Friday, August 8, 2014

Backpacker Jogjakarta part 3 : National Heritage Day!


Selamat dataaaang di Backpacker Jogjakarta itinerary hari ketiga!

Masih bareng dengan Tika-travelmates yang ketemu dari situs di Kaskus- di hari ketiga ini, kami berdua akan mengunjungi candi Prambanan dan Keraton Ratu Boko. Setelah mengucapkan salam perpisahan via sms dengan rombongan pakde Aryo yang kemarin menemani kami seharian penuh untuk hoping beach ( cerita lengkapnya disini ), saya dan Tika menuju halte transJogjakarta untuk seterusnya menuju ke Candi Prambanan. 

Berdasarkan informasi yang saya kumpulkan dari berbagai situs, rute menuju candi Prambanan sangat mudah. Cukup naik transjogja dari depan Mailoboro ( jalur 1A ) langsung turun di halte Prambanan. Dari halte Prambanan, perjalanan bisa dilanjutkan dengan delman atau berjalan kaki. Berhubung cuaca siang itu -sumpah demi apapun- panas banget, saya dan Tika memilih mencoba naik delman dengan tarif 20ribu. 

Sesampainya di depan loket, ada dua pilihan tiket, pertama tiket ke candi Prambanan saja seharga 30rb atau tiket terusan ke Keraton Ratu Boko seharga 45rb. Kami memilih yang kedua!. Diantar dengan shuttle bus, saya dan Tika serta beberapa turis lainnya menuju dusun Samberwatu, tepatnya di bukit Boko, kabupaten Sleman, Jogjakarta.

Keraton Ratu Boko ini terletak di ketinggian kurang lebih 195mdpl dengan luas sekitar 250.000m2. Istana Keraton Ratu Boko ini konon dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, yang masih merupakan keturunan Wangsa Syailendra. Istana ini terbagi menjadi beberapa kompleks yakni kompleks di sisi tengah, barat, tenggara dan timur. Begitu masuk kedalam, saya langsung terpesona melihat gapura -dengan lima buah pintunya- yang outstanding! 

Pake apa dulu ini bangunnya?
Ada beberapa situs di dalam Istana Keraton Ratu Boko ini diantaranya candi batu putih, candi pembakaran tempat prosesi pembakaran jenazah serta ada juga area yang dinamakan Paseban yang berarti tempat yang disediakan untuk tamu yang ingin menemui raja

Paseban
Selain itu, apabila berjalan masuk ke arah tenggara, ada area kolam Keputren, yang konon dijadikan sebagai tempat mandi para anggota kerajaan. 

Siapa yang belum mandi? ^^
Perlu kurang lebih 2 jam bagi saya dan Tika untuk menikmati setiap sudut di Istana Ratu Boko ini, tadinya sempet kepikiran untuk menunggu sunset di Bukit Boko ini, tapi niat tadi terhalangi oleh kekhawatiran bahwa shuttle busnya tidak akan sampai sesore itu, jadi kami putuskan untuk kembali ke Candi Prambanan.

Siapa sih yang gak kenal sama Candi Prambanan?? Semua orang rasanya kenal dengan candi ini dan legenda Roro Jonggrang yang sangat populer di masyarakat Jawa. Candi yang merupakan mahakarya kebudayaan Hindu ini merupakan salah satu candi yang masuk kedalam list World Heritage Sites. 

Siluet Candi Prambanan
Kalau dicermati, di relief yang terpahat di candi ini, ada kisah tentang Ramayana yang sangat populer itu, selain kisah ramayana ada juga relief tentang pohon Kalpataru yang sekarang digunakan sebagai simbol wahana lingkungan hidup.

