Sunday, September 28, 2014

Menemukan Potongan Surga yang Tercecer di Goa Gebyok

"On earth there is no heaven, 
but there are pieces of it" Jules Renard

Mulut Gua Gebyok di capture dari dalam

"seriuuuuuuus mau ke Gebyok???" tanya mas Agus dengan ekspresi mukanya yang membangkitkan naluri saya untuk menyambit. Ini adalah pertanyaan ke 1.349 kali-nya yang dilontarkan ke saya sejak kemarin malam. "6 jam lhooooooo nyusurin guanya" sambung Mas Agus -masih dengan ekspresi mukanya yang penuh dengan bully-an. Dipertanyakan seperti itu justru makin membuat saya penasaran dengan si Gua Gebyok, gua yang tidak sengaja saya temukan ketika berselancar di dunia maya ini memang membutuhkan waktu penelusuran yang menembus angka 6 jam karena medannya yang sulit dan ekstrim. 

Entah karena saya-nya yang keras kepala atau entah karena mereka kasian melihat muka saya yang memelas, akhirnya siang itu, teman-teman dari Katamata Adventure bersedia mengantar saya ke Gua Gebyok. Yeayy \(^-^)/. Rasanya baru saja saya duduk di atas motor yang melaju meninggalkan Pantai Siung yang menjadi basecamp kami, tiba-tiba motor berhenti di tepi jalan yang dihiasi pepohonan jati. "dari sini jalan kaki ya, agak jauh lho ke dalamnya" pungkas mas Agus seolah bisa menduga pertanyaan apa yang terlintas di kepala saya. 

Ladang penduduk dan kandang sapi menjadi hiasan langkah-langkah kaki kami berempat ketika menyusuri jalan kecil menuju mulut Gua Gebyok. Setelah kurang lebih berjalan sejauh 1 kilometer, kami tiba di depan mulut Gua Gebyok. Pintu masuknya yang tergolong semi vertikal dengan ketinggian kurang lebih 3 meter membuat kami harus rappeling dengan bantuan webbing dan figure eight  

The entrance is welcoming us ^^
Sesi Rappeling pertama
Gua Gebyok sendiri memang merupakan gua multi pitch yang memiliki beberapa vertical section mulai dari ketinggian 3 meter sampai 20 meter yang mengharuskan siapapun yang ingin menelusuri gua ini, untuk memakai dan membawa standart safety caving equipment.

Suasana dingin dan lembab menjadi pertanda bahwa kami sudah beranjak masuk lebih dalam ke perut gua. Pada pitch kedua yang tingginya kurang lebih 7 meter, entah kenapa, adrenalin mengalir tidak beraturan di dalam darah. Ritme jantung yang naik membuat saya kikuk ketika rappeling. Hasilnya adalah webbing yang seharusnya menjadi alat bantu turun menjadi tersimpul dan macet. Eng ing eng.. untungnya selain jago nge-bully saya, ketiga pria ajaib ini ternyata juga jago mengatasi permasalahan teknis semacam ini *nyengir*

Semakin turun ke bawah, pemandangan yang terlihat semakin lucuuu. Serius. Sumpah demi apapun juga.. Gua Gebyok ini 1.450 kali lebih cantik dari mall manapun di dunia ini! Paduan antara sinar headlamp yang merupakan sumber cahaya satu-satunya, suara gemericik aliran air dan ornamen gua menjadi pemandangan yang tidak pernah membosankan.


Gua Gebyok juga merupakan salah satu gua yang sistem sungai bawah tanahnya masih aktif. Makanya ornamen yang terbentuk lumayan komplit, sebut saja flowstone, dripstone, sodastraw, gourdam, batuan mutiara ( pearl ) dan batuan lainnya.

ini dia rimstone.. batuan yang terbentuk karena genangan air
batuannya berkilauan gituuuu
Selain itu, uniknya, di Gua Gebyok ini kita bisa melihat sisa-sisa aktivitas gunung api purba yang terlihat dari banyaknya batuan andesit yang terdapat didalam gua. Batuan andesit adalah sejenis batuan beku vulkanik yang terbentuk akibat pembekuan lava yang keluar dari perut bumi. Secara otomatis saya langsung membayangkan bahwa ribuan tahun lalu, di tempat dimana kaki saya berpijak saat ini, pernah mengalir lava panas. Wow.. just wow!

