Saturday, September 27, 2014

Tenggelam Dalam Eksotisme Gua Senen


Siang itu, matahari sudah agak condong ke barat ketika saya dan tiga orang teman dari Katamata Adventure tiba di mulut Gua Senen. Gua Senen merupakan salah satu dari ratusan gua di Kabupaten Gunung Kidul yang dibuka sebagai objek wisata minat khusus. Gua yang termasuk kedalam jejeran gua vertikal ini berada di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus dan terletak tidak jauh dari Pantai Siung. 

Untuk menuju ke mulut gua, kami harus menyusuri jalan setapak yang berada di tengah perkebunan penduduk. Beberapa kali kami sempat menyapa penduduk yang kebetulan sedang mengurus ladang mereka yang kebanyakan ditanami kacang-kacangan dan jagung sebagai tanaman yang biasa mereka tanam ketika musim panas seperti sekarang ini.

Setelah berjalan sekitar 10 menit dari tepi jalan dimana kami memarkir motor, kami tiba juga di lereng dimana mulut gua senen menganga dengan cantiknya. Berdasarkan keterangan dari mas Agus yang kebetulan udah caving dari sejak lahir sering caving kesini, dahulu mulut gua ini tertutup oleh tanaman rambat sehingga sinar matahari tidak pernah masuk ke dalam area gua yang terletak 8 meter di bawah mulut gua ini. Saking gelapnya, masih banyak kelelawar yang tinggal di dalam gua. Namun seiring bertambahnya wisatawan yang datang ke gua ini, warga berinisiatif untuk membersihkan tanaman rambat tersebut. Baik sih niatnyaa.. tapi saya rasa pasti bakalan lebih eksotik lagi kalau begitu disibak tanaman rambatnya, kelelawar terbang keluar dari dalam gua. Kayak di film-film gitu. Haha

The Entrance 
Seperti gua vertical lainnya, untuk memasuki Gua Senen ini pun memerlukan teknik SRT ( Single Rope Technique ) dengan rigging yang dibuat di lubang batuan yang terletak hanya sekian sentimeter di bagian atas mulut gua. Kali ini yang bertugas sebagai rigging man adalah mas Wasesa dibantu oleh mas Dedy sementara mas Agus sibuk menjawab pertanyaan "kenaaaaapa" dari saya haha..


Sambil memperhatikan mas Wasesa membuat lintasan, saya berusaha mengingat cara descending terutama cara mengawinkan tali charmantel dengan descender autostop yang dulu pernah diajarkan oleh beberapa teman saya di Makupella Akademi Teknik Kulit Jogjakarta.

Setelah mencoba sendiri plus di bantu oleh mas Agus dan mas Dedy, akhirnyaaaa descending saya berjalan lancar. Alhamdulillah. Saya pun meluncur turun menyusul mas Wasesa yang sudah terlebih dahulu turun dan menunggu di bawah.

agak wak-wek tapi its oke lah haha
Begitu memasuki ruangan gua, hawa lembab mulai terasa. Beberapa kali saya harus mengelap kacamata yang mulai berembun di sela-sela decak kagum saya melihat interior di dalam Gua Senen ini. Sambil mendengarkan penjelasan mas Agus tentang berbagai macam proses terbentuknya batuan di dalam gua, saya tenggelam dalam eksotisme Gua Senen.

Dripstone..flowstone
Saya takjub dengan cara air membentuk bongkahan demi bongkahan batuan di dalam gua. Batuan tersebut terbentuk dari tiga cara -setidaknya itu yang saya tangkap dari penjelasan mas Agus- yakni melalui tetesan air (dripstone), aliran air (flowstone) dan genangan air (rimstone). Berhubung Gua Senen ini merupakan gua fosil yang tidak memiliki aliran sungai di bawahnya, maka agak sulit menemukan batuan rimstone. Meskipun begitu, saya cukup puaaaaaas dengan pemandangan dibawah sini. Lucunya maksimal ^^

Setelah hampir dua jam menelusuri Gua Senen yang panjangnya kurang lebih 250m ini, kami pun beranjak ke mulut gua untuk ascending. Bagian tersulit dari ascending menurut saya adalah bagian melepas croll. Teringat ketika saya nyaris 20 menitan menggantung di tali karena tidak bisa melepas croll sewaktu caving di Gua Jomblang beberapa bulan lalu ( cerita lengkapnya disini ). Beruntung, kali ini diatas sana mas Dedy sudah standby dan siap membantu saya melepas croll.

sesi Ascending
wak wek ngelepas croll -_-
Setelah cleaning lintasan beres, kami pun beranjak pulang ditemani matahari yang mulai kekuningan. Dari dulu, entah kenapa, saya selalu merasa kalau matahari di Jogjakarta itu terlihat lebih cantik.


