Thursday, September 4, 2014

Backpacker Pulau Harapan (Lagi) : Mancing, Snorkeling, dan Tragedi Kamera Underwater!

Postingan ini masuk kedalam kategori latepost sebenernya. Meski telat tapi tetep saya semangat nulis ini karena liburan kemarin melibatkan orang-orang yang unik dan ajaib di satu pulau di Utaranya Jakarta, Pulau Harapan, Kepulauan Seribu

siapa yang gak kangen ngeliat beginiaaaaaaan??
Saya gak ngerti kenapa saya suka banget dateng kesini, yap Pulau Harapan. Diantara banyak Pulau di Kepulauan Seribu, saya paling suka pulau ini. Mungkin karena banyak pulau kecil di sekelilingnya, mungkin karena saya mulai jatuh cinta dengan wisata laut, mungkin karena terumbu karangnya masih lucu-lucu, mungkin juga karena di pulau ini saya kenal dengan Pak Salim-bapak paruh baya yang pernah menolong saya yang tersesat dua tahun lalu- yang jelas saya selalu ingin kembali kesini. Seperti liburan lebaran tahun ini , saya memutuskan untuk mengunjungi Pak Salim, silaturahmi sekaligus liburan singkat disini. Keberadaan beliau yang saya kenal cukup baik membuat saya tidak merasa cemas meskipun kali ini saya ber-solo backpacking-ria.


Seperti biasa, perjalanan ke Pulau Harapan selalu dimulai dari dermaga nelayan Muara Angke. Oiya.. sekedar informasi, sekarang di Muara Angke ada tiga kapal kayu yang melayani rute Muara Angke - Pulau Harapan yaitu Kapal Harapan Ekspress, Raja Mas dan Miles, dengan waktu keberangkatan yang sama yaitu pukul 07.00WIB. Ketiga kapal ini juga memiliki tarif yang sama, 40rb rupiah.

Mengingat jarak tempuh dari Muara Angke - Pulau Harapan paling lama dibanding pulau yang lain, yakni 3 jam maka begitu memasuki kapal Raja Mas, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari tempat untuk duduk yang nyaman.  Ketika Kapal mendarat di dermaga Pulau Harapan, pemandangan yang terlihat adalah puluhan ( atau bahkan sampai ratusan ya?) berjubel di dermaga. Campuran antara pengunjung yang baru datang seperti saya atau mereka yang sebelumnya sudah menghabiskan liburan disini dan berniat pulang.

Suasana hiruk pikuk tidak membuat saya kesulitan untuk menemukan Pak Salim. Masih dengan peci putihnya yang khas, Pak Salim duduk di posko kesehatan Lebaran- yang sengaja disiapkan oleh Dinas Kesehatan setempat untuk mengantisipasi kemungkinan pengunjung yang sakit- yang terletak tidak jauh dari dermaga Pulau Harapan. 

Setelah ngobrol-ngobrol singkat dengan Pak Salim, acara selanjutnya adalah celngak-celinguk nyari temen barengan. Di sesi solo backpacking, terutama dengan destinasi kepulauan, sangat penting untuk nyari teman sekelompok yang nantinya bisa diajak sharecost, mengingat tingginya biaya sewa kapal untuk hoping island seandainya cuma dibebankan ke satu orang.

Kemudian takdir membawa saya bertemu dengan satu kelompok dari Bekasi *yang di menit-menit kemudian ternyata cukup absurd kelakukannya haha* Bareng mereka, saya hoping island ke beberapa spot di sekitar pulau Harapan. Spot yang kami kunjungi adalah Kayu Angin, Bira, Gosong Perak dan Pulau Bulat.

can you hear the ocean's calling?
Yes we caaaaaaan hear that!
Kayu Angin menjadi spot pertama sekaligus spot terjadinya tragedi kamera underwater. Setelah beberapa menit kami snorkeling, seperti biasa wajib hukumnya untuk jeprat jepret foto. Udah lama juga rasanya gak difoto dari atas kapal dengan snorkel gear yang lengkap terpakai. Lucu juga kayaknya gitu. Saya pun naik ke atas perahu - sementara teman-teman yang lain masih di dalam air - kemudian menyodorkan kamera ke guide yang menemani kami dan berkata dengan perintah yang saya rasa cukup jelas "mas boleh minta tolong gak mas.. fotoin kita dong". 

Setelah itu, saya langsung menceburkan diri di laut dengan niat mau ambil posisi. Begitu balik badan dan mendongak ke atas perahu kayu yang kami sewa.. "lho kok mas guidenya gak ada?" Perasaan udah gak enak itu disitu. Bener aja, begitu menoleh ke samping, si guide udah ada di dalem air, sibuk nyari angle buat memfoto terumbu karang dengan kamera saya yang sepenuhnya masuk ke air. Eng ing eng.. siapaaaaa yang minta tolong buat motoin terumbu karang? siapaaaaaaaa (>,<). Saya pun langsung tepok jidat dan berkata dengan pasrah "mas.. itu kamera saya bukan kamera underwater lho" Kebayang dong ekspresi apa yang nampak di muka saya waktu itu. Kaget campur nelangsa. 


