Tuesday, January 8, 2013

Backpacker Gunung Ciremai : Antara Tahun Baruan dan Jalur Linggarjati

Gunung Ciremai adalah gunung yang gak perlu tiket kereta api untuk kesana dan inilah alasan kenapa kita berempat memilih gunung ini untuk ngabisin sisa liburan akhir tahun. Awalnya, kita udah niatan mau ke Gunung Argopuro, tapi terimakasih kepada sistem ticketing di Indonesia beserta jajaran calo-nya yang ngasih harga selangit untuk tiket kereta ekonomi di musim liburan kayak gini - bayangin aja dari harga 55ribu dijual 180ribu! - jadilah kami banting stir ke Gunung Ciremai.


Sebenernya ini bukan kali pertama saya kemari, dulu tahun 2007 saya pernah ke Gunung Ciremai, tapi waktu itu via jalur Palutungan, sedangkan kali ini saya dan 3 orang pria ajaib ini akan menempuh jalur Linggarjati. Itulah kenapa saya masih tetep excited. Pertanyaan selanjutnya adalah siapakah 3 pria ajaib itu? haha.. mereka adalah Dedi - Bapaknya ARTCA - dan adik2 saya yang unyu-unyu, Rizal dan Sofyan.

Keluarga merangkap bodyguard saya hehe..
Jumat, 28 Desember 2012
Perjalanan dimulai dengan menggunakan bus arah Kuningan dengan waktu tempuh kurang lebih 8 jam dari Jakarta, agak meleset dari perkiraan, karena as usual yah musim liburan.. macet. Sekitar jam 03.30 pagi kita berempat turun di Pertigaan Cilimus untuk seterusnya jalan kaki ke basecamp Gunung Cireme. Yap.. Jalan kaki adalah metode trasnportasi purba yang sangat disukai Dedi. Biar ngirit katanya.. tapi pegel kata saya.

"Berapa lama Ded dari sini ke Base camp?" tanya saya to the point ke Dedi. "Deket.. paling 30 menit" Jawab Dedi singkat. Ternyata kita baru sampai satu jam setengah kemudian. Saya lupa kalau Dedi adalah pemberi harapan palsu dalam hal jarak dan waktu tempuh.




Anyway, basecamp cukup rame karena memang jumlah pendaki naik karena bertepatan dengan liburan panjang akhir tahun, tambah rame lagi karena kedatangan suku Dayak Indramayu yang - gak tau kenapa - ingin refreshing ke Gunung Cireme.














Yap.. mereka naik ke atas Gunung Cireme ya dengan kostum asli mereka, gak pake baju, cuma celana item putih yang katanya melambangkan hitam putih dunia plus aksesoris kalung yang berjejer di leher. Nyentrik dan beresiko masuk angin tentu saja.

Sabtu, 29 Desember 2012
Perjalanan baru dimulai sabtu pagi. Dibuka dengan jalanan aspal yang rada nanjak menuju pos I Cibunar ( 750 mdpl ). Di kanan kiri jalan menuju Cibunar banyak perkebunan penduduk yang mayoritas ditanami ubi merah. Cibunar gak lain adalah camping ground dimana banyak RemPakem ( Remaja Pecinta Kemping ) kumpul-kumpul dimari. Cibunar juga merupakan tempat dimana kita harus mengumpulkan stok air selama naik nanti, karena jalur Linggarjati jarang terdapat mata air. 

Di Cibunar














Dari pos 1 Cibunar, jalanan aspal berubah menjadi jalanan tanah berbatu dengan dominasi hutan pinus. Harus berhati-hati karena tanahnya rada licin, efek hujan yang turun hampir setiap hari disini.



















Di sekitar jalur banyak bangunan semi permanen dari kayu, berdasarkan cerita Dedi yang emang udah bolak-balik kesini, warung ini dulunya ramai pengunjung, apalagi kalau lagi musim pendakian, tapi gak tau kenapa sekarang ditinggalkan oleh pemiliknya.

bekas warung di dekat Cibunar
Dari Cibunar, perjalanan masih lanjut ke Leuweng Datar ( 1285 mdpl ) dan Condang Amis ( 1350 mdpl ). Sebenernya di dalem hati mah pengen nanya ke Dedi berapa lama waktu tempuh dari pos ini ke pos itu, tapi mengingat status Dedi sebagai Pemberi Harapan Palsu dalam pendakian, niat tadi dibatalkan. Di Condang Amis terdapat bangunan seperti gazebo yang cukup untuk berteduh 10 orang-an. Di pos ini juga sudah mulai terdapat peringatan untuk menghentikan pendakian apabila cuaca buruk.

