Showing posts with label Jawa Barat. Show all posts
Showing posts with label Jawa Barat. Show all posts

Friday, March 7, 2014

Balada Sinyal 3G di Desa Cinoyong

Waktu itu hari ke-delapan, jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam, di luar jangkrik mulai sahut-sahutan, sementara saya masih ribet ngurusin kertas-kertas kerjaan yang sengaja saya impor dari Jakarta ke sini, Desa Cinoyong. Desa ini adalah salah satu desa di Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang yang secara resmi masuk ke daftar Desa Terpencil dan kebetulan jadi desa yang dipakai praktik tahunan dari tempat saya bekerja.


Kalo denger nama Carita pasti yang kebayang adalah garis pantainya yang nawarin sunset yang ajegile kerennya. Tapi jangan ngebayangin kalo desa ini desa sea-side village yang suara ombaknya bisa kedengeran dari dalem rumah. In fact.. desa ini terletak jauh di perbukitan. Akses jalanan yang untireable ( baca : ujan dikit ban slip ) plus hutan dan jurang di sisi jalan bikin desa ini makin merana di segala segi.

Jalanannya itu lhooo... 
Terutama dari segi sinyal. Seriusan.. boro-boro buka social media, ngirim sms aja kudu keluar rumah sambil ngangkat-ngangkat hape ke langit. Sebagai anak yang dibesarkan di tengah kota tower sinyal, kenyataan ini jelas menyakitkan dan bikin uring-uringan.

Pemandangan sehari-hari di Desa Cinoyong
Seperti kejadian malem itu, dari luar pintu, partner kerja saya, Mas Agus ngasih isyarat supaya saya keluar dari ruangan. Saya yang lagi ribet dengan tumpukan kertas nyamperin dengan ogah-ogahan sambil manyun, "apaan Mas?" tanya saya singkat.
"gini put..." saut dia trus diem. Raut mukanya udah gak enak diliat
"ada apaan sih?", cerocos saya kepo.
"gw baru dapet kabar dari temen gw di Polres, dia bilang anak krakatau statusnya naik, udah mulai ngeluarin  material batu apung..." jelas Mas Agus setengah berbisik.

Sampe situ saya bengong. Sekedar informasi, Gunung Anak Krakatau itu keliatan looh dari pinggiran pantai di kawasan Anyer -Carita, ditambah lagi seminggu sebelum berangkat ada berita kalo laut di kawasan Serang surut sepanjang 1,5 KM. Walaupun ini desa adanya di atas bukit, tetep aja ini kepala isinya udah ngebayangin gimana caranya ngejagain 67 anak orang dari ancaman tsunami dan abu vulkanik kalo seandainya situasinya beneran bahaya.

Tambah lemes lagi pas denger kabar dari bos di Jakarta untuk segera packing dan mulangin anak-anak ke Jakarta. Saya langsung muter otak gimana caranya ngasih tau anak-anak berita ini tanpa pake acara panik dan pingsan ditempat.

"temen-temen.. malam ini juga packing yaaa.. PKL nya distop sampe sini aja, GAK USAH PANIK.. tenang.. tenang... cuma kebetulan aja saya dapet kabar kalo Anak Krakatau mau meletus.. itu lhooo yang gunungnya keliatan ituu dari pantai... gak koookk.. belum tentu juga tsunamii.. TENAAAANG.."

Nah kannn.. cobaaaaaaa... masa harus ngasih tau begituuu...

Ditengah kegalauan ini, saya mutusin untuk ngecek kebeneran berita ini di Situs Berita Online terpercaya sebelum bikin kehebohan. Disinilah perjuangan mencari sinyal dimulai. Berbekal senter dan segala macem doa, saya dan dua orang partner kerja bergegas menuju ke "Tanjakan Sinyal" dimana semua sinyal 3G dari segala macem provider berlimpah disini. Tanjakan dengan kemiringan yang saya rasa melebihi 45 derajat ini terletak kurang lebih 1 kilo dari rumah penduduk yang saya tinggali dan berada persis di ujung jalan setapak di tengah perkebunan duren dan kelapa yang gelap gulita. Sekali lagi sodara-sodara... mencari sinyal tidak pernah semenegangkan ini.. Fffuuuhhh *lapkeringet*