Beberapa menit setelah tragedi kamera underwater
*lumayan.. dapet juga pose begini.. makasih ajeng kameranya huhu*
Sempet badmood gegara tragedi kamera underwater tadi, cuma begitu kapal kayu yang kami naiki mendekat ke Gosong Perak, si bad-mood hilang dan tergantikan oleh takjub-mood. Gimana gak takjub, ditengah laut begitu, bisa ada secuil daratan berpasir putih yang.. spektakuler cakepnya. Gak bakalan percaya kan kalo pemandangan kayak gini ada di Provinsi DKI Jakarta??


Gosong Perak yang spektakuler!
Selain ketolong sama pemandangan si Gosong Perak, hal lain yang bikin mood liburan dateng lagi adalah kelakuan absurd enam orang yang jalan bareng saya. Mereka ini selalu punya pose berfoto ajaib yang somehow.. menghidupkan suasana haha. 




Salah satu kelakuan si Tama - raja absurd di kelompok ini -
absurd kan? apa saya bilang :D
Daaaaan satu hal yang pasti adalah dari mereka saya jadi tau pentingnya tongsis haha.. karena mereka tau banget gimana maksimalin tongsis buat we-fie! dan we-fie bareng mereka itu.. serunya parah!

Cobaaaaa yhaa.. segala di pohon aja tetep we-fie ^^

Gak seperti trip sebelumnya dimana sunset dinikmati di atas perahu dalam perjalanan pulang ke Pulau Harapan, sunset kali ini kami nikmati di pulau Bulat. Pulau Bulat ini rupanya jadi spot banyak orang untuk mengabadikan sunset, terlihat dari ramainya orang yang bertebaran di sisi barat pulau ini. Sunsetnya overall lumayan lucu.. meskipun langitnya agak berawan.

Sunset di Pulau Bulat
Bulatan merah si raja panas yang perlahan tenggelam menandakan berakhirnya hoping island hari ini. Kapal kayu pun membawa kami kembali ke Pulau Harapan tepat sebelum adzan magrib berkumandang. Sementara saya masih dalam kegalauan memilih untuk pulang besok bareng anak-anak ajaib ini atau extended sampai lusa.

Keputusan di awal untuk hanya menghabiskan satu malam di Pulau ini berubah drastis ketika si kokoh - jadi ceritanya saya satu homestay dengan kokoh keturunan tionghoa yang lagi ngebawa karyawannya berlibur - dengan logat tionghoanya berkata " putri besok jangan pulang dulu yaa.. temani Lissa ( sepupunya kokoh yang notabene perempuan sendiri di rombongan ini ), nanti kita mancing di sekitar pulau kecil disini". Demi mendengar kata "mancing" saya jadi semangat luar biasa, carier 20L yang sudah saya packing rapih dengan niatan mau pulang besok akhirnya saya bongkar lagi haha.

Keesokan paginya, setelah berkirim pesan dan say tengkyu and gudbay ke Ajeng dkk, saya dan empat belas orang rombongan kokoh menaiki perahu kayu, beranjak dari Pulau Harapan ke Pulau Macan. Di Pulau Macan, sebagian dari kami ber-snorkeling ria sementara sebagian lain mancing mania. Spot snorkeling di Pulau Macan ini meskipun terumbu karangnya tidak terlalu banyak namun ikan warna-warninya wara-wiri kesana kemari. Jadinya seneng bangeeeet snorkeling dimari.

ceritanya seneng *udah lupa sama tragedi kamera kemaren*
there it is.. si kokoh yg baik hati dan tidak sombong
Puas main-main sama ikan kecil warna-warni, rombongan kami beranjak ke spot mancing di sekitar Pulau Bulat. Disinilah pertama kalinya saya nyobain yang namanya mancing. Saya dipinjami joran oleh babe - panggilan salah satu karyawannya kokoh - Kemudian diajari cara memasang umpan, cara melempar dan menggulung benang pancing. Awalnya ngantuk parah karena hampir setengah jam umpan saya gak laku di bawah sana. Sambil sesekali menguap, saya mulai heran kenapa banyak orang yang kecanduan dengan kegiatan mancing mania ini.

"neng itu dapet tuh ikan, coba deh gulung benangnya" seru babe setengah teriak, dengan semangat saya gulung joran saya, berat memang, "wah dapet ni dapet" jerit saya kegirangan. Bahagia campur norak. Benar saja satu ikan jenis Kurisi memakan umpan yang saya pasang! Yeayy..