Di Condang Amis














Setelah sempet nge-break makan siang, perjalanan lanjut lagi ke Blok Kuburan Kuda ( 1580 mdpl ). Kenapa namanya Kuburan Kuda? Berdasarkan cerita Dedi yang emang udah dari sebelum masehi naik kesini, dulunya kompeni pernah ngejar pejuang kemari, namun kuda yang mereka tunggangi hanya sanggup mengantar sampai blok ini dan kuda-kuda itu pun mati karena kelelahan. Makanya dinamain Kuburan Kuda. Tapi saya curiga karena muka Dedi gak ada bedanya tau antara nyeritain sesuatu yang bener sama nyeritain sesuatu yang direkayasa. Doi emang paling seneng ngeboongin saya yang masih polos ini.



Sempet beberapa kali narsis di tengah jalan. Tapi dari sejuta kali narsis, inilah foto narsis yang menurut saya paling keren :D














Perjalanan hari pertama berhenti sampai di beberapa meter sebelum Pengalap ( 1790 mdpl ). Disini kami memutuskan untuk berhenti karena sudah lewat magrib dan hujan mulai turun. Kenapa gak buat tenda di Pengalap? Pertanyaan bagus! Berhubung musim pendakian, Pos Pengalap dapat dipastikan penuh, daripada kami paksakan terus berjalan ke Pengalap, sampai sana gak ada lapak untuk buat tenda plus hujan pula, lebih baik break dan buat tenda di lapak yang kebetulan ada di beberapa meter sebelum Pengalap.

Minggu, 30 Desember 2012
Tema hari kedua pendakian adalah : Lazy Day!
Hawanya males banget mau packing tenda dan melanjutkan perjalanan. Walhasil setelah sarapan kelar - tepatnya jam 9 pagi - bukannya packing malah lanjut tidur lagi *tepok jidat*


Sesi memasak sarapan
Jam 11 siang, saya ngerusula ( baca : ngegerutu ) bosen didalam tenda dan minta jalan ke Dedi. Apesnya ketika tenda udah di packing, ealah.. ujan turun lumayan lebat yang langsung membuat Dedi berkata sambil melotot ke arah saya " cakep lo ye.. ujan begini minta jalan!". Gak ngaruh dengan omelan Dedi, saya tetep cengengesan. wakakaka. 

Adegan selanjutnya tentu saja berteduh dengan flysheet di tempat yang sama. Setelah kurang lebih 2 jam berteduh, sekitar pukul 1 siang, kita beringsut naik menuju pos selanjutnya, Pengalap ( 1790 mdpl ). Lagi-lagi, baru jalan 20 menitan, kita harus kembali membuka fysheet dan berteduh selama hampir 2 jam karena hujan kembali turun dengan lebat. Waktu neduh inilah  kami sempat bertemu banyak pendaki yang mayoritas berasal dari Bogor.

Perjalanan hari kedua berhenti sampai Pos Pengalap. Pos Pengalap ini memiiliki cukup ruang untuk mendirikan tenda, saat kami datang saja, sudah ada satu tenda berukuran besar dan satu tenda berkapasitas 6 orang yang sudah berdiri disini.. Tepat pukul 7 malam, kami berempat sudah resmi leyeh2 di dalam tenda di ketinggian 1790 mdpl. 

Senin, 31 Desember 2012
Perjalanan hari ketiga diawali dengan nasi goreng ikan asin sebagai menu sarapan kami - jangan tanya darimana kami dapat nasi! - Saat kami memulai perjalanan, tenda-tenda tetangga udah gak ada, kayaknya mereka udah berangkat dari pagi-pagi buta. Berbeda dengan kami yang bahkan masih sempet ngopi-ngopi setelah tenda selesai di packing hehe.. pemalas.

Ngopi sambil dengerin Dedi cerita asem garem hidup

Hujan masih mewarnai perjalanan kami, dan tetap flysheet adalah teman setia dalam perjalanan. One good thing about the rain is.. kamu gak perlu takut kekurangan air di trek Linggarjati yang terkenal pelit air ini, cukup duduk berteduh di bawah flysheet dan taraaaa... air datang sendiri untuk dipakai memasak. Rasanya gak beda jauh kok sama air yang biasa keluar dari keran rumah :)

Di tengah hujan gerimis

















Lepas dari Pengalap, jalanan mulai bikin engap. Pos selanjutnya adalah 3 tanjakan berturut - turut, Tanjakan BinBin ( 1920 mdpl ), Tanjakan Seruni ( 2080 mdpl ) dan yang paling horor adalah Tanjakan Bapa Tere ( 2200 mdpl ). Kenapa Bapa Tere paling horor ?  karena memang treknya terputus which is kaki kanan kamu menapak di tanah, dan pijakan selanjutnya berada setinggi kepala kamu *eng ing eng*. Alih-alih takut, saya malah tepok tangan karena adegan ini mirip di film-film hehe.

