Sunday, May 19, 2013

Mimpi yang Aneh : Iron Man dan Tukang Sapunya :D

Saya tau ini mungkin kedengeran aneh.. tapi sumpah semalem saya ngimpi ketemu Iron Man a.k.a Tony Stark a.k.a Robert Downey Jr. *seneng sampe guling-gulingan di tanah*



Ceritanya di mimpi saya itu saya lagi nyapu halaman rumah, gak tau halaman rumah siapa tapi yang jelas itu halaman luas banget.. eh tunggu dulu.. ini kenapa gak elit banget sayanya lagi nyapu (-___-"). Anyway.. lagi asik2 nyapu gitu ternyata eh ternyata ada lambang Iron Man ukuran jumbo di balik rumputnya. Belom kelar rasa kaget saya, tiba-tiba gak tau datengnya dari mana si Tony Stark ini nongol gitu aja di depan saya sambil megangin luka di bagian dadanya. Lukanya cukup parah tapi tetep aja mukanya ganteng gitu
whoaaaa.. panik dong.. secara jagoan idola saya terluka.. langsung deh ceritanya saya bantu memapah si oom kumis ini ke dalem rumah, kan body dia kan gede ya.. keker gitu sedangkan saya kurus ceking gini, walhasil belom sampe ke kursi, si oom kumis ini (gak sengaja) saya jatohin ke tanah. Abis itu dia bangun sendiri, ngeliatin saya ( mungkin mau marah-marah kali ya dia ) abis itu blasss... saya bangun.

Saya nyoba tidur lagi, siapa tau mimpinya berlanjut. Ternyata gak.
Kemudian saya bangun dan ngereka ulang mimpi saya tadi sambil senyum-senyum sendiri inget kegantengan si Oom Kumis itu. Kemudian ada pertanyaan yang sangat mengganggu saya : kenapa setiingannya saya lagi nyapu? Jangan-jangaaaaannnn... di mimpi itu saya jadi upik abunya Tony Stark lagi.. hahahahaha


Wednesday, May 15, 2013

Backpaker Pulau Pari : Kemping Lagi Yuuuk!

Kembali ke alam adalah salah satu cara sebagian orang untuk melepaskan rasa penat dari rutinitas sehari-hari. Pilihan selalu jatuh pada kegiatan outdoor di dataran tinggi pegunungan atau di hamparan pasir di birunya laut. Dua-duanya sama-sama punya magnet yang kuat, terutama untuk yang ingin mengasingkan diri dari keramaian. Mungkin gak sih dapet dua-duanya? Means.. berlibur ke pantai tapi tetap dengan cita rasa gunung? Bisa banget! Seperti yang baru saja saya alami di salah satu pulau di Kepulauan Seribu, Pulau Pari namanya. Agenda kali ini adalah... taraaa... camping di pinggir pantai!. Keren kan?
Pulau Pari merupakan salah satu Pulau yang secara teknis masuk ke wilayah Kelurahan Pulau Pari, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan dengan luas wilayah mencapai 40,32 Ha dan jumlah penduduk yang tidak begitu padat, yakni kurang lebih 697 jiwa ( sumber:  www.jakarta.go.id ).

Untuk menuju kesana. saya dan 3 orang sahabat memilih untuk naik kapal kayu dari Dermaga Muara Angke. Walaupun dermaga ini masih jauh dari kesan touristable, namun dermaga ini masih menjadi batu loncatan favorit para backpacker yang ingin menyambangi keindahan Kepulauan Seribu, termasuk kami.

Kapal kayu 
Kapal Sinar Laut yang kami naiki perlahan meninggalkan Dermaga Muara Angke tepat pukul 07.00 WIB. Perjalanan ke Pulau Pari hanya memakan waktu 1,5 jam saja, yang secara otomatis menjadikan pulau ini sebagai pulau terdekat sepanjang saya berkunjung ke Kepulauan Seribu. Sesampainya di dermaga, PR selanjutnya adalah mencari tempat untuk membuka tenda. Berdasarkan narasumber yang namanya gak sengaja saya temuin di google, Pak Iskandar, tempat untuk buka tenda ada 3 spot : Pantai Kresek, Bukit Matahari dan Pantai Pasir Perawan. Berhubung kita berempat baru pertama kali kesini, maka kita putuskan untuk survey tempat terlebih dahulu sambil berkeliling di pemukiman Pulau Pari.