Setelah tangkapan pertama, saya mencoba alat pancingan tradisional yang dibawa oleh guide kami. Alat ini simpel, cuma terdiri dari benang pancing yang digulung di sebuah kayu, pemberatnya berupa besi berwarna hitam dan dilengkapi beberapa mata kail.


Karena bentuknya yang cuma benang tanpa ada perantara kayu seperti joran, alat ini membuat si pemancing lebih sensitif, lebih terasa ketika ada ikan yang memakan kailnya. Buktinya adalah saya sukses menggaet tangkapan kedua dan tangkapan seterusnya dengan alat ini.

Tangkapan kedua saya ^^
*diasisteni oleh babe (baju kuning )*
Tangkapan saya yang ketiga dan seterusnya
*meuni excited pisaaaaaaan*
Ternyata setelah tangkapan ketiga dan seterusnya itu.. saya baru sadar kenapa orang banyak yang keranjingan mancing. Saya aja tadinya gak mau diajak udahan haha.. rasanya itu kayak campuran antara seneng, puas dan norak ketika ada ikan yang lagi apes makan umpan yang kita pasang.

Sebelum pulang, kami sempet main di Pulau Dolphin. Pulau kecil tak berpenghuni dengan pasir putih ini sekilas mirip-mirip Pulau Perak, tapi mungkin lebih kecil kali ya. Disini kerjaan kami adalaaaaah main pasir :D

Me and Lissa ^^
Kelakuan kita ya begini ini :D
Hari kedua ini, kami tidak sampai menyaksikan sunset. Pukul 4 sore setelah puas main di Pulau Dolphin, kami kembali ke Pulau Harapan untuk bakar ikan hasil tangkapan kami hari ini. Petang itu, kami habiskan dengan beberapa piring ikan bakar, 2 jam sesi film godzilla dan hollow man serta permainan memori dengan menggunakan kartu remi.  

Kurisi.. yang sabar yaa.. nasibmu nak..
Keesokan harinya, kapal Raja Mas membawa rombongan kami kembali ke Dermaga Muara Angke. Berasa udah kayak punya keluarga baru. Jadi rada sedih pas melambaikan tangan dan berkata "kapan-kapan main bareng lagi yhaa". I really love making lot of friends during a trip.  :")

Anyway.. sebelum postingan tentang 3 hari 2 malam di Pulau harapan ini saya tutup, saya mau ngasih liat penampakan kamera saya setelah tragedi kamera underwater yang tadi saya ceritain : mati total dengan posisi lensa yang gak bisa ketutup. Udah dibawa ke service center tapi dokternya angkat tangan, nyerah. Mungkin udah sampe situ umurnya. Beristirahatlah dengan tenang nikon.. semoga saya bisa segera mencari penggantimu *peluk haru si nikon*


regards,


*Ps
postingan ini ditulis untuk kalian berenam : Ajeng, Lia, Munif, Deni, Norman dan Tama. Thanks for making my day and kiss away my sorrow :)
juga untuk setiap orang di rombongannya Kokoh dan Lissa, makasih private mancingnyaaa ^^

untuk budgetting alias harga2 disana.. please kindly check postingan saya tentang trip sebelumnya ke Pulau Harapan disini

Ingat.. jangan buang sampah kelaut, jangan menginjak, menyentuh atau mengambil terumbu karang. Liburan boleh tapi kalo ujung-ujungnya ngerusak mending di rumah aja nonton kangen band sana :D

Thursday, August 28, 2014

Obrolan tentang Cita-cita

Malem ini saya mau ngobrolin soal cita-cita.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, cita- cita berarti keinginan atau kehendak yang selalu ada di pikiran. Kalo ngeliat dari definisi ini, cita-cita bisa diartikan menjadi banyak hal.. bisa jadi keinginan untuk pergi ke suatu tempat, keinginan membeli satu barang dan lainnya, tapi entah kenapa kita secara sempit mempersepsikan cita-cita sebagai profesi apa yang kelak kita ingin jalani.

Bicara tentang cita-cita, saya adalah orang yang termasuk galau dalam hal cita-cita. Waktu kecil kalo ditanya apa cita-citanya, saya dengan mainstreamnya menjawab "dokter" tanpa menyadari kapasitas otak saya yang di kemudian hari menjadi sangat undoctorable hahaha.. Setelah itu agak besaran dikit berubah jadi pramugari. Gak bertahan lama, cita-cita ini berubah dan menetap menjadi jurnalis atau penulis. Iya jurnalis. Bermula dari menulis-nulis cerita yang terjadi di sekitar kehidupan semasa sekolah, saya bermimpi suatu hari nanti saya bisa menjadi jurnalis yang bisa berbagi dan menceritakan tentang banyak hal kepada banyak orang. Pasti rasanya menyenangkan bisa menjadi mata, mulut dan telinga bagi orang lain. Sukur-sukur bisa bawa inspirasi ke banyak orang.