Aah.. tapi selain sinar matahari yang kekuningan itu, ada begitu banyak hal yang patut disyukuri sore hari ini, lancarnya kegiatan caving dan keselamatan kami berempat menjadi beberapa hal dari sekian banyak hal yang patut disyukuri. Alhamdulillah :')


Thursday, September 25, 2014

Bahagia

Saya menatap wajah teman baik saya. Heran. Gak habis fikir. 
Saya adalah orang yang sedikit banyak tau seberapa besar perasaan yang dia simpan untuknya. "kamu beneran gak sedih?" tanya saya sambil memegang undangan pernikahan yang baru saja datang di meja kami berdua. "gak" jawabnya sambil tersenyum. 6 tahun berteman dekat dengannya membuat saya mampu mengenali bahwa tidak ada kebohongan tersembunyi di balik senyumnya. Tulus.
"dont you love him?" tembak saya langsung.
dia terdiam kemudian menjawab dengan tegas "i do love him. you know i am"
"trus? gak sedih dia nikah sama orang lain?' tembak saya langsung.
Sesaat dia terdiam, kemudian berkata "saya selalu berdoa semoga saya yang ditakdirkan dengannya, selain itu saya juga selalu berdoa agar dia selalu bahagia, sekarang dia bahagia kan? setidaknya satu dari dua doa saya sudah diijabah sama Alloh, tidak ada alasan untuk saya tidak bahagia kan?". Kembali senyum terhias di wajahnya. Kemudian saya pun termenung dan tersadar. Bahagia itu adalah milik orang yang berani melapangkan dadanya. Iya kan?



Tuesday, September 23, 2014

Sepenggal Hati Yang Tertinggal di Desa Purwodadi


Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah, saya merasa begitu dekat secara emosional dengan satu tempat yang saya kunjungi. Rasanya seperti baru kemarin saya masih bertanya-tanya akan melangkah kemana kaki saya di daerah Kabupaten Gunung Kidul ini, dan sekarang saya menemukan diri saya menangis di lorong stasiun kereta api karena ternyata saya sudah merindukan tempat itu bahkan sebelum saya menaiki kereta api yang akan membawa saya pulang ke Jakarta.


Padahal hanya sebuah desa. Desa yang saya berani jamin akan sulit untuk sekedar menemukan sikat gigi yang ujungnya bulat disana. Desa yang bahkan ketika musim panas tiba, rumput pun enggan tumbuh disana. Tapi desa itu memiliki sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang yang tinggal di kota besar. Sesuatu itu adalah rasa memiliki.

Iya. Rasa memiliki. Rasa yang mampu membuat kita melakukan hal-hal hebat meskipun tidak ada nominal yang bisa kita harapkan dari sana.

Saya masih ingat dengan jelas malam itu saya berkesempatan menyaksikan pagelaran tari topeng di salah satu dusun di desa ini. Tarian yang telah mati suri selama tiga puluh tahun karena alasan klise yang menyayat hati : tidak ada biaya. Iya. Set gamelan sebagai sarana tari topeng satu-satunya telah dijual puluhan tahun lalu oleh si empunya karena kebutuhan hidup. Kini, mereka sama-sama berjuang mengidupkan kembali tari ini agar kelak anak cucu mereka tidak buta dengan budayanya sendiri.

Di belakang panggung pagelaran malam itu, saya tenggelam dalam pemandangan yang mengharukan, bagaimana seorang bapak merias wajahnya sesuai lakon yang ia perankan dengan bedak murahan sambil sesekali tertawa bercanda, orang-orang yang bangga dengan aksesoris lakon yang mereka pakai kendati saya tau itu aksesoris sederhana yang mereka buat sendiri dari kertas dan kayu, sementara dari luar, suara set gamelan sewaan mulai berdenting memainkan alunan khas musik daerah jawa.

Iya. Malam itu mereka berjuang melawan keterbatasan materi demi langgengnya 'seni budaya' ; dua buah kata yang kadang tampak usang di mata sebagian orang namun tidak bagi mereka, sementara di kota besar ratusan remaja justru rela menghabiskan ratusan ribu rupiah demi selembar tiket konser Justin Bieber. Sebuah kenyataan pahit yang nyaris membuat saya menangis di tempat.

