabnya singkat. Sambil mengernyitkan dahi, saya bertanya lagi "pajero itu apa ya mas?"
"saya petugas kampung sini" jawab laki-laki tadi makin gak nyambung

Akhirnya kami memutuskan untuk mempersilahkan laki-laki itu jalan terlebih dahulu dan kami mengikuti dibelakang. Sepeninggalnya laki-laki itu, kami kasak-kusuk dan mulai berspekulasi apa maunya laki-laki ini.


Spekulasi pertama versi Dedi :
Laki-laki ini setengah stress, kemungkinan besar (mungkin) dulu dia pernah mau cari "ilmu" tapi gak kuat akhirnya jadi agak "miring" sedikit

Spekulasi kedua versi Dedi *dan yang paling bikin horor* :
Laki-laki ini diutus temannya untuk "survey" barang berharga apa yang kita bawa kemudian nanti dia turun dan kembali membawa "pasukan" untuk merampas barang2 kita. *eng ing eng* langsung bikin saya parno seketika




Syukurnya, gak lama setelah si Pajero ini jalan di depan kita, entah apa yang ada di pikirannya, dia memutuskan untuk berhenti mengikuti kami dan beranjak turun. Sejak saat itu, kami tidak pernah melihatnya lagi. Whatta strange guy.. Percaya atau tidak.. sekarang dalam ARTCA kami menggunakan istilah "pajero" untuk orang yang gak nyambung dan sedikit aneh :D

cerita kedua : berorientasi pada proses bukan tujuan

Gimana gak.. dari mbah google kita semua tau kalau jarak tempuh Gunung Sumbing dari Pos 1 sampai puncak gak terlalu jauh, dapat ditempuh dalam 2 hari 1 malam. Namun, apakah yang terjadi dengan kami sehingga 4 hari 3 malam pun kami hanya sampai pos 2? wkwkwkwk,,, itulah dia sodara-sodara.. nikmatnya liburan  ala ARTCA..sangat menerapkan prinsip "tak 'kan lari gunung dikejar"

bagaimana tidak? bayangin aja..
buka tenda di pos 1 jam 11 malam kemudian esok pagi berangkat jam 9 pagi menuju ke pos 2 di ketinggian 2400-an mdpl, jam 11 siang udah buka tenda lagi dan nginep di pos 2 sampai 2 hari 2 malem. Pokoknya mah Pajerooo banget.. :D

jangan tertipu..
sebenernya ini baru jalan 5 langkah udah buka tenda lagi :))

Dua hari dua malem di POS II bener2 menyenangkan..
its like a sweet escape to us

Home Sweet Home.. POS II
cerita ketiga : Bagaimana Menghargai Air

Oke. Analisa kita tentang hujan yang mulai sering turun sehingga mata air kemungkinan banyak ternyata salah. Salah banget.. Persediaan air yang menipis ( karena kita gak ngambil banyak di mata air POS I dengan asumsi nanti akan ada lagi mata air di POS II ) membuat Dedi dan Ijal segera pergi ke mata air yang terletak tidak jauh dari tempat kami medirikan tenda di pos II, sementara saya bersama Buday memasak makan siang di sekitar tenda. hampir 1 jam Dedi dan Ijal pergi, ternyata pulang dengan tangan hampa alias gak ada air karena mata airnya kering, ada tapi tergenang dan begitu dikocok berbusa *agak sedikit horor aernya*

Keesokan harinya, kami jadi galau.. apakah mau melanjutkan perjalanan ke puncak atau harus turun karena persediaan air gak mungkin cukup. Hujan yang biasanya di Jakarta turun tiap hari, disini hanya sebatas mendung tanpa rinai hujan. Runding punya runding akhirnya di hari kedua ( di POS II ) kami mencoba mencari air.