Berbeda dengan Pulau Tidung atau Pulau Pramuka yang dipadati dengan homestay, berkeliling di pemukiman Pulau Pari memberikan kesan yang berbeda. Pemukiman yang jarak rumahnya tidak terlalu berdempetan dan jalan setapaknya yang dihiasi pepohonan rindang serta suasana yang rapi dan bersih menjadi daya tarik selama berkeliling disini
pemukiman penduduk di Pulau Pari
Jalanan di pemukiman di Pulau Pari ini juga sudah pakai paving block jadi sangat nyaman untuk berkeliling pulau dengan menggunakan sepeda. Oiya.. waktu keliling survey ini kami juga beberapa kali menemukan rumput laut yang sedang dijemur. Sepertinya ini salah satu mata pencaharian penduduk lokal selain dari aspek pariwisata.

baunya gimanaaaa gitu :)
Setelah disurvey, Pantai Kresek tidak kita masukkan kedalam nominasi karena pantainya terletak agak jauh dari dermaga. So.. tersisa dua pilihan : Bukit Bintang ( area dengan deretan pohon pinus di deket dermaga Pulau Pari ) atau Pantai Pasir Perawan. And.. the winner goes to...... Pantai Pasir Perawan!

Siapa yang bisa nolak kemping di tempat kayak gini?? siapaaaaaaaaaaaaaaaaaaa?!
tenda siap!
Pantai Pasir Perawan memiliki lokasi yang cukup strategis dan terletak tidak jauh dari dermaga utama, dengan berjalan kaki saja hanya memakan waktu kurang lebih 10 menit. Sumpah demi apapun  juga..  pewe banget lhoo kemping di mari! jadi di Pantai Pasir Perawan ini sudah disiapkan hammock untuk leyeh-leyeh dan nikmatin pantai di depan kita yang lebih mirip kolam renang raksasa - saking tenang dan tidak berombak- dengan airnya yang biruuuuuuuuuuuu. 

Oiya.. nampaknya berita tentang Pulau Pari sebagai destinasi ekowisata bukan merupakan isapan jempol semata, karena di Pantai Pasir Perawan ini, kamu akan dengan mudah menemukan bakau-bakau imut yang mungkin baru saja ditanam beberapa bulan lalu. FYI.. tanaman bakau ini penting untuk dibudidayakan, bukan saja untuk mencegah pengikisan pantai atau abrasi, tanaman bakau juga berfungsi sebagai tempat berkembang biak berbagai macam biota laut.

Cepat besar ya nak... 
Kembali ke Pantai Pasir Perawan, selain paket pasir putih, pantai tanpa ombak, hammock gratis, kamu juga bisa nikmatin paket sunset! Serius.. sunsetnya JELAS TERLIHAT di pantai ini, jadi sekali buka tenda, dua tiga kenikmatan bisa didapat ( ^_^ )v


Overall.. Pulau Pari bisa jadi alternatif liburan pilihan di kala out of budget. Bingung berapa ongkos yang harus saya keluarkan untuk menikmati sensasi kemping di pinggir pantai ini?? murah semurah-murahnya kurang dari 100ribu / orang, cuma perlu ngeluarin ongkos kapal kayu dari dermaga Muara Angke ( PP ) 70 ribu rupiah saja, makan? bawa sendiri doong.. namanya juga kemping (^^). Mau keliling pulau naik sepeda?? sewanya murah meriah.. dua hari 15 ribu saja. Hohoho.. ah ternyata bener ya.. Enjoy Jakarta bukan cuma slogan.. ternyata memang beneran enjoy!!

Gimana..gimanaaa?? tertarik nyobain kemping dimari?? 
Kemping yuuuuuuk!


Yang mirip Pari *eh


*Ps
Kalau mau extended jadi kemping plus snorkeling.. nah itu dia harus extra budget. Kemarin sih kita gak pake acara snorkelingan soalnya patungan untuk nyewa kapalnya cukup berat untuk kita yang cuma berempat. Sedikit informasi aja, sewa kapal untuk snorkeling ( kurang lebih ) 3 spot di sekitar Pulau Tikus - Pulau kecil gak berpenghuni yang gak jauh dari Pulau Pari ) itu dikenain biaya Rp. 350ribu per kapal dan sewa alat snorkelingnya Rp. 30rb. Trus satu lagiiii... lebih baik datengnya jangan weekend.. biar pantai Perawannya kayak milik pribadi.. sepiiiii :D



Tuesday, May 7, 2013

Aik.. Kembaran saya muncul (lagi)!!


Pernah gak sih suatu waktu kalian ngalamin kejadian yang kayak gini : ada orang yang merasa melihat -sesuatu yang menyerupai - kamu di suatu tempat padahal saat itu kamu berada di tempat lain? 

Belum lama ini, roommate saya cerita katanya kemarin pagi-pagi ngeliat saya dengan baju mandi yang biasa saya pake lengkap dengan gaya rambut dengan kuncir berantakan mondar-mandir di depan toilet padahal saat itu saya udah asik nongkrongin kerjaan di kantor. Si roommate baru sadar kalo itu bukan saya ketika dia masuk kamar dan ngeliat baju mandi saya digantung rapih di balik pintu kamar. Eng ing eng. Jadi siapakah tadi yang mondar - mandir di depan toilet?
Sebenernya kejadian kayak gini bukan yang pertama. Beberapa tahun lalu, ada kejadian serupa juga. Ceritanya saya baru bangun jam 10.00 pagi. Berhubung waktu itu weekend, jadi no comment please.. nah seperti pagi-pagi yang lain dalam hidup saya, setiap abis bangun tidur pasti nyari toilet. Di dapur saya ketemu sama sepupu saya, dengan muka surprise saya bilang "mas Ekaaayyy... kapan pulang dari Jawa??". Dengan muka yang gak kalah surprise juga, sepupu saya malah balik nanya "lah piye tho.. bukan tadi pagi situ yang bukain pintu?". Seketika itu juga saya bengong.