Mereka bersinar 
Malam itu, saya bukan hanya mendapatkan suguhan tari topeng yang luar biasa, saya belajar sekali lagi bahwa uang tidak selalu memegang peranan penting, tapi hati. Hati lah yang pada akhirnya menentukan seberapa penting peranan yang kamu mainkan.
Dan hati ini, sudah saya tinggalkan sepenggal bagian disana, di Desa Purwodadi, untuk belajar banyak hal luar biasa lainnya, dan suatu saat nanti, saya akan datang kesana lagi untuk mengambilnya.


*ditulis di dalam kereta Senja Utama, 230914

Regards,

Saturday, September 6, 2014

Backpacker Ketiga ke Pulau Harapan : dari snorkeling sampai budidaya mangrove!

satu kelompok, dua tukang pijit :D
"Seneng amat sih put bolak balik kesana?" komentar salah seorang teman saya begitu tau kalo saya check-in lagi di Pulau Harapan di salah satu social media. Saya cuma tertawa menjawab komentar tadi. Ini memang udah keempat kalinya saya backpackeran ke Pulau Harapan. Parahnya trip ini cuma berjarak tiga minggu dari trip sebelumnya *nyengir kuda*


Tempat boleh sama tapi cerita tentu saja berbeda, apalagi karena kali ini saya tidak sendirian. Ber-sepuluh! Kombinasi unik antara Tika yang pendiem -travelmate yang dulu pernah Backpackeran ke Jogjakarta bareng saya-, Sonya -temen jaman kuliahan- dan sepupunya yang selalu heboh nyari batu es selama di pulau, Topik -travelmate yang kebetulan pernah ketemu di Pulau Harapan- yang jadi guru nyelem dadakan, Dista dan Vita yang unyu, Surya yang nerima jasa mainin candycrush, plus Acil -temen satu gank-nya abang saya- yang hobinya menistakan kita semua lewat foto-foto candidnya. Bareng mereka, perjalanan kali ini menjadi trip edisi ngakak :D

Menu utama perjalanan tetap pada sesi snorkeling dan hopping island. Snorkeling berlangsung di Pulau Melintang dan Pulau Macan. Paling lucu emang pas snorkeling di Pulau Macan. Bukan terumbunya tapi lebih kepada penduduk lokal di dalam laut yang banyak dan hilir mudik kesana kemari.

penduduk lokal yang imut di spot snorkeling Pulau Macan
meskipun bukan penduduk lokal, yang ini gak kalah imut kok (^_<)
Hopping islandnya pun masih sama, kebetulan mampir lagi di Pulau Dolphin dan Pulau Bulat. Kalau trip sebelum ini, saya ke Pulau Dolphin untuk main pasirnya yang putih, kali ini saya belajar bottom up alias menyelam sama si Topik, manusia yang satu ini lumayan jago nyelem2 dengan kepala di bawah dan kaki diatas. Saya yang mupeng pingin bisa kayak gitu akhirnya diajarin gimana cara untuk tidak terapung di dalam laut. Its kinda weird and hard to do karena selama ini saya mati-matian belajar gimana caranya untuk tidak tenggelam di laut :D

saya-nya sampe dilelepin gitu (-__-')
Oiya biar lebih afdol, saya kasih gambaran gimana kerennya Pulau Dolphin yang biasa dijadiin spot camping bagi para pendaki yang bosan camping di hutan. Kombinasi airnya yang seolah tembus pandang plus pasir putihnya bakalan bikin kalian gak percaya kalo tempat ini masih bagian dari Jakarta yang terkenal semrawut itu.

jangan perdulikan saya dan guru nyelem saya -Topik
perhatikan aja airnya yang biru dan pasirnya yang putih :D
saya masih di Jakarta lho ini ^^
Lumayan lama kami menghabiskan waktu di Pulau Dolphin ini. Lucu sih tempatnya. Baru agak sore-an sedikit kami melipir ke Pulau Bulat. Intinya sih mau liat sunset, tapi saya -bareng Topik- melanjutkan sesi bottom up tadi sementara sisanya berkeliling di Pulau Bulat. Setelah hampir setengah jam, entah antara kesian ngeliat saya yang berapa kali keselek air laut atau memang karena saya ada kemajuan akhirnya guru nyelem saya yang satu itu bilang "itu lu udah hampir bisa tadi". Bahagiaaa -campur norak sedikit haha..

