Saturday, October 5, 2013

Backpacker Gunung Argopuro

Matahari nyaris tenggelam ketika saya dan dua orang teman saya menjejakkan kaki di base camp Gunung Argopuro di Desa Baderan, Situbondo, Jawa Timur. Perjalanan 17 jam Jakarta-Malang via kereta Matarmaja plus tambahan nyambung angkot ini itu dengan total perjalanan nyaris 28 jam membuat saya berada pada titik terdekil saya.

poto ini diambil keesokan paginya..
 pas udah cakepan dikit *uhuk*























Kok turun di Malang? kayak mau ke Semeru aja. And yes.. memang tujuan awal kami adalah Gunung Semeru, tapiiii demi melihat buanyaknya pendaki yang mau kesana juga maka rencana berubah ke Gunung Argopuro. 

Gunung kalo rame itu menurut saya udah gak seru lagi. Pertama, susah nyari lapak untuk buka tenda. Kedua, ada manusia, ada sampah maka banyak manusia akan ada banyak sampah dan itu bukan pemandangan yang bagus untuk liburan. Ketiga, i just dont like the crowded noisy situation

Walau namanya gak sepopuler Gunung Semeru, Gunung Argopuro gak kalah menarik kok,, selain karena statusnya sebagai gunung dengan track terpanjang di pulau jawa, gunung ini juga menawarkan banyak poin menarik misalnya saja deretan savana ala Afrika, Danau Taman Hidup yang berada di tengah hutan lindung serta berbagai bukti sejarah seperti adanya reruntuhan puing istana Dewi Rengganis di Puncaknya dan sisa bangunan landasan terbang Belanda di tengah pegunungan ini.

Balik ke cerita, pendakian baru dimulai keesokan sorenya, menuju pos pertama, mata air Jati Banteng. Perjalanan didominasi oleh jalanan setapak di pinggir ladang penduduk. Dari sini aja udah berasa bedanya. Kalo gunung yang biasa, batas antara ladang penduduk sama vegetasi hutan itu gak terlalu jauh, kalo ini mah minta ampun deh. Kemaleman dan ngantuk, akhirnya kami buka tenda sebelum sampai ke Jati Banteng. Malam itu, bulan sudah tiga perempat dan sinarnya menembus pepohonan dan jatuh ke tenda. Agak mirip scenes film horor. (-__-"). Anyway suhu belum terlalu dingin makanya tidur paling nyenyak menurut saya adalah disini.

...rise and shine... 
Hari kedua
Berbeda dengan hari pertama dimana matahari bersinar sangat cerah, hari kedua langit agak berawan. Alhamdulillah.. setidaknya bisa mengurangi tingkat kehitaman kulit ketika sampai di Jakarta nanti hohoho. Anyway mata air Jati Banteng adalah mata air pertama dan bisa dijadikan patokan dalam pendakian. Kalau mau ke mata airnya, harus menuruni jalan setapak yang sedikit curam di sebelah kiri  jalur.


Setelah istirahat sebentar, kami dan tiga orang teman baru dari Bekasi yang kebetulan bertemu di Jati Banteng, melanjutkan perjalanan ke Mata Air II. Jarak tempuh dari Jati Banteng ke mata air kedua tidak terlalu jauh, kurang lebih 3 jam, dengan kontur jalur yang naik turun. Sama dengan mata air di Jati Banteng, mata air ini terletak di bawah jalur pendakian, yang artinya kamu harus menuruni jalan kecil di sebelah kanan jalur untuk menuju kesana dan sekedar info, kali ini lebih curam dari jalur menuju mata air Jati Banteng. Cuaca siang itu cerah walaupun angin yang bertiup  cukup dingin.

begini ini jalur menuju Mata Air kedua
Teman ajaib dari Bekasi haha
Tujuan selanjutnya tentu saja the magnificient of Cikasur. Yap.. Cikasur adalah savana terluas  dan tercantik di Gunung Argopuro lengkap dengan komunitas burung meraknya. Untuk menuju kesana, kita harus melewati  tiga savana dengan jarak yang lumayan antar satu savana ke savana lainnya.

Kami meninggalkan mata air dua tepat pukul 4 sore, dengan estimasi jarak tempuh menuju Cikasur, sudah pasti kami akan melakukan track malam. Track malam memang menawarkan sensasi tersendiri terutama di Gunung Argopuro ini dimana kalau kalian cukup beruntung maka bisa meet and greet sama yang namanya babi hutan. Babi hutan memang banyak ditemukan di pegunungan ini ditandai dengan banyaknya jejak yang ia tinggalkan di samping kanan kiri jalur pendakian. Jejak yang ditinggalkan berupa tanah bekas galian karena begitulah cara babi hutan mencari makan, menghancurkan tanah dengan taringnya. FYI.. Babi hutan ini bisa sangat agresif apabila dia merasa terpojok. Oke. Jangan dibayangkan.