Perjalanan hari ketiga ditutup beberapa meter dari Bapa Tere, dimana ada sedikit area datar yang cukup untuk kira-kira 2 tenda ukuran 4-5 orang. Hari sudah gelap dan pakaian udah semi lepek saat kami mendirikan tenda disini diiringi lagu Benyamin yang dinyanyikan oleh Sofyan " ohooooooooo... pegel semuaaaa" ( itu beneran lho lirik lagunya begitu )

Ada yang berbeda dari malam-malam sebelumnya, malam ini adalah malam tahun baru. Tepat jam 12 malam, kami berempat duduk melingkar kemudian saling mengutarakan dan saling mendoakan impian masing-masing di tahun 2013 sambil mendengar bunyi kembang api di bawah sana. Deep down inside.. saya berharap tahun ini kami masih bisa berkumpul sama-sama, melakukan perjalanan kocak dan ajaib sama-sama dan membuat cerita untuk dikenang saat tua nanti. :")

Senin, 1 Januari 2013, Its summit time!
Perjalanan hari keempat dimulai jauh lebih pagi dari biasanya mengingat jarak puncak yang masih cukup jauh ( 4 Pos lagi ). Kalau hari-hari sebelumnya kami start jam 11 siang, kali ini jam 8 pagi kami udah bergerak meninggalkan tenda menuju pos selanjutnya, Batu Lingga ( 2400 mdpl ).



Dari Batu Lingga, masih ada Pos Sangga Buana I ( 2545 mdpl ) dan Sangga Buana II ( 2665 mdpl ), Pos terakhir sebelum puncak adalah Pengasinan ( 2860 mdpl ). Saya gak bisa mendeskripsikan berapa lama waktu tempuh dari pos satu ke pos lainnya, tapi yang jelas panjang dan lama. 

Jalanan mulai terjal berbatu menuju Pengasinan


Di Pengasinan

















( Katanya ) dari Pengasinan ke Puncak hanya membutuhkan waktu 30 menit - 45 menit. Tapi berasa lama buat saya, ditambah hujan yang mulai turun rada lebat. Sempet berfikir.. ini sampai puncak apa yang mau dilihat ya? jangan-jangan yang kelihatan cuma kabut dan awan mendung doang. Pikiran tadi otomatis membuat saya jadi males-malesan dan gak semangat. Alhamdulillahnya.. sempet dikasih cerah sebentar saat kami sampai di Puncak Panglongokan.














Cuaca yang cerah ini bikin kawahnya keliatan jelas yang tentu saja mengundang naluri kenarsisan saya haha..














Terima kasih kepada teknologi timer di dalam kamera digital, yang memungkinkan kami bisa berpose berempat walaupun tak ada pendaki lain yang bisa dimintai tolong untuk memotretkan di puncak ini.














Perjalanan kembali ke tenda diwarnai kembali dengan hujan. Kali ini deras dan sukses membuat saya basah kuyup sampai harus meminjam baju sana - sini karena stock baju udah gak ada lagi. Niat semula mau langsung geber turun, terpaksa ditunda dan harus nge-camp semalam lagi.

Selasa, 2 Januari 2013
Begitu terbangun dari tidur yang cukup menggigil karena dingin, hal pertama yang saya, Dedi dan Sofyan lakukan adalah menyalakan handphone dan berusaha memberi kabar ke Bos masing-masing bahwa hari ini kami belum bisa kembali bekerja. Mulailah adegan mencari sinyal dari handphone digantung di samping tenda sampai dikibas-kibas ke atas tenda. Rizal sih enak masih jadi anak sekolaha, belon punya bos kayak kita orang :(

Perjalanan turun baru dimulai pukul 11 siang dan sampai dengan selamat - cuma betis aja rada kenceng - di Cibunar jam 3 sore. Kocaknya, saat kita sampai di basecamp, orang-orang riuh menyambut kami, selidik punya selidik, tim evakuasi sudah siap berangkat mencari kami karena mereka pikir kami hilang atau ngedrop di tengah jalan. Ternyata eh ternyata kelompok kamilah yang paling lama berada di atas gunung. Hahaha.. ampun ah.

Baju pinjeman :))


















Catatan penting kali ini adalah : bawalah baju lebih saat mendaki di musim hujan dan pastikan kalian tidak melawan cuaca, maksudnya kalau cuaca buruk lebih baik nge-camp daripada memaksakan diri demi sebuah TARGET. 

sampai jumpa di catatan kaki selanjutnya yaaa..
have a good year everyone!