udah dapet belum gayanya? haha
Tapi terkadang, apa yang kita inginkan belum tentu kita dapatkan. Cita-cita yang bagi kita terlihat seru, menyenangkan dan membuat kita begitu hidup, bagi orang lain, bisa saja terlihat wasting time dan tidak menjanjikan untuk masa depan. Makanya sejak saat itu, saya mulai (terpaksa) hidup di dalam mimpi orang lain, bukan mimpi saya sendiri. Berusaha mewujudkan mimpi orang lain bukan mimpi saya sendiri. Isn't it pathetic? 

Bahkan cyber space pun tau (T_T)

Buat kalian yang masih muda-muda, biar gak senasib sepenganggungan, ada sedikit saran yang bisa diterapin. Pertama, Dig in your self! Gali sebenernya kalian tertarik di bidang apa. Serius deh.. Gak ada yang lebih nyenengin dari menjalani kesukaan kita terus dibayar! Gak cuma dokter, pilot atau insinyur aja yang punya masa depan. Suka gambar, suka masak, suka olahraga, ternak ayam, ternak lele? semua bisa jadi masa depan! 

Kedua, buat analisa peluang, dari kesukaan kalian itu, ada peluang apa aja yang bisa dicapai.. print out segede gaban! Tunjukin sama orang yang mencibir kalian, tunjukin ke mereka yang bilang kalau cita-cita kalian tidak menjanjikan masa depan yang cerah, tunjukin bahwa yang namanya masa depan yang cerah bisa digapai dari banyak jalan dan.. Ingat! masa depan yang cerah gak akan didapat dari menjalani mimpi orang lain. Trust me.. i have been through this.. *curcol*

Ketiga, Mulai berjalan, merangkak atau merayap.. tapi pastikan kalian gak berhenti di jalan yang udah kalian pilih. Jungkir balik gak masalah asalkan di jalan sendiri. Kebayang gak kalo jungkir baliknya di atas jalan yang dipilihkan oleh orang lain? *curcol lagi*

Keempat, prove them wrong! Tunjukin hasil jerih payah kalian. Gak usah perdulikan orang lain yang mencibir dan berkata "segitu aja udah bangga" karena jauh di dasar hati kita, orang pertama yang ingin kita buat bangga adalah diri sendiri. Setidaknya kita berhasil mencapai cita-cita sendiri kaan?

Eniwei, buat semua orang yang punya cita-cita :
just put some trust in your self.
they are always tell that you cant
but prove them wrong..
because you know you can!

Goodluck ***


your writer-wanna be,

Saturday, August 9, 2014

Backpacker Jogjakarta Part 6 : Berburu "Cahaya Surga" di Goa Jomblang

Selamat dataaaang di Backpacker Yogyakarta itinerary hari keenam!

Setelah sebelumnya sukses menghitamkan kulit di garis pantai kabupaten Gunung Kidul di hari kelima kemarin ( cerita lengkapnya disini ), di hari keenam yang sekaligus menjadi hari terakhir saya menjelajah Jogjakarta dan sekitarnya, saya akan mencoba caving alias menyusuri gua vertikal untuk pertama kalinya di Goa Jomblang!

Goa Jomblang yang terletak di desa Pacarejo Kabupaten Semanu, Gunung Kidul ini merupakan gua vertikal dengan hutan purba di dasarnya. Goa ini terbentuk akibat proses geologi dimana permukaan tanah amblas kebawah beserta vegetasinya yang terjadi ribuan tahun lalu. Proses ini membentuk lubang seperti sumur yang dalam bahasa jawa terkenal dengan sebutan Luweng. 


Luweng Jomblang
Untuk bisa memasuki Luweng Jomblang ini, diperlukan teknik SRT ( Single Rope Technique ) dimana caver akan menuruni Luweng dengan menggunakan seutas tali yang dilengkapi berbagai macam carabiner. Para pengunjung umumnya menggunakan jasa yang disediakan di Jomblang Resort dengan harga berkisar antara 400-600 ribu / orang. Biaya yang cukup mahal ya?