Berdasarkan pengalaman survival Dedi yang ala tarzan itu, mencari air harus ke ngarai, begitu katanya, dengan logika dingarai pasti air terkumpul. Oke. karena yang bertiga termasuk saya masih unyu2 dalam hal beginian, kita ikut apa kata Dedi. Berhubung tracknya agak ekstrem, Dedi sempet nawarin ke saya, mau ikut atau mau tinggal di Tenda. Saya pikir-pikir iya kalau sebentar.. kalau lama, iseng juga di tenda sendirian. Akhirnya saya pasrah dan ikut mencari air.

Oh jangan tanya seperti apa track menuju ngarai. undescribeable.

Itu cengar cengir karena stress didepannya ada turunan
dengan tingkat  kemiringan hampir 90 derajat
Setelah bertemu ngarai kecil, kami agak kecewa karena ternyata ngarai yang seharusnya dialiri air ini, ternyata kering. Jadi kami harus menyusuri ngarai ke arah atas sambil berharap diatas ada sisa air untuk kami.

itu ded tracknya?? *eng ing eng* 
Ngarai yang kami susuri ini bukan tanah tapi bebatuan yang agak berlumut dengan tingkat kemiringan yang lumayan walhasil harus sedikit scrambling

antara pengen senyum sama pengen nangis :D
Setelah bersusah payah, ketemu juga airnya.. jangan bayangkan air yang bening ya sodara-sodara.. prinsip darurat air menurut Dedi adalah.. jangan perdulikan warna, yang penting tidak berbau dan tidak berbuih saat dikocok :D

Yap.. air yang cokelat kehijauan itu lah
yang menyelamatkan kami :)
Walaupun warna airnya tidak bersahabat, tapi gak ada pilihan kan.. jadi seperti biasa.. teknik penyaringan pun dimulai, berhubung gak ada kassa steril, sapu tangan pun jadi.


Sambil memenuhi botol-botol air kami, saya jadi flash back ke perjalanan tadi kemudian mereview kembali  seperti apa saya sudah bersyukur kepada Alloh SWT bahwa setiap pagi saya hanya perlu membuka keran dan keluar air jernih tanpa harus bersusah payah, mereview kembali apakah saya sudah cukup memperlakukan air bersih dengan baik. Yap.. semakin sadar bahwa air bersih itu harus dihemat!

Anyway.. pengalaman mencari air ini adalah the best scene dari perjalanan ajaib ini. Walaupun kami tidak sampai ke puncak gunung Sumbing, tapi ngarai tadi gak kalah keren momennya :)

Cerita keempat : wisata kuliner gak selalu harus mahal

Sepulangnya kami dari pos II, kami masih sempat menginap semalam lagi di base camp Sumbing. Serius. Kalian harus cobain atmosfer disini. Sejuk.. hening.. gambaran pedesaan banget deh yang kalo pas adzan masyarakatnya berbondong-bondong ke musholla tanpa memperdulikan kabut yang dinginnya minta ampun.

Sebelum pulang ke Jakarta
Esoknya baru kami beranjak ke terminal Wonosobo untuk seterusnya pulang ke Jakarta. Di terminal Wonosobo ada yang namanya Mie Onklok, makanan khas Wonosobo. Perpaduan antara sayuran, mie, sate bumbu kunyit dan saus dari tepung kanji cuma dihargai 9ribu saja. Siapa yang bilang wisata kuliner itu harus mahal?




Sesi Mie Ongklok tadi menutup liburan ARTCA kali ini. Gak pernah gak seneng kalo liburannya bareng ARTCA, gak pernah gak seru kalo liburannya sama ARTCA.. :)
Selanjutnyaaaa... kemana lagi Dediii??? *lirik Dedi sambil tepok tangan*