Cuaca malam itu sangat dingin dan angin bertiup cukup kencang sampai beberapa diantara kami harus mengenakan jaket windbreaker, sementara bulan hampir penuh diatas sana dengan ratusan bintang yang bersinar. Such a beautiful sky i have ever seen. Namun pada akhirnya, kantuk mengalahkan semuanya, dengan pertimbangan ini itu, maka setelah melewati satu savana, maka kami buka tenda, istirahat dan melanjutkan perjalanan ke Cikasur keesokan paginya.


Hari ketiga
Setelah segelas cokelat hangat dan beberapa potong roti, kami melanjutkan perjalanan ke sabana dua. Jalur menuju kesana didominasi oleh perdu berbunga putih di kanan kiri jalur yang membuat perjalan siang ini lebih mirip syuting film india ketimbang sebuah pendakian haha


Hanya satu setengah jam - kurang lebih - waktu tempuh dari tempat kami buka tenda semalam ke sabana dua. Kami sempat bertemu beberapa penduduk lokal yang hendak pulang selepas memanen selada air di Cikasur. Hey..! saya pasti lupa cerita kalau di Cikasur ada mata air yang bening sebening-beningnya. Di mata air itu banyak tumbuh selada air yang menjadi salah satu incaran penduduk lokal untuk dijual

Pak sisain saya sedikit pak.. buat masak mie (T_T)
Dari sabana dua ini menuju sabana tiga tidak terlalu jauh, kurang lebih satu jam saja kata mbak Audy item hihi.. Langit berawan dan agak mendung, kami sempat berfikir akan turun hujan namun langit kembali cerah setibanya kami di Cikasur pada pukul 3 sore. Hal pertama yang menarik perhatian saya -yang secara teknis belum mandi dari kemarin- adalah mata air yang airnya sebening kaca ini.

Selain keindahannya, padang rumput Cikasur ini memiliki sejarah hitam di masa penjajahan Belanda. Konon, dahulu pemerintah Belanda membangun landasan terbang di sini dengan mempekerja-rodikan rakyat jelata. Setelah pembangunan selesai, maka para pekerja rodi tersebut diperintahkan untuk menggali lubang yang cukup luas. Ketika lubang tersebut sudah jadi, seluruh pekerja rodi diperintahkan untuk masuk kesana kemudian mereka diberondong tembakan oleh tentara Belanda dan dikubur disana. Tidak ada bukti tertulis mengenai cerita tersebut kecuali memang benar tedapat sisa-sisa landasan terbang di Cikasur ini.

Trus.. angker dong tempat ini?
nah banyak pendaki terutama beberapa teman saya di Artcalogy yang pernah berkunjung kesini yang pernah mengalami hal aneh, yang paling sering adalah terdengarnya derap langkah sepatu prajurit di tengah malam. Tapi sekali lagi.. apapun itu makhluknya, *minumnya teh botol sosro eh..* sudah seharusnya kita, para endaki, yang statusnya adalah tamu, wajib untuk tidak berbuat keributan apalagi merusak apa yang sudah pada disini.

Hari Keempat
Waktunya eksplorasi Cikasur... Yeayyyyy \(^^)/. Sinar matahari pagi mengalahkan hawa dingin yang semalam suntuk mengganggu tidur saya. Rumput yang tertutup oleh embun es tampak berkilauan di bawah sinar matahari. Pukul 6  pagi, segera saya melepaskan kaus kaki, menenteng kamera saku, memakai sendal dan menyeret dua orang teman saya yang masih kemulan untuk keluar dari tenda dan menemani saya mengelilingi Cikasur

Selamat Pagiiii dri Cikasur!
Lihat pohon itu?? yap yang besar dan berada di tengah Cikasur itu... itu adalah Pohon yang unik. Kenapa saya bilang unik. berdasarkan Pak Ap - ranger gunung Argopuro - pohon ini tidak terdapat di seantero Pegunungan Iyang, kecuali di Cikasur ini. Konon ceritanya, ada noni belanda yang membawanya dari negeri asal dia kemudian di tanam disini.
Sisa landasan terbang Belanda
Those shadows are us :)
Tenda-tenda pendaki direruntuhan kantor landasan terbang
Tepat tengah hari, diiringi sinar matahari yang panas terik, kami beringsut meninggalkan Cikasur. Panas terik matahari adalah faktor utama yang membuat perjalanan melintasi sabana untuk seterusnya ke pemberhentian berikutnya yaitu Cisentor, menjadi sangat berat dan melelahkan. Kurang lebih 3 jam perjalanan antara Cikasur dan Cisentor, dengan kontur yang cukup curam. Berjalan menuju Cisentor harus berhati-hati, selain jurang di sebelah kirinya, banyak juga terdapat tanaman yang apabila durinya tersentuh akan timbul rasa panas dan kesemutan. Cisentor sendiri adalah titik temu antara jalur Baderan dengan jalur Bremi. Disini juga terdapat sungai kecil dan lapak yang cukup luas untuk membuka tenda. 