Sekedar informasi, sepupu saya sampai rumah jam 3 pagi dan memang gak ada siapa-siapa di rumah itu selain saya. Oke. Pertama saya bener-bener gak ngerasa bukain pintu. Kedua, saya gak punya hobi berjalan sambil tidur. Ketiga, pintu dirumah saya adalah tipikal pintu yang kudu ditendang dulu baru kuncinya bisa masuk, jadi kalo emang bener saya yang bukain pintu itu saya pasti inget adegan tendang menendang tadi. 
Oke. Creepy.

Anyway.. saya sih gak terlalu ambil pusing masalah yang kayak gini secara memang kehidupan gaib memang berdampingan dengan kehidupan normal. Saya malah jadi rada tersanjung ternyata di luar sana ada yang bersedia miripin saya hahahaha...


Cheers,

Saturday, February 9, 2013

temu kangen aRTca generasi pertama :)

Semalem, gak ada angin, gak ada ujan, datanglah 4 pria dari generasi pertama ARTCA : Bang Wanda ( si kakak pertama ), Bang Anom ( si kakak kedua ), Paman Ucup, Dedi dan Mas Londho. Udah lama banget mereka gak nongol di teras depan rumah, terakhir pria-pria ajaib ini duduk di depan teras tahun 2010 seminggu sebelum acara liburan ke Raung.



Banyak hal yang berubah dari pria-pria ajaib ini, yang pertama tentu aja perubahan fisik, si Kakak pertama dan si kakak kedua jadi lebih gembul alias gendut ( ciri2 orang sukses hehe ). Perubahan yang kedua adalah perubahan status, yang tadinya single sekarang udah punya gandengan, yang tadinya belum nikah sekarang udah punya anak satu, perubahan inilah yang membawa obrolan bukan lagi melulu soal gunung, tapi lebih kepada pengalaman suka duka hidup berumah tangga yang mereka sudah alami. Mereka jadi lebih dewasa.. *terharu*

Sepanjang sesi ngobrol-ngobrol itulah, saya jadi inget liburan ajaib kayak apa yang pernah kita lewatin sama-sama, mulai dari nangis dayak pasca nyasar di Merbabu, makan nasi 12 ribu perak dapet 8 bungkus di stasiun Lempuyangan saking udah keabisan uang ( kebayang gak tuh lauknya apaan? :D ), kulit item ngelotok parah pulang dari Lawu,  nelpon bos alesan sakit padahal masih mau nyambung liburan, makan sop makaroni di pos 2 Gunung Slamet, berebutan jeli di Raung sampe minum aer yang nyaringnya pake kaos kutang Dedi yang udah sobek2  wakakakakak..



Liburan Pertama ke Merbabu



Di basecamp Lawu
Rame-rame ke Slamet



Ngapi Unggun di Raung


Kadang ngeselin. kadang bikin ketawa sampe sakit perut, kadang bikin terharu dan pastinya selalu ngangenin.. dan saya sangat amat setuju statement yang keluar dari mulut si kakak kedua : "kalian adalah warna hidup gw" 
:')
kemarin, sekarang dan seterusnya :)

yang selalu kangen liburan sama kalian,

Sunday, January 13, 2013

Do's and Dont dari Film 5 cm

Oke. Saya emang suka telat.. semua orang udah heboh ngomongin film 5 cm sejak sebulan yang lalu, sedangkan saya baru penasaran sekarang. Sebenernya, saya udah namatin novelnya sejak tahun 2009. Makanya waktu film ini naik ke bioskop di bulan Desember kemaren, saya gak terlalu excited. 












Anyway.. pada akhirnya saya nonton juga film ini. Dan inilah beberapa hal yang baik untuk dicontoh dan hal-hal yang sebaiknya tidak dicontoh. Lets start from the good things..


DO's

1. Nasionalisme tinggi

"gw udah tinggal di atas tanahnya, minum airnya, masa gw gak ada balas budinya?" - Ian -
"negeri ini begitu indah Tuhan.. bantu aku menjaganya" - Zafran-

Hal yang menjadi value yang paling ditonjolkan dalam film ini adalah rasa nasionalisme yang tiba-tiba membuncah karena para tokohnya menyaksikan keindahan negara kita, Indonesia. Bener banget ya.. secara apa aja komplit di negara ini, mau pantai bagus? ada. Gunung keren? banyak. Hutan tropis? punya. Terumbu karang eksotis? ada. Hampir semua wisata alam ada di negara kita. Is there any good reason to not loving such a beautiful country like this?