sunset di Pulau Bulat
Malam harinya, saya yang biasanya males kemana-mana karena badan udah encok pegel linu abis snorkelingan, tumben-tumbenan jalan-jalan ke dermaga Pulau Harapan. Penyebabnya gak lain dan gak bukan adalah karena sate cumi yang dijual gak jauh dari dermaga Pulau Harapan. Sate cumi ini dijual dengan harga 10ribu untuk 3 tusuknya. Cuminya itu disiram saus kacang gitu. Cuminya empuuuuuk banget. Strongly recommended bagi kalian yang gila sama seafood.

sumpah demi apapun juga.. ini enak!
Lagi keliling-keliling Taman Terpadu -sejenis tempat nongkrongnya anak pulau Harapan- bareng Acil, saya ketemu sama penduduk lokal yang lagi duduk di depan laptop di sebuah warung kopi. Kemudian *tring* timbul lah ide untuk numpang nge-copy foto-foto tadi siang dari kamera saya ke kamera Acil dan sebaliknya. "udah gampang ntar kita beliin aja abangnya kopi" jawab Acil begitu ngeliat ekspresi saya yang kira-kira bermaksud gini : "bayar gak nih?". Setelah hampir 1GB data yang kami pindahkan selesai, sambil basa-basi saya bertanya ke mas-nya yang punya laptop. "jadi berapa ya mas?". Ekspektasi kita adalah "gak usah mbak.. gak usah repot-repot" tapi kenyataannya adalah : "20ribu mbak" yang diucapkan dengan tegas tanpa tedeng aling-aling. Wkwkwk.. Yah at least kalian jadi tau ada seorang mas-mas di Pulau Harapan yang membuka jasa memindahkan foto. :D

Keesokan paginya, ada hal baru dan seru yang kami lakukan : mengunjungi penangkaran penyu sisik dan menanam Mangrove di Pulau Kelapa! Udah tau kan ya kalau pulau Harapan ini jadi satu sama Pulau Kelapa? Nah tapi tempat penangkaran penyu sisik dan sesi menanam bakaunya ada di Pulau Kelapa dua yang terletak agak di sebrang dengan jarak tempuh 10 menit dari Pulau Kelapa Satu which is kita harus naik ojek perahu dengan tarif 2rb rupiah sekali naik. 

Di dalem ojek perahu ^^
Penangkaran penyu sisik ini adalah salah satu upaya untuk menjaga keseimbangan penduduk lokal di dalam laut. Jadi disini penyu balita dipelihara dan dirawat dengan baik sampai akil baligh untuk dilepas lagi di lautan. Tiket masuk penangkaran penyu ini murah meriah. 2rb rupiah saja.


kalau udah baligh jangan jadi penyu alay yaa *kecup*
Lagi seru-serunya ngeliatin penyu-penyu balita ini berenang kesana kemari, bapak penjaga konservasi ini menawarkan apakah kami mau menyumbang dengan membeli bibit Mangrove dan menanamnya di sekitar tepi Pulau Kelapa Dua. Tentu saja mau! kemudian kami pun membeli 50 bibit mangrove seharga 50rb rupiah dan menanamnya beramai-ramai. Mangrove memang memegang peranan penting di daerah kepulauan sebagai pemecah gelombang laut sekaligus tempat hidup beberapa biota laut seperti kepiting dan ikan-ikan kecil.

anak-anak kami :")
mari menanam Mangrove
Sebelum pulang, sempet juga mampir di budidaya terumbu karang yang terletak tidak jauh dari tempat penangkaran penyu sisik. Terumbu karang yang terdapat disini masih kecil dan unyu-unyu. Terumbu karang itu memang cantik tapi sangat rapuh makanya kita sebenernya gak boleh sembarangan pegang-pegang apalagi sampai menginjaknya ketika snorkeling.


Setelah itu.. trip ini pun berakhir dengan serunya. What a hilarious trip! 


Jam 11 siang, mesin kapal Raja Mas yang bersandar di dermaga Pulau Harapan sejak pagi tadi akhirnya berderu dan membawa kami pulang. Bener juga kata pepatah.. bukan pemandangannya, bukan juga suasananya. tapi siapa yang bersama kalian dalam perjalanan-lah yang membuat sebuah perjalanan sangat berharga.  I guess i am damn lucky to trip with you guys :')




*ps
postingan ini untuk kalian : Tika, Sonya, kakak Imel, kakak Ika, Topik, Dista, Vita, Surya dan Acil. Kangen lah sama kalian :-*

Cinta dan Bis Kota

Saya pernah sekali menonton sebuah drama komedi. Katanya.. cinta itu seperti menunggu bis kota. Kadang bus yang datang bukanlah bus yang kita tunggu-tunggu. Namun ketika bus yang kita tunggu datang, selalu ada saja halangan untuk menaikinya atau bahkan tak ada tempat yang tersisa lagi didalamnya untuk kita masuki.