Sempat terjadi perdebatan kecil dimana harus membuka tenda selanjutnya. Dedi- leader di artcalogy- sepertinya lebih suka untuk buka tenda di Cisentor dan melanjutkan perjalanan ke Puncak Rengganis keseokan paginya dengan meninggalkan semua keril di dalam tenda. Sementara, menurut saya, Cisentor ke Puncak Rengganis masih cukup jauh dan rasanya lebih baik apabila melanjutkan perjalanan ke Rawa Embik dan buka tenda disana. Akhirnya dengan sedikit manyun sana - sini, perjalanan berlanjut ke Rawa Embik haha..

Rawa Embik merupakan pos terakhir sebelum Puncak Rengganis, dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam dari Cisentor. Rawa Embik merupakan sebuah lembah yang dialiri sungai kecil dengan suhu yang sangat dingin. Kami tiba disana pukul 5 sore lebih sedikit. Suhu luar biasa dingin sampai saya tidak tahan untuk memasak diluar tenda. Malam itu, bulan mencapai bentuknya yang sempurna. Sinarnya yang terang menembus sela-sela pohon dan jatuh diantara rerumputan yang berembun namun tidak ada seorang pun yang sudi keluar tenda dan lebih memilih meringkuk di dalam sleeping bag.

Hari Kelima
Kami baru keluar tenda setelah sinar matahari mulai menyinari tenda kami yang covernya basah kuyup tertimpa embun semalam. Rawa Embik konon merupakan ladang penggembalaan hewan ternak yang dipelihara untuk memenuhi kebutuhan istana Dewi Rengganis yang terdapat di puncak rengganis gunung Argopuro.

Sekelompok pendaki dari Mojokerto sudah mulai packing sementara rombongan diklat dari Mapala sebuah universitas di Jawa Timur sudah beranjak pergi






Kalau kami lebih memilih untuk foto-foto narsis sebelum melanjutkan perjalanan ke Puncak Rengganis hohoho..
















And finally.. setelah berjalan kurang lebih 2 jam setengah dari Rawa Embik, kami sampai di Puncak Rengganis. Alhamdulillah... sesuatu!. Di puncak Rengganis ini banyak ditemukan susunan batu-batu, sisa-sisa dari istana Dewi Rengganis.




Lensa kamera mulai bermain dan menangkap berbagai pemandangan yang terdapat di Puncak Rengganis, mulai dari tumpukan batu sisa-sisa istana Dewi Rengganis sampai bunga Edeilweiss yang mulai bermekaran di sana sini.



Biasanya, setelah mencapai puncak, euforia akan hilang tergantikan oleh beratnya perjalanan menuruni gunung, tapi tidak dengan gunung ini. Setelah dimanjakan oleh pemandangan di Puncak Rengganis, masih ada lagi hal menarik yang bisa dikunjungi saat perjalanan pulang nanti, yaitu Danau Taman Hidup yang dipercaya sebagai tempat mandi Dewi Rengganis, .

Jadi begini gambarannya, Gunung Argopuro memiliki dua jalur pendakian, dan biasanya pendaki jarang yang naik dan turun pada jalur yang sama agar dapat menikmati paket pemandangan lengkap di Argopuro. Untuk dapat melihat Danau Taman Hidup apabila berangkat dari jalur Baderan maka harus turun melewati jalur Bremi. Begitu pula sebaliknya, untuk dapat melihat keindahan Cikasur, maka pendaki yang naik dari jalur Bremi harus turun melewati jalur Baderan.

Idealnya, jalur turun dari Puncak Rengganis menuju Danau Taman Hidup adalah melewati kembali Cisentor. Dari Cisentor akan ada pertigaan yang menuju Bremi dengan jarak tempuh kurang lebih 12 jam, itu pun belum termasuk buka tenda apabila kemalaman sebelum sampai Danau Taman Hidup. Namun, ada jalan potong yang lebih singkat di dekat puncak. Melalui jalur ini, waktu tempuh ke Danau Taman Hidup hanya 5 jam saja dengan catatan jalur yang dilewati sangat curam.