2. Never ending friendship


5 sahabat.. dua cinta













Kebanyakan orang 'kan sahabatan waktu sekolah, giliran udah beda sekolah jarang ketemu, apalagi kalo udah nikah.. makin jarang ketemu. Tapi beda dengan yang ada di film ini. Semenjak dari scene awal. kita udah dapet gambaran tentang persahabatan yang solid, yang udah bertaun-taun. Walau gak satu kerjaan, gak satu kampus, gak satu lingkungan rumah, tapi selalu ada waktu berkala untuk hangout dan menciptakan suasana yang menyenangkan, bahkan setelah mereka udah nikah dan beranak pinak. Beginilah seharusnya sebuah persahabatan, tak dimakan oleh jarak dan waktu. 

3. Kalo punya mimpi yaa harus diwujudkan
"semua mimpi - mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar.. taruh disini, didepan kening, biarkan dia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu"

Itu adalah quote paling ngena tentang bagaimana seseorang harus memperlakukan impiannya ; taruh di depan mata.. agar setiap detik bisa kita lihat yang pada akhirnya memotivasi kita untuk menggapainya.  Ingat si Ian? yang pada akhirnya bisa menyelesaikan skripsinya setelah 6 tahun ngejogrok di kampus? Yaaap... kalau orang lain bisa, kenapa kita enggak? Tapi inget yaa.. jangan cuma mimpinya aja yang seneng.. tetep harus ada upaya dan usaha untuk menjadikannya nyata.

Dan bermimpi saja tidak akan pernah cukup...Dan sebuah impian memang seharusnya tidak perlu terlalu banyak dibicarakan,tetapi diperjuangkan.”

4. Berani keluar dari zona nyaman
Beberapa menit setelah film dimulai, kamu akan menyaksikan lima orang sahabat yang selalu bersama memutuskan untuk tidak bertemu untuk kemudian melakukan hal lain yang benar-benar berbeda misalnya bertemu orang baru atau mewujudkan mimpi yang belum terwujud. 

Benar banget.. satu hal yang jelek tentang kenyamanan adalah bahwa kenyamanan membuat insting kita tumpul.. terutama insting untuk berusaha mencari sesuatu yang lebih baik. Kenyamanan juga membuat kita takut untuk mencoba sesuatu yang baru. Dengan berani keluar dari zona nyaman kita, berarti kita melatih insting kita untuk beradaptasi dengan tantangan yang baru. 

5. Berani menyatakan cinta
Sebuah cinta memang harus diungkapkan karena tidak pernah ada cinta yang disembunyikan, kecuali oleh seseorang yang terlalu mencintai dirinya sendiri" - Zafran -

Pasti masih kebayang kan.. Betapa Genta udah lama memendam rasa sama sahabatnya sendiri, Riani, tapi takut untuk mengungkapkannya. Kutipan dari si Zafran inilah yang membuat Genta memutuskan untuk menyatakan perasaannya dibawah langit Mahameru.

Kalau membaca kutipan yang dicetak miring diatas dengan teliti, rasanya gak perlu menjelaskan panjang lebar tentang pentingnya menyatakan apa yang kita rasakan bukan? :) 


DONT's

1. Sering-sering makan indomie
Nah.. ini adalah kebiasan jelek tokoh yang bernama Ian. Jangan ditiru ya sodara-sodara.. karena ada bahaya yang tersembunyi di balik lezatnya menyantap mie instan. Zat lilin yang melapisi mie serta kandungan MSG nya ditenggarai dapat memicu penyakit kanker.

2. Memakai celana jins saat mendaki gunung
Celana jeans pasti sudah jadi andalan tiap orang kalau mau bepergian. Tapi sebaiknya lupakan celana jeans saat berwisata alam, terutama mendaki gunung. Iya sih.. di film itu Riani keliatan tetep cantik dan modis saat mendaki Mahameru dengan celana pensilnya tapi sebaiknya pilihlah celana yang longgar dan ringan bahannya agar pergerakan kaki bebas terutama saat menemui medan yang sulit di atas gunung

3. Packinglah matras dan tenda di dalam carier
Oke. Gini. Saya juga bukan yang ahli gimanaaa gitu.. dalam hal pendakian. Tapi menurut versi Dedi yang dari lahir udah di gunung - wkwkwkwkwk - sebaiknya matras di packing didalam carirer, karena kalau digulung dan dicantelin di carier, bisa tersangkut pohon, semak atau belukar selama perjalanan. Untuk tenda juga begitu, masukkan dan packing yang benar di dalam carier, bukan ditenteng di tas jinjing seperti yang dibawa Arial di dalam film 5 cm ini. 

Kenapa tidak boleh membawa tas tambahan di salah satu bahu? Kata Dedi, tujuannya biar gak ribet, selain itu saat bertemu medan yang sulit, tangan kita bisa kita gunakan untuk scrambling atau sekedar meraih dahan untuk berpegangan.