Saya pernah menunggu sebuah bis. Berdiri di tepi halte untuk waktu yang cukup lama. Berharap ia datang dan saya bisa duduk didalamnya. Berkali-kali bis lain lewat di depan saya, tapi yang saya tunggu tidak pernah datang. Lucu. Karena saya, pada akhirnya, menyadari bis yang saya tunggu telah mengambil rute yang lain dan mungkin tidak akan pernah melewati halte dimana saya berdiri menunggunya. Saya pun beranjak pergi dan menyusuri jalan pulang. Mungkin lain kali sebaiknya saya menggunakan kereta api saja :D


Thursday, September 4, 2014

Backpacker Pulau Harapan (Lagi) : Mancing, Snorkeling, dan Tragedi Kamera Underwater!

Postingan ini masuk kedalam kategori latepost sebenernya. Meski telat tapi tetep saya semangat nulis ini karena liburan kemarin melibatkan orang-orang yang unik dan ajaib di satu pulau di Utaranya Jakarta, Pulau Harapan, Kepulauan Seribu

siapa yang gak kangen ngeliat beginiaaaaaaan??
Saya gak ngerti kenapa saya suka banget dateng kesini, yap Pulau Harapan. Diantara banyak Pulau di Kepulauan Seribu, saya paling suka pulau ini. Mungkin karena banyak pulau kecil di sekelilingnya, mungkin karena saya mulai jatuh cinta dengan wisata laut, mungkin karena terumbu karangnya masih lucu-lucu, mungkin juga karena di pulau ini saya kenal dengan Pak Salim-bapak paruh baya yang pernah menolong saya yang tersesat dua tahun lalu- yang jelas saya selalu ingin kembali kesini. Seperti liburan lebaran tahun ini , saya memutuskan untuk mengunjungi Pak Salim, silaturahmi sekaligus liburan singkat disini. Keberadaan beliau yang saya kenal cukup baik membuat saya tidak merasa cemas meskipun kali ini saya ber-solo backpacking-ria.


Seperti biasa, perjalanan ke Pulau Harapan selalu dimulai dari dermaga nelayan Muara Angke. Oiya.. sekedar informasi, sekarang di Muara Angke ada tiga kapal kayu yang melayani rute Muara Angke - Pulau Harapan yaitu Kapal Harapan Ekspress, Raja Mas dan Miles, dengan waktu keberangkatan yang sama yaitu pukul 07.00WIB. Ketiga kapal ini juga memiliki tarif yang sama, 40rb rupiah.

Mengingat jarak tempuh dari Muara Angke - Pulau Harapan paling lama dibanding pulau yang lain, yakni 3 jam maka begitu memasuki kapal Raja Mas, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari tempat untuk duduk yang nyaman.  Ketika Kapal mendarat di dermaga Pulau Harapan, pemandangan yang terlihat adalah puluhan ( atau bahkan sampai ratusan ya?) berjubel di dermaga. Campuran antara pengunjung yang baru datang seperti saya atau mereka yang sebelumnya sudah menghabiskan liburan disini dan berniat pulang.

Suasana hiruk pikuk tidak membuat saya kesulitan untuk menemukan Pak Salim. Masih dengan peci putihnya yang khas, Pak Salim duduk di posko kesehatan Lebaran- yang sengaja disiapkan oleh Dinas Kesehatan setempat untuk mengantisipasi kemungkinan pengunjung yang sakit- yang terletak tidak jauh dari dermaga Pulau Harapan. 

Setelah ngobrol-ngobrol singkat dengan Pak Salim, acara selanjutnya adalah celngak-celinguk nyari temen barengan. Di sesi solo backpacking, terutama dengan destinasi kepulauan, sangat penting untuk nyari teman sekelompok yang nantinya bisa diajak sharecost, mengingat tingginya biaya sewa kapal untuk hoping island seandainya cuma dibebankan ke satu orang.