Hiruk pikuk suara pendaki yang telah tiba lebih dahulu disana menjadi petunjuk tambahan dikala kami berada di Hutan Lindung yang mengelilingi Danau Taman Hidup. Kami sampai di Danau Taman Hidup tepat pukul 7 malam. Angin malam itu bertiup sangat kencang. Tenda sudah berdiri dan saya pun memutuskan untuk tidur sementara teman yang lain asik mengobrol dengan rombongan pendaki dari Mojokerto.

Hari keenam
Angin kencang yang semalam hilang tergantikan dengan mentari yang bersinar hangat. Pagi itu, Danau Taman Hidup ramai oleh pengunjung, baik pendaki maupun penduduk lokal yang sengaja light hiking kesini. Kami juga bertemu banyak teman baru disini. Menyenangkan!

dari danau ini puncak rengganis terlihat!


teman baru dari Jogja dan Mojokerto :)
Awalnya saya mengira bahwa setelah perjalanan turun kemarin, Danau taman Hidup sudah dekat dengan penduduk. Ternyata salah sodara-sodara... masih jauuuuuuuuuuuuuhhh.. (T_T) sementara kaki udah gak karuan pegelnya. Dengan kemampuan jalan yang secimit-secimit ini, gak heran kalau dari Danau Taman Hidup ke Desa Bremi saya membutuhkan waktu 5 jam. Hiks

Desa Bremi merupakan salah satu desa di kaki gunung Argopuro dengan mayoritas penduduknya adalah peternak sapi perah. Dari Bremi ke terminal Probolinggo hanya ada satu mini bus dengan 2 kali jam operasional, yaitu jam 6 pagi dan jam 4 sore. Kami memutuskan untuk ambil bus yang pagi agar bisa beristirahat dulu semalam di Desa Bremi. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan menuju ke Surabaya untuk seterusnya naik kereta kembali ke Jakarta. Dengan begitu, acara wikenisasi di Gunung Argopuro berakhir sudah.

After all, menurut saya, Gunung Argopuro punya LIMA daya tarik luar biasa.

Pertama, tracknya panjang kali lama, gunung ini memang gunung dengan track pendakian paling panjang di Pulau Jawa.

Kedua, gunung ini mungkin satu-satunya gunung di Pulau Jawa yang menawarkan jejeran savana komplit dengan binatang liar yang berkeliaran. Walau gak seekstrim di Afrika, tapi di padang rumput ini kamu bisa ketemu sama yang namanya Burung Merak dan Rusa

Ketiga, gunung ini punya Cikasur, savana terluas dengan sejarah yang lumayan ngeri tentang kekejaman kerja rodi jaman penjajahan dulu.

Keempat, gunung ini punya dua puncak, dan istimewanya di salah satu Puncaknya, yakni Puncak Rengganis, kamu bisa melihat puing2 istana tertinggi yang pernah di bangun di Pulau Jawa, Istana Dewi Rengganis.

Daya tarik terakhir adalah Danau Taman Hidup yang berada di tengah hutan lindung. 

Its worth to try lah pokoknya :)

Regards,





Ps.
Jangan lupa untuk menyiapkan persediaan makanan dan jaket tebal
ingat bahwa kematian digunung sering disebabkan oleh udara dingin dan perut yang kosong.. apalagi perjalanan ke Argopuro tidak secepat gunung yang lain.
Happy camping everyone..!

Wednesday, June 12, 2013

Seru Kuadrat di Jambore II ISMAKES Jabar

Wayooo... kalo denger kata Jambore pasti inget jaman pramuka dulu pake seragam cokelat tua-cokelat muda trus pake iket pinggang yang lebih mirip toko serba ada karena apa aja nyantel disitu.. dari tambang sampe piso kecil. Nah kemaren ini, sempet ikutan nimbrung di acaranya anak2 ISMAKES JABAR. Acara Jamborenya dari tanggal 24-26 Mei kemarin di Gunung Masigit, Kareumbi, Cicalengka, Bandung.

Acara ini diikuti oleh 150-an mahasiswa kesehatan dari berbagai daerah, mulai dari Bandung dan sekitarnya sampai dari Yogyakarta.


Jum'at, 24 Mei 2013
Berhubung acara registrasi bertempat di Bandung dan mulainya jam 09.00 pula, maka berangkatlah saya pada pagi2 buta dengan tas segede alaihim gambreng.. untungnya saya gak sendiri tapi ber-sembilan belas hahaha.. yang berpencar jadi 3 mobil ( makasih yaaa ayahnya Stephany dan ayahnya Reny.. :* ). Perjalanan ke Bandung sempet diwarnai acara nyasar karena emang kita sama sekali gak tau dimana itu Stikes Bhakti Kencana yang jadi tuan rumah registrasi. Sesampenya disana, kita disambut sama meja registrasi dan sekotak snack. (^_^"). Acara selanjutnya adalah kenalan dan bagi2 kelompok. Setelah melalui seleksi alam.. terbentuklah  anak-anak ajaib ini didalam kelompok PJ 3


Sekitar jam 14.00 siang, upacara pelepasan dilangsungkan di lapangan STIKES Bhakti Kencana oleh Bapak siapa gitu ya.. hahaha saya lupa.. secara cuaca panas abis dan saya lebih konsen untuk kipas-kipas dibanding dengerin sambutan-sambutan. 