Beruntung sekali.. tahun lalu ketika saya mendaki gunung Argopuro, saya berkenalan dengan sekelompok mahasiswa pecinta alam dari Akademi Teknik Kulit Yogyakarta ( Makupella ) yang pada kesempatan kali ini bersedia menemani saya untuk turun ke Luweng Jomblang. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri karena pihak pengelola Goa Jomblang tidak mengenakan biaya apapun pada kelompok pecinta alam yang ingin latihan caving disini. Alhamdulillah.. rejeki backpacker ^^

Sehari sebelumnya, saya dibekali dulu dengan bagaimana mempraktikkan teknik SRT. Kursus singkat ini berlangsung di kampus Akademi Teknik Kulit Yogyakarta. Kursus singkat ini berisi perkenalan alat-alat oleh Mbak Ika dan Mas Tomi sementara cara ascending dan descending dipimpin oleh Mas Arif dan mas Bahrudin. Latihan yang berlangsung selama kurang lebih 3 jam ini menggunakan tiang setinggi 3 meteran yang ada disebelah basecamp Makupella sebagai media simulasi. Rasa lelah yang tersisa dari susur pantai siang tadi menguap begitu saja digantikan rasa excited mempelajari bagaimana melepas croll dengan benar.

Hop..hop 
Setelah sesi latihan teknik SRT berakhir maka beberapa dari kami packing dan bersiap-siap untuk berangkat. Tepat jam 11 malam, saya, mas Arif, mas Tommi, mbak Lia dan mas Beta meluncur ke arah Wonosari dengan sepeda motor untuk seterusnya menuju ke Goa Jomblang.

Jalan raya yang menanjak dan berliku ke arah Gunung Kidul ini cenderung sepi saat kami melintas., mungkin karena udah larut malam juga kali ya. Di pertengahan jalan, saya sempat terpesona dengan keindahan Bukit Bintang saat motor yang saya tumpangi melewati kawasan yang dijadikan tempat nongkrong muda-mudi Jogjakarta di penghujung minggu itu.

"ndak lama kog mbak.. paling 1 jam setengah" jelas mas Arif dengan logat jawanya yang kental ketika saya tanya berapa lama waktu tempuh dari kampus ATK Jogjakarta ke Goa Jomblang menggunakan sepeda motor.

Memasuki jalanan kecil menuju Goa Jomblang di desa Pacarejo, cahaya motor kami menjadi satu-satunya cahaya di tengah kegelapan jalanan yang diapit pepohonan jati. Kontur jalan yang rusak parah menghilangkan rasa ngantuk saya dalam sekejap, sementara udara mulai terasa dingin. Saya tidak ingat pukul berapa kami, pada akhirnya, bisa beristirahat di dalam tenda yang dibangun di area camping ground tidak jauh dari mulut Goa Jomblang.

dome sweet home ^^
Pagi harinya, setelah memasak sarapan bareng mbak Lia, saya sempat berkeliling untuk melihat mulut goanya, orientasi medan dulu ceritanya. Begitu melihat lebarnya mulut Goa Jomblang ini, segala senyawa kimia mulai dari adrenalin, endorfin, oksitosin dan serotonin mengalir dalam darah. Efeknya adalah perasaan yang campur aduk antara takut, bahagia dan excited!

Yak itu dia.. yang bikin perasaan campur aduk. (-_-')
*pic taken from kaskus.. maap yak soalnya kemaren foto saya
 gak ada yang sejelas ini mulut guanya*
Mengingat saya adalah pemula, maka jalur yang kami pakai adalah jalur VIP yang ketinggiannya berkisar antara 20-30 meteran. Berbeda dengan jalur langsung dari mulut Goa Jomblang yang berada di level 60 meteran *ngilu bayangin SRT-an setinggi itu*

Saya pikir jalur VIP itu enak-enak gimaaanaaa gitu yhaaaa.. secara namanya aja VIP. Ternyata jalur yang harus dilalui sebelum lintasan dipasang beneran curam. Sebagai gambaran, turunan terjal ini mirip Bapa Tere di jalur Linggarjati Gunung Ciremai, cuma panjangnya tiga kali lipat dari Bapa Tere. Kebayang kan yak.. secara sampe harus turun pake webbing saking curamnya. Pemanasan yang cantik (=_=)

Sebelum kami turun, mas Arif rigging ( membuat lintasan ) dengan main anchor pada batang pohon di sisi kiri jalur VIP. Saya bengong aja disitu antara takjub dan ngeri ngeliat mas arif yang rigging sambil gelantungan gitu di pohon, Eyuhh.. kecil kecil cabe rawit dah tu anak.

ngilu ngeliatnya
menunggu Mas Arif Rigging *jantung deg2 nyes*
dasar perempuan yhaa.. sempet aja minta foto sambil nunggu rigging kelar :D
Coverall udah dipake, set SRT udah dipasang, body checking juga udah, setelah mas Arif dan mbak Lia descending, berikutnya adalah giliran sayaaaaaa *nelen ludah*. Seperti biasa, disorientasi saya dalam membedakan kanan-kiri cukup membuat saya bingung mengawinkan antara descender dan charmantel dengan baik dan benar, beruntung ada mas Tommi yang mengoreksi kesalahan saya. Segera setelah descender terpasang, saya meluncur turun perlahan dari atas. 