Tika disudut candi Prambanan
Bagi yang maniak dengan ilmu sejarah pasti seneng bisa berkunjung kesini. Karena selain keindahan arsitektur candinya, relief yang terpahat di dinding candi banyak menceritakan tentang kisah-kisah yang berbau dengan mitologi. *Agak bikin ngantuk kalo buat saya :(

Eniwei, hari ketiga di sesi backpacker Jogjakarta ini ditutup dengaaaaan menikmati lumpia Samijaya, yang terletak di kawasan Malioboro. Ini bukan lumpia biasa sodara-sodara.. karena untuk menikmati satu atau dua buah lumpia ini, kamu harus ngantri lama. kalo lagi apes bisa hampir satu jam saking ramenya!. Lumpia ini disajikan dengan tumbukan halus bawang putih dan beberapa butir cabe rawit.

ini gak pake cuci tangan lho :D


Backpacker Jogjakarta part 2 : Beaching Day dan Pesta Duren!


Selamat dataaaang di Backpacker Jogjakarta itinerary hari kedua!

Setelah sebelumnya di hari pertama, saya dan Tika- travelmates yang kebetulan ditakdirkan bertemu- puas keliling-keliling kawasan Malioboro dan sekitarnya ( cerita lengkapnya disini ), di hari kedua ini kita akan menghirup udara pantai. Yeay!! 

Jogjakarta memang terkenal dengan garis pantainya yang spektakuler, sebut aja Pantai Parangtritis, Baron dan pantai lainnya yang kebanyakan terletak di kabupaten Gunung Kidul, dengan waktu tempuh sekitar 2 jam dari pusat kota Jogjakarta. Eniwei, saya sempat bingung dengan moda transportasi dari satu pantai ke pantai lainnya, karena dari hasil googling memang tidak ada angkutan umum yang bisa dipakai untuk hoping beach.

Yang paling efektif sebenernya adalah menyewa motor atau mobil. Masalahnya adalah pertama: saya gak bisa naik motor, begitu juga dengan Tika, masalah kedua : patungannya akan sangat mahal kalau menyewa mobil berhubung kami hanya berdua.

Mentok, kami pun memutuskan untuk sarapan dulu di emperan Mall Malioboro. Kebetulan saya duduk satu meja dengan 3 orang laki-laki. Prinsip saya ketika backpacking sendirian adalah : semua orang asing punya kesempatan yang sama untuk menjadi teman. So.. i started to say hi first. Ternyata mereka adalah backpacker dari Kalimantan dan surprisenya lagi mereka memiliki tujuan yang sama yaitu menyusuri pantai di Gunung Kidul. What a good coincident!

Akhirnya kami pun memutuskan untuk join dan menyewa mobil. Tanpa buang waktu, Dian - salah satu dari mereka, yang kebetulan punya nomer rental mobil di Jogjakarta langsung memesan satu mobil berikut drivernya. Pantai pertama yang akan kami kunjungi adalah Pantai Parangtritis. Oh yeaaah!

Pantai Parangtritis yang terletak 27KM dari pusat kota Jogjakarta ini adalah pantai yang paling terkenal di Jogjakarta. Pantai ini juga merupakan pantai dengan akses transportasi umum yang paling banyak. Saat terbaik untuk berkunjung kesini sebenernya sore hari ketika sunset, namun kami tidak menyesal sama sekali datang kesini ketika siang hari karenaaaaaaa.. birunya laut dan langit menyapa kami!

Pantai Parangtritis dan delmannya 
Apa yang bisa dilakukan disini? tentu saja menikmati hembusan angin pantai dan riak ombak sambil mencicipi es kelapa muda yang disajikan dengan gula jawa. Nyam-nyam!

me and Pakde Aryo 
kenaliiiin.. my new travelmates!
Setelah satu jam-an lebih kami bersantai di pinggir pantai Parangtritis, perjalanan berlanjut ke Pantai Baron di daerah Gunung Kidul. Akses transportasi umum ke pantai ini memang agak sulit, ditandai dengan jalanan yang cenderung sepi saat mobil yang kami tumpangi melintas menuju pantai tersebut. Oiya.. tiket untuk pntai-pantai didaerah Gunung Kidul ini menggunakan sistem tiket terusan dengan gerbang utama sebelum Pantai Baron karena seingat saya, kami hanya membayar sekali tiket masuk untuk beberapa pantai yang kami kunjungi disini

Pantai Baron yang terletak di Desa Kemadang, Kabupaten Gunung Kidul ini sebenarnya rada mirip teluk yang diapit dua bukit. Pantai dengan pasir berwarna kecokelatan ini juga menjadi tempat sandar bagi para nelayan yang pulang melaut. Gak heran makanya disini banyak banget warung makan dengan menu andalan seafood yang fresh from the ocean.