Sambil nepokin nyamuk, saya sedikit lega karena setelah dicek di situs berita online terpercaya, status Anak Krakatau memang naik tetapi gak segawat desas- desus yang beredar. Leganyaaaaaaaa..... Akhirnya sampai cerita ini diposting pun, Status Anak Krakatau alhamdulillah masih aman tentram terkendali dan  dari kejadian ini saya jadi sadar satu hal, ternyataaa.. sinyal 3G udah jadi kebutuhan pokok sehari-hari :D

 mengheningkan ciptaaaa..dimulai.
*kelakuan pecinta sinyal 3G sore-sore di samping Tanjakan Sinyal*


Yang cinta banget sama sinyal 3G,

Tuesday, December 31, 2013

Backpacker Kampung Naga : Mari Belajar Kearifan Lokal

Setelah kemarin mencoba Backpacker ke Garut, sebelum pulang ke Jakarta, saya menyempatkan diri untuk mampir ke salah satu kampung di Tasikmalaya yang masih menjaga tradisi, adat istiadat dan kearifan lokal yang menakjubkan, Kampung Naga namanya. 

Rumah penduduk Kampung Naga dari kejauhan


Menuju Kampung Naga tidak sesulit yang diduga, selain karena pintu gerbang kampung ini yang terletak persis di pinggir jalan utama yang menghubungkan Kota Garut dan Kota Tasikmalaya, moda transportasinya pun tergolong sangat tourisable. Saya hanya perlu menaiki bus 3/4 jurusan Garut - Tasikmalaya dari Terminal Guntur, Garut dan minta diturunkan di Kampung Naga. 

Untuk berkeliling di Kampung Naga, pengunjung akan ditemani oleh guide lokal karena ada beberapa tempat yang tidak boleh dimasuki maupun difoto. Kebetulan guide yang menemani saya berkeliling siang itu adalah Mang Endut, yang ternyata menantu kuncen nya Kampung Naga. Begitu melangkahkan kaki menuju perkampungannya, saya disambut ratusan anak tangga yang agak curam kebawah. Tidak heran karena Kampung Naga memang terletak di lembah dan diapit dengan dua hutan, Hutan Kramat dan Hutan Larangan.
Menuruni anak tangga menuju Kampung Naga

Kalau dari namanya, mungkin orang polos seperti saya ini akan berfikir kalau mitosnya di sini pernah tinggal seekor naga, makanya dinamain Kampung Naga, tetapi ternyata bukan haha.. nama Kampung Naga berasal dari Kampung Nagawir yang merujuk kepada arti kampung yang berada di lembah ( nagawir = lembah ).

Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani, sebagian merantau ke kota lain, sebagian menjadi guide dan ada juga yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai pengrajin kerajinan tangan yang nantinya dijual sebagai souvenir bagi wisatawan yang berkunjung kesini.

Areal persawahan di kampung naga

dipilih.. dipilih
Oiyaa.. hal yang paling khas dari rumah-rumah penduduk di Kampung Naga selain letaknya yang seragam (menghadap utara dan selatan), yakni kealamian material bangunan rumahnya, walalupun material kaca diperbolehkan tetapi yang lain benar- benar alami dari alam, lantainya terbuat dari kayu, dindingnya dari anyaman bambu yang diberi warna putih, bukan putih cat lhoo.. tapi putihnya dari kapur. Atapnya sendiri terbuat dari rumbia. 

Ternyata emang bener filosofi dan gaya hidup mereka, karena dengan material dari alam, hawa di dalam rumah berasa sejuk banget, itu yang saya rasain waktu mampir dan liat-liat rumahnya Mang Endut. Betah banget rasanya.

Material Alami
Menghadap ke arah yang sama
Nah, dengan material alami yang menjadi bahan utama bangunan rumah di Kampung Naga, gak heran kalau mereka tidak ingin ada aliran listrik memasuki wilayah ini,"rentan kebakaran" jelas Mang Endut singkat.

Adalagi yang menarik dari bangunan rumah di Kampung Naga ini yaitu pondasi rumahnya. Kalo kebanyakan rumah di kota pondasinya berupa semen dan batu kali, maka kalo disini yang menjadi pondasi rumahnya adalah batu alam yang dipahat dan dibentuk mirip trapesium sebagai penyangga rumah panggung mereka.