Regards,

Tuesday, December 11, 2012

Oleh-oleh dari Workshop Blogging Enjoy Jakarta


Workshop Blogging ini adalah kerja sama antara Vivanews, Opera Software dan Dinas Pariwisata DKI Jakarta dengan tema "Peran Blogger Dalam Memajukan Pariwisata" dengan beberapa pembicara dari beberapa profesi seperti Barry Kusuma, seorang penulis dan travelling photography, Riyanni Djangkaru, dari Divemag Indonesia, Agnes dari Opera Software, Tio Pakusadewo dan tentu saja perwakilan dari Dinas Pariwisata DKI Jakarta. Berdasarkan wawancara singkat dengan salah satu panitia yang ramah, acara ini akan dihadiri oleh kurang lebih 150 blogger yang bergelut di bidang jalan-jalan alias travelling


"Minder" adalah perasaan pertama yang terlintas di kepala saya. Everyone looks so great at writing. Seriously.. gak seperti saya yang nulis ala kadarnya dan minus konsep dan tentunya dengan bahasa yang ala kadarnya. Bahkan saya sempat mendengar pembicaraan dari dua orang undangan yang saling bertanya tentang pekerjaan masing-masing dan salah satu dari mereka menjawab "pekerjaan saya ya menulis" *eng ing eng*. Trus.. ngapain si anak cupu dalam hal tulis menulis ini ( baca : saya ) bisa ada di acara workshop ini? hahaha jawabannya adalah fate and lucky :D *senyum lebar*

Anyway acara dibuka dengan tarian Lenggang Nyai, tarian khas yang berasal dari DKI Jakarta kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel dengan pembicara yang sudah disebutkan diatas. Ada juga acara pengundian doorprize dengan hadiah yang variatif dan tentunya mendukung aktifitas travel blogger seperti modem, voucher dari gonla.com dan voucher spa ( siapa tau abis panas2an berwisata bisa spa gratis hehe..). Oiya acara ini juga sekaligus mengumumkan pemenang dari Blog Contest Enjoy Jakarta yang dilangsungkan mulai dari 19 November sampai 4 Desember kemarin.

Tarian Lenggang Nyai

Dan inilah beberapa oleh-oleh dari diskusi panel yang bisa diaplikasikan terutama buat yang bergelut di bidang travel blogging:
  • Foto yang bagus dalam artikel adalah salah satu kunci orang tertarik untuk mengunjungi tempat yang kita ulas dalam blog, dan berita baiknya adalah *eng ing eng* foto bagus gak selalu harus dijepret dengan kamera DSLR, kamera poket pun oke, kamera hp juga oke, asal tau angle yang pas dan momen yang tepat ~ Barry Kusuma
  • Tulisan yang baik tentang suatu destinasi wisata harusnya bukan cuma sekedar how to get there tapi harus bisa mengangkat sesuatu dari sudut pandang yang lain yang ada di destinasi tersebut ~ Riyanni Djangkaru
  • Sebelum memutuskan untuk menulis tentukan dulu apa yang mau ditulis, seperti apa outputnya dan siapa marketnya atau sasaran pembaca dan yang lebih penting adalah apakah tulisan yang kita buat dapat memberikan benefit kepada penduduk lokal di tujuan wisata tersebut misalnya saja kenaikan pengunjung dsb ~Riyanni Djangkaru
  • Jangan berbangga kalau anda sudah menyambangi negara ini negara itu, karena Indonesia tidak kalah bagusnya dari negara lain dalam hal tujuan wisata ~ Tio Pakusadeo
  • Membangun sense menulis dapat dilakukan salah satunya adalah terlibat dengan penduduk lokal / human interest di destinasi wisata yang kita kunjungi
  • Dateline sangat membantu untuk memotivasi blogger dalam menulis postingan ~ Riyanni Djangkaru
  • Sekarang nge-blog bisa sambil jalan dengan memanfaatkan mobile blogging dan dengan menggunakan opera software akan lebih cepat loadingnya karena opera software mengkompres data hingga 90%
Makin semangat deh nge-blognya.. kan udah dapet ilmu dari yang ahlinya :))
Keep blogging everyone dan terus berbagi kepada dunia betapa indahnya Indonesia 

Regards

Monday, December 10, 2012

Yuuk Kenalan sama si Menopause


Pepatah lama bilang.. tak kenal maka tak sayang.. tak sayang maka tak suka.. . Nah buat para perempuan, ada baiknya mengenali si menopause ini karena sebenarnya menopause bukanlah sesuatu yang harus ditakutkan kedatangannya karena menopause ini adalah normal dan setiap perempuan akan mengalaminya.














Apa sih menopause itu?
Menopause adalah periode terhentinya haid secara permanen. Terjadinya bervariasi pada setiap perempuan, antara usia 40 - 65 tahun.

Bisa gak sebelum usia 40 tahun terkena menopause?
Bisa. Namanya Menopause Prekoks. Biasanya terjadi pada perempuan dengan penyakit Lupus, perempuan dengan pengangkatan ovarium atau perempuan yang menjalani kemoterapi.