Salah satu kapal nelayan di Pantai Baron
Di perbukitan yang mengapit pantai ini, juga terapat tebing-tebingan yang memang menjadi ciri khas dari area karst.


Tadinya Pakde Aryo udah niatan mau mandi dan berenang di pantai ini, tapi melihat ombak dan arusnya yang keliatan besar, akhirnya niat si pakde pupus dan berganti dengan duduk-duduk manis di warung yang terletak di pinggir pantai, sementara saya dan Tika menjelajah di bawah-bawah tebing di sisi kiri pantai.


Masih menyusuri pantai di daerah Kabupaten Gunung Kidul, pantai selanjutnya yang kami kunjungi adalah Pantai Sepanjang. Ada yang berbeda antara Pantai Sepanjang ini dengan pantai-pantai sebelumnya, ombaknya terbilang cukup tenang dengan pasir yang warnanya mendekati warna putih dan yang mencolok adalah adanya rumput-rumput warna ijo lumut yang bertebaran di pinggir pantai


dan pantai sepanjang menjadi tempat selfie kami yang pertama haha!
Matahari yang mulai condong ke arah barat menjadi pertanda bahwa kami harus segera mengakhiri trip hari ini, tapi sebelum pulang, kami masih sempat mengunjungi Pantai Pulang Syawal atau yang lebih dikenal dengan pantai Indrayanti. 

Pantai yang terletak di Desa Tepus, Kabupaten Gunung Kidul ini bisa sangat-sangat ramai di akhir pekan, seperti sekarang. Wisatawan lokal dan interlokal tumplek dimari. Beruntung ada bukit yang bisa dinaiki untuk menghindari keramaian sekaligus melihat pantai Indayanti dari sudut yang berbeda. 

Pantai Indrayanti dari atas bukit
Pantai Indrayanti dari celah tebing di sisi kanan pantai
Pantai ini menjadi pantai terakhir sekaligus menutup sesi beaching day di hari kedua Backpacker Jogjakarta ini. Mobil yang kami tumpangi segera putar haluan kembali ke pusat Kota Jogja. Senja sudah mulai berwarna kemerahan saat mobil kami tiba di kawasan Malioboro. Setelah mengucapkan terimakasih, saya dan Tika berpisah dengan rombongan Pakde Aryo. Dan kami pun kembali ke penginapan kami masing-masing.

Malam harinya, Pakde Aryo menelefon saya dan Tika, mengajak kami makan bersama dan pesta durian! Ternyata tidak jauh dari stasiun Tugu Jogjakarta, ada tukang durian monthong dengan harga yang muraah, 25ribu aja! Saya sendiri gak inget berapa duren yang saya makan, kalap haha. 

Di deket stasiun Tugu, Jogjakarta
Daaaaan hari kedua Backpacker Jogjakarta ini ditutup dengan banyaaaaaaaaak ucapan terimakasih kepada Pakde Aryo, karena kesepakatan sharing cost di awal perjalanan hari ini dilanggar semua oleh beliau dengan mentraktir kami semua, mulai dari sewa mobil, minum, makan siang, makan malam sampai pesta duren! *alhamdulillah rejeki anak sholeh :D

fyi :
sewa mobil plus driver : 300-350rb
tiket masuk pantai : 10ribu ( kalo gak salah )
makan : 15-20rb ( biasain tanya sebelum pesen yaa )

Next : Backpacker Jogjakarta part 3 : national heritage day!