Pondasi batu berbentuk trapesium. 
Berdasarkan keterangan Mang Endut, pondasi ini sudah pernah ada yang meneliti dari peneliti mancanegara dan hasilnya adalah anti gempa bumi. "Kalau orang-orang biasanya gempa bumi itu keluar rumah, kalo disini malah semuanya masuk ke rumah", jelas Mang Endut dengan logat bahasa sunda yang kental. Jumlah pondasi yang dipakai tergantung luas rumah yang dibangun. Semakin luas bangunan tentu saja semakin banyak batu yang dipakai.

Masih soal rumah, rumah di Kampung Naga ini hanya memiliki dua pintu, yaitu pintu dapur dan pintu ruang tamu yang letaknya bersebelahan. Yang menarik adalah model pintu dapurnya.

Pintu dapurnya punya anyaman yang unik
Mang Endut lagi ngejelasin maksud anyaman di pintu dapur bangunan rumah
Pintu dapurnya terbuat dari anyaman yang agak longgar, anyaman ini memiliki fungsi yang ajaib, apabila dari luar, orang tidak akan bisa melihat kedalam rumah dari anyaman ini, sedangkan dari dalam kita bisa melihat siapa yang ada di luar. Sementara itu, ( karena mereka memasak masih menggunakan tungku ) apabila terjadi kebakaran, dari luar akan nampak nyala api sehingga mudah diketahui. Sederhana yaaa.. tapi maknanya kena banget!

Belum beranjak dari seputar rumah, benda yang memakai listrik yang saya lihat di rumah Mang Endut adalah televisi, tetapi tidak menggunakan listrik melainkan menggunakan aki. Apabila akinya habis, maka penduduk biasanya re-charge di perkampungan yang terletak diatas anak tangga yang banyak itu. Penerangannya menggunakan lampu cempor, sementara untuk setrika, mereka menggunakan setrika jaman nenek saya, setrika areng. Soooo Classy :)

Antik banget. Keren!
Puas ngegeratak rumah Mang Endut, kami beranjak ke alun-alun Kampung Naga dimana disana terdapat masjid dan lapangan kecil tempat diadakannya upacara adat. 

ada lapangan mini di alun-alunnya

Saya sempat mencicipi sholat zuhur di Masjid Kampung Naga. Perasaan yang sulit digambarkan. Saya bisa membayangkan bagaimana suasana malam di masjid ini, berjamaah sambil diterangi lampu cempor. Syahdu ya?
Suasana masjid Kampung Naga
Bedugnya panjaaaaaaang
yap.. itu saya haha
Sekarang kita akan membicarakan soal kepemerintahan, kalau secara administratif desa ini termasuk wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Selewu, Tasikmalaya. Pastinya ada kepemerintahan resmi seperti pak Camat dan lain sebagainya. But we're not gonna talk about that. Kita akan bicara mengenai kepemerintahan secara adat di Kampung Naga ini. Berdasarkan penjelasan Mang Endut, ada tiga ketua atau kepala yang mengatur jalannya adat istiadat di kampung ini : Kuncen, Lebe dan Punduh.

Kuncen merupakan jabatan paling tinggi, yang akan memimpin prosesi adat di Kampung ini, jabatan ini didapat turun temurun artinya apabila tidak ada garis keturunan dari Kuncen terdahulu, maka tidak akan bisa menjadi Kuncen. Posisi selanjutnya adalah Lebe, yang bertugas mengatur perihal keagamaan misalnya proses pemakaman jenazah dan yang terakhir adalah Punduh yang bertugas mengatur interaksi sosial antar warga.

Berbicara soal sejarah, Kampung Naga ini kehilangan jejak dan bukti sejarah tentang asal-usul kampung mereka akibat pembakaran besar-besaran yang terjadi di Kampung ini oleh tentara DI/TII pada tahun 1956 akibat masyarakat Kampung Naga yang tidak memihak mereka. Heyyy... mana boleh orang membakar kampung orang lain seenaknya?!

Eniwei, di Kampung Naga ini, terdapat sungai yang tidak pernah kering sepanjang tahun, Sungai Ciwulan namanya. Setelah digali ternyata resepnya adalah kelestarian hutan yang amat dijaga oleh penduduk Kampung Naga. 