Batuan Andesit
Setelah beberapa saat berjalan menyusuri gua, kami bertemu lagi dengan pitch selanjutnya. Pitch kali ini kelihatan lebih vertikal dibanding pitch-pitch sebelumnya dengan ketinggian kurang lebih 8 meter. Lubangnya yang gelap gulita seolah tak memiliki ujung. Sinar headlamp mas Dedy yang lebih dulu turun sedikit banyak membuat saya lega karena lubang kecil ini ternyata memiliki dasar *pfuhh.

membuat lintasan di depan mulut pitch yang saking gelapnya seolah tidak memiliki dasar -_-
lubangnya ternyata memiliki dasar haha
Hiburan lain dari sesi penelusuran ini adalah kesempatan menjumpai beberapa spesies gua. Sebut saja udang gua, kepiting gua, milipede ( sejenis kaki seribu yang ukurannya super mini ), amblyfigi ( ordo dari jenis laba-laba gua), kelelawar dan ikan yang nampak seperti belut.

amblyphigi.. ordo dari laba-laba. lucu yaa?
Biota gua memang unik, terlebih yang masuk ke dalam golongan troglobite atau spesies yang memang murni hidup didalam gua dan tidak akan ditemukan di luar gua. Mereka hampir seluruhnya buta -hey,, penglihatan tidak diperlukan di kondisi zona gelap abadi bukan?- dan untuk itu mereka dianugerahi sense of smell and touch yang ruaar biasa. Contohnya udang gua ini, sungutnya yang jauh lebih panjang dari udang biasa berfungsi sebagai sensor yang menggantikan penglihatannya.


Berjalan lebih jauh kedalam, akhirnya kami tiba di pitch kelima yang sekaligus menjadi pitch tertinggi dengan perkiraan ketinggian mencapai 20 meter. Sebelum turun, kami memutuskan untuk beristirahat, sekedar mengganjal perut dengan beberapa cemilan yang kami bawa sekaligus mencoba mematikan headlamp kami hanya untuk sekedar mencicipi berada di dalam zona gelap abadi -dan ternyata beneran gelap gulita sodara-sodara!

muka tenang.. padahaaaaaaaaaaaaaaaaaal  jantung..
Cleaning Lintasan
ketiga pria ajaib ini sibuk packing sementara saya sibuk dokumentasi hihi
Setelah pitch terakhir ini, track mulai amburadul. Mulut gua yang kadang tinggi kadang menyempit membuat kami harus mempraktekkan segala metode berjalan: berjalan merunduk, berjalan jongkok, berjalan merayap sampai berenang-renang ria. 

Semua metode dipraktekin.. wes yang penting bisa maju :D
Pepatah lama yang mengatakan bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian ternyata memang terbukti karena apa yang saya lihat setelah "latihan kopasus" barusan adalah pemandangan luar biasa dimana sungai bawah tanah yang airnya jernih luar biasa mengalir dan berkumpul di bawah sebuah jeram yang menyerupai miniatur air terjun. 

Seketika merinding mengingat sebuah ayat suci Al-Quran :

"Allah telah menyediakan bagi mereka
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar" (QS. 9:89)


Inikah surga dunia? masya alloh seindah ini.. 
bagaimana indahnya surga akhirat nanti ya Rabb? :')
cuma bisa bengong. takjub!
senyum pertama setelah speechles beberapa saat
Selepas pemandangan spektakuler barusan, jalur didominasi oleh aliran sungai bawah tanah dan harus diakui bahwa bagian yang paling mendebarkan adalah melewati tumpukan sodastraw yang berjarak hanya sekian sentimeter dari helm. Takut gak sengaja merusak mereka!


Setelah hampir 5 jam kami menelusuri gua Gebyok ini, tibalah kami di depan lorong berdiameter kira-kira 60cm. Iya. Benar. Lorong ini adalah satu-satunya jalan yang nantinya akan menuju mulut Gua Cekelan sebagai pintu keluar. Oleh karena itu, salah satu syarat menelusuri Gua Gebyok ini adalah tidak berbadan gemuk. Berhubung saya mewarisi "gen kurus selalu" maka diameter segitu masih bisa saya lewati.