Bagaimana kita tau kalau seorang perempuan sedang dalam masa menopause??
Caranya tanyakan saja kapan terakhir kalinya mendapatkan menstruasi. Karena dikatakan menopause apabila dari menstruasi terakhir diikuti dengan tidak dapatnya haid selama 12 bulan kedepan. Kalau mau lebih yakin, caranya dengan memeriksakan kadar hormon ke laboratorium, dimana hormon FSH tinggi sedangkan hormon estrogen rendah

Kenapa sih menstruasi kok bisa berhenti?
Iya karena adanya penurunan fungsi ovarium sehingga pembentukan hormon-hormon pun terganggu yang pada akhirnya menstruasi bisa terhenti sama sekali

Terus, apa aja gejalanya?
Dari segi fisik, maka gejala yang sering dialami adalah hot flush atau arus panas yang terasa di sekitar muka dan jari-jari, keringat malam yang banyak, perubahan pada kulit dimana kulit tidak sekencang dulu serta kekeringan vagina yang bias berakibat sakit saat berhubungan intim.
Kalau dari segi psikis ingatan menurun, mudah tersinggung, stress dan kurang bersemangat

















Menopause bisa disembuhkan gak sih?
Well.. berhubung menopause BUKAN penyakit, tentu aja tidak bisa disembuhkan, tapi gejalanya bisa dikurangi.

Caranya??
Yang pertama, tanamkan mindset bahwa menopause adalah sesuatu yang normal sehingga resiko stress bisa diminalisir. Berhubung gejala fisik yang dirasakan saat masa menopause itu disebabkan karena menurunnya hormon estrogen, maka pengurangan gejalanya dengan menambahkan hormon estrogen buatan / sintesis ke dalam tubuh atau yang dikenal dengan Terapi Sulih Hormon / Hormon replacement Therapy yang bisa didapat setelah berkonsultasi dengan dokter.

Kalau saya takut minum obat?
Ada cara lain, yaitu mengkonsumsi kacang-kacangan seperti kedelai. Karena berdasarkan penelitian kacang-kacangan seperti kedelai banyak mengandung fitoestrogen ( estrogen alami ). Karena bersifat alami, tentu saja efek samping pun sangat kecil.

Ooo gitu ya?
iyaa.. begitu, tapi yang penting adalah cara kita dan mental kita menyikapi si menopause ini. Jadi jangan takut yaa sama menopause.. ia adalah normal dan alamiah sebagai salah satu siklus hidup perempuan.


Yang akan menopause,

Belajar dari Sang Laron


Sabtu kemarin, ujan bener-bener setia dengan Jakarta, mulai dari siang mendung udah bergelayut di langit, benar saja gak berapa lama ujan mulai turun dan baru berhenti selepas isya. Tidak lama setelah hujan berhenti turun, mulai datang satu persatu serangga yang ngetop dengan sebutan Laron. Laron ini memang biasanya terbang ke tempat yang terang alias berkumpul di sumber cahaya seperti lampu-lampu baik dijalan maupun di perumahan.

Awalnya sempet bikin keki, saya matikan lampu teras, mereka terbang ke ruang tamu, saya matikan lampu ruang tamu, mereka terbang ke kamar, walhasil saya matikan semua lampu yang ada di rumah. Selang setengah jam, saya kembali menyalakan lampu dan si Laron-laron itu sudah banyak yang kehilangan sayapnya dan jatuh berserakan di lantai.





Saya yang malas beringsut dari karpet tempat saya guling-gulingan karena gak ada kerjaan, secara gak langsung mulai memperhatikan gerak-gerik si Laron yang jatuh ke lantai. Setelah diperhatikan, Laron itu unik juga, mereka terbang ke tempat yang menarik, berkeliling kemudian jatuh, saat mereka jatuh, mereka akan mencari teman untuk menuntun mereka jalan. Kalaupun ada Laron yang jalan sendirian, maka jalannya akan lebih lama dari yang beriringan dan kadang si Laron yang sendiri ini suka kejengkang ( baca: terlentang ) dan akhirnya mati.

Sama seperti manusia... Pergi ke sesuatu hal yang mereka anggap menarik, merasakan euforia saat berada di tempat itu namun adakalanya terjatuh. Saat mereka terjatuh, secara otomatis mereka butuh teman untuk menuntun mereka, healing and sharing. Tapi ada juga manusia yang ketika mereka terjatuh, mereka lebih suka sendiri, dan akhirnya mungkin mirip dengan si laron yang jalan sendiri saat terjatuh : Lambat untuk move on atau malah terbalik ke jalan yang salah.