Backpacker Jogjakarta part 1: City Tour!


Selamat datang di Backpacker Jogjakarta itinerary hari pertamaaaaa

Meski sempet dapet surprise yang gak ngenakin dari tukang becak di depan stasiun Lempuyangan ( cerita lengkapnya disini ), namun sama sekali gak nyurutin niat saya dan Tika - my new travelmates- untuk seru-seruan maksimal di Jogjakarta. Di hari pertama ini, sesuai judulnya maka kita berdua bakal ngelilingin Malioboro dan sekitarnya. Itung-itung pemanasan lah.


Setelah dapet penginapan murah di Jalan Sosrokusuman, maka perjalanan pun resmi dimulai dari tukang Pecel Madiun di pinggiran jalan Malioboro. Sarapan dulu judulnya. Begitu tau nasi pecel lengkap dengan tempe bacem dan es teh manis cuma 5ribu rupiah, saya nyaris meluk haru ibu penjualnya. Sumpah yaa.. di Jakarta mana dapet harga segitu?

pecel murah meriah
Di tukang pecel inilah, saya berkenalan dengan seorang turis asal taiwan - Kelvin namanya- yang selanjutnya ikut gabung bersama saya dan Tika di city tour hari pertama ini. Tempat pertama yang kita kunjungi adalah Benteng Vredernburg. 


Suasana Benteng Vredernburg kurang lebih mirip dengan kawasan Kota Tua di Jakarta, vintage dan memuat beberapa museum. Isi museumnya menggambarkan peran Kota Jogjakarta semasa penjajahan dulu, dimana kota ini sempat menjadi pusat pemerintahan sebelum akhirnya dipindahkan kembali ke Jakarta. Perasaan yang selalu timbul setiap saya masuk ke museum adalah takjub. Gimana gak, ngebayangin bambu runcing yang notabene lebih cocok dipake buat tiang jemuran, ternyata sanggup ngelawan meriam dan senapan. It just dont makes any sense :')

eksyen dulu biar postingannya gak dibilang HOAX *kalem
Selain berisi barang-barang bersejarah seperti seragam prajurit jaman dulu, museum ini juga berisi manekin-manekin imut yang menggambarkan sebuah peristiwa dari masa penjajahan dulu. Sangat representatif.

Konon ini suasana pengiriman bantuan di Lapangan Maguwo
ketika jaman Agresi Militer Belanda
ada benteng benerannya loh disini
Masih seputar kawasan Malioboro, setelah puas keliling-keliling di Benteng Vredernburg, Kraton Jogjakarta menjadi tujuan selanjutnya. Karena bertepatan dengan hari minggu maka suasana kraton lumayan ramai, banyak bus-bus pariwisata yang parkir berjejer di alun-alun kraton.

Gak banyak yang bisa dilakukan disini, konsepnya masih sama, wisata sejarah. Kraton yang dibangun oleh Pangeran Mangkubumi di tahun 1755 ini gak cuma jadi tempat tinggal para ningrat kerajaan tetapi juga menjadi pusat kebudayaan di Jogjakarta sekaligus sebagai wahana untuk tetap melestarikan kebudayaan Jawa. Beberapa alat musik traditional jawa tersusun rapi di satu sudut sementara di sudut lain nampak kereta Keraton yang menjadi kendaraan para Raja-raja Jawa.

Keraton Ngayogyakarta
Dari Keraton Jogjakarta, perjalanan saya, Tika dan Kelvin berlanjut ke Istana Air Taman Sari. Istana yang terletak kurang lebih 500 meter dari Keraton ini dibangun oleh arsitek berkebangsaan Portugis. Tempat yang identik dengan romantisme para raja ini dahulu dijadikan sebagai tempat mandi para selir dan permaisuri raja-raja Jawa. 