rasanya.. gado-gado!
Sesampainya dibawah mulut gua menganga lebar. Ada rasa takjub menyelimuti hati saya yang paling dalam, betapa di tengah alam ini, kita, manusia, yang katanya mahluk yang sempurna, ternyata kecil dan gak berarti apa-apa.
Mulut gua dicapture dari dalam ^^
Memasuki mulut goa menuju Luweng Grubug, saya baru mengerti kenapa saya harus memakai coverall -baju ala caver- yang warnanya lebih mirip baju dinas kebersihan ini, ternyata jalanan menuju Luweng Grubugnya memang berlumpur, meski sudah dibantu dengan batuan yang disusun setapak oleh pengelola, tetap harus berhati-hati karena kondisi batuan yang juga licin. 

Sinar headlamp mulai memendarkan cahaya di tengah gelapnya goa, perlahan tapi pasti, kami berempat berjalan menuju Luweng Grubug. Udara terasa sejuk dan lembab sementara sesekali saya tergelincir jatuh dari bebatuan dan masuk kedalam tanah berlumpur. Disini tagline deterjen R**nso kedengeran sangat pas : gak ada noda ya gak belajar. Haha. 

Beberapa menit kami menyusuri goa, dari kejauhan tampak "cahaya surga" yang terkenal dengan julukan Line King. Demi melihat kilauan cahaya matahari yang menyeruak masuk dari Luweng Grubug tersebut, kerongkongan saya tercekat, menahan nafas dan terpana. Saya belum pernah melihat cahaya seindah itu!. Bergegas saya percepat langkah, tidak saya perdulikan lagi lumpur yang masuk ke sela-sela kaos kaki, saya hanya ingin segera melihat sepotong keindahan yang Alloh titipkan di tempat ini.

Allohuakbar..  
Memasuki ruangan dibawah Luweng Grubug, seonggok batu besar yang terbentuk alami dari endapan calcium carbonat selama ratusan tahun itu langsung mencuri perhatian. Batu besar berwarna putih kekuningan ini seolah menjadi panggung bagi setiap pengunjung yang ingin berdiri di bawah pancaran Line King.

di panggung cahaya
Line King yang ngetop itu..
Di bawah Luweng Grubug ini terdapat aliran sungai bawah tanah yang cukup deras, Kalisuci namanya. Aliran sungai bawah tanah memang khas di daerah pegunungan Karst. Saya sempet dijelasin secara singkat mekanisme timbulnya sungai bawah tanah di area Karst ini oleh Mas Arif ini, intinya karena daerah Karst adalah daerah yang impermeable, sehingga air hujan bisa masuk kedalam batuan, membentuk rekahan yang lebar, saling menyatu kemudian jadilah aliran sungai.

kenaliiinnn... Ini dia yang namanya mas Arif.
kecil-kecil Cabe Rawit!
Waktu menunjukkan hampir jam 2 siang saat kami menyadari cahaya Line King mulai padam, itu artinya saatnya bagi kami untuk beranjak pulang. Pulang disini berarti harus ascending sekian puluh meter. Bagi saya -entah bagi caver yang sudah ahli- ascending adalah kegiatan yang menguras tenaga. Urat di kaki dan tangan keluar semua, belum lagi lecet-lecet akibat gesekan antara tangan dan carmantel. No pain no game lah intinya

Mbak Lia giliran pertama

saya berikutnya 

Setelah keempat personel naik semua, set SRT udah di cleaning dari lintasan, final checking udah dilakukan, semua barang dan tenda udah di packing, saatnya kami pulang. *gak pake mandi hihi*

dekilnya maksimal
*dalam balutan coverall
Sinar matahari senja yang kemerahan menerobos dari pepohonan jati yang tumbuh di kanan kiri jalan menemani perjalanan pulang kami. Sesaat setelah motor dinyalakan, saya menengok ke belakang untuk sekali lagi melihat mulut Goa jomblang yang menganga dengan lebarnya. Benar-benar tempat yang spektakuler. "sungguh saya semakin mencintai negara ini" bisik saya pelan di tengah deru motor yang mulai melaju membawa kami pulang ke Jogjakarta.

Dengan ini... berakhir pula 6 hari perjalanan saya di Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Menyenangkan sekaliiii.. Ada banyak pelajaran, kenangan dan sahabat baru yang akan menjadi bagian dari perjalanan hidup saya setelah ini. I owe you so much fellas ^^

*ps
tulisan ini didedikasikan untuk semuaaaaaa anggota Makupella
terutama Mas-mas yang keren2 : Mas arif, Mastom, Mas Beta dan Mas Bahrud, dan mbak-mbak yang cantik tapi luwes SRT-an : Mbak Ika dan Mbak Lia




Backpacker Jogjakarta part 5 : Pantai Pok Tunggal- Sundak- Siung- Krakal- Kukup

Selamat dataaaang di Backpacker Jogjakarta itinerary hari kelima!