Salam Artca,

Saturday, November 10, 2012

Artca : untuk sekarang dan selamanya :)


selalu ada cerita seru dan menyenangkan setiap kali liburan bareng kalian, yang buat saya tertawa, yang buat saya terharu, yang buat saya semakin tak mau lepas dari kalian, yang buat saya semakin beruntung bisa memiliki kalian

karena

saat kaki berat melangkah naik, kalian selalu siap mengulurkan tangan dan menarik saya ke atas
saat berpikir untuk menyerah, kalian selalu punya cara sendiri untuk membuat saya terus berusaha

saat dingin datang, kalian tawarkan segala "mesin penghangat tubuh" mulai dari sarung sampai sleepingbag
saat gaya tidur saya yang ekstrim ini membuat selimut yang saya pakai awut awutan, kalian merapatkan kembali

saat yang ada cuma semangkok sop makaroni untuk kita, kalian selalu punya cara berbagi yang unik dan lucu
saat saya tertatih tatih turun, kalian bersedia menuntun dan menunggu
tanpa sindiran, tanpa komplain

untung saya bersama kalian, bukan orang lain
untungnya kalian ARTCA, bukan orang lain
^^

untuk artca, saya sayang kalian
semoga kalian gak bosen mendengarnya
hehe

base camp gn slamet
bambangan
18092010

notes itu saya buat dua tahun lalu
sekarang 2012 dan saya baru aja turun dari liburan di Gunung Sumbing sama artca.. ternyata perasaannya masih sama, bahkan lebih keren dari sebelumnya.. :)

artca : untuk sekarang dan selamanya 

besok kemana lagi yaaa??
*lirik dedi


Sunday, September 30, 2012

Bali Ala Koper

Setelah sekian lama ngetrip ala ransel ( baca : ala gembel ).. akhirnya saya ngerasain juga trip ala koper ke Bali, lengkap dengan shutter bus yang mengantar dari destinasi satu ke destinasi lain, makan di restoran keren dan tidur di kamar ber AC lengkap dengan water heater dan showernya. This is it.. Bali Ala Koper : )

Hari pertama
Jam setengah lima pagi saya udah nangkring di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta lengkap dengan rombongan dari kantor plus adek-adek yang kemaren baru aja wisuda - sebenernya trip ini adalah trip perpisahan mereka setelah wisuda -

quick snapshot sebelum masuk pesawat :)
Perjalanan ke Bali pake pesawat cuma perlu 1 jam 40 menit - kata air crew - tapi pastinya berapa lama saya gak ngitungin karena as usual.. saya tidur heee. Sampai di Bali, dateng2 langsung dikalungin kalung bunga kamboja.. yepp.. smells like a graveyard.. XD


Karena rombongan kami pakai jasa travel jadi kita udah dikasih itinerary 3 hari kedepan.. untuk hari pertama kita berkunjung ke Bedugul, Alas Kedaton, Tanah Lot dan shopping centre khas Bali, Joger.

Suasana jalanan di Bali gak jauh beda sama Jakarta, banyak mobil, billboard dan foodcourt. Yang paling membedakan adalah banyak bule seliweran sana-sini dan tentu aja patung dan Pure sesembahan umat Hindu.di sudut2 jalan..

Bali memang terkenal dengan penduduknya yang memegang adat dan sangat religius.. ya tadi itu contohnya, di tiap perempatan jalan atau dimanapun pasti melihat patung2 yang disarungin sarung dengan motif papan catur plus dihiasi meja sesajen. Pemeluk agama Hindu percaya bahwa dengan mendirikan patung dan memberikan sesajen maka lalu lintas di perempatan tersebut akan aman dan tidak ada korban kecelakaan.
Oiya.. disepanjang jalan juga banyak janur kuning..  no..no ini bukan karena di Bali lagi musim kawin.. tidaaak.. tapi janur kuning itu namanya "Penjor" yang dibuat oleh penduduk untuk merayakan hari besar umat Hindu, Hari Kuningan dan Galungan.

iki jenenge Penjor

Sepanjang perjalanan menuju Bedugul, saya baru tau dari tour guide kami, Bli Made, kalau penamaan anak di Bali memang sudah diatur sedemikian rupa :
Anak pertama : Wayan
Anak kedua : Made
Anak ketiga : Nyoman
Anak keempat : Ketut
Anak kelima : Putu
Kalau anak perempuan depannya : Ni ( misalnya Ni Putu Aldiati ) = dia pasti anak kelima
Kalau anak laki-laki depannya : I ( misalnya I Made Pariarta ) = dia pasti anak kedua
Nah kalo punya anaknya lebih dari lima katanya penamaannya balik lagi ke awal.. Gak heran kalo orang dari Bali memang namanya hampir sama.