Subhanalloh ya.. ternyata dari hewan yang sekecil itu, kita bisa belajar satu hal : setiap orang butuh teman untuk berbagi. :)


Regards,

Tuesday, December 4, 2012

Jelajah Menteng : Seharian Jadi "Anak Menteng"

Apa yang pertama terlintas di benak kamu kalau mendengar nama "Menteng"? Kalau saya pastinya yang pertama kali terlintas adalah kompleks perumahan elit yang rumahnya perlu setidaknya 3 orang ART untuk sekedar menyapu lantainya atau malah membuat saya teringat akan lagu lama milik band favorit saya, SLANK yang judulnya "Anak Menteng"


"anak menteng.. lagaknya sok aksi jalan petantang petenteng..punya duit gocap ngakunya punya goceng"

Nah lho,, liriknya agak gimana gitu ya?
Tapi sodara-sodara saya sudah membuktikan kalau jalan petantang - petenteng di kawasan Menteng emang seru berat, karena dibalik predikatnya sebagai kompleks perumahan mewah, kawasan Menteng ternyata dikelilingi banyak objek wisata terutama wisata heritage yang menarik untuk dikunjungi.

Oiya.. trip Jelajah Menteng ini sebenernya berawal dari saya yang iseng-iseng bertanya kepada sahabat saya, Dedi.  "Dedi..Dedi kalo menurut Lo tempat yang bagus di Jakarta apa Ded?"
"Pasar Loak" jawab Dedi simple. *FYI :  si Dedi ini memang orangnya agak "beda" dan ajaib*
" oooo gitu, Pasar Antik maksudnya Ded?" jawab saya setengah bingung karena gak bisa menemukan korelasi antara "tempat yang bagus" dan "pasar loak"
"iya Pasar Antik di Jalan Surabaya" jawab Dedi singkat.

Nah penasaran dengan si Pasar Antik itu, maka ditemani si Dedi, saya meluncur kesana. Cerita punya cerita, setelah berkunjung kesana, pulangnya saya banyak melewati tempat menarik, akhirnya sampai dirumah saya membuat itinerary Jelajah Menteng sambil menyusun tempat apa aja yang worthed untuk dikunjungi. Here they are.. 

Pasar Antik di Jalan Surabaya.














Pasar Antik ini adanya di Jalan Surabaya, masih sekitaran Menteng deh pokoknya. Sempet penasaran berat,  kayak gimana sih Pasar yang dibilang Dedi bagus itu? Ternyata emang bagus! Hahaha.. kali ini Dedi cukup cerdas :D. Pasar antik ini sih katanya cukup terkenal dan sepenglihatan saya memang pembelinya kebanyakan turis asing berwajah ke-bule-an sampai yang berwajah India pun ada.

Pasar Antik ini terdiri dari 184 kios kecil yang menjajakan barang-barang antik dan kuno mulai dari guci dan porselen antik, lampu dari jaman si Pitung, piringan hitam sampe tusuk konde juga ada. *jangan - jangan tusuk konde ibu kita Kartini lagi ya?* 

















Pertanyaan yang langsung mampir di kepala saya adalah dari mana mereka mendapatkan barang-barang antik ini? dan biasanya barang apa sih yang paling banyak dicari oleh pembeli? Sayangnya.. rasa penasaran saya terbungkam oleh sifat tertutup dua orang pemilik kios yang sempat saya tanyai. 


Mesjid Sunda Kelapa






Pada hari itu, akhirnya saya tau kalau masjid Sunda Kelapa tidak terletak di dekat pelabuhan Sunda Kelapa hahaha.. Anyway, Masjid yang selesai dibangun pada tahun 1970-an ini ternyata memiliki taman hijau didalamnya. Assikk.. abis sholat bisa ngadem dulu di tamannya. 

Sudut taman di Masjid Sunda Kelapa















Taman Suropati

Bergeser sedikit dari Masjid Sunda Kelapa, saya mengunjungi Ruang Terbuka Hijau yang bernama Taman Suropati. kalau masuk ke taman ini, bakalan lupa deh kalau lagi ada di Jakarta, secara adem, banyak angin dan mata seger ngeliat pohon-pohon yang hijau. Ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan disini, ada anak kecil yang lari-larian, ada yang main biola, ada yang pacaran bercengkrama sama teman-temannya ada juga yang berdagang :)

Ini di Jakarta lho... Ciyus!




















































Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Gak jauh dari Taman Suropati, ada yang namanya Museum Naskah Proklamasi. Dengan harga tiket masuk 2ribu rupiah, saya sudah bisa melihat-lihat isi dari bangunan yang waktu jaman penjajahan Jepang dulu merupakan kediaman Laksamana Tadashi Maeda yang sekaligus tempat teks Proklamasi dirumuskan oleh Presiden Soekarno, Bung Hatta dan Ahmad Soebarjo. 

