Kemudian takdir membawa saya bertemu dengan satu kelompok dari Bekasi *yang di menit-menit kemudian ternyata cukup absurd kelakukannya haha* Bareng mereka, saya hoping island ke beberapa spot di sekitar pulau Harapan. Spot yang kami kunjungi adalah Kayu Angin, Bira, Gosong Perak dan Pulau Bulat.

can you hear the ocean's calling?
Yes we caaaaaaan hear that!
Kayu Angin menjadi spot pertama sekaligus spot terjadinya tragedi kamera underwater. Setelah beberapa menit kami snorkeling, seperti biasa wajib hukumnya untuk jeprat jepret foto. Udah lama juga rasanya gak difoto dari atas kapal dengan snorkel gear yang lengkap terpakai. Lucu juga kayaknya gitu. Saya pun naik ke atas perahu - sementara teman-teman yang lain masih di dalam air - kemudian menyodorkan kamera ke guide yang menemani kami dan berkata dengan perintah yang saya rasa cukup jelas "mas boleh minta tolong gak mas.. fotoin kita dong". 

Setelah itu, saya langsung menceburkan diri di laut dengan niat mau ambil posisi. Begitu balik badan dan mendongak ke atas perahu kayu yang kami sewa.. "lho kok mas guidenya gak ada?" Perasaan udah gak enak itu disitu. Bener aja, begitu menoleh ke samping, si guide udah ada di dalem air, sibuk nyari angle buat memfoto terumbu karang dengan kamera saya yang sepenuhnya masuk ke air. Eng ing eng.. siapaaaaa yang minta tolong buat motoin terumbu karang? siapaaaaaaaa (>,<). Saya pun langsung tepok jidat dan berkata dengan pasrah "mas.. itu kamera saya bukan kamera underwater lho" Kebayang dong ekspresi apa yang nampak di muka saya waktu itu. Kaget campur nelangsa. 


Beberapa menit setelah tragedi kamera underwater
*lumayan.. dapet juga pose begini.. makasih ajeng kameranya huhu*
Sempet badmood gegara tragedi kamera underwater tadi, cuma begitu kapal kayu yang kami naiki mendekat ke Gosong Perak, si bad-mood hilang dan tergantikan oleh takjub-mood. Gimana gak takjub, ditengah laut begitu, bisa ada secuil daratan berpasir putih yang.. spektakuler cakepnya. Gak bakalan percaya kan kalo pemandangan kayak gini ada di Provinsi DKI Jakarta??


Gosong Perak yang spektakuler!
Selain ketolong sama pemandangan si Gosong Perak, hal lain yang bikin mood liburan dateng lagi adalah kelakuan absurd enam orang yang jalan bareng saya. Mereka ini selalu punya pose berfoto ajaib yang somehow.. menghidupkan suasana haha. 




Salah satu kelakuan si Tama - raja absurd di kelompok ini -
absurd kan? apa saya bilang :D
Daaaaan satu hal yang pasti adalah dari mereka saya jadi tau pentingnya tongsis haha.. karena mereka tau banget gimana maksimalin tongsis buat we-fie! dan we-fie bareng mereka itu.. serunya parah!

Cobaaaaa yhaa.. segala di pohon aja tetep we-fie ^^

Gak seperti trip sebelumnya dimana sunset dinikmati di atas perahu dalam perjalanan pulang ke Pulau Harapan, sunset kali ini kami nikmati di pulau Bulat. Pulau Bulat ini rupanya jadi spot banyak orang untuk mengabadikan sunset, terlihat dari ramainya orang yang bertebaran di sisi barat pulau ini. Sunsetnya overall lumayan lucu.. meskipun langitnya agak berawan.

Sunset di Pulau Bulat
Bulatan merah si raja panas yang perlahan tenggelam menandakan berakhirnya hoping island hari ini. Kapal kayu pun membawa kami kembali ke Pulau Harapan tepat sebelum adzan magrib berkumandang. Sementara saya masih dalam kegalauan memilih untuk pulang besok bareng anak-anak ajaib ini atau extended sampai lusa.

Keputusan di awal untuk hanya menghabiskan satu malam di Pulau ini berubah drastis ketika si kokoh - jadi ceritanya saya satu homestay dengan kokoh keturunan tionghoa yang lagi ngebawa karyawannya berlibur - dengan logat tionghoanya berkata " putri besok jangan pulang dulu yaa.. temani Lissa ( sepupunya kokoh yang notabene perempuan sendiri di rombongan ini ), nanti kita mancing di sekitar pulau kecil disini". Demi mendengar kata "mancing" saya jadi semangat luar biasa, carier 20L yang sudah saya packing rapih dengan niatan mau pulang besok akhirnya saya bongkar lagi haha.