Pelepasan Balon
Setelah upacara pelepasan selesai.. its time to rock! Dengan naik mobil tronton ala tentara dan posisi duduk dempet-dempetan ala ikan sarden, para peserta Jambore II ISMAKES JaBar berangkat menuju Taman Buru Gunung Masigit, Kareumbi, Cicalengka, Bandung.



Perjalanan ke taman Buru Gunung Masigit Kareumbi, Cicalengka ini makan waktu 2 jam plus jalanan yang minta ampun ngebulnya. Tapi semua itu terbayar begitu sampe di TKP dan turun dari tronton. Adem.. Ijo.. dan matahari begitu kerennya.

Sesi Ikan Sarden berakhir sudah :)



Menurut bapak.. bapak siapa ya? lupa lagi hahaha.. - im not good at remembering names - pokoknya mah yang jagain Taman Buru ini lah.. ibarat gunung mah mungkin dia ini rangernya. Anyway.. menurut cerita bapak ini, taman Buru Gunung Masigit Kareumbi ini dikelola olah Wanadri ( gak asing ya dengan nama itu? ). Disini juga ada yang namanya wali pohon, cukup dengan beli bibit pohon seharga 50ribu rupiah, kamu bisa dapet satu pohon yang akan dinamain pake nama kamu, dapet sertifikat dan nomor pin yang nantinya bisa dicek di websitenya wanadri untuk tau udah segede apa pohon yang kamu punya.

Balik lagi ke acara Jambore II ISMAKES JaBar.. acara selanjutnya ( kalo gak salah inget ) adalah materi tentang motivasi diri gitu deh.. yang dibawain sama salah satu mantan anggota ISMAKES yang udah sukses, abis itu barbeque night plus jalan-jalan malem di sekitar Taman Buru ini. Sempet ujan gerimis tapi malah nambah seru perjalanan (^^). Kita baru balik ke tenda sekita jam 12 malem.

Curious where we slept that night huh?? This is it Tenda Pleton!

Sabtu, 25 Mei 2013

Rise and Shineeee...!! Acara hari kedua adalah yang udah saya tunggu - tunggu yaituuuuuuuuu.... basic survival, making trap and botanical herbal ( untuk materinya nanti saya posting terpisah yaa.. biar panjang kali lebar ^^ ) Aaaahh ini dia yang bikin saya ikut nimbrung di Jambore ini. Materi berbau alam ini dibawakan langsung oleh anggota Wanadri dan dibagi jadi beberapa pos di dalam Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi ini. Yeaaayyy... masuk hutan lagi \(^_^)/


Di Pos 1, udah ada kang Sony yang ngisi tentang cara ngebuat api dari batang pohon pinus sama cara buat bivak dari batang pohon

Gesek teruuuus sampe keluar asep!

Di Pos 2 ada kang siapa ya? ( damn.,, lupa lagi hahaha..) yang ngajarin cara bikin trap untuk binatang . Trap ini mungkin berguna buat yang hobi nyasar di gunung.


jebakan betmen cocok buat yang ulang tahun hahahaha
Materi terakhir ini saya agak kurang suka secara sampe sekarang aja suka susah bedain pohon-pohon sederhana..sekarang malah disuruh ngenalin pohon yang namanya aja baru saya denger. yap.. Botanical Herbal yakni mengenali tanaman apa aja di gunung yang bisa dibuat obat. Materi dibawakan oleh kang.. *saha eta teh namina? (*_*)


Setelah puas maen-maen di dalem Taman Buru, acara lanjut ke materi tentang First Aid Kit.. sebenernya First Aid Kit yang saya butuhkan adalah bantal.. secara ngantuk banget! Tapi sempet nyimak dikit tentang pertolongan pertama pada orang kelilipan hehe.. Dilanjut malemnya dengan materi tentang pentingnya mahasiswa berorganisasi. Hari kedua ditutup dengan api unggun dan salam perpisahan karena besok adalah hari terakhir. Hiks.