Tuh.. muat kan? *kibas poni*
Alih-alih cemas, saya malah paling senang di bagian ini karena cuma ditempat ini saya bisa gantian mem-bully mas Agus yang postur tubuhnya paling gemuk di antara kami berempat. Saya tidak habis-habisnya tertawa melihat mas Agus merayap dengan perutnya yang hamil 6 bulan itu hahaha :D

awas masnya.. perutnya nyangkut nanti :D
Tidak berapa lama setelah melewati lorong sempit tadi, sisa-sisa sinar matahari hari itu tampak dari kejauhan menerobos ke dalam mulut Gua Cekelan. Rasa antusias mulai terkikis oleh susunan batuan yang menanjak naik ke atas. Agak sedikit takut karena saya sendiri kurang yakin dengan batuan yang saya pijak. Adakah ia batuan yang masih kokoh ataukah sebaliknya, batuan tua yang lapuk?

akhirnyaa.. sinar matahari kapten!
Rasa syukur menyelinap di hati ketika kami berempat keluar dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun setelah hampir 5 jam berada di rongga-rongga bawah tanah. Perkebunan tandus penduduk pun menyambut kami yang nampak dekil, kumel, lepek namun tetap kece. Kami pun melangkah pulang ke basecamp kami di Pantai Siung dengan pikiran masing-masing. Sempat menganalisa.. ah paling banter pikiran kami berempat sama : masakan bude Idho, mandi dan hammock haha..




Ps:
tulisan ini didedikasikan untuk kaliaaaan bertiga : my adventure bullies *eh* buddies
Mas Agus, Mas Wasesa dan Mas Dedy, sebuah kehormatan bisa caving dengan tiga pria ajaib seperti kalian *nyengir*

Saturday, September 27, 2014

Tenggelam Dalam Eksotisme Gua Senen


Siang itu, matahari sudah agak condong ke barat ketika saya dan tiga orang teman dari Katamata Adventure tiba di mulut Gua Senen. Gua Senen merupakan salah satu dari ratusan gua di Kabupaten Gunung Kidul yang dibuka sebagai objek wisata minat khusus. Gua yang termasuk kedalam jejeran gua vertikal ini berada di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus dan terletak tidak jauh dari Pantai Siung. 

Untuk menuju ke mulut gua, kami harus menyusuri jalan setapak yang berada di tengah perkebunan penduduk. Beberapa kali kami sempat menyapa penduduk yang kebetulan sedang mengurus ladang mereka yang kebanyakan ditanami kacang-kacangan dan jagung sebagai tanaman yang biasa mereka tanam ketika musim panas seperti sekarang ini.

Setelah berjalan sekitar 10 menit dari tepi jalan dimana kami memarkir motor, kami tiba juga di lereng dimana mulut gua senen menganga dengan cantiknya. Berdasarkan keterangan dari mas Agus yang kebetulan udah caving dari sejak lahir sering caving kesini, dahulu mulut gua ini tertutup oleh tanaman rambat sehingga sinar matahari tidak pernah masuk ke dalam area gua yang terletak 8 meter di bawah mulut gua ini. Saking gelapnya, masih banyak kelelawar yang tinggal di dalam gua. Namun seiring bertambahnya wisatawan yang datang ke gua ini, warga berinisiatif untuk membersihkan tanaman rambat tersebut. Baik sih niatnyaa.. tapi saya rasa pasti bakalan lebih eksotik lagi kalau begitu disibak tanaman rambatnya, kelelawar terbang keluar dari dalam gua. Kayak di film-film gitu. Haha

The Entrance 
Seperti gua vertical lainnya, untuk memasuki Gua Senen ini pun memerlukan teknik SRT ( Single Rope Technique ) dengan rigging yang dibuat di lubang batuan yang terletak hanya sekian sentimeter di bagian atas mulut gua. Kali ini yang bertugas sebagai rigging man adalah mas Wasesa dibantu oleh mas Dedy sementara mas Agus sibuk menjawab pertanyaan "kenaaaaapa" dari saya haha..