Matras diluar seperti ini bisa menyulitkan  pergerakan











4. Menuju puncak tanpa membawa perbekalan
Saya masih ingat betul.. tahun 2008 pernah diajak Dedi - bapaknya ARTCA - ke Gunung Merbabu, sama dengan yang diceritakan di film 5 cm, ketika sampai di pos terakhir sebelum puncak, semua carier kita tinggal di dalam tenda, which is kita ke puncak tanpa membawa carier.  Waktu itu Dedi marah-marah karena gak ada satu pun dari kita yang kepikiran untuk membawa perbekalan seperti air dan biskuit di dalam daypack untuk kuncian di perjalanan. Alesan Dedi adalah medan menuju puncak  adalah medan yang mengurasn tenaga karena biasanya berbatu dan terjal, makanya perlu untuk membawa minum dan makanan kecil.

Begini kira-kira muka Dedi waktu itu





Nah kemarin, Ke enam tokoh di dalam film 5 cm itu ke Puncak Mahameru bener-bener lenggang kangkung ( gak bawa apa-apa ). Saya jadi ngebayangin.. untung mereka gak naek sama Dedi. Kalo sampe mereka naek sama Dedi begitu caranya.. hmmmph bisa abis mereka dikepret satu-satu hihihi..

Overall..
film 5 cm tetep worthed untuk ditonton.. di film ini kamu bakal terkagum-kagum sama keindahan Semeru dengan ranukumbolonya yang - what to say yaa.. speechless! - Intinya.. film ini mungkin akan menjadi tonggak awal dimana kamu memutuskan untuk mulai mendaki gunung hehehe..

Tetep apresiasi film anak negeri ya.. 

Regards,

Tuesday, January 8, 2013

Backpacker Gunung Ciremai : Antara Tahun Baruan dan Jalur Linggarjati

Gunung Ciremai adalah gunung yang gak perlu tiket kereta api untuk kesana dan inilah alasan kenapa kita berempat memilih gunung ini untuk ngabisin sisa liburan akhir tahun. Awalnya, kita udah niatan mau ke Gunung Argopuro, tapi terimakasih kepada sistem ticketing di Indonesia beserta jajaran calo-nya yang ngasih harga selangit untuk tiket kereta ekonomi di musim liburan kayak gini - bayangin aja dari harga 55ribu dijual 180ribu! - jadilah kami banting stir ke Gunung Ciremai.


Sebenernya ini bukan kali pertama saya kemari, dulu tahun 2007 saya pernah ke Gunung Ciremai, tapi waktu itu via jalur Palutungan, sedangkan kali ini saya dan 3 orang pria ajaib ini akan menempuh jalur Linggarjati. Itulah kenapa saya masih tetep excited. Pertanyaan selanjutnya adalah siapakah 3 pria ajaib itu? haha.. mereka adalah Dedi - Bapaknya ARTCA - dan adik2 saya yang unyu-unyu, Rizal dan Sofyan.

Keluarga merangkap bodyguard saya hehe..
Jumat, 28 Desember 2012
Perjalanan dimulai dengan menggunakan bus arah Kuningan dengan waktu tempuh kurang lebih 8 jam dari Jakarta, agak meleset dari perkiraan, karena as usual yah musim liburan.. macet. Sekitar jam 03.30 pagi kita berempat turun di Pertigaan Cilimus untuk seterusnya jalan kaki ke basecamp Gunung Cireme. Yap.. Jalan kaki adalah metode trasnportasi purba yang sangat disukai Dedi. Biar ngirit katanya.. tapi pegel kata saya.

"Berapa lama Ded dari sini ke Base camp?" tanya saya to the point ke Dedi. "Deket.. paling 30 menit" Jawab Dedi singkat. Ternyata kita baru sampai satu jam setengah kemudian. Saya lupa kalau Dedi adalah pemberi harapan palsu dalam hal jarak dan waktu tempuh.




Anyway, basecamp cukup rame karena memang jumlah pendaki naik karena bertepatan dengan liburan panjang akhir tahun, tambah rame lagi karena kedatangan suku Dayak Indramayu yang - gak tau kenapa - ingin refreshing ke Gunung Cireme.














Yap.. mereka naik ke atas Gunung Cireme ya dengan kostum asli mereka, gak pake baju, cuma celana item putih yang katanya melambangkan hitam putih dunia plus aksesoris kalung yang berjejer di leher. Nyentrik dan beresiko masuk angin tentu saja.

Sabtu, 29 Desember 2012
Perjalanan baru dimulai sabtu pagi. Dibuka dengan jalanan aspal yang rada nanjak menuju pos I Cibunar ( 750 mdpl ). Di kanan kiri jalan menuju Cibunar banyak perkebunan penduduk yang mayoritas ditanami ubi merah. Cibunar gak lain adalah camping ground dimana banyak RemPakem ( Remaja Pecinta Kemping ) kumpul-kumpul dimari. Cibunar juga merupakan tempat dimana kita harus mengumpulkan stok air selama naik nanti, karena jalur Linggarjati jarang terdapat mata air. 