Minggu, 26 Mei 2013
Di hari terakhir ini ternyata masih ada lagi acara yang gak kalah dekilnya dari kemaren yaituuuu... outbond!

kayak di pilem rambo ya?
Nah.. setelah cemong gak keruan dan ngantri mandi yang luar biasa lamanya, akhirnya upacara penutupan dimulai juga tepat pukul 13.45WIb dan dengan begitu berakhirlah 3 hari 2 malem di JAMBORE II ISMAKES JaBar ini. Untuk PJ tigaaaa... will miss you guys alot...*hug*


*Ps
Thanks teteh dan akang panitia.. untuk kerja kerasnya..
 semoga jambore3 lebih sempurna lagi rundownnya.. satu padu..tempa diri..raih cita..sehat semua!

Regards,

Sunday, May 19, 2013

Mimpi yang Aneh : Iron Man dan Tukang Sapunya :D

Saya tau ini mungkin kedengeran aneh.. tapi sumpah semalem saya ngimpi ketemu Iron Man a.k.a Tony Stark a.k.a Robert Downey Jr. *seneng sampe guling-gulingan di tanah*



Ceritanya di mimpi saya itu saya lagi nyapu halaman rumah, gak tau halaman rumah siapa tapi yang jelas itu halaman luas banget.. eh tunggu dulu.. ini kenapa gak elit banget sayanya lagi nyapu (-___-"). Anyway.. lagi asik2 nyapu gitu ternyata eh ternyata ada lambang Iron Man ukuran jumbo di balik rumputnya. Belom kelar rasa kaget saya, tiba-tiba gak tau datengnya dari mana si Tony Stark ini nongol gitu aja di depan saya sambil megangin luka di bagian dadanya. Lukanya cukup parah tapi tetep aja mukanya ganteng gitu
whoaaaa.. panik dong.. secara jagoan idola saya terluka.. langsung deh ceritanya saya bantu memapah si oom kumis ini ke dalem rumah, kan body dia kan gede ya.. keker gitu sedangkan saya kurus ceking gini, walhasil belom sampe ke kursi, si oom kumis ini (gak sengaja) saya jatohin ke tanah. Abis itu dia bangun sendiri, ngeliatin saya ( mungkin mau marah-marah kali ya dia ) abis itu blasss... saya bangun.

Saya nyoba tidur lagi, siapa tau mimpinya berlanjut. Ternyata gak.
Kemudian saya bangun dan ngereka ulang mimpi saya tadi sambil senyum-senyum sendiri inget kegantengan si Oom Kumis itu. Kemudian ada pertanyaan yang sangat mengganggu saya : kenapa setiingannya saya lagi nyapu? Jangan-jangaaaaannnn... di mimpi itu saya jadi upik abunya Tony Stark lagi.. hahahahaha


Wednesday, May 15, 2013

Backpaker Pulau Pari : Kemping Lagi Yuuuk!

Kembali ke alam adalah salah satu cara sebagian orang untuk melepaskan rasa penat dari rutinitas sehari-hari. Pilihan selalu jatuh pada kegiatan outdoor di dataran tinggi pegunungan atau di hamparan pasir di birunya laut. Dua-duanya sama-sama punya magnet yang kuat, terutama untuk yang ingin mengasingkan diri dari keramaian. Mungkin gak sih dapet dua-duanya? Means.. berlibur ke pantai tapi tetap dengan cita rasa gunung? Bisa banget! Seperti yang baru saja saya alami di salah satu pulau di Kepulauan Seribu, Pulau Pari namanya. Agenda kali ini adalah... taraaa... camping di pinggir pantai!. Keren kan?
Pulau Pari merupakan salah satu Pulau yang secara teknis masuk ke wilayah Kelurahan Pulau Pari, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan dengan luas wilayah mencapai 40,32 Ha dan jumlah penduduk yang tidak begitu padat, yakni kurang lebih 697 jiwa ( sumber:  www.jakarta.go.id ).

Untuk menuju kesana. saya dan 3 orang sahabat memilih untuk naik kapal kayu dari Dermaga Muara Angke. Walaupun dermaga ini masih jauh dari kesan touristable, namun dermaga ini masih menjadi batu loncatan favorit para backpacker yang ingin menyambangi keindahan Kepulauan Seribu, termasuk kami.

Kapal kayu 
Kapal Sinar Laut yang kami naiki perlahan meninggalkan Dermaga Muara Angke tepat pukul 07.00 WIB. Perjalanan ke Pulau Pari hanya memakan waktu 1,5 jam saja, yang secara otomatis menjadikan pulau ini sebagai pulau terdekat sepanjang saya berkunjung ke Kepulauan Seribu. Sesampainya di dermaga, PR selanjutnya adalah mencari tempat untuk membuka tenda. Berdasarkan narasumber yang namanya gak sengaja saya temuin di google, Pak Iskandar, tempat untuk buka tenda ada 3 spot : Pantai Kresek, Bukit Matahari dan Pantai Pasir Perawan. Berhubung kita berempat baru pertama kali kesini, maka kita putuskan untuk survey tempat terlebih dahulu sambil berkeliling di pemukiman Pulau Pari.