Sambil memperhatikan mas Wasesa membuat lintasan, saya berusaha mengingat cara descending terutama cara mengawinkan tali charmantel dengan descender autostop yang dulu pernah diajarkan oleh beberapa teman saya di Makupella Akademi Teknik Kulit Jogjakarta.

Setelah mencoba sendiri plus di bantu oleh mas Agus dan mas Dedy, akhirnyaaaa descending saya berjalan lancar. Alhamdulillah. Saya pun meluncur turun menyusul mas Wasesa yang sudah terlebih dahulu turun dan menunggu di bawah.

agak wak-wek tapi its oke lah haha
Begitu memasuki ruangan gua, hawa lembab mulai terasa. Beberapa kali saya harus mengelap kacamata yang mulai berembun di sela-sela decak kagum saya melihat interior di dalam Gua Senen ini. Sambil mendengarkan penjelasan mas Agus tentang berbagai macam proses terbentuknya batuan di dalam gua, saya tenggelam dalam eksotisme Gua Senen.

Dripstone..flowstone
Saya takjub dengan cara air membentuk bongkahan demi bongkahan batuan di dalam gua. Batuan tersebut terbentuk dari tiga cara -setidaknya itu yang saya tangkap dari penjelasan mas Agus- yakni melalui tetesan air (dripstone), aliran air (flowstone) dan genangan air (rimstone). Berhubung Gua Senen ini merupakan gua fosil yang tidak memiliki aliran sungai di bawahnya, maka agak sulit menemukan batuan rimstone. Meskipun begitu, saya cukup puaaaaaas dengan pemandangan dibawah sini. Lucunya maksimal ^^

Setelah hampir dua jam menelusuri Gua Senen yang panjangnya kurang lebih 250m ini, kami pun beranjak ke mulut gua untuk ascending. Bagian tersulit dari ascending menurut saya adalah bagian melepas croll. Teringat ketika saya nyaris 20 menitan menggantung di tali karena tidak bisa melepas croll sewaktu caving di Gua Jomblang beberapa bulan lalu ( cerita lengkapnya disini ). Beruntung, kali ini diatas sana mas Dedy sudah standby dan siap membantu saya melepas croll.

sesi Ascending
wak wek ngelepas croll -_-
Setelah cleaning lintasan beres, kami pun beranjak pulang ditemani matahari yang mulai kekuningan. Dari dulu, entah kenapa, saya selalu merasa kalau matahari di Jogjakarta itu terlihat lebih cantik.


Aah.. tapi selain sinar matahari yang kekuningan itu, ada begitu banyak hal yang patut disyukuri sore hari ini, lancarnya kegiatan caving dan keselamatan kami berempat menjadi beberapa hal dari sekian banyak hal yang patut disyukuri. Alhamdulillah :')


Thursday, September 25, 2014

Bahagia

Saya menatap wajah teman baik saya. Heran. Gak habis fikir. 
Saya adalah orang yang sedikit banyak tau seberapa besar perasaan yang dia simpan untuknya. "kamu beneran gak sedih?" tanya saya sambil memegang undangan pernikahan yang baru saja datang di meja kami berdua. "gak" jawabnya sambil tersenyum. 6 tahun berteman dekat dengannya membuat saya mampu mengenali bahwa tidak ada kebohongan tersembunyi di balik senyumnya. Tulus.
"dont you love him?" tembak saya langsung.
dia terdiam kemudian menjawab dengan tegas "i do love him. you know i am"
"trus? gak sedih dia nikah sama orang lain?' tembak saya langsung.
Sesaat dia terdiam, kemudian berkata "saya selalu berdoa semoga saya yang ditakdirkan dengannya, selain itu saya juga selalu berdoa agar dia selalu bahagia, sekarang dia bahagia kan? setidaknya satu dari dua doa saya sudah diijabah sama Alloh, tidak ada alasan untuk saya tidak bahagia kan?". Kembali senyum terhias di wajahnya. Kemudian saya pun termenung dan tersadar. Bahagia itu adalah milik orang yang berani melapangkan dadanya. Iya kan?