Gapura Agung : Gerbang Utama para raja yang berkunjung ke Taman Sari
Penampakan di dalem Taman Sari
Gimana gak romantis ini tempat, mereka -para raja jawa- bahkan punya ruang spa sendiri yang biasa dipakai oleh raja bersama permaisuri dan selir-selirnya.

Saya, Kelvin dan Tika di salah satu ruang spa
(plis jangan analogikan ini sebagai foto raja dan selirnya -_-')

Di Istana Taman Sari ini juga terdapat lorong-lorong bawah tanah yang terhubung dengan Keraton, Tajug namanya, konon lorong ini dibangun untuk berjaga-jaga seandainya Keraton dalam kedaan genting. 


Di satu kompleks dengan Taman Sari ini, ada juga yang namanya Sumur Gumuling, yakni masjid bawah tanah tempat para keluarga kerajaan mendirikan shalat. Arsitekturnya yang unik dengan lorong-lorongnya yang panjang menuju pusat masjid membuat saya betah berlama-lama disini. Konon tempat ini dibangun dengan tingkat akustik yang baik, dimana suara imam dapat terdengar ke setiap sudut di masjid ini.

Pusat masjid sendiri berupa area persegi dengan lima anak tangga di sekelilingnya, sementara atapnya langsung menghadap ke atas langit. Keren. Ini siapa sih arsiteknya? unik banget!

di pusat bangunan masjid
Setelah puas terkesima oleh saksi bisu sejarah kebidayaan Jawa kuno, tempat selanjutnya adalah Pasar Beringharjo. Berdasarkan keterangan ibu penjual nasi uduk yang saya ajak ngobrol, tempat ini adalah pusatnya batik, aksesoris dan oleh- oleh khas Jogjakarta dengan harga yang lebih miring. Dari pintu masuk Pasar Beringharjo, lurus saja sampai ketemu Bank BRI, Nah di belakang bank itu udah banyak kios yang menjajakan oleh-oleh khas Jogja seperti gantungan kunci dan dompet batik. harga yang ditawarkan bisa lebih murah 100% dari yang dijajakan di pinggiran Malioboro! Emang bener deh.. gak pernah rugi ngajak ngobrol pedagang kaki lima!

Lets go shopping!
Malamnya, saya dan Tika nongkrong di titik nol kilometer, sementara Kelvin istirahat di hotel tempat ia menginap. Titik nol kilometer ini mengingatkan saya akan kawasan Kota Tua di jakarta : dikelilingi bangunan tua ala Belanda, banyak orang berdandan unik, penuh dengan pedagang kaki lima dan anak muda! Bahkan kalau lagi beruntung, kita bisa menyaksikan pertunjukan musik disini. 

kapan lagi foto bareng setan ber-piercing :D
Setelah hampir 2 jam-an nongkrong di titik nol kilometer, saya dan Tika kembali ke penginapan yang kami sewa di daerah Sosrokusuman. Dan akhirnya, backpacker Jogjakarta hari pertama ini ditutup dengaaaaaaan... dua buah koyo di betis neng Tika haha.. Soal pengeluaran, karena hari ini mode jalan kaki diaktifkan makanya pengeluaran sangat amat minimal, kita cuma perlu membayar tiket masuk ke tempat-tempat diatas yang kisarannya antara 3ribu - 7ribu rupiah per tempat wisata. Asik kan? ^^

fyi :
penginapan : 70rb/2org
tiket wisata : 3-7rb/tempat wisata
jasa guide : negotiable, antara 10-20rb/tempat wisata ( gak wajib pake guide tapi worthed biar tau asal usul tempat wisata itu )
makan : 5-15ribu ( biasain nawar dulu yak sebelum pesen )

Next : Backpacker Jogjakarta part 2 : Beaching Day dan Pesta Duren!

Saturday, July 5, 2014

jangan tanya kenapa saya dukung satu

Lo yakin dukung dia?

Yakin

Kenapa?? Bukannya lo dulu ngidolain si nomer dua pas jaman pilgub dki? inget gak tuh lo nyeritain betapa kagumnya lo sama gaya kepemimpinan dia yg merakyat?