Di Cibunar














Dari pos 1 Cibunar, jalanan aspal berubah menjadi jalanan tanah berbatu dengan dominasi hutan pinus. Harus berhati-hati karena tanahnya rada licin, efek hujan yang turun hampir setiap hari disini.



















Di sekitar jalur banyak bangunan semi permanen dari kayu, berdasarkan cerita Dedi yang emang udah bolak-balik kesini, warung ini dulunya ramai pengunjung, apalagi kalau lagi musim pendakian, tapi gak tau kenapa sekarang ditinggalkan oleh pemiliknya.

bekas warung di dekat Cibunar
Dari Cibunar, perjalanan masih lanjut ke Leuweng Datar ( 1285 mdpl ) dan Condang Amis ( 1350 mdpl ). Sebenernya di dalem hati mah pengen nanya ke Dedi berapa lama waktu tempuh dari pos ini ke pos itu, tapi mengingat status Dedi sebagai Pemberi Harapan Palsu dalam pendakian, niat tadi dibatalkan. Di Condang Amis terdapat bangunan seperti gazebo yang cukup untuk berteduh 10 orang-an. Di pos ini juga sudah mulai terdapat peringatan untuk menghentikan pendakian apabila cuaca buruk.

Di Condang Amis














Setelah sempet nge-break makan siang, perjalanan lanjut lagi ke Blok Kuburan Kuda ( 1580 mdpl ). Kenapa namanya Kuburan Kuda? Berdasarkan cerita Dedi yang emang udah dari sebelum masehi naik kesini, dulunya kompeni pernah ngejar pejuang kemari, namun kuda yang mereka tunggangi hanya sanggup mengantar sampai blok ini dan kuda-kuda itu pun mati karena kelelahan. Makanya dinamain Kuburan Kuda. Tapi saya curiga karena muka Dedi gak ada bedanya tau antara nyeritain sesuatu yang bener sama nyeritain sesuatu yang direkayasa. Doi emang paling seneng ngeboongin saya yang masih polos ini.



Sempet beberapa kali narsis di tengah jalan. Tapi dari sejuta kali narsis, inilah foto narsis yang menurut saya paling keren :D














Perjalanan hari pertama berhenti sampai di beberapa meter sebelum Pengalap ( 1790 mdpl ). Disini kami memutuskan untuk berhenti karena sudah lewat magrib dan hujan mulai turun. Kenapa gak buat tenda di Pengalap? Pertanyaan bagus! Berhubung musim pendakian, Pos Pengalap dapat dipastikan penuh, daripada kami paksakan terus berjalan ke Pengalap, sampai sana gak ada lapak untuk buat tenda plus hujan pula, lebih baik break dan buat tenda di lapak yang kebetulan ada di beberapa meter sebelum Pengalap.

Minggu, 30 Desember 2012
Tema hari kedua pendakian adalah : Lazy Day!
Hawanya males banget mau packing tenda dan melanjutkan perjalanan. Walhasil setelah sarapan kelar - tepatnya jam 9 pagi - bukannya packing malah lanjut tidur lagi *tepok jidat*


Sesi memasak sarapan
Jam 11 siang, saya ngerusula ( baca : ngegerutu ) bosen didalam tenda dan minta jalan ke Dedi. Apesnya ketika tenda udah di packing, ealah.. ujan turun lumayan lebat yang langsung membuat Dedi berkata sambil melotot ke arah saya " cakep lo ye.. ujan begini minta jalan!". Gak ngaruh dengan omelan Dedi, saya tetep cengengesan. wakakaka. 

Adegan selanjutnya tentu saja berteduh dengan flysheet di tempat yang sama. Setelah kurang lebih 2 jam berteduh, sekitar pukul 1 siang, kita beringsut naik menuju pos selanjutnya, Pengalap ( 1790 mdpl ). Lagi-lagi, baru jalan 20 menitan, kita harus kembali membuka fysheet dan berteduh selama hampir 2 jam karena hujan kembali turun dengan lebat. Waktu neduh inilah  kami sempat bertemu banyak pendaki yang mayoritas berasal dari Bogor.

Perjalanan hari kedua berhenti sampai Pos Pengalap. Pos Pengalap ini memiiliki cukup ruang untuk mendirikan tenda, saat kami datang saja, sudah ada satu tenda berukuran besar dan satu tenda berkapasitas 6 orang yang sudah berdiri disini.. Tepat pukul 7 malam, kami berempat sudah resmi leyeh2 di dalam tenda di ketinggian 1790 mdpl. 

Senin, 31 Desember 2012
Perjalanan hari ketiga diawali dengan nasi goreng ikan asin sebagai menu sarapan kami - jangan tanya darimana kami dapat nasi! - Saat kami memulai perjalanan, tenda-tenda tetangga udah gak ada, kayaknya mereka udah berangkat dari pagi-pagi buta. Berbeda dengan kami yang bahkan masih sempet ngopi-ngopi setelah tenda selesai di packing hehe.. pemalas.