Akhirnya setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2,5 jam, rombongan kami tiba di Bedugul tepat jam 12.45 WITA.. Bedugul itu lebih kepada Pure2 yang terletak didekat danau.. udaranya sejuk.. mirip di Puncak
Bedugul

Destinasi selanjutnya adalah Alas Kedaton, hutan kota yang jadi tempatnya kera-kera. Gak banyak yang bisa diliat disini kecuali betapa manusia ternyata bisa hidup berdampingan dengan kera kalau dia mau : )



Destinasi terakhir di hari pertama adalah hunting sunset di TanahLot.







Hari Kedua

Itinerary kedua adalah nonton Tari Barong di Desa Batu Bulan, poto2 di Kintamani, berkunjung ke Pura Tirta Empul di Desa Tampak Siring dan ditutup dengan dinner di Jimbaran. 

Jam 08.00WITA, shutter bus udah nangkring di halaman hotel untuk nganterin kita ke Desa Batu Bulan nonton Tari Barong. Yep... selain Tari Kecak yang sudah mendunia, ada juga Tari barong, yaitu lakonan yang menceritakan kebajikan melawan kejahatan.

Bali memang dianugerahi adat istiadat dan budaya yang punya daya jual.. ini terbukti dari banyaknya wisatawan luar yang ikut menyaksikan Tari Barong ini. Dan yang paling mengagumkan adalah Bali memiliki tour guide untuk tiap negara.. misalnya kalau orang Jepang maka tour guide lokalnya pun fasih bahasa Jepang plus rangkuman cerita Tari Barong dalam bahasa Jepang.


Oiya setelah acara selesai boleh lhoo minta foto sama si Barong

Oke.. dari segi gigi.. saya kalah jauh :(

Setelah puas liat lakonan Tari Barong, perjalanan lanjut ke salah satu resto di daerah Kintamani, makan siang sekaligus nikmatin pemandangan Kintamani.


Yang perlu dicatet adalah.. pedagang di Kintamani jauh lebih "sadis" nawarin barangnya ketimbang pedagang di daerah Kuta. Jadi kalau kamu berkunjung kesana dan sudah merasa "terintimidasi" dengan gaya penawaran mereka cukup bilang "makasih Bli.. saya udah beli di bawah"

Destinasi selanjutnya adalah Pura Tirta Empul.. Pura yang cukup besar yang didalamnya terdapat sumber mata air yang dianggap suci oleh Umat Hindu, mereka percaya bahwa dengan mandi disana akan dapat terkabul keinginannya. Sebenarnya hal-hal seperti ini tidak dibenarkan oleh agama kita, Islam. Tapi.. kita cukup menghargai apa yang mereka yakini dengan tidak mengejek apalagi menghina satu sama lain.

Memasuki kawasan Pura Tirta Empul ada beberapa peraturan yang wajib diikuti oleh para pengunjung, beberapa diantaranya adalah tidak bercelana pendek, diwajibkan memakai kain dan sabuk yang sudah disediakan di sana serta perempuan yang sedang datang bulan tidak diperkenankan memasuki kawasan Pura.
Di sudut halaman Pura tirta Empul
Kira2 begini penampakan dalemnya
Hari Ketiga - yang juga berarti hari terakhir di Bali -

Setelah nge-packing koper yang jadi kembung karena overload souvenir, rombongan kami berangkat ke Tanjung Benoa, untuk selanjutnya nyebrang ke pulau penangkaran penyu laut. Dari Pantai tanjung Benoa, kami harus naik boat kurang lebih 10 menit untuk sampai ke tempat penangkaran penyu ini. 