Iya emang.

Trus lo sekarang kenapa gak dukung dia lagi?
Kemakan black campaign lo ya?


Enggak

Trus kenapa? Lo gak suka sama dia?

Suka sih. Tapi ulama dan tokoh agama lebih milih nomer yg satu.

Trus? Lo ikutan gitu? Gak punya pendirian banget sih. 

Bukan gitu

Lha trus apa? Lo gak salah tu.. sekelas penjahat HAM, trus gw pernah baca kata wartawan luar negeri si nomer satu itu tentara yg bengis. Pemimpin itu harusnya disegani bukan ditakuti. Trus lo suka nonton debat pilpres gak sih? Si nomer satu itu kan ucapannya sekedar pandangan umum, gak aplikatif kayak yang nomer dua. Mending lo pikir dua kali deh.

Udah kok. Tiga kali malah. Tetep gw gak berubah pikiran. Tetep satu

Kenapa? Alasan agama? Nomer dua juga muslim kok malah calon yang lo pilih itu sebagian besar keluarganya malah non-muslim. 

Bukan.

Terus? Apa dong? Nomer dua itu hebat lhoo. Merakyat cin.. rela kotor-kotoran demi rakyatnya

Hush.. jangan berat sebelah dong. Kalo nomer dua rela masuk got dan segala macem, jangan lupa juga nomer satu pernah jadi tentara, kopasus, yang notabenenya harus siap mati demi negara. Mereka hebat di bidang yang jauh berbeda. Jadi gak fair kalo dibanding-bandingin trus prestasinya.

Tapii kan.. nomer dua terbukti handal. Bahkan masuk ke daftar 50 pemimpin hebat versi majalah internasional! Gimana gak pantes coba jadi presiden!

Sekarang. Gantian gw yang balik nanya.

Menurut lo seberapa sering ulama2 terkenal kayak ustadz Arifin Ilham dan Aa gym ngasih dukungan terbuka di acara2 kaya gini?

Seinget gw mah jarang kayaknya.

Nah. Menurut lo kira2 mereka tau gak isu2 atau berita2 di media kalo nomer satu itu penjahat HAM, tentara bengis dan sebagian keluarganya non-muslim?

Tau lah. Gila aja. Itu bukan rahasia umum kali  apalagi soal kalo si nomer satu itu tersangka kerusuhan dan penculikan aktivis pas reformasi dulu

Nah itu dia.
Kalau segitu santernya media memberita kan keburukan beliau, kenapa mereka tetep mutusin condong ke satu bukan kedua yang penuh dengan segala kehebatan dan prestasinya yang mendunia?
Mikir gak lo kesitu men?
There must be a good and strong reason kenapa mereka sebagai alim ulama milih si satu. Gw ulangi sekali lagi yaa.. there must be a good and strong reason. Gw yakin mereka gak asal pilih. Entah musyawarah entah istikhoroh atau entah gabungan keduanya, gw yakin mereka gak pake modus, gak nyari untung dan murni utk kemaslahatan umat. 

Tapi kan.. 

Udah gak pake tapi.. 
Gw bulet. dukung satu. Bukan karena sosok satunya dan juga bukan karena benci sosok dua. Tapi ini lebih kepada perasaan yakin bahwa yang harus gw denger adalah pendapat alim ulama bukan pendapat tokoh politik lain apalagi berita di media-media

Kenapa sih lo kayaknya gak percaya banget sama berita di media?

Gw berhenti mempercayai media sejak mereka menyebutkan bahwa pejuang yang syahid di Suriah itu sebagai pemberontak. Mempertahakankan tauhid itu gak sama dengan pemberontak.

Trus kenapa lo gak percaya sama pendapat ahli politikus lainnya? Mereka ahli di bidang politik lho.. 