Hutan Larangan yang berada di seberang sungai Ciwulan
Penduduk Kampung Naga tidak ada yang berani memasuki kawasan Hutan Larangan maupun Hutan Kramat yang mengapit perkampungan mereka, jangankan menebang pohon, mengambil ranting dan daun yang jatuh pun mereka segan. "Alasannya kenapa pak?" tanya saya kepada Mang Endit di sela-sela  kami menyusuri pinggiran Sungai Ciwulan. "ya Pamali aja neng, tidak ada penjelasannya, kalau dikatakan pamali maka orang sini sudah paham tanpa dijelaskan kenapa nya" sambung Mang Endut.

Menyusuri jalan setapak di pinggir sungai Ciwulan
Filosofi mereka adalah apabila satu generasi saja diperbolehkan untuk mengambil daun yang jatuh, maka generasi selanjutnya akan berani mengambil ranting kemudian generasi selanjutnya akan berani menebang pohon, lama kelamaan hutan akan habis dan alam akan marah. Keren keren.. prinsipnya keren :)

Di akhir sesi keliling Kampung Naga, Mang Endut menjelaskan bahwasanya manusia itu salah kaprah dengan mengatakan musibah itu adalah bencana alam. "Alam tidak mungkin memberikan bencana.. manusialah yang membuatnya menjadi bencana, lihat bagaimana manusia meratakan pohon menjadi gedung dan lapangan parkir, membuat hewan tidak memiliki tempat hidup, jadi harusnya kita menyebutnya bencana manusia bukan bencana alam". Saya tertegun mendengarkan penjelasan Mang Endut. Benar juga.. banjir, longsor, kemarau.. semuanya bencana manusia.. kita akan menuai apa yang kita tanam.

Mereka boleh hidup sederhana.. but the way they live their life is so amazing and powerful. Semoga ada pelajaran yang bisa kita ambil dari mereka

sederhana dan bahagia

26122013
regards,

Tuesday, January 8, 2013

Backpacker Gunung Ciremai : Antara Tahun Baruan dan Jalur Linggarjati

Gunung Ciremai adalah gunung yang gak perlu tiket kereta api untuk kesana dan inilah alasan kenapa kita berempat memilih gunung ini untuk ngabisin sisa liburan akhir tahun. Awalnya, kita udah niatan mau ke Gunung Argopuro, tapi terimakasih kepada sistem ticketing di Indonesia beserta jajaran calo-nya yang ngasih harga selangit untuk tiket kereta ekonomi di musim liburan kayak gini - bayangin aja dari harga 55ribu dijual 180ribu! - jadilah kami banting stir ke Gunung Ciremai.


Sebenernya ini bukan kali pertama saya kemari, dulu tahun 2007 saya pernah ke Gunung Ciremai, tapi waktu itu via jalur Palutungan, sedangkan kali ini saya dan 3 orang pria ajaib ini akan menempuh jalur Linggarjati. Itulah kenapa saya masih tetep excited. Pertanyaan selanjutnya adalah siapakah 3 pria ajaib itu? haha.. mereka adalah Dedi - Bapaknya ARTCA - dan adik2 saya yang unyu-unyu, Rizal dan Sofyan.

Keluarga merangkap bodyguard saya hehe..
Jumat, 28 Desember 2012
Perjalanan dimulai dengan menggunakan bus arah Kuningan dengan waktu tempuh kurang lebih 8 jam dari Jakarta, agak meleset dari perkiraan, karena as usual yah musim liburan.. macet. Sekitar jam 03.30 pagi kita berempat turun di Pertigaan Cilimus untuk seterusnya jalan kaki ke basecamp Gunung Cireme. Yap.. Jalan kaki adalah metode trasnportasi purba yang sangat disukai Dedi. Biar ngirit katanya.. tapi pegel kata saya.

"Berapa lama Ded dari sini ke Base camp?" tanya saya to the point ke Dedi. "Deket.. paling 30 menit" Jawab Dedi singkat. Ternyata kita baru sampai satu jam setengah kemudian. Saya lupa kalau Dedi adalah pemberi harapan palsu dalam hal jarak dan waktu tempuh.




Anyway, basecamp cukup rame karena memang jumlah pendaki naik karena bertepatan dengan liburan panjang akhir tahun, tambah rame lagi karena kedatangan suku Dayak Indramayu yang - gak tau kenapa - ingin refreshing ke Gunung Cireme.