Didalamnya terdapat replika ruang perumusan naskah proklamasi lengkap dengan manekin menyerupai Bung Karno, Bung Hatta dan Ahmad Soebarjo.


















Saya sempat berpose dengan para tokoh yang menghadiri rapat perumusan kemerdekaan RI ini

"Kek.. cucu dateng ni kek.. numpang foto ya kek" :D


















Mesjid Cut Meutia

Mengarah sedikit ke Jalan Cut Meutia, saya berkunjung ke salah satu masjid peninggalan zaman kolonial Belanda. Saya sempat terkejut dengan kiblatnya yang "agak" berbeda dengan masjid yang lain, yaitu agak miring karena memang bangunannya yang tidak persis menghadap ke kiblat.

Masjid yang dulunya pernah digunakan sebagai kantor pos dan KUA ini memiliki interior langit-langit yang menarik dan bener-bener terkesan antik seperti yang memotret *kemudian lirik Dedi sambil ngakak*

Interior langit-langit yang unik



































Taman Situ Lembang

Muter dikit ke arah Jalan Lembang, ada situ kecil di tengah taman, makanya dinamain Taman Situ Lembang *hasil analisa ngasal saya*. Taman ini seperti kebanyakan taman pada umumnya, kalau sore hari ramai lancar, situ kecil di tengah taman kadang dimanfaatkan warga untuk memancing, meski saya rada bingung ikan apa yang hidup disitu.
















Adakah ikan di mari? 



















Gedung Joeang 45

Beralih sedikit ke Kelurahan Cikini -masih Kecamatan Menteng -, saya mengunjungi yang namanya Gedung Joeang '45. letaknya gak jauh dari Tugu Tani. Sedikit grasa grusu karena takut udah nutup berhubung destinasi ini kami kunjungi sore hari. Apa yang ada di dalamnya bener-bener touchy. Ada pemutaran film perjuangan, ada artikel perang-perang apa saja yang udah dilakoni oleh pejuang kita sampai replika tandu Jenderal Soedirman pun ada. Wisata Sejarah yang terhitung murah karena saya cuma dipungur tiket masuk 5ribu rupiah saja perorang.



















Tugu Proklamator

Jalan lurus terus dari Gedung Joeang 45 ke arah Jalan Proklamasi, ada tempat yang gak kalah kerennya dan masih berbau sejarah, Tugu Proklamator. Di dalamnya terdapat monumen Soekarno Hatta berikut dengan teks proklamasinya.
Rada kesel juga ngeliat banyak jejak vandalisme berupa coretan-coretan anak ABG yang gak ngerti caranya menghargai benda seni, seenak jidatnya aja mereka nyorat-nyoret monumen ini dengan tipe-ex. Erggghhh... tinner mana tinner..

Oiya masih satu kompleks dengan tugu proklamator, ada juga bangunan monumen dari marmer yang bertuliskan Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia, Atas Oesaha Wanita Jakarta". Usut punya usut di mbah google, akhirnya saya tau kalau tugu ini diprakarsai pada tahun 1946 oleh Yos Madani , seorang mahasiswi dan anggota Ikatan Wanita Djakarta atas permintaan Sam Ratulangi.

"Cuma wanita yg boleh foto disini tau"
ucap saya sinis ke Dedi



















Akhirnya, setelah 8 tempat dikunjungi, tepat jam setengah lima sore, kami mengakhiri sesi petantang-petenteng di Kawasan Menteng ini dengan perubahan mindset tentang Menteng. Sekarang kalau mendengar kata "Menteng" maka yang pertama kali terlintas di pikiran saya bukan kompleks perumahan elit, melainkan adalah JJS alias Jalan-Jalan ber-Sejarah.. Lets Enjoy Jakarta!

Regards,
(mantan) anak menteng *hahaha













Monday, December 3, 2012

Backpacking Pangandaran : One Stop Destination!


Wilayah Jawa Barat memang memiliki potensi wisata yang tersebar di berbagai penjuru. Dari ujung ke ujung kamu bisa menemukan destinasi dari banyak wisata, mulai dari wisata gunung, wisata bahari sampai wisata budaya dan kuliner juga ada. Salah satu daerah yang memiliki paket komplit dalam hal spot terbaik untuk dikunjungi adalah daerah Pangandaran.



Selain tempat wisatanya yang segambreng, akses menuju kesana cukup mudah. dari Jakarta, kamu bisa naik bus Perkasa Jaya jurusan Pangandaran dari terminal Kampung Rambutan seperti pengalaman saya di Trip Pangandaran Sekuel Pertama. Bis ini terakhir jam 21.00 jadi pastikan sampai sana on time ya. Alternatif kedua adalah dari terminal Grogol naik bus Merdeka jurusan Pangandaran seperti perjalanan saya di Trip pangandaran Sekuel Kedua. Tarif kedua bus ini hampir sama yaitu 50-55ribu rupiah.