Ngopi sambil dengerin Dedi cerita asem garem hidup

Hujan masih mewarnai perjalanan kami, dan tetap flysheet adalah teman setia dalam perjalanan. One good thing about the rain is.. kamu gak perlu takut kekurangan air di trek Linggarjati yang terkenal pelit air ini, cukup duduk berteduh di bawah flysheet dan taraaaa... air datang sendiri untuk dipakai memasak. Rasanya gak beda jauh kok sama air yang biasa keluar dari keran rumah :)

Di tengah hujan gerimis

















Lepas dari Pengalap, jalanan mulai bikin engap. Pos selanjutnya adalah 3 tanjakan berturut - turut, Tanjakan BinBin ( 1920 mdpl ), Tanjakan Seruni ( 2080 mdpl ) dan yang paling horor adalah Tanjakan Bapa Tere ( 2200 mdpl ). Kenapa Bapa Tere paling horor ?  karena memang treknya terputus which is kaki kanan kamu menapak di tanah, dan pijakan selanjutnya berada setinggi kepala kamu *eng ing eng*. Alih-alih takut, saya malah tepok tangan karena adegan ini mirip di film-film hehe.

Perjalanan hari ketiga ditutup beberapa meter dari Bapa Tere, dimana ada sedikit area datar yang cukup untuk kira-kira 2 tenda ukuran 4-5 orang. Hari sudah gelap dan pakaian udah semi lepek saat kami mendirikan tenda disini diiringi lagu Benyamin yang dinyanyikan oleh Sofyan " ohooooooooo... pegel semuaaaa" ( itu beneran lho lirik lagunya begitu )

Ada yang berbeda dari malam-malam sebelumnya, malam ini adalah malam tahun baru. Tepat jam 12 malam, kami berempat duduk melingkar kemudian saling mengutarakan dan saling mendoakan impian masing-masing di tahun 2013 sambil mendengar bunyi kembang api di bawah sana. Deep down inside.. saya berharap tahun ini kami masih bisa berkumpul sama-sama, melakukan perjalanan kocak dan ajaib sama-sama dan membuat cerita untuk dikenang saat tua nanti. :")

Senin, 1 Januari 2013, Its summit time!
Perjalanan hari keempat dimulai jauh lebih pagi dari biasanya mengingat jarak puncak yang masih cukup jauh ( 4 Pos lagi ). Kalau hari-hari sebelumnya kami start jam 11 siang, kali ini jam 8 pagi kami udah bergerak meninggalkan tenda menuju pos selanjutnya, Batu Lingga ( 2400 mdpl ).



Dari Batu Lingga, masih ada Pos Sangga Buana I ( 2545 mdpl ) dan Sangga Buana II ( 2665 mdpl ), Pos terakhir sebelum puncak adalah Pengasinan ( 2860 mdpl ). Saya gak bisa mendeskripsikan berapa lama waktu tempuh dari pos satu ke pos lainnya, tapi yang jelas panjang dan lama. 

Jalanan mulai terjal berbatu menuju Pengasinan


Di Pengasinan

















( Katanya ) dari Pengasinan ke Puncak hanya membutuhkan waktu 30 menit - 45 menit. Tapi berasa lama buat saya, ditambah hujan yang mulai turun rada lebat. Sempet berfikir.. ini sampai puncak apa yang mau dilihat ya? jangan-jangan yang kelihatan cuma kabut dan awan mendung doang. Pikiran tadi otomatis membuat saya jadi males-malesan dan gak semangat. Alhamdulillahnya.. sempet dikasih cerah sebentar saat kami sampai di Puncak Panglongokan.














Cuaca yang cerah ini bikin kawahnya keliatan jelas yang tentu saja mengundang naluri kenarsisan saya haha..














Terima kasih kepada teknologi timer di dalam kamera digital, yang memungkinkan kami bisa berpose berempat walaupun tak ada pendaki lain yang bisa dimintai tolong untuk memotretkan di puncak ini.














Perjalanan kembali ke tenda diwarnai kembali dengan hujan. Kali ini deras dan sukses membuat saya basah kuyup sampai harus meminjam baju sana - sini karena stock baju udah gak ada lagi. Niat semula mau langsung geber turun, terpaksa ditunda dan harus nge-camp semalam lagi.

Selasa, 2 Januari 2013
Begitu terbangun dari tidur yang cukup menggigil karena dingin, hal pertama yang saya, Dedi dan Sofyan lakukan adalah menyalakan handphone dan berusaha memberi kabar ke Bos masing-masing bahwa hari ini kami belum bisa kembali bekerja. Mulailah adegan mencari sinyal dari handphone digantung di samping tenda sampai dikibas-kibas ke atas tenda. Rizal sih enak masih jadi anak sekolaha, belon punya bos kayak kita orang :(

Perjalanan turun baru dimulai pukul 11 siang dan sampai dengan selamat - cuma betis aja rada kenceng - di Cibunar jam 3 sore. Kocaknya, saat kita sampai di basecamp, orang-orang riuh menyambut kami, selidik punya selidik, tim evakuasi sudah siap berangkat mencari kami karena mereka pikir kami hilang atau ngedrop di tengah jalan. Ternyata eh ternyata kelompok kamilah yang paling lama berada di atas gunung. Hahaha.. ampun ah.