Tuesday, September 23, 2014

Sepenggal Hati Yang Tertinggal di Desa Purwodadi


Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah, saya merasa begitu dekat secara emosional dengan satu tempat yang saya kunjungi. Rasanya seperti baru kemarin saya masih bertanya-tanya akan melangkah kemana kaki saya di daerah Kabupaten Gunung Kidul ini, dan sekarang saya menemukan diri saya menangis di lorong stasiun kereta api karena ternyata saya sudah merindukan tempat itu bahkan sebelum saya menaiki kereta api yang akan membawa saya pulang ke Jakarta.


Padahal hanya sebuah desa. Desa yang saya berani jamin akan sulit untuk sekedar menemukan sikat gigi yang ujungnya bulat disana. Desa yang bahkan ketika musim panas tiba, rumput pun enggan tumbuh disana. Tapi desa itu memiliki sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang yang tinggal di kota besar. Sesuatu itu adalah rasa memiliki.

Iya. Rasa memiliki. Rasa yang mampu membuat kita melakukan hal-hal hebat meskipun tidak ada nominal yang bisa kita harapkan dari sana.

Saya masih ingat dengan jelas malam itu saya berkesempatan menyaksikan pagelaran tari topeng di salah satu dusun di desa ini. Tarian yang telah mati suri selama tiga puluh tahun karena alasan klise yang menyayat hati : tidak ada biaya. Iya. Set gamelan sebagai sarana tari topeng satu-satunya telah dijual puluhan tahun lalu oleh si empunya karena kebutuhan hidup. Kini, mereka sama-sama berjuang mengidupkan kembali tari ini agar kelak anak cucu mereka tidak buta dengan budayanya sendiri.

Di belakang panggung pagelaran malam itu, saya tenggelam dalam pemandangan yang mengharukan, bagaimana seorang bapak merias wajahnya sesuai lakon yang ia perankan dengan bedak murahan sambil sesekali tertawa bercanda, orang-orang yang bangga dengan aksesoris lakon yang mereka pakai kendati saya tau itu aksesoris sederhana yang mereka buat sendiri dari kertas dan kayu, sementara dari luar, suara set gamelan sewaan mulai berdenting memainkan alunan khas musik daerah jawa.

Iya. Malam itu mereka berjuang melawan keterbatasan materi demi langgengnya 'seni budaya' ; dua buah kata yang kadang tampak usang di mata sebagian orang namun tidak bagi mereka, sementara di kota besar ratusan remaja justru rela menghabiskan ratusan ribu rupiah demi selembar tiket konser Justin Bieber. Sebuah kenyataan pahit yang nyaris membuat saya menangis di tempat.

Mereka bersinar 
Malam itu, saya bukan hanya mendapatkan suguhan tari topeng yang luar biasa, saya belajar sekali lagi bahwa uang tidak selalu memegang peranan penting, tapi hati. Hati lah yang pada akhirnya menentukan seberapa penting peranan yang kamu mainkan.
Dan hati ini, sudah saya tinggalkan sepenggal bagian disana, di Desa Purwodadi, untuk belajar banyak hal luar biasa lainnya, dan suatu saat nanti, saya akan datang kesana lagi untuk mengambilnya.


*ditulis di dalam kereta Senja Utama, 230914

Regards,

Saturday, September 6, 2014

Backpacker Ketiga ke Pulau Harapan : dari snorkeling sampai budidaya mangrove!

satu kelompok, dua tukang pijit :D
"Seneng amat sih put bolak balik kesana?" komentar salah seorang teman saya begitu tau kalo saya check-in lagi di Pulau Harapan di salah satu social media. Saya cuma tertawa menjawab komentar tadi. Ini memang udah keempat kalinya saya backpackeran ke Pulau Harapan. Parahnya trip ini cuma berjarak tiga minggu dari trip sebelumnya *nyengir kuda*