Setelah sebelumnya ngabisin satu hari di Desa Bejiharjo dengan wisata yang berbau adrenalin ( cerita lengkapnya disini ), di hari kelima ini saya -yang masih penasaran dengan keindahan pantai-pantai di kabupaten Gunung Kidul- akan kembali kesana tapi dengan tujuan pantai yang berbeda. Hari ini saya akan mengunjungi Pantai Pok Tunggal, Pantai Sundak, Pantai Siung, Pantai Kukup dan Pantai Krakal.

happines is.. seeing the sky and the sea ^^


Setelah pamit dengan pemilik homestay di Desa Bejiharjo-Ibu Wargono, saya melanjutkan perjalanan dengan ojeg ke terminal Wonosari. Dari sana perjalanan saya lanjutkan dengan menumpang bus 3/4 jurusan Pantai Baron. Saya memutuskan untuk menjadikan Pantai Baron sebagai starting point. 

Dari pinggir jendela, saya menikmati perjalanan menuju ke Pantai Baron. Jalanan yang berkelok-kelok didominasi oleh hutan semi perkebunan penduduk. Jarak antara rumah satu dengan rumah yang lain terbilang jauh, sementara bus yang saya tumpangi hanya berisi beberapa orang saja. Beberapa dari mereka menatap saya dengan pandangan heran begitu tau saya hanya seorang diri. 

Cuaca siang itu sangat terik, syukur alhamdulillah cuaca yang kayak gini emang cocok buat main-main ke pantai. Saking teriknya, saya jadi kepikiran mendadak untuk menjemur baju! Segera saya mengeluarkan baju basah yang kemarin saya pakai waktu river tubbing di Sungai Oyo dan dengan cueknya saya menjemur baju di samping jendela bus. :D

darurat baju :D
Setibanya di Pantai Baron, saya sempet nge-hang. Errr.. gimana caranya ke Pantai Pok Tunggal dari mari. Lagi celingak-celinguk, ada seorang bapak paruh baya, penjaga villa di Pantai Baron sekaligus merangkap tukang parkir disana yang menyapa -Pak Bejo namanya. Ngobrol punya ngobrol, si bapak nawarin diri untuk mengantar saya ke Pantai Pok Tunggal yang tanpa pikir panjang saya iya-kan. Yeayyy (^0^)/

Perjalanan ke Pantai Pok Tunggal cukup jauh, belum lagi ditambah jalan masuk menuju pantai yang cukup terjal dan penuh bebatuan. Butuh kelihaian yang cukup tinggi bagi pengendara motor. Jalanan terjal tadi berlangsung sepanjang kurang lebih 2KM namun berujung manis dengan hamparan pasir putih dan birunya laut di Pantai Pok Tunggal. Cantik!

Di bawah Pok Tunggal ( Pohon tunggal ) yang terkenal itu
sudut di Pantai Pok Tunggal
Pantai selanjutnya yang saya kunjungi adalah pantai Sundak. Hoping Beach dengan sepeda motor memang jauh lebih efisien. Terbukti tidak berapa lama duduk diatas motor, saya sudah tiba di Pantai Sundak yang masih menawarkan pasir putih dan birunya air laut


Pantai selanjutnya adalah Pantai Siung. Pantai yang berupa cekungan sempit sepanjang 400 meter ini banyak memiliki jalur panjat tebing di kanan kiri tebing karst yang mengapit pantai ini.

Pantai ini membangkitkan hawa untuk tidur. Sepi dan syahdu ^^
Berlanjut ke pemberhentian berikutnya, Pantai Krakal. Pantai yang menurut saya memiliki garis pantai yang panjang ini berdekatan dengan Pantai Siung. Pantai ini juga sudah dilengkapi dengan beberapa cottage yang ada di pinggir pantainya.

kenaliiiinn... ini garis pantai Krakal ^^
Sebagai penutup, Pantai Kukup sudah menanti, masih dengan sajian pantai pasir putih dan birunya langit serta lautnya yang cantik.

Birunya Pantai Kukup gak kalah cantik ^^
Birunya pantai Kukup menutup edisi hoping beach hari ini. Overall.. meskipun semua pantai yang saya kunjungi memiliki kecantikan yang sama persis, tapi entah kenapa saya paling suka dengan Pantai Pok Tunggal. Gak ngerti.. tapi rasanya satu pohon yang unik disana terlanjur membuat jatuh hati!

Akhirnya motor yang dikendarai oleh Pak Bejo kembali lagi ke Pantai Baron. Dari sini saya melanjutkan perjalanan dengan menumpang bus 3/4 jurusan Terminal Wonosari. Alhamdulillah saya masih sempat menaiki bus yang terakhir. Sekedar informasi bus ini terakhir jam 12.30 WIB dari pelataran Pantai Baron. Perjalanan ini berlanjut kembali ke arah kota Yogyakarta.. yap.. saya akan mengunjungi kampus Akademi Teknik Kulit Yogyakarta untuk latihan singkat sebelum caving ke Goa Jomblang di hari keenam besok. Cant wait for my very first caving experience. weehooooo!

Fyi :
tip untuk pak bejo : 50rb
tiket masuk pantai : gratis ( entah karena bukan hari libur ya? tapi gak ada yg mintain tiket ke saya )
bus wonosari - pantai baron : 8rb

Next : Backpacker Jogjakarta part 6 : Berburu Cahaya Surga di Goa Jomblang!

Friday, August 8, 2014

Backpacker Jogjakarta part 4 : Wisata Adrenalin di Desa Bejiharjo!

Selamat dataaaang di Backpacker Jogjakarta itinerary hari keempat!

Setelah hari sebelumnya belajar sedikit tentang sejarah di candi-candi ( cerita lengkapnya disini ), maka hari ini adalah waktunya wisata adrenalin.. yeaaay! Tujuan hari ini adalah kawasan Desa Bejiharjo yang menawarkan beberapa spot wisata yang bisa memicu sedikit adrenalin! Exciting lah pokoknya. Di hari keempat ini juga sedikit berbeda karena Tika-travelmates yang sebelumnya nemenin di 3 hari pertama, harus bertolak pulang ke Jakarta. Ini artinya saya kembali ber-solo backpacking.

Saya meninggalkan penginapan di kawasan Sosrokusuman, Malioboro sekitar pukul 12.00 siang untuk selanjutnya ke terminal Giwangan dan menumpang bus ke arah Wonosari. Dari terminal Wonosari, saya menumpang ojeg ke desa Bejiharjo. Setibanya disana, suasana cenderung sepi padahal kalau musim liburan, ribuan orang bisa memadati desa ini! 

Eniwei kedatangan saya yang cuma seorang diri sempat membuat penjaga loket dan guide bingung. Saya sendiri juga bingung kenapa mereka bingung haha.. Setelah berganti kostum, ditemani oleh seorang pemandu - pak Kejar namanya, saya mulai petualangan yang pertama, Goa Gelatik! ( cerita lengkapnya disini ). 

Interior di dalam Gua Gelatik
Setelah menyusuri Goa Gelatik yang termasuk kedalam Goa kering, maka selanjutnya saya beranjak menyusuri sungai yang berada di dalam Gua. Cave tubbing Gua Pindul. Cave tubbing adalah kegiatan menyusuri goa dengan menggunakan ban karet untuk menopang tubuh kita diatas aliran sungainya. Cerita lengkapnya disini.


Hari keempat ini ditutup dengan River Tubbing di Sungai Oyo ( cerita lengkapnya disini ). Menyusuri sungai Oyo sepanjang 1,5 Km dengan menggunakan ban karet menjadi acara penutup di hari keempat backpacker Yogyakarta ini. 

River tubbing sungai Oyo
Selesai river tubbing, sempat terjadi kegalauan apakah saya akan pulang ke Kota Jogjakarta, mengingat waktu saat itu menunjukkan pukul setengah enam sore. Pertanyaan terbesar saat itu apakah masih ada bus yang akan membawa saya kesana

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya memutuskan untuk bermalam di Desa Bejiharjo ini. Entah memang harga sewa kamarnya murah atau entah si Ibu empunya rumah kasian ngeliat saya yang udah dekil dan lepek gak karuan, tapi harga sewa kamar dengan kasur springbed ini cuma 25ribu semalam. Yeay! Rasanya langsung pengen meluk haru si ibunya. \(^_^)/

Ini sumpah empuk kasurnya!
Jadi setelah bebersih dan ngepakin baju kotor, berikut kegiatan saya di rumah Ibu Wargono : ngobrol, makan mie rebus, nonton tivi, ngobrol lagi, (dipaksa si ibu) makan nasi, ngobrol lagi, (dipaksa) ngemil nasi anget plus parutan kelapa buatan ibu, dan duduk kekenyangan didepan tivi. Haha.. baik banget si Ibu dah. 

Daaaaan hari keempat ini berakhir dengan bahagia di atas kasur, saya pun bersyukur meskipun solo backpacking, tapi saya bertemu banyak orang baik sepanjang perjalanan. Meuni bahagia! Dan akhirnya saya pun ketiduran ditengah ketidaksabaran untuk melanjutkan perjalanan di hari kelima besok ^^


next : Backpacker Jogjakarta part 5 : Pantai Pok Tunggal - Sundak - Siung - Krakal - Kukup