Berbeda dengan Pulau Tidung atau Pulau Pramuka yang dipadati dengan homestay, berkeliling di pemukiman Pulau Pari memberikan kesan yang berbeda. Pemukiman yang jarak rumahnya tidak terlalu berdempetan dan jalan setapaknya yang dihiasi pepohonan rindang serta suasana yang rapi dan bersih menjadi daya tarik selama berkeliling disini
pemukiman penduduk di Pulau Pari
Jalanan di pemukiman di Pulau Pari ini juga sudah pakai paving block jadi sangat nyaman untuk berkeliling pulau dengan menggunakan sepeda. Oiya.. waktu keliling survey ini kami juga beberapa kali menemukan rumput laut yang sedang dijemur. Sepertinya ini salah satu mata pencaharian penduduk lokal selain dari aspek pariwisata.

baunya gimanaaaa gitu :)
Setelah disurvey, Pantai Kresek tidak kita masukkan kedalam nominasi karena pantainya terletak agak jauh dari dermaga. So.. tersisa dua pilihan : Bukit Bintang ( area dengan deretan pohon pinus di deket dermaga Pulau Pari ) atau Pantai Pasir Perawan. And.. the winner goes to...... Pantai Pasir Perawan!

Siapa yang bisa nolak kemping di tempat kayak gini?? siapaaaaaaaaaaaaaaaaaaa?!
tenda siap!
Pantai Pasir Perawan memiliki lokasi yang cukup strategis dan terletak tidak jauh dari dermaga utama, dengan berjalan kaki saja hanya memakan waktu kurang lebih 10 menit. Sumpah demi apapun  juga..  pewe banget lhoo kemping di mari! jadi di Pantai Pasir Perawan ini sudah disiapkan hammock untuk leyeh-leyeh dan nikmatin pantai di depan kita yang lebih mirip kolam renang raksasa - saking tenang dan tidak berombak- dengan airnya yang biruuuuuuuuuuuu. 

Oiya.. nampaknya berita tentang Pulau Pari sebagai destinasi ekowisata bukan merupakan isapan jempol semata, karena di Pantai Pasir Perawan ini, kamu akan dengan mudah menemukan bakau-bakau imut yang mungkin baru saja ditanam beberapa bulan lalu. FYI.. tanaman bakau ini penting untuk dibudidayakan, bukan saja untuk mencegah pengikisan pantai atau abrasi, tanaman bakau juga berfungsi sebagai tempat berkembang biak berbagai macam biota laut.

Cepat besar ya nak... 
Kembali ke Pantai Pasir Perawan, selain paket pasir putih, pantai tanpa ombak, hammock gratis, kamu juga bisa nikmatin paket sunset! Serius.. sunsetnya JELAS TERLIHAT di pantai ini, jadi sekali buka tenda, dua tiga kenikmatan bisa didapat ( ^_^ )v


Overall.. Pulau Pari bisa jadi alternatif liburan pilihan di kala out of budget. Bingung berapa ongkos yang harus saya keluarkan untuk menikmati sensasi kemping di pinggir pantai ini?? murah semurah-murahnya kurang dari 100ribu / orang, cuma perlu ngeluarin ongkos kapal kayu dari dermaga Muara Angke ( PP ) 70 ribu rupiah saja, makan? bawa sendiri doong.. namanya juga kemping (^^). Mau keliling pulau naik sepeda?? sewanya murah meriah.. dua hari 15 ribu saja. Hohoho.. ah ternyata bener ya.. Enjoy Jakarta bukan cuma slogan.. ternyata memang beneran enjoy!!

Gimana..gimanaaa?? tertarik nyobain kemping dimari?? 
Kemping yuuuuuuk!


Yang mirip Pari *eh


*Ps
Kalau mau extended jadi kemping plus snorkeling.. nah itu dia harus extra budget. Kemarin sih kita gak pake acara snorkelingan soalnya patungan untuk nyewa kapalnya cukup berat untuk kita yang cuma berempat. Sedikit informasi aja, sewa kapal untuk snorkeling ( kurang lebih ) 3 spot di sekitar Pulau Tikus - Pulau kecil gak berpenghuni yang gak jauh dari Pulau Pari ) itu dikenain biaya Rp. 350ribu per kapal dan sewa alat snorkelingnya Rp. 30rb. Trus satu lagiiii... lebih baik datengnya jangan weekend.. biar pantai Perawannya kayak milik pribadi.. sepiiiii :D



Tuesday, May 7, 2013

Aik.. Kembaran saya muncul (lagi)!!