Keesokan paginya, setelah berkirim pesan dan say tengkyu and gudbay ke Ajeng dkk, saya dan empat belas orang rombongan kokoh menaiki perahu kayu, beranjak dari Pulau Harapan ke Pulau Macan. Di Pulau Macan, sebagian dari kami ber-snorkeling ria sementara sebagian lain mancing mania. Spot snorkeling di Pulau Macan ini meskipun terumbu karangnya tidak terlalu banyak namun ikan warna-warninya wara-wiri kesana kemari. Jadinya seneng bangeeeet snorkeling dimari.

ceritanya seneng *udah lupa sama tragedi kamera kemaren*
there it is.. si kokoh yg baik hati dan tidak sombong
Puas main-main sama ikan kecil warna-warni, rombongan kami beranjak ke spot mancing di sekitar Pulau Bulat. Disinilah pertama kalinya saya nyobain yang namanya mancing. Saya dipinjami joran oleh babe - panggilan salah satu karyawannya kokoh - Kemudian diajari cara memasang umpan, cara melempar dan menggulung benang pancing. Awalnya ngantuk parah karena hampir setengah jam umpan saya gak laku di bawah sana. Sambil sesekali menguap, saya mulai heran kenapa banyak orang yang kecanduan dengan kegiatan mancing mania ini.

"neng itu dapet tuh ikan, coba deh gulung benangnya" seru babe setengah teriak, dengan semangat saya gulung joran saya, berat memang, "wah dapet ni dapet" jerit saya kegirangan. Bahagia campur norak. Benar saja satu ikan jenis Kurisi memakan umpan yang saya pasang! Yeayy..


Setelah tangkapan pertama, saya mencoba alat pancingan tradisional yang dibawa oleh guide kami. Alat ini simpel, cuma terdiri dari benang pancing yang digulung di sebuah kayu, pemberatnya berupa besi berwarna hitam dan dilengkapi beberapa mata kail.


Karena bentuknya yang cuma benang tanpa ada perantara kayu seperti joran, alat ini membuat si pemancing lebih sensitif, lebih terasa ketika ada ikan yang memakan kailnya. Buktinya adalah saya sukses menggaet tangkapan kedua dan tangkapan seterusnya dengan alat ini.

Tangkapan kedua saya ^^
*diasisteni oleh babe (baju kuning )*
Tangkapan saya yang ketiga dan seterusnya
*meuni excited pisaaaaaaan*
Ternyata setelah tangkapan ketiga dan seterusnya itu.. saya baru sadar kenapa orang banyak yang keranjingan mancing. Saya aja tadinya gak mau diajak udahan haha.. rasanya itu kayak campuran antara seneng, puas dan norak ketika ada ikan yang lagi apes makan umpan yang kita pasang.

Sebelum pulang, kami sempet main di Pulau Dolphin. Pulau kecil tak berpenghuni dengan pasir putih ini sekilas mirip-mirip Pulau Perak, tapi mungkin lebih kecil kali ya. Disini kerjaan kami adalaaaaah main pasir :D

Me and Lissa ^^
Kelakuan kita ya begini ini :D
Hari kedua ini, kami tidak sampai menyaksikan sunset. Pukul 4 sore setelah puas main di Pulau Dolphin, kami kembali ke Pulau Harapan untuk bakar ikan hasil tangkapan kami hari ini. Petang itu, kami habiskan dengan beberapa piring ikan bakar, 2 jam sesi film godzilla dan hollow man serta permainan memori dengan menggunakan kartu remi.  

Kurisi.. yang sabar yaa.. nasibmu nak..
Keesokan harinya, kapal Raja Mas membawa rombongan kami kembali ke Dermaga Muara Angke. Berasa udah kayak punya keluarga baru. Jadi rada sedih pas melambaikan tangan dan berkata "kapan-kapan main bareng lagi yhaa". I really love making lot of friends during a trip.  :")

Anyway.. sebelum postingan tentang 3 hari 2 malam di Pulau harapan ini saya tutup, saya mau ngasih liat penampakan kamera saya setelah tragedi kamera underwater yang tadi saya ceritain : mati total dengan posisi lensa yang gak bisa ketutup. Udah dibawa ke service center tapi dokternya angkat tangan, nyerah. Mungkin udah sampe situ umurnya. Beristirahatlah dengan tenang nikon.. semoga saya bisa segera mencari penggantimu *peluk haru si nikon*


regards,


*Ps
postingan ini ditulis untuk kalian berenam : Ajeng, Lia, Munif, Deni, Norman dan Tama. Thanks for making my day and kiss away my sorrow :)
juga untuk setiap orang di rombongannya Kokoh dan Lissa, makasih private mancingnyaaa ^^

untuk budgetting alias harga2 disana.. please kindly check postingan saya tentang trip sebelumnya ke Pulau Harapan disini