Men.. politik itu bisa berubah
Kemaren bilang gak mau ngedukung, gak lama malah jadi tim sukses. Semudah itu politik bisa membuat orang menjilat ludahnya sendiri. 
Laki-laki itu yang dipegang omongannya.. dan gw yakin laki-laki pengemban dakwah itu lebih layak dipercaya omongannya daripada laki-laki yang ahli politik. Jadi? Jangan bolak balik nanya ke gw kenapa satu bukan dua. Udah gw jelasin noh. Jelas kan?

Jelas. Banget. Tapi kalo gw beda, kita tetep bisa temenan kaaaan??

Ya iyalah men..
Sebelum pilpres lo temen gw
Sesudah pilpres lo tetep temen gw
Thats all the matter
:)



Friday, June 20, 2014

Titik Ter-absurd Dalam Hidup

Absurd. Saya berada di titik terendah, rasanya. Apalagi melihat ke belakang.
Ada beberapa hal yang bisa saya lakukan lebih baik dari apa yang sudah terjadi sekarang. I could do something better, rasanya. Saya mulai berharap bahwa saya bisa memutar balik waktu dan akhirnya sedikit frustasi karena sejatinya waktu seperti air sungai yang arusnya tidak pernah berbalik atau berhenti. Kemudian teringat janji Alloh Subhanahu wa ta'ala dalam surah Al Insyirah ayat 5-6 bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Sesudah kesulitan ada kemudahan.

Well its such a relieve for me, i guess.
:')

Wednesday, June 18, 2014

River Tubbing Sungai Oyo!

Setelah sesi ssusur selusur Goa Gelatik dan cave tubbing di Goa Pindul berakhir, masih dihari keempat sesi Backpacker Jogjakarta dan masih ditemani oleh Pak Kejar sebagai guide, saya beranjak menuju Sungai Oyo untuk mencicipi sensasi river tubbing. River Tubbing Sungai Oyo ini merupakan salah satu wisata yang dimiliki oleh Desa Bejiharjo, Kabupaten Gunung Kidul, Jogjakarta selain Goa Pindul dan Goa Gelatik. Jarak antara Goa Pindul dan Sungai Oyo tidak begitu jauh, hanya memakan waktu kurang lebih 10 menit melewati areal persawahan.

saya minum dua!
Eniwei, river tubbing ini kurang lebih mirip dengan cave tubbing, sama-sama menggunakan ban karet untuk menyusuri sungai, tapi kali ini sungainya tidak berada didalam goa. Panjang sungai Oyo yang akan disusuri kurang lebih 1.5 Km dengan durasi antara 1-1.5 jam. Pertama kali turun ke Sungai, agak kaget karena ban karet yang saya tumpangi meluncur di riak air sementara Pak Kejar sebagai guide nun jauh dimato. (-_-')

gak panik
Agak panik
Time to panic!
Tapi terlepas dari opening act-nya yang "begitu", sebenarnya riak sungai Oyo ini terbilang tenang, karena sedang musim kemarau sehingga debit air berkurang yang ujung-ujungnya membuat arus sungai tidak terlalu deras. *Fiuhh

Di sepanjang river tubbing ini, yang paling mencuri perhatian adalah relief bebatuan khas area karst di sepanjang Sungai Oyo. Bentuknya lucu, seolah dipahat, padahal terbentuk dari kikisan aliran sungai Oyo.  

Lucu yaa.. *batunya maksudnya :)
Selain itu, another breath taking view nya adalah adanya beberapa air terjun di sepanjang sungai Oyo ini, mulai dari yang kecil, sampai yang besaaaaaar.

Mulai dari sekecil ini
segini
Sampai sebesar ini!
Disuguhi pemandangan yang kayak begitu, yakinlah kalau jarak tempuh 1.5 Km dan waktu tempuh 1 jam itu berasa super singkat! karena gak terasa saya udah sampai di titik terakhir sesi river tubbing. Dengan berakhirnya river tubbing Sungai Oyo ini, berakhir pula hari keempat di sesi backpacker Jogjakarta. 