Pernah gak sih suatu waktu kalian ngalamin kejadian yang kayak gini : ada orang yang merasa melihat -sesuatu yang menyerupai - kamu di suatu tempat padahal saat itu kamu berada di tempat lain? 

Belum lama ini, roommate saya cerita katanya kemarin pagi-pagi ngeliat saya dengan baju mandi yang biasa saya pake lengkap dengan gaya rambut dengan kuncir berantakan mondar-mandir di depan toilet padahal saat itu saya udah asik nongkrongin kerjaan di kantor. Si roommate baru sadar kalo itu bukan saya ketika dia masuk kamar dan ngeliat baju mandi saya digantung rapih di balik pintu kamar. Eng ing eng. Jadi siapakah tadi yang mondar - mandir di depan toilet?
Sebenernya kejadian kayak gini bukan yang pertama. Beberapa tahun lalu, ada kejadian serupa juga. Ceritanya saya baru bangun jam 10.00 pagi. Berhubung waktu itu weekend, jadi no comment please.. nah seperti pagi-pagi yang lain dalam hidup saya, setiap abis bangun tidur pasti nyari toilet. Di dapur saya ketemu sama sepupu saya, dengan muka surprise saya bilang "mas Ekaaayyy... kapan pulang dari Jawa??". Dengan muka yang gak kalah surprise juga, sepupu saya malah balik nanya "lah piye tho.. bukan tadi pagi situ yang bukain pintu?". Seketika itu juga saya bengong.

Sekedar informasi, sepupu saya sampai rumah jam 3 pagi dan memang gak ada siapa-siapa di rumah itu selain saya. Oke. Pertama saya bener-bener gak ngerasa bukain pintu. Kedua, saya gak punya hobi berjalan sambil tidur. Ketiga, pintu dirumah saya adalah tipikal pintu yang kudu ditendang dulu baru kuncinya bisa masuk, jadi kalo emang bener saya yang bukain pintu itu saya pasti inget adegan tendang menendang tadi. 
Oke. Creepy.

Anyway.. saya sih gak terlalu ambil pusing masalah yang kayak gini secara memang kehidupan gaib memang berdampingan dengan kehidupan normal. Saya malah jadi rada tersanjung ternyata di luar sana ada yang bersedia miripin saya hahahaha...


Cheers,

Saturday, February 9, 2013

temu kangen aRTca generasi pertama :)

Semalem, gak ada angin, gak ada ujan, datanglah 4 pria dari generasi pertama ARTCA : Bang Wanda ( si kakak pertama ), Bang Anom ( si kakak kedua ), Paman Ucup, Dedi dan Mas Londho. Udah lama banget mereka gak nongol di teras depan rumah, terakhir pria-pria ajaib ini duduk di depan teras tahun 2010 seminggu sebelum acara liburan ke Raung.



Banyak hal yang berubah dari pria-pria ajaib ini, yang pertama tentu aja perubahan fisik, si Kakak pertama dan si kakak kedua jadi lebih gembul alias gendut ( ciri2 orang sukses hehe ). Perubahan yang kedua adalah perubahan status, yang tadinya single sekarang udah punya gandengan, yang tadinya belum nikah sekarang udah punya anak satu, perubahan inilah yang membawa obrolan bukan lagi melulu soal gunung, tapi lebih kepada pengalaman suka duka hidup berumah tangga yang mereka sudah alami. Mereka jadi lebih dewasa.. *terharu*

Sepanjang sesi ngobrol-ngobrol itulah, saya jadi inget liburan ajaib kayak apa yang pernah kita lewatin sama-sama, mulai dari nangis dayak pasca nyasar di Merbabu, makan nasi 12 ribu perak dapet 8 bungkus di stasiun Lempuyangan saking udah keabisan uang ( kebayang gak tuh lauknya apaan? :D ), kulit item ngelotok parah pulang dari Lawu,  nelpon bos alesan sakit padahal masih mau nyambung liburan, makan sop makaroni di pos 2 Gunung Slamet, berebutan jeli di Raung sampe minum aer yang nyaringnya pake kaos kutang Dedi yang udah sobek2  wakakakakak..



Liburan Pertama ke Merbabu



Di basecamp Lawu
Rame-rame ke Slamet



Ngapi Unggun di Raung


Kadang ngeselin. kadang bikin ketawa sampe sakit perut, kadang bikin terharu dan pastinya selalu ngangenin.. dan saya sangat amat setuju statement yang keluar dari mulut si kakak kedua : "kalian adalah warna hidup gw" 
:')
kemarin, sekarang dan seterusnya :)

yang selalu kangen liburan sama kalian,