Bagi kamu yang tidak suka macet dan gerah selama perjalanan, saya sangat merekomendasikan untuk naik bis terakhir Perkasa Jaya yakni jam 21.00WIB. Selain tidak gerah, resiko macet pun bisa diminimalisir. Waktu tempuh Jakarta - Pangandaran dengan bus kurang lebih 7 jam.

Sesampainya di terminal Pangandaran, akan banyak becak yang menawarkan "paket keliling cari penginapan sampai dapat" dengan harga 20ribu rupiah. Bila kamu sudah tau penginapan mana yang mau dipilih lebih baik jalan kai saja, karena tidak terlalu jauh jaraknya. Namun apabila kamu masih bingung dan mau survey beberapa penginapan, pilihan paket keliling tadi boleh dipertimbangkan dan ditawar tentunya.

Sebaiknya tawar menawar tetap dilakukan saat mencari penginapan, karena masih banyak penginapan yang bukan fixed rate. Harga penginapan sangat bervariasi mulai dari 100ribu sampai setara dengan hotel. Oiya musim liburan juga mempengaruhi harga penginapan.

Penginapan sudah dapat, saatnya cari tau tempat apa saja yang bisa dikunjungi disini. Berikut referensi yang bisa saya sharing dari dua babak trip ke Pangandaran yang pernah saya lakoni.

Wisata Pantai

Pantai Pangandaran


Pantai Pangandaran adalah pantai yang paling terkenal. Pantai ini termasuk pantai yang landai, di sekitar pantai sudah banyak rambu tanda evakuasi kalau suatu saat terjadi tsunami. Di pinggiran pantai, banyak pedagang yang menjajakan jajanan khas pinggir pantai seperti es kelapa dan seafood. Letaknya yang dekat dengan penginapan membuat pantai ini sangat ramai terlebih di akhir weekend. 
















Pantai Batu Karas

Kalau kamu mencari pantai yang lebih tenang dan tidak terlalu ramai, mungkin Pantai Batu Karas pilihannya. Pantai yang terletak kurang lebih 34km dari Pangandaran ini masih tergolong sepi dan tenang dibandingkan Pantai Pangandaran. Pantai ini juga tergolong pantai yang landai dan ombak yang bersahabat. Di sekelilingnya banyak penginapan yang sedang dibangun, menandakan banyaknya wisatawan yang mulai melirik pantai ini sebagai pantai yang wajib dikunjugi selain Pantai Pangandaran. Di pantai ini, kamu bisa memandang lautan dari atas bukit kecil.











Pantai Batu Hiu

Pantai lain yang bagus untuk dikunjungi ketika berada di sekitar Pangandaran adalah pantai Batu Hiu. Pantai ini berjarak kurang lebih 14 km dari Pangandaran. Di pantai ini banyak terdapat batuan besar yang menambah keindahan pantainya yang landai.





Body Rafting 

Bosan cuma duduk diam di pinngir pantai? Saatnya kamu mencoba Body Rafting! Ada beberapa objek wisata yang menawarkan sensasi adrenalin yang sedikit berbeda yaitu body rafting atau menyusuri sungai tanpa perahu hanya menggunakan pelampung saja. Dimana saja? ini dia!


Green Canyon
Green canyon bisa dikatakan salah satu primadona wilayah sekitar Pangandaran. Airnya yang hijau kebiruan bisa membius mata dalam sekejap. Membawa baju ganti adalah hal yang wajib dilakukan kalau kamu berkunjung kesini karena airnya yang hijau kebiruan kadang mengubah niat kita yang tadinya tidak mau terjun menjadi asik main air.



Citumang

Salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi untuk body rafting adalah aliran sungai Citumang yang tidak kalah bagus dari Green Canyon. Objek wisata ini terletak di Desa Bojong, Kecamatan Parigi Ciamis atau sekitar 15Km dari Pangandaran. Dari hulu sungai, kamu bisa mencoba terjun bebas di air terjun mini sekaligus melanjutkannya dengan body rafting.















International Kite Festival

Pangandaran juga merupakan salah satu tempat yang biasa dipakai untuk Festival Layang- layang Internasional lhoo... Di festival ini kamu bisa menyaksikan layangan dari berbagai negara mulai dari Malaysia, Cina sampai Australia. Kamu bisa mencocokkan jadwal trip ke Pangandaran dengan jadwal Kite Festival agar trip kamu ke Pangandaran semakin komplit


















Bagaimana? Tertarik?
Yuuk segera susun itinerary-nya.. dan nikmati one stop destination di Pangandaran.
Seru!

Regards,