*bersambung

Cave Tubbing Goa Pindul

Masih di hari keempat dalam rangka 6 hari Backpacker-an di Jogjakarta, setelah susur selusur Goa Gelatik, destinasi selanjutnya adalah mencicipi Cave Tubbing Goa Pindul. 

Goa Pindul terletak tidak jauh dari Goa Gelatik dan masih merupakan destinasi wisata di Desa Bejiharjo, Kabupaten Gunung Kidul, Jogjakarta. Pada awalnya tidak ada yang menarik dari Goa Pindul bagi masyarakat sekitar. Goa ini hanya dijadikan sebagai tempat mencari sarang burung tertentu yang dapat dijual dan menghasilkan uang, sampai suatu ketika serombongan mahasiswa yang melakukan KKN di desa ini menyadari bahwa Goa Pindul bisa jadi tempat wisata yang menjanjikan, Terbukti, sekarang apabila weekend tiba, pengunjung yang datang bisa mencapai angka ribuan!

didepan mulut goa pimdul
Beruntungnya, saya datang bukan di hi-season seperti itu, sehingga sesi cave tubbing pada sore hari ini seperti cave tubbing di gua pribadi. Sepi dan khidmat. Cihuy! Masih ditemani guide yang sama pada sesi selusur Goa Gelatik, yakni pak Kejar, im more than ready to do this : cave tubbing!. Sesi cave tubbing ini kurang lebih berdurasi 45 menit dengan panjang jarak tempuh sekitar 300 meter. Sebelum memulai cave tubbing, peralatan standart yang harus dipakai adalah helmet, safety jacket dan ban karet yang nantinya akan membawa kita menyusuri sungai bawah tanah didalam goa ini.

di mulut gua *im more than ready!
Hal pertama yang saya yakinkan dalam hati ketika memulai perjalanan menyusuri sungai didalam Gua Pindul ini adalah : anakonda tidak hidup di tempat seperti ini. *eh bener kan ya?. Karena jujur kacang ijo, bukan gelapnya gua yang saya takuti, tapi kemungkinan meet and greet sama hewan melata yang bersisik itu lhooooo..

Tapi demi melihat jejeran stalaktit yang berwarna cokelat keemasan, pikiran berbau anakonda tadi lenyap begitu saja tergantikan oleh perasaan takjub. 

Pemandangannya gimanaaaa gitu..
Perlahan, ban yang saya tumpangi membawa saya masuk kedalam Goa Pindul lebih dalam lagi, sumber cahaya yang tersisa adalah headlamp yang dipakai oleh pak Kejar sementara kedalaman air dibawah saya berkisar antara 5 - 10 meter. Pada satu titik, saya menemukan stalaktit yang sudah bersatu dengan stalakmit sehingga lebih nampak seperti sebuah pilar raksasa yang diameternya (katanya) butuh lima orang dewasa untuk mengelilinginya.     

Terbayang dikepala, berapa tahun yang dibutuhkan oleh material kalsium karbonat untuk mengendap dan membentuk pilar sebesar itu. (o_0)

si pilar raksasa
Di tengah goa, saya melewati yang disebut sebagai sumur terbalik oleh warga sekitar, yakni sebuah luweng vertikal yang biasa dipakai oleh tim SAR setempat untuk latihan teknik SRT. Pada siang hari, sinar matahari yang menerobos masuk dari luweng ini menambah keindahan di dalam Goa Pindul.

Sumur terbalik.
manjat-manjat kurang kerjaan
Setelah hampir 40 menitan ber-tubbing ria, saya sampai juga di penghujung goa. Di mulut goa tampak beberapa pengunjung yang lebih dulu sampai disini. SInar matahari sore mulai tampak keemasan, pertanda senja sudah didepan mata. Dengan perasaan puas, segera saya bergegas menuju ke tempat terakhir yang akan menutup perjalanan di hari keempat di sesi backpacker Jogjakarta ini, Sungai Oyo.

Next : River Tubbing Sungai Oyo!