Setelah jepret sana sini sama hewan2 di pulau ini, kami beranjak ke destinasi selanjutnya yaitu kawasan Garuda Wisnu Kencana, selain ada patung Wisnu raksasa, disini juga ada tempat yang namanya Lotus Pond, daerah bertebing-tebing gitu.. pokoke sering saya liat deh di tipi2



Orait.. destinasi penutup di 3 hari di Bali adalah Pantai Kuta, kami tiba disini pukul 15.00 WITA dan langsung jeprat jepret di pantainya yang landai

Di Pantai Kuta

Boleh dibilang ini pertama kali saya melihat Pantai di Bali dalam 3 hari ini, and i have to say that.. mmm... biasa aja hahaha.. sungguh.. bagi saya pantai terindah dan terbiru dengan pasir terputih dan paling buat speechless sepanjang hidup adalah deretan pantai2 di Kepulauan Bangka Belitung

Dengan berakhirnya sesi foto2 di Pantai Kuta berakhir juga 3 hari 2 malam di Bali. Tepat jam 17.30 WITA kami menuju ke airport untuk selanjutnya take off dan kembali ke Jakarta.

Anyway.. this is it.. the end of Bali Ala Koper
Thanks buat semuanya dan Congrat untuk Adepeda.. 3 tahun ditutup dengan manis oleh 3 hari di Bali..
hope u guys wont forget us :)

Cheers,

Thursday, August 9, 2012

Lebaran Sebentar Lagi.. : )

Selamat Berpuasaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....!!

Hee baru ngucapin karena emang baru sempet nengokin blog yang udah berdebu sana - sini. Semoga bulan puasa tahun ini lebih sukses dari tahun - tahun sebelumnya. Aamiin.

Bulan puasa memang momen yang selalu dinanti.
Saya jadi inget jaman dulu waktu saya lagi imut-imutnya, saya selalu kegirangan kalau bulan puasa mau datang. Bayangan amplop hari raya dari tante-tante saya udah menari-nari didepan mata kalau saya bisa menamatkan puasa satu bulan full plus meng-khatamkan Al Quran selama satu bulan. Hiihihi.. 

Kumpulan tukang nodong amplop lebaran
( yap.. yang culun dan ompong itu : saya )


Saban hari kerjanya nungguin azan magrib sambil baca Al-Quran walaupun kala itu belom lancar banget, tapi demi 5ribu perak ( yang dulu rasanya uang segitu besar banget untuk ukuran anak 5 tahun ) saya rela jungkir balik. Hehehe.. dulu kan belom ngerti banget yang namanya pahala, ngertinya kalo gak nakal yaa dapat uang jajan. Kebahagiaan bulan Ramadhan dan Hari raya Idul Fitri kala itu diukur dari banyaknya baju raya dari tante-tante, amplop dan kue-kue yang bergelimangan di rumah.

Tapi semakin dewasa makna dan kebahagiaan bulan Ramadhan dan Idul Fitri jadi bergeser. Kalau dulu puasa dan mengaji demi uang 5 ribu, sekarang udah ngerti pahala, udah ngerti dosa, udah semakin paham - insyaallah..- jadinya pengharapannya lebih kepada sisi religinya.

Kalau dulu hari raya Idul Fitri selalu dapat baju raya dari tante saya, sekarang berhubung saya udah jadi tante maka saya yang kudu setor baju ke keponakan2 saya. Kalau dulu saya berkelana dari rumah tante satu ke tante lainnya ngumpulin amplop lebaran, sekarang giliran saya yang ditodong amplop lebaran. (T_T).

Anyway..
Ramadhan sebentar lagi usai
Lebaran sebentar lagi datang
Niat untuk menjadi pribadi yang semakin baik harusnya bertambah kuat.
Insyaallah Ramadhan ini menjadi berkah buat kita semua.. Aamiin Ya Rabb..


Regards,
Mantan tukang nodong amplop,