Ingat.. jangan buang sampah kelaut, jangan menginjak, menyentuh atau mengambil terumbu karang. Liburan boleh tapi kalo ujung-ujungnya ngerusak mending di rumah aja nonton kangen band sana :D

Thursday, August 28, 2014

Obrolan tentang Cita-cita

Malem ini saya mau ngobrolin soal cita-cita.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, cita- cita berarti keinginan atau kehendak yang selalu ada di pikiran. Kalo ngeliat dari definisi ini, cita-cita bisa diartikan menjadi banyak hal.. bisa jadi keinginan untuk pergi ke suatu tempat, keinginan membeli satu barang dan lainnya, tapi entah kenapa kita secara sempit mempersepsikan cita-cita sebagai profesi apa yang kelak kita ingin jalani.

Bicara tentang cita-cita, saya adalah orang yang termasuk galau dalam hal cita-cita. Waktu kecil kalo ditanya apa cita-citanya, saya dengan mainstreamnya menjawab "dokter" tanpa menyadari kapasitas otak saya yang di kemudian hari menjadi sangat undoctorable hahaha.. Setelah itu agak besaran dikit berubah jadi pramugari. Gak bertahan lama, cita-cita ini berubah dan menetap menjadi jurnalis atau penulis. Iya jurnalis. Bermula dari menulis-nulis cerita yang terjadi di sekitar kehidupan semasa sekolah, saya bermimpi suatu hari nanti saya bisa menjadi jurnalis yang bisa berbagi dan menceritakan tentang banyak hal kepada banyak orang. Pasti rasanya menyenangkan bisa menjadi mata, mulut dan telinga bagi orang lain. Sukur-sukur bisa bawa inspirasi ke banyak orang.

udah dapet belum gayanya? haha
Tapi terkadang, apa yang kita inginkan belum tentu kita dapatkan. Cita-cita yang bagi kita terlihat seru, menyenangkan dan membuat kita begitu hidup, bagi orang lain, bisa saja terlihat wasting time dan tidak menjanjikan untuk masa depan. Makanya sejak saat itu, saya mulai (terpaksa) hidup di dalam mimpi orang lain, bukan mimpi saya sendiri. Berusaha mewujudkan mimpi orang lain bukan mimpi saya sendiri. Isn't it pathetic? 

Bahkan cyber space pun tau (T_T)

Buat kalian yang masih muda-muda, biar gak senasib sepenganggungan, ada sedikit saran yang bisa diterapin. Pertama, Dig in your self! Gali sebenernya kalian tertarik di bidang apa. Serius deh.. Gak ada yang lebih nyenengin dari menjalani kesukaan kita terus dibayar! Gak cuma dokter, pilot atau insinyur aja yang punya masa depan. Suka gambar, suka masak, suka olahraga, ternak ayam, ternak lele? semua bisa jadi masa depan! 

Kedua, buat analisa peluang, dari kesukaan kalian itu, ada peluang apa aja yang bisa dicapai.. print out segede gaban! Tunjukin sama orang yang mencibir kalian, tunjukin ke mereka yang bilang kalau cita-cita kalian tidak menjanjikan masa depan yang cerah, tunjukin bahwa yang namanya masa depan yang cerah bisa digapai dari banyak jalan dan.. Ingat! masa depan yang cerah gak akan didapat dari menjalani mimpi orang lain. Trust me.. i have been through this.. *curcol*

Ketiga, Mulai berjalan, merangkak atau merayap.. tapi pastikan kalian gak berhenti di jalan yang udah kalian pilih. Jungkir balik gak masalah asalkan di jalan sendiri. Kebayang gak kalo jungkir baliknya di atas jalan yang dipilihkan oleh orang lain? *curcol lagi*

Keempat, prove them wrong! Tunjukin hasil jerih payah kalian. Gak usah perdulikan orang lain yang mencibir dan berkata "segitu aja udah bangga" karena jauh di dasar hati kita, orang pertama yang ingin kita buat bangga adalah diri sendiri. Setidaknya kita berhasil mencapai cita-cita sendiri kaan?

Eniwei, buat semua orang yang punya cita-cita :
just put some trust in your self.
they are always tell that you cant
but prove them wrong..
because you know you can!

Goodluck ***


your writer-wanna be,