Tempat boleh sama tapi cerita tentu saja berbeda, apalagi karena kali ini saya tidak sendirian. Ber-sepuluh! Kombinasi unik antara Tika yang pendiem -travelmate yang dulu pernah Backpackeran ke Jogjakarta bareng saya-, Sonya -temen jaman kuliahan- dan sepupunya yang selalu heboh nyari batu es selama di pulau, Topik -travelmate yang kebetulan pernah ketemu di Pulau Harapan- yang jadi guru nyelem dadakan, Dista dan Vita yang unyu, Surya yang nerima jasa mainin candycrush, plus Acil -temen satu gank-nya abang saya- yang hobinya menistakan kita semua lewat foto-foto candidnya. Bareng mereka, perjalanan kali ini menjadi trip edisi ngakak :D

Menu utama perjalanan tetap pada sesi snorkeling dan hopping island. Snorkeling berlangsung di Pulau Melintang dan Pulau Macan. Paling lucu emang pas snorkeling di Pulau Macan. Bukan terumbunya tapi lebih kepada penduduk lokal di dalam laut yang banyak dan hilir mudik kesana kemari.

penduduk lokal yang imut di spot snorkeling Pulau Macan
meskipun bukan penduduk lokal, yang ini gak kalah imut kok (^_<)
Hopping islandnya pun masih sama, kebetulan mampir lagi di Pulau Dolphin dan Pulau Bulat. Kalau trip sebelum ini, saya ke Pulau Dolphin untuk main pasirnya yang putih, kali ini saya belajar bottom up alias menyelam sama si Topik, manusia yang satu ini lumayan jago nyelem2 dengan kepala di bawah dan kaki diatas. Saya yang mupeng pingin bisa kayak gitu akhirnya diajarin gimana cara untuk tidak terapung di dalam laut. Its kinda weird and hard to do karena selama ini saya mati-matian belajar gimana caranya untuk tidak tenggelam di laut :D

saya-nya sampe dilelepin gitu (-__-')
Oiya biar lebih afdol, saya kasih gambaran gimana kerennya Pulau Dolphin yang biasa dijadiin spot camping bagi para pendaki yang bosan camping di hutan. Kombinasi airnya yang seolah tembus pandang plus pasir putihnya bakalan bikin kalian gak percaya kalo tempat ini masih bagian dari Jakarta yang terkenal semrawut itu.

jangan perdulikan saya dan guru nyelem saya -Topik
perhatikan aja airnya yang biru dan pasirnya yang putih :D
saya masih di Jakarta lho ini ^^
Lumayan lama kami menghabiskan waktu di Pulau Dolphin ini. Lucu sih tempatnya. Baru agak sore-an sedikit kami melipir ke Pulau Bulat. Intinya sih mau liat sunset, tapi saya -bareng Topik- melanjutkan sesi bottom up tadi sementara sisanya berkeliling di Pulau Bulat. Setelah hampir setengah jam, entah antara kesian ngeliat saya yang berapa kali keselek air laut atau memang karena saya ada kemajuan akhirnya guru nyelem saya yang satu itu bilang "itu lu udah hampir bisa tadi". Bahagiaaa -campur norak sedikit haha..

sunset di Pulau Bulat
Malam harinya, saya yang biasanya males kemana-mana karena badan udah encok pegel linu abis snorkelingan, tumben-tumbenan jalan-jalan ke dermaga Pulau Harapan. Penyebabnya gak lain dan gak bukan adalah karena sate cumi yang dijual gak jauh dari dermaga Pulau Harapan. Sate cumi ini dijual dengan harga 10ribu untuk 3 tusuknya. Cuminya itu disiram saus kacang gitu. Cuminya empuuuuuk banget. Strongly recommended bagi kalian yang gila sama seafood.

sumpah demi apapun juga.. ini enak!
Lagi keliling-keliling Taman Terpadu -sejenis tempat nongkrongnya anak pulau Harapan- bareng Acil, saya ketemu sama penduduk lokal yang lagi duduk di depan laptop di sebuah warung kopi. Kemudian *tring* timbul lah ide untuk numpang nge-copy foto-foto tadi siang dari kamera saya ke kamera Acil dan sebaliknya. "udah gampang ntar kita beliin aja abangnya kopi" jawab Acil begitu ngeliat ekspresi saya yang kira-kira bermaksud gini : "bayar gak nih?". Setelah hampir 1GB data yang kami pindahkan selesai, sambil basa-basi saya bertanya ke mas-nya yang punya laptop. "jadi berapa ya mas?". Ekspektasi kita adalah "gak usah mbak.. gak usah repot-repot" tapi kenyataannya adalah : "20ribu mbak" yang diucapkan dengan tegas tanpa tedeng aling-aling. Wkwkwk.. Yah at least kalian jadi tau ada seorang mas-mas di Pulau Harapan yang membuka jasa memindahkan foto. :D