Baju pinjeman :))


















Catatan penting kali ini adalah : bawalah baju lebih saat mendaki di musim hujan dan pastikan kalian tidak melawan cuaca, maksudnya kalau cuaca buruk lebih baik nge-camp daripada memaksakan diri demi sebuah TARGET. 

sampai jumpa di catatan kaki selanjutnya yaaa..
have a good year everyone!

Regards,

Tuesday, December 11, 2012

Oleh-oleh dari Workshop Blogging Enjoy Jakarta


Workshop Blogging ini adalah kerja sama antara Vivanews, Opera Software dan Dinas Pariwisata DKI Jakarta dengan tema "Peran Blogger Dalam Memajukan Pariwisata" dengan beberapa pembicara dari beberapa profesi seperti Barry Kusuma, seorang penulis dan travelling photography, Riyanni Djangkaru, dari Divemag Indonesia, Agnes dari Opera Software, Tio Pakusadewo dan tentu saja perwakilan dari Dinas Pariwisata DKI Jakarta. Berdasarkan wawancara singkat dengan salah satu panitia yang ramah, acara ini akan dihadiri oleh kurang lebih 150 blogger yang bergelut di bidang jalan-jalan alias travelling


"Minder" adalah perasaan pertama yang terlintas di kepala saya. Everyone looks so great at writing. Seriously.. gak seperti saya yang nulis ala kadarnya dan minus konsep dan tentunya dengan bahasa yang ala kadarnya. Bahkan saya sempat mendengar pembicaraan dari dua orang undangan yang saling bertanya tentang pekerjaan masing-masing dan salah satu dari mereka menjawab "pekerjaan saya ya menulis" *eng ing eng*. Trus.. ngapain si anak cupu dalam hal tulis menulis ini ( baca : saya ) bisa ada di acara workshop ini? hahaha jawabannya adalah fate and lucky :D *senyum lebar*

Anyway acara dibuka dengan tarian Lenggang Nyai, tarian khas yang berasal dari DKI Jakarta kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel dengan pembicara yang sudah disebutkan diatas. Ada juga acara pengundian doorprize dengan hadiah yang variatif dan tentunya mendukung aktifitas travel blogger seperti modem, voucher dari gonla.com dan voucher spa ( siapa tau abis panas2an berwisata bisa spa gratis hehe..). Oiya acara ini juga sekaligus mengumumkan pemenang dari Blog Contest Enjoy Jakarta yang dilangsungkan mulai dari 19 November sampai 4 Desember kemarin.

Tarian Lenggang Nyai

Dan inilah beberapa oleh-oleh dari diskusi panel yang bisa diaplikasikan terutama buat yang bergelut di bidang travel blogging:
  • Foto yang bagus dalam artikel adalah salah satu kunci orang tertarik untuk mengunjungi tempat yang kita ulas dalam blog, dan berita baiknya adalah *eng ing eng* foto bagus gak selalu harus dijepret dengan kamera DSLR, kamera poket pun oke, kamera hp juga oke, asal tau angle yang pas dan momen yang tepat ~ Barry Kusuma
  • Tulisan yang baik tentang suatu destinasi wisata harusnya bukan cuma sekedar how to get there tapi harus bisa mengangkat sesuatu dari sudut pandang yang lain yang ada di destinasi tersebut ~ Riyanni Djangkaru
  • Sebelum memutuskan untuk menulis tentukan dulu apa yang mau ditulis, seperti apa outputnya dan siapa marketnya atau sasaran pembaca dan yang lebih penting adalah apakah tulisan yang kita buat dapat memberikan benefit kepada penduduk lokal di tujuan wisata tersebut misalnya saja kenaikan pengunjung dsb ~Riyanni Djangkaru
  • Jangan berbangga kalau anda sudah menyambangi negara ini negara itu, karena Indonesia tidak kalah bagusnya dari negara lain dalam hal tujuan wisata ~ Tio Pakusadeo
  • Membangun sense menulis dapat dilakukan salah satunya adalah terlibat dengan penduduk lokal / human interest di destinasi wisata yang kita kunjungi
  • Dateline sangat membantu untuk memotivasi blogger dalam menulis postingan ~ Riyanni Djangkaru
  • Sekarang nge-blog bisa sambil jalan dengan memanfaatkan mobile blogging dan dengan menggunakan opera software akan lebih cepat loadingnya karena opera software mengkompres data hingga 90%
Makin semangat deh nge-blognya.. kan udah dapet ilmu dari yang ahlinya :))
Keep blogging everyone dan terus berbagi kepada dunia betapa indahnya Indonesia 

Regards