Yap.. mereka naik ke atas Gunung Cireme ya dengan kostum asli mereka, gak pake baju, cuma celana item putih yang katanya melambangkan hitam putih dunia plus aksesoris kalung yang berjejer di leher. Nyentrik dan beresiko masuk angin tentu saja.

Sabtu, 29 Desember 2012
Perjalanan baru dimulai sabtu pagi. Dibuka dengan jalanan aspal yang rada nanjak menuju pos I Cibunar ( 750 mdpl ). Di kanan kiri jalan menuju Cibunar banyak perkebunan penduduk yang mayoritas ditanami ubi merah. Cibunar gak lain adalah camping ground dimana banyak RemPakem ( Remaja Pecinta Kemping ) kumpul-kumpul dimari. Cibunar juga merupakan tempat dimana kita harus mengumpulkan stok air selama naik nanti, karena jalur Linggarjati jarang terdapat mata air. 

Di Cibunar














Dari pos 1 Cibunar, jalanan aspal berubah menjadi jalanan tanah berbatu dengan dominasi hutan pinus. Harus berhati-hati karena tanahnya rada licin, efek hujan yang turun hampir setiap hari disini.



















Di sekitar jalur banyak bangunan semi permanen dari kayu, berdasarkan cerita Dedi yang emang udah bolak-balik kesini, warung ini dulunya ramai pengunjung, apalagi kalau lagi musim pendakian, tapi gak tau kenapa sekarang ditinggalkan oleh pemiliknya.

bekas warung di dekat Cibunar
Dari Cibunar, perjalanan masih lanjut ke Leuweng Datar ( 1285 mdpl ) dan Condang Amis ( 1350 mdpl ). Sebenernya di dalem hati mah pengen nanya ke Dedi berapa lama waktu tempuh dari pos ini ke pos itu, tapi mengingat status Dedi sebagai Pemberi Harapan Palsu dalam pendakian, niat tadi dibatalkan. Di Condang Amis terdapat bangunan seperti gazebo yang cukup untuk berteduh 10 orang-an. Di pos ini juga sudah mulai terdapat peringatan untuk menghentikan pendakian apabila cuaca buruk.

Di Condang Amis














Setelah sempet nge-break makan siang, perjalanan lanjut lagi ke Blok Kuburan Kuda ( 1580 mdpl ). Kenapa namanya Kuburan Kuda? Berdasarkan cerita Dedi yang emang udah dari sebelum masehi naik kesini, dulunya kompeni pernah ngejar pejuang kemari, namun kuda yang mereka tunggangi hanya sanggup mengantar sampai blok ini dan kuda-kuda itu pun mati karena kelelahan. Makanya dinamain Kuburan Kuda. Tapi saya curiga karena muka Dedi gak ada bedanya tau antara nyeritain sesuatu yang bener sama nyeritain sesuatu yang direkayasa. Doi emang paling seneng ngeboongin saya yang masih polos ini.



Sempet beberapa kali narsis di tengah jalan. Tapi dari sejuta kali narsis, inilah foto narsis yang menurut saya paling keren :D














Perjalanan hari pertama berhenti sampai di beberapa meter sebelum Pengalap ( 1790 mdpl ). Disini kami memutuskan untuk berhenti karena sudah lewat magrib dan hujan mulai turun. Kenapa gak buat tenda di Pengalap? Pertanyaan bagus! Berhubung musim pendakian, Pos Pengalap dapat dipastikan penuh, daripada kami paksakan terus berjalan ke Pengalap, sampai sana gak ada lapak untuk buat tenda plus hujan pula, lebih baik break dan buat tenda di lapak yang kebetulan ada di beberapa meter sebelum Pengalap.

Minggu, 30 Desember 2012
Tema hari kedua pendakian adalah : Lazy Day!
Hawanya males banget mau packing tenda dan melanjutkan perjalanan. Walhasil setelah sarapan kelar - tepatnya jam 9 pagi - bukannya packing malah lanjut tidur lagi *tepok jidat*


Sesi memasak sarapan
Jam 11 siang, saya ngerusula ( baca : ngegerutu ) bosen didalam tenda dan minta jalan ke Dedi. Apesnya ketika tenda udah di packing, ealah.. ujan turun lumayan lebat yang langsung membuat Dedi berkata sambil melotot ke arah saya " cakep lo ye.. ujan begini minta jalan!". Gak ngaruh dengan omelan Dedi, saya tetep cengengesan. wakakaka. 

Adegan selanjutnya tentu saja berteduh dengan flysheet di tempat yang sama. Setelah kurang lebih 2 jam berteduh, sekitar pukul 1 siang, kita beringsut naik menuju pos selanjutnya, Pengalap ( 1790 mdpl ). Lagi-lagi, baru jalan 20 menitan, kita harus kembali membuka fysheet dan berteduh selama hampir 2 jam karena hujan kembali turun dengan lebat. Waktu neduh inilah  kami sempat bertemu banyak pendaki yang mayoritas berasal dari Bogor.

Perjalanan hari kedua berhenti sampai Pos Pengalap. Pos Pengalap ini memiiliki cukup ruang untuk mendirikan tenda, saat kami datang saja, sudah ada satu tenda berukuran besar dan satu tenda berkapasitas 6 orang yang sudah berdiri disini.. Tepat pukul 7 malam, kami berempat sudah resmi leyeh2 di dalam tenda di ketinggian 1790 mdpl. 

Senin, 31 Desember 2012
Perjalanan hari ketiga diawali dengan nasi goreng ikan asin sebagai menu sarapan kami - jangan tanya darimana kami dapat nasi! - Saat kami memulai perjalanan, tenda-tenda tetangga udah gak ada, kayaknya mereka udah berangkat dari pagi-pagi buta. Berbeda dengan kami yang bahkan masih sempet ngopi-ngopi setelah tenda selesai di packing hehe.. pemalas.

Ngopi sambil dengerin Dedi cerita asem garem hidup

Hujan masih mewarnai perjalanan kami, dan tetap flysheet adalah teman setia dalam perjalanan. One good thing about the rain is.. kamu gak perlu takut kekurangan air di trek Linggarjati yang terkenal pelit air ini, cukup duduk berteduh di bawah flysheet dan taraaaa... air datang sendiri untuk dipakai memasak. Rasanya gak beda jauh kok sama air yang biasa keluar dari keran rumah :)

Di tengah hujan gerimis

















Lepas dari Pengalap, jalanan mulai bikin engap. Pos selanjutnya adalah 3 tanjakan berturut - turut, Tanjakan BinBin ( 1920 mdpl ), Tanjakan Seruni ( 2080 mdpl ) dan yang paling horor adalah Tanjakan Bapa Tere ( 2200 mdpl ). Kenapa Bapa Tere paling horor ?  karena memang treknya terputus which is kaki kanan kamu menapak di tanah, dan pijakan selanjutnya berada setinggi kepala kamu *eng ing eng*. Alih-alih takut, saya malah tepok tangan karena adegan ini mirip di film-film hehe.

Perjalanan hari ketiga ditutup beberapa meter dari Bapa Tere, dimana ada sedikit area datar yang cukup untuk kira-kira 2 tenda ukuran 4-5 orang. Hari sudah gelap dan pakaian udah semi lepek saat kami mendirikan tenda disini diiringi lagu Benyamin yang dinyanyikan oleh Sofyan " ohooooooooo... pegel semuaaaa" ( itu beneran lho lirik lagunya begitu )

Ada yang berbeda dari malam-malam sebelumnya, malam ini adalah malam tahun baru. Tepat jam 12 malam, kami berempat duduk melingkar kemudian saling mengutarakan dan saling mendoakan impian masing-masing di tahun 2013 sambil mendengar bunyi kembang api di bawah sana. Deep down inside.. saya berharap tahun ini kami masih bisa berkumpul sama-sama, melakukan perjalanan kocak dan ajaib sama-sama dan membuat cerita untuk dikenang saat tua nanti. :")

Senin, 1 Januari 2013, Its summit time!
Perjalanan hari keempat dimulai jauh lebih pagi dari biasanya mengingat jarak puncak yang masih cukup jauh ( 4 Pos lagi ). Kalau hari-hari sebelumnya kami start jam 11 siang, kali ini jam 8 pagi kami udah bergerak meninggalkan tenda menuju pos selanjutnya, Batu Lingga ( 2400 mdpl ).



Dari Batu Lingga, masih ada Pos Sangga Buana I ( 2545 mdpl ) dan Sangga Buana II ( 2665 mdpl ), Pos terakhir sebelum puncak adalah Pengasinan ( 2860 mdpl ). Saya gak bisa mendeskripsikan berapa lama waktu tempuh dari pos satu ke pos lainnya, tapi yang jelas panjang dan lama. 

Jalanan mulai terjal berbatu menuju Pengasinan


Di Pengasinan

















( Katanya ) dari Pengasinan ke Puncak hanya membutuhkan waktu 30 menit - 45 menit. Tapi berasa lama buat saya, ditambah hujan yang mulai turun rada lebat. Sempet berfikir.. ini sampai puncak apa yang mau dilihat ya? jangan-jangan yang kelihatan cuma kabut dan awan mendung doang. Pikiran tadi otomatis membuat saya jadi males-malesan dan gak semangat. Alhamdulillahnya.. sempet dikasih cerah sebentar saat kami sampai di Puncak Panglongokan.














Cuaca yang cerah ini bikin kawahnya keliatan jelas yang tentu saja mengundang naluri kenarsisan saya haha..














Terima kasih kepada teknologi timer di dalam kamera digital, yang memungkinkan kami bisa berpose berempat walaupun tak ada pendaki lain yang bisa dimintai tolong untuk memotretkan di puncak ini.














Perjalanan kembali ke tenda diwarnai kembali dengan hujan. Kali ini deras dan sukses membuat saya basah kuyup sampai harus meminjam baju sana - sini karena stock baju udah gak ada lagi. Niat semula mau langsung geber turun, terpaksa ditunda dan harus nge-camp semalam lagi.

Selasa, 2 Januari 2013
Begitu terbangun dari tidur yang cukup menggigil karena dingin, hal pertama yang saya, Dedi dan Sofyan lakukan adalah menyalakan handphone dan berusaha memberi kabar ke Bos masing-masing bahwa hari ini kami belum bisa kembali bekerja. Mulailah adegan mencari sinyal dari handphone digantung di samping tenda sampai dikibas-kibas ke atas tenda. Rizal sih enak masih jadi anak sekolaha, belon punya bos kayak kita orang :(

Perjalanan turun baru dimulai pukul 11 siang dan sampai dengan selamat - cuma betis aja rada kenceng - di Cibunar jam 3 sore. Kocaknya, saat kita sampai di basecamp, orang-orang riuh menyambut kami, selidik punya selidik, tim evakuasi sudah siap berangkat mencari kami karena mereka pikir kami hilang atau ngedrop di tengah jalan. Ternyata eh ternyata kelompok kamilah yang paling lama berada di atas gunung. Hahaha.. ampun ah.

Baju pinjeman :))


















Catatan penting kali ini adalah : bawalah baju lebih saat mendaki di musim hujan dan pastikan kalian tidak melawan cuaca, maksudnya kalau cuaca buruk lebih baik nge-camp daripada memaksakan diri demi sebuah TARGET. 

sampai jumpa di catatan kaki selanjutnya yaaa..
have a good year everyone!

Regards,

Monday, December 3, 2012

Backpacking Pangandaran : One Stop Destination!


Wilayah Jawa Barat memang memiliki potensi wisata yang tersebar di berbagai penjuru. Dari ujung ke ujung kamu bisa menemukan destinasi dari banyak wisata, mulai dari wisata gunung, wisata bahari sampai wisata budaya dan kuliner juga ada. Salah satu daerah yang memiliki paket komplit dalam hal spot terbaik untuk dikunjungi adalah daerah Pangandaran.



Selain tempat wisatanya yang segambreng, akses menuju kesana cukup mudah. dari Jakarta, kamu bisa naik bus Perkasa Jaya jurusan Pangandaran dari terminal Kampung Rambutan seperti pengalaman saya di Trip Pangandaran Sekuel Pertama. Bis ini terakhir jam 21.00 jadi pastikan sampai sana on time ya. Alternatif kedua adalah dari terminal Grogol naik bus Merdeka jurusan Pangandaran seperti perjalanan saya di Trip pangandaran Sekuel Kedua. Tarif kedua bus ini hampir sama yaitu 50-55ribu rupiah.

Bagi kamu yang tidak suka macet dan gerah selama perjalanan, saya sangat merekomendasikan untuk naik bis terakhir Perkasa Jaya yakni jam 21.00WIB. Selain tidak gerah, resiko macet pun bisa diminimalisir. Waktu tempuh Jakarta - Pangandaran dengan bus kurang lebih 7 jam.

Sesampainya di terminal Pangandaran, akan banyak becak yang menawarkan "paket keliling cari penginapan sampai dapat" dengan harga 20ribu rupiah. Bila kamu sudah tau penginapan mana yang mau dipilih lebih baik jalan kai saja, karena tidak terlalu jauh jaraknya. Namun apabila kamu masih bingung dan mau survey beberapa penginapan, pilihan paket keliling tadi boleh dipertimbangkan dan ditawar tentunya.

Sebaiknya tawar menawar tetap dilakukan saat mencari penginapan, karena masih banyak penginapan yang bukan fixed rate. Harga penginapan sangat bervariasi mulai dari 100ribu sampai setara dengan hotel. Oiya musim liburan juga mempengaruhi harga penginapan.

Penginapan sudah dapat, saatnya cari tau tempat apa saja yang bisa dikunjungi disini. Berikut referensi yang bisa saya sharing dari dua babak trip ke Pangandaran yang pernah saya lakoni.

Wisata Pantai

Pantai Pangandaran


Pantai Pangandaran adalah pantai yang paling terkenal. Pantai ini termasuk pantai yang landai, di sekitar pantai sudah banyak rambu tanda evakuasi kalau suatu saat terjadi tsunami. Di pinggiran pantai, banyak pedagang yang menjajakan jajanan khas pinggir pantai seperti es kelapa dan seafood. Letaknya yang dekat dengan penginapan membuat pantai ini sangat ramai terlebih di akhir weekend. 
















Pantai Batu Karas

Kalau kamu mencari pantai yang lebih tenang dan tidak terlalu ramai, mungkin Pantai Batu Karas pilihannya. Pantai yang terletak kurang lebih 34km dari Pangandaran ini masih tergolong sepi dan tenang dibandingkan Pantai Pangandaran. Pantai ini juga tergolong pantai yang landai dan ombak yang bersahabat. Di sekelilingnya banyak penginapan yang sedang dibangun, menandakan banyaknya wisatawan yang mulai melirik pantai ini sebagai pantai yang wajib dikunjugi selain Pantai Pangandaran. Di pantai ini, kamu bisa memandang lautan dari atas bukit kecil.











Pantai Batu Hiu

Pantai lain yang bagus untuk dikunjungi ketika berada di sekitar Pangandaran adalah pantai Batu Hiu. Pantai ini berjarak kurang lebih 14 km dari Pangandaran. Di pantai ini banyak terdapat batuan besar yang menambah keindahan pantainya yang landai.





Body Rafting 

Bosan cuma duduk diam di pinngir pantai? Saatnya kamu mencoba Body Rafting! Ada beberapa objek wisata yang menawarkan sensasi adrenalin yang sedikit berbeda yaitu body rafting atau menyusuri sungai tanpa perahu hanya menggunakan pelampung saja. Dimana saja? ini dia!


Green Canyon
Green canyon bisa dikatakan salah satu primadona wilayah sekitar Pangandaran. Airnya yang hijau kebiruan bisa membius mata dalam sekejap. Membawa baju ganti adalah hal yang wajib dilakukan kalau kamu berkunjung kesini karena airnya yang hijau kebiruan kadang mengubah niat kita yang tadinya tidak mau terjun menjadi asik main air.



Citumang

Salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi untuk body rafting adalah aliran sungai Citumang yang tidak kalah bagus dari Green Canyon. Objek wisata ini terletak di Desa Bojong, Kecamatan Parigi Ciamis atau sekitar 15Km dari Pangandaran. Dari hulu sungai, kamu bisa mencoba terjun bebas di air terjun mini sekaligus melanjutkannya dengan body rafting.















International Kite Festival

Pangandaran juga merupakan salah satu tempat yang biasa dipakai untuk Festival Layang- layang Internasional lhoo... Di festival ini kamu bisa menyaksikan layangan dari berbagai negara mulai dari Malaysia, Cina sampai Australia. Kamu bisa mencocokkan jadwal trip ke Pangandaran dengan jadwal Kite Festival agar trip kamu ke Pangandaran semakin komplit


















Bagaimana? Tertarik?
Yuuk segera susun itinerary-nya.. dan nikmati one stop destination di Pangandaran.
Seru!

Regards,