Keesokan paginya, ada hal baru dan seru yang kami lakukan : mengunjungi penangkaran penyu sisik dan menanam Mangrove di Pulau Kelapa! Udah tau kan ya kalau pulau Harapan ini jadi satu sama Pulau Kelapa? Nah tapi tempat penangkaran penyu sisik dan sesi menanam bakaunya ada di Pulau Kelapa dua yang terletak agak di sebrang dengan jarak tempuh 10 menit dari Pulau Kelapa Satu which is kita harus naik ojek perahu dengan tarif 2rb rupiah sekali naik. 

Di dalem ojek perahu ^^
Penangkaran penyu sisik ini adalah salah satu upaya untuk menjaga keseimbangan penduduk lokal di dalam laut. Jadi disini penyu balita dipelihara dan dirawat dengan baik sampai akil baligh untuk dilepas lagi di lautan. Tiket masuk penangkaran penyu ini murah meriah. 2rb rupiah saja.


kalau udah baligh jangan jadi penyu alay yaa *kecup*
Lagi seru-serunya ngeliatin penyu-penyu balita ini berenang kesana kemari, bapak penjaga konservasi ini menawarkan apakah kami mau menyumbang dengan membeli bibit Mangrove dan menanamnya di sekitar tepi Pulau Kelapa Dua. Tentu saja mau! kemudian kami pun membeli 50 bibit mangrove seharga 50rb rupiah dan menanamnya beramai-ramai. Mangrove memang memegang peranan penting di daerah kepulauan sebagai pemecah gelombang laut sekaligus tempat hidup beberapa biota laut seperti kepiting dan ikan-ikan kecil.

anak-anak kami :")
mari menanam Mangrove
Sebelum pulang, sempet juga mampir di budidaya terumbu karang yang terletak tidak jauh dari tempat penangkaran penyu sisik. Terumbu karang yang terdapat disini masih kecil dan unyu-unyu. Terumbu karang itu memang cantik tapi sangat rapuh makanya kita sebenernya gak boleh sembarangan pegang-pegang apalagi sampai menginjaknya ketika snorkeling.


Setelah itu.. trip ini pun berakhir dengan serunya. What a hilarious trip! 


Jam 11 siang, mesin kapal Raja Mas yang bersandar di dermaga Pulau Harapan sejak pagi tadi akhirnya berderu dan membawa kami pulang. Bener juga kata pepatah.. bukan pemandangannya, bukan juga suasananya. tapi siapa yang bersama kalian dalam perjalanan-lah yang membuat sebuah perjalanan sangat berharga.  I guess i am damn lucky to trip with you guys :')




*ps
postingan ini untuk kalian : Tika, Sonya, kakak Imel, kakak Ika, Topik, Dista, Vita, Surya dan Acil. Kangen lah sama kalian :-*

Cinta dan Bis Kota

Saya pernah sekali menonton sebuah drama komedi. Katanya.. cinta itu seperti menunggu bis kota. Kadang bus yang datang bukanlah bus yang kita tunggu-tunggu. Namun ketika bus yang kita tunggu datang, selalu ada saja halangan untuk menaikinya atau bahkan tak ada tempat yang tersisa lagi didalamnya untuk kita masuki.


Saya pernah menunggu sebuah bis. Berdiri di tepi halte untuk waktu yang cukup lama. Berharap ia datang dan saya bisa duduk didalamnya. Berkali-kali bis lain lewat di depan saya, tapi yang saya tunggu tidak pernah datang. Lucu. Karena saya, pada akhirnya, menyadari bis yang saya tunggu telah mengambil rute yang lain dan mungkin tidak akan pernah melewati halte dimana saya berdiri menunggunya. Saya pun beranjak pergi dan menyusuri jalan pulang. Mungkin lain kali sebaiknya saya menggunakan